Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 38


__ADS_3

“Dek, Mama bukan membela siapa-siapa. Tapi sepertinya, saat ini kamu harus lihat banyak sisi selain sisi kamu sendiri. Juan, mungkin masih bisa bertahan, berjuang dan mencari kebahagiaan lain selain kamu. Tapi untuk Rasya, mungkin dia nggak punya banyak pilihan”


Ucapan Mama masih terngiang di kepala Azka. Azka jadi sangat pusing memikirkannya. Kemarin sepulang dari Kaisar dengan di antar oleh Juan, Azka mendapat tatapan tidak bersahabat dari Mama di depan pintu. Lalu kemudian Mama menanyakan banyak hal.


“Apa Rasya tau Adek pacaran sama anak tadi?”


“Apa Rasya masih bersikap baik sama Adek?”


“Apa Adek sekarang senang dan nggak lagi mikirin gimana perasaan Rasya?”


Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Azka. ‘Mama kenapa sih?’ batinnya.


“Dek, Rasya itu sudah cukup putus asa dengan kehilangan sebagian tubuhnya. Apa mungkin dia gak akan lebih hancur ketika harus kehilangan sebagian hati yang jadi harapannya?"


Belum hilang putaran pertanyaan-pertanyaan itu, kalimat Mama yang lain sudah terngiang kembali di kepalanya. ‘Apa benar yang Ia lakukan sekarang ini jahat?’ pikirnya.


‘Tapi, kalo aku lebih nyaman sama Juan aku harus apa?’ alih-alih memantapkan hati, Azka justru miris mendengar kata nyaman yang Ia pikirkan. Selama Ia berpacaran dengan Juan beberapa minggu ini, sepertinya Azka malah terlalu sibuk merasa tidak enak kepada teman-temannya. Alhasil, Ia seperti sedang menjalani hubungan Pacaran dibalik layar.


“Woy Ka, kenapa Lo?” sapa Risa yang sudah duduk di hadapanku.


“Lo kenapa?” Ocha mengulang pertanyaan Risa.


“Pusing” Azka mengurut pangkal hidungnya.


"Kebanyakan mikir Lo mah” timpal Risa.


“Sa, Cha, mau curhat dong” rengek Azka pada kedua sahabatnya.


“Curhat apaan? Juan? Rasya?” tanya Ocha sedikit memelankan suaranya, mode ghibah ON.


“Mama” jawab Azka.


“Hah? Mama kenapa Ka?” kedua gadis itu bertanya bersamaan.


Azka menceritakan ucapan Mama kepadanya kemarin. Ocha dan Risa mengangguk-angguk sambil terus mendengarkan. Nampak ekspresi mereka berdua ikut pusing dan bingung mendengar cerita Azka hingga akhir.


“Mama bener sih Ka” akhirnya Risa bersuara setelah Azka selesai bercerita.


“Sekarang Gue tanya, Lo sama Juan gimana?” Ocha membenarkan duduknya menghadap Azka.


“Gue.. baik-baik aja. Masih asik-asik aja sih kita mah” ucap Azka.


“Ada yang ngeganjel gak di hati Lo selama Lo sama Juan pacaran?”


“Ada sih, btw ini kali pertama Gue pacaran yang bener-bener pacaran yes. Gue cuma takut kita gak lama. Itu sih” ucap Azka menunduk.


“Kenapa bisa mikir gitu?” tanya Risa.

__ADS_1


“Entahlah, Gue nyaman sih sama dia. Tapi tiap kali Gue berada diantara Lo semua, temen-temen kita, Gue ngerasa Gue gak mau bawa-bawa hubungan itu. Trus.. dia mau jadi polisi kayak bokapnya”


“Emang kenapa kalo dia mau jadi polisi?”


“Gue—gak suka polisi. Ehehehe” Azka terkekeh, menggaruk pelipisnya karena mungkin alasannya sangat tidak masuk akal.


“Ya kan belum tentu Lo jodoh sama dia Ka. Jalanin aja lah”


“Setan! Whahahhaa. Sial Lo Cha, ngedoain Gue gak jodoh” Azka jadi tertawa mendengar ucapan Ocha. “Tapi, justru itu Cha. Gue gak pernah berniat pacaran itu untuk putus. Makanya dulu Gue gak mau diajak pacaran sama Kak Rasya. Gue mau hubungan sama orang itu untuk selamanya. Cape ngatur-ngatur perasaan kalo ujungnya kita harus mulai lagi dari awal” ucap Azka.


“Jadi?” Risa menggantungkan kalimatnya.


“Jadi, Gue emang mau cari orang yang akan terus bisa Gue terima sampe akhirnya nikah dan ngabisin masa tua bareng-bareng. Jujur, Gue gak punya impian itu sama Juan”


“Gue ngerti” Risa akhirnya mengangguk paham “Dan sebenernya Lo menemukan itu sama Rasya. Yes or No?” tambahnya.


“Heem” Azka hanya mendehem dan menggerakkan kepalanya asal. Tidak mengangguk tidak juga menggeleng.


“Lo harus ngomong sih Ka, sama Juan. Setidaknya jangan sampe berlarut. Dan jangan bikin kalian jadi musuh kalo semua ini harus disudahi karena masalah yang lebih besar”


Risa benar. Sepertinya hal ini perlu Azka bicarakan dengan Juan.


“Baru mau dua bulan guys, udah bakal berakhir gitu?” keluh Azka yang lebih dekat dengan gumaman.


“Lo akan baik-baik aja. Percaya sama Gue” ucap Ocha sambil merangkul sahabatnya itu.


Hari ini hanya satu sesi belajar, sehingga pulang tidak terlalu petang. Selepas shalat Ashar di mushola, Azka kembali menunggu. Seusai les ini, Azka kembali dijemput oleh Juan. Azka menghampirinya ketika Juan sudah sampai di luar pagar. Dengan ekspresi lemah dan tak ada gairah.


“Enggak apa-apa. Emm—ada yang mau aku omongin hari ini” ucap Azka sedikit ragu.


“Oiya? Mau mampir ke mana dulu?”


“Enggak, nggak usah. Nanti aku ngomong di motor aja” ya. Azka memilih berbicara di atas motor yang melaju, agar Ia tak perlu menatap mata pemuda itu saat harus membicarakan apa yang Mama sampaikan kemarin dulu.


“Aku mau ke rumah sebentar gak apa-apa? Nanti abis dari sana kita langsung kerumah kamu” ucap Juan masih dengan senyum.


“Iya, boleh. Mau ngapain pulang?” tanya Azka.


“Ini, Abang mau nitip sesuatu buat dianter ke rumah temennya”


Azka hanya menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menaiki motor Juan dan kemudian mereka berdua menjauh dari Kaisar.


“Tunggu disini yah. Duduk dulu aja” ucap Juan saat mereka sudah sampai di rumahnya. Azka pun duduk. Juan melangkah masuk melewati pintu menuju ke ruangan di sebelah ruang tamu itu. Terdengar suara dua orang yang saling bicara meskipun percakapannya tidak terdengar dengan jelas.


Ckrek.


Pintu pemisah ruangan itu terbuka. Azka menoleh, tapi ternyata bukan Juan yang ada disana. Melainkan seorang laki-laki paruh baya, yang dari penampilannya sepertinya Ia adalah Ayah Juan.

__ADS_1


“Sore, Pak” sapa Azka. Bukan dijawab, orang yang dikira Azka ayahnya Juan itu justru menampilkan ekspresi tajam yang tak bersahabat.


“Jadi kamu yang namanya Azka?” tanya laki-laki itu dengan nada yang sama tidak bersahabatnya.


“Em—I-Iya Pak” Azka memaksakan senyumnya untuk terukir.


“Jauhi Juan. Seharusnya, kamu bisa menentukan lebih baik dengan siapa kamu harus berhubungan”


“Bapak” belum sempat Azka merespon ucapan laki-laki yang disebut Bapak oleh Juan, Juan sudah muncul dengan ekspresi panik. Antara takut dan sedih yang bercampur menjadi satu. Dibelakangnya muncul seseorang yang sangat mirip dengan Juan, sepertinya itu Abangnya.


“Pak, Bapak ke dalam dulu sama Patra. Biar nanti Juan yang bicara sama Azka. Ju, anter Azka pulang sana”


Juan menarik tangan Azka sampai berbalik. Azka menyempatkan diri menoleh dan menundukkan kepalanya memohon pamit karena Ia tak sempat berbicara apapun. Azka menaiki motor Juan yang segera meninggalkan rumah itu. Azka bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Sedangkan Juan hanya memilih diam. Motor berhenti di sebuah halte, Juan mengedikkan kepalanya memberi isyarat untuk turun.


“Kenapa turun disini?”


“Katanya tadi mau ngomong, ngomong apa? Jangan di motor ngomongnya. Bahaya” Juan membuka pembicaraan.


“Eh—Emm.. Kamu gak mau jelasin dulu apa yang sebenernya terjadi?” Azka berhati-hati memilih kata saat mengucapkannya, “Tadi, Papa kamu?” tanya Azka lagi.


Juan mendengus kasar. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghadap gadis yang duduk di sampingnya.


“Nyil, maaf soal Bapak tadi” Ia tidak melanjutkan kalimatnya.


“Untuk apa?”


“Apa kamu sakit ngedenger ucapan Bapak?”


“Yang mana?” Azka mengingat-ingat.


“Jauhi Juan. Seharusnya, kamu bisa menentukan lebih baik dengan siapa kamu harus berhubungan”


“Oh, itu. Aku yakin Papa kamu punya alasannya. Dan pasti Papa kamu mau yang terbaik untuk kamu. Ya kan?” Kalimat ini sebenarnya cocok dengan kondisi Azka saat ini. Ia mencoba menelan kalimat yang Ia ucapkan. Tapi terlambat, karena kalimat itu sudah terlontar begitu saja. “Papa kamu gak suka aku bahkan sebelum mengenal rupanya?” Tanya Azka lebih kepada dirinya sendiri.


“Aku merasa mungkin ada yang salah dengan ini semua. Entah dari cara pandang Mama aku dan Papa kamu, atau justru hubungan kita yang salah. Tapi sepertinya kita juga gak bisa ngelawan” Azka melanjutkan kata-kata yang rasa-rasanya lebih mirip monolog daripada dialog. “Aku sayang sama kamu Ju, tapi apa mau dikata?” Azka menarik napas pelan, mencoba mengatur perasaan yang sudah hampir keluar termuntahkan. “Bukan cuma kamu yang punya masalah itu. Aku juga” Azka tidak melanjutkannya. Ia memilih tersenyum untuk mengatur segala sesak yang membuncah di dadanya.


“Nyil,” Panggilnya.


“Apa kita akan membuat kesepakatan untuk kedepannya?” tanya Azka menjawab panggilan itu.


“Aku gak pernah suka dengan kesepakatan”


“Trus apa kamu punya ide lain?” Azka semakin sesak, tapi Ia menahannya sekuat yang Ia bisa. Awan yang tadi berarak kini mulai berganti warna. Sepertinya sesak di dalam dada yang Azka dan Juan rasakan diwakilkan oleh langit. Ada sesuatu yang akan segera turun lalu membuat basah tanah-tanah.


“Kita cukup kembali seperti sebelumnya. Sampai ada yang lebih dulu melepas satu sama lain” ucap Juan.


“Kita berakhir disini?” Kini Azka sudah tak mampu banyak bicara.

__ADS_1


“Sepertinya, untuk sementara. Walaupun aku gak pernah tau nanti kita akan bersatu dengan siapa. Tapi selama itu belum terjadi, kamu harus tau kalo hati aku gak pernah berubah”


Langit mengambil alih. Ia turunkan hujan seolah itu akan menghentikan air mata dari keduanya. Mungkin semesta tak pernah mengijinkan perpisahan itu diiringi air mata. Karena nyatanya, keduanya justru mendapat rasa lega yang luar biasa.


__ADS_2