Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 28


__ADS_3

“Saya mau bicara sama Mbak Azka” ucap seorang di depan pintu.


Ternyata Ia tidak sendiri. Ia ditemani oleh seorang temannya. Azka yang merasa namanya disebut segera menengok, dan mendapati seseorang yang Ia kenal disana.


“Iya, saya disini. Mau ngomong apa?” Azka berjalan menjauh dari meja tempat Ia dan Alfan tadi berbincang sambil merapihkan renda di meja.


“Saya kira kamu mau ngomong sama Mas Alfan” kata Azka lagi sambil menengok sekilas pada Alfan yang cuek saja disana.


“Mas, Ck” dengusnya.


Tria, orang yang mencari Azka, diam memandangi Azka lalu Alfan secara bergantian. Teman-teman Azka sudah mulai berhenti dari kerjanya dan memperhatikan mereka bertiga.


“Mau ngomong apa?” tanya Azka lagi.


“Mbak, sebenernya apa sih hubungan Mbak sama Kak Alfan?”  Azka melongo mendengar ucapannya. Jadi dia kesini cuma mau nanya itu? Yang sebenernya udah Azka dan teman-temannya jelaskan saat pertama bertemu dengannya di lab kimia. Sebelum Azka menjawab Tria melanjutkan ucapannya.


“Saya awalnya sungguh sangat senang bisa kenal dengan Mbak. Mbak seolah akan mendukung saya dan hubungan saya dengan Kak Alfan. Tapi nyatanya apa? Mbak dan Kak Alfan itu justru selalu buat saya sakit hati.” Suaranya mulai meninggi dan bergetar. Azka masih melongo dengan ucapan Tria barusan. Begitu juga teman-teman Azka yang ada di ruangan. Sesaat kemudian mereka dikejutkan dengan gebrakan meja yang dilakukan olehnya.


Braakkkk!!

__ADS_1


“Astaghfirullah” Azka terkejut seketika


“Jawab Mbak!!! Jangan jadi orang munafik! Yang selalu bilang Mbak dan Kak Alfan gak punya hubungan apa-apa, tapi nyatanya bermain di belakang saya!”


“Maksud kamu apa?” Azka hanya bisa mengeluarkan satu kalimat itu sebelum Tria kembali menyemburkan segala hal yang menurut Azka tak jelas dan tak berdasar.


“Mbak jangan pura-pura gak tau! Saya tau semuanya. Kalian sering berdua. Di lab, di kantin, di depan mushola, bahkan di kelas kalian suka duduk satu bangku!”


“Lalu apa itu namanya jika bukan punya hubungan istimewa??” Ia melanjutkan, tak memberi jeda dan kesempatan untuk Azka menjawab atau menjelaskan.


“Mbak, kita sama-sama perempuan. Saya kira Mbak tau gimana perasaan saya. Ternyata, semua ucapan Mbak dulu itu cuma topeng supaya Mbak tetep bisa deket sama Kak Alfan. Iya kan???” Ia mengakhiri kalimatnya dengan teriakan yang membuat teman disampingnya bergidik. Tapi tidak dengan Azka. Azka justru memberikan tatapan sengit. Seolah gadis itu telah benar-benar tersayat harga dirinya dan Ia tak akan memberi Tria ampun saat ini.


Azka mendelik, menatapnya sengit. Ia maju mendekati Tria yang terlihat sudah hampir puas mencacinya.


“Denger ya, Jauh sebelum kamu kenal dan deket sama Alfan, saya, temen-temen saya, sudah lebih dulu kenal dan dekat. Jadi gak usah merasa terlalu memiliki dan membatasi kedekatan kami” telak. Kalimat yang Azka ucapkan membuat Tria terdiam membisu.


Azka meletakkan hecter besar yang Ia gunakan tadi bersama Alfan untuk menempel renda di meja. Lalu dengan sekali hentakan Ia keluar dari ruangan itu. Teman-teman Azka hanya menyaksikannya dengan sesekali berbisik dan menunjuk-nunjuk Tria dengan raut tak senang.


“Kalo masih berani ngomong. Gue hecter bibir Lo” ucap Risa kesal

__ADS_1


Sampai di kelas Azka tak melihat Alfan. Mungkin pria itu langsung pulang, atau ke mushola. Alfan harus meluruskan masalah ini dengannya, pikir Azka. Tak lama teman-temannya menghambur dari pintu.


“Gila ya anak kelas sepuluh sekarang!” cerca Risa yang sudah tak sabar


“Emang sinting semua” ucap Iren lagi.


Perