Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 16


__ADS_3

"Nur, Lo tau kabar Rasya sekarang gak? Atau Lo masih sering kontak ama dia?" Masih ingatkah dengan sapaan ini? Iya. Dialah Fabel, sahabat Azka yang hampir tak pernah menghubunginya semenjak awal kuliah. Dasar temen durhaka!


"Gue masih suka chat kok sama dia Bel. Kabar apaan nih?" Azka mulai penasaran. Apa yang Ia tidak tahu dari kehidupan seorang Rasya?


Oh, Ya. Biar diingatkan di sini saja. Azka, dirimu sudah hampir setengah tahun ini tidak bertemu dengan pemuda itu. Tidak juga sering berbalas pesan. Jangan lupakan janji tiketmu yang belum terbayar tunai.


Azka menepuk kepalanya. Ya, sepertinya akan banyak yang tidak Ia ketahui mengingat apa yang terjadi dengan mereka selama hampir setahun ini. Mereka sama-sama sibuk. Benarkah?


Terakhir kali Azka berhubungan dengan pemuda itu adalah saat dirinya meminta bantuan Rasya untuk mengirim beberapa buku yang sempat dipinjam oleh pemuda itu. Azka membutuhkannya. Lalu setelah Buku-buku itu sampai, mereka kembali menghilang. Seolah tidak ada lagi yang harus di bicarakan.


Lalu sesaat sebelumnya Azka sempat menghubungi pemuda itu melalui aplikasi pesan di Facebook.




balas Rasya dengan membubuhkan emot tertawa.


tanya Azka setelah tertawa di tempatnya.



Begitu isi pesannya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, Azka merasa biasa saja dengan isi pesan itu. Tidak ada nada hangat yang tertangkap. Tidak ada gelenyar aneh dalam tubuhnya seperti setiap kali Rasya membuat gombalan untuknya.



Rasya mengetik...



Azka masih sibuk dengan perasaannya. Ada apa ini? Sepertinya hatinya mulai bersikap netral. Hubungan mereka selalu manis selama ini, tanpa gunjang ganjing apapun. Mungkin karena mereka tidak memiliki status apapun di hubungan itu. Tapi apa benar begitu?


Rasa-rasanya Azka lebih setuju jika, hubungan mereka disebut sebagai hubngan yang hambar. Akhir-akhir ini terutama. Ya, mungkin benar jika cinta dan rindu, itu bisa menguap begitu saja jika tidak dijaga temperaturnya. Azka menemukan quotes dari kakak tingkatnya itu beberapa hari yang lalu.


Rasya mengetik...



balas Azka di laman chat itu.



Ah, ya. Azka sempat bercerita dirinya ingin sekali menangis karena merasa homesick. Ya, lagi-lagi memang Rasya yang menenangkannya.


"Nur!!!" Fabel menggoyang lengan Azka. Perempuan yang baru ditemuinya pagi ini sedang melamun rupanya.

__ADS_1


"Eh iya Bel. Apaan sih Lo!!" Azka menjawab dengan gugup yang ditutup-tutupi.


"Lo gak dengerin Gue kan?" ucap Fabel kesal. Bibirnya sudah mencebik tidak ada lucu-lucunya.


"Emang Lo ngomong?"


"Kamm Vreeet!!!" sembur Fabel dari tempatnya.


"Yaudah apa? bilang lagi aja kels"


"Bener deh Gue gak pernah gak kesel kalo ngomong ama Lo"


"Kesel? nggembel Lo malem ini!" ancam Azka.


"Dih, main ngancem!" meskipun dirinya sudah siap untuk memohon pengampunan dari gadis galak di sebelahnya. Dirinya butuh tumpangan tidur malam ini. Demi liburan yang tidak merogoh kocek terlalu dalam.


"Buruan apaan?" Azka masih penasaran denga kabar Rasya.


"Katanya dia lagi deket sama temen KKNnya lho"


"Oiya?" Azka tidak bisa menutupi keterkejutannya.


"Weiiiss sabar mbaknyaa" Fabel sudah mengambil posisi lebih jauh. Tidak berharap geplakan pedas dari tangan mungil itu menyentuh kulitnya yang eksotis. "Baru kabar burung" lanjutnya.


"Hmmm" Azka kehilangan moodnya.


"Siapa? Saga? Yaelah Bel, kagak ada hubungan macem itu antara Gue dan dia"


"Dasar cewek hanger!!"


"Maksud Lo?"


"Lo suka amat ngegantungin anak orang sih ka"


"Lah, Gue gak ngegantungin. Siapa yang gue gantungin?"


"Mau Gue sebutin?" Fabel, meski Ia takut tidak diberi tumpangan malam nanti, Ia memilih berbicara sedikit. Untuk menyadarkan sahabatnya itu bahwa sikapnya selama ini terlalj terbuka bagi siapa saja.


"Hmm" Azka tidak menjawab, hanya gumaman tidak jelas yang sedari tadi keluar dari bibirnya.


"Lo sama Juan masih kontak?" Fabel rupanya benar-benar akan mengabsen siapa saja yang masih berkontak dengan Azka.


"Enggak"


"Serius Lo?"

__ADS_1


"Serius Gue Bel!!" Azka kesal.


"Oke oke. Tapi Rasya masih sering kontak ama Lo. Lo di sini kemana-mana sama si Saga"


"Pekerjaan Bel. Itu alasannya, gak ada yang lain"


"Gak percaya Gue. Gue tau Lo Nur!" Fabel menggeplak lengan Azka pelan.


"Gue liat, tipe Saga tuh mirip ama Rasya ya?" Azka terkejut.


"Enggak lah!"


"Tuh kan salting. Lo ada apa-apa nih sama Saga"


"Gak ada Bel. Lo sotoy!"


"Trus Lo gimana sama Rasya? Kok dia bisa deket ama orang lain?" tanya Fabel lagi.


"Gue juga gak tau. Tapi.."


"Tapi?" Potong Fabel cepat.


Azka diam, Ia menarik napas perlahan.


"Gue ngerasa harus berhenti Bel. Gue ngerasa jenuh. Hubungan kita manis-manis aja sih Bel. Tapi ada satu perasaan dimana Gue ngerasa, Gue seperti membohongi diri Gue sendiri. Gue berlindung di balik kata Sayang untuk tetep bareng sama dia. Padahal Gue ngerasa, Gue udah gak bisa terus-terusan sama dia"


"Dan Lo menemukan kenyamanan lain ketika Lo berinteraksi dengan orang lain?"


"Ya, Salah satunya mungkin Saga. Tapi yang lebih Gue rasa itu adalah.. Gue hanya merasa harus berhenti. Berhenti untuk ngebohongin diri sendiri. Berhenti ngasih harapan ke Kak Rasya bahwa akhirnya kami akan terus bersama. Bel.."


"Ya?"


"Salah gak sih, kalo Gue terlalu sayang sama dia. Dan berpikir bahwa dia harus bahagia dengan kehidupannya sendiri? tanpa bayang-bayang Gue?"


Fabel hanya diam. Ia sepertinya mengerti apa yang dirasakan Azka.


"Gue sayang banget sama dia Bel. Tapi Gue gak bisa kalo harus ngelanjutin ini semua. Gue cuma pengen semuanya baik-baik aja" Fabel menghembuskan napas pelan.


"Lo harus pikirin dengan mateng semua ini Ka. Lo gak boleh gegabah. Lo bisa aja ngebuat dia jadi orang yang paling ngebenci Lo. Lo bisa aja ngebuat dia gak akan lagi bersikap sama"


"Gue tau"


"Lo siap buat itu?" Fabel menghela napas panjang, "Gue khawatir Lo sama dia udah sama-sama terbiasa. Lo sama dia tuh udah lama banget bareng-bareng Ka. Dari tahun? 2008? enam tahun? Gila sih" Fabel terkekeh.


"Ya, dan dari dua tahun sebelumnya" Azka menarik napas pelan, menghembuskannya perlahan dari hidung. "Apa waktu segitu emang cukup buat kita jadi jenuh sama satu orang Bel?"

__ADS_1


"Kalo cuma segitu itungannya. Gak akan ada orang yang nikah sampe berpuluh tahun lamanya Ka. Ini semua tentang sikap dan pilihan kita" Fabel menjeda, "Jadi, Lo mau ambil sikap dan pilihan yang mana?"


Azka bergeming, Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada sahabatnya yang tiba-tiba mendadak bijak.


__ADS_2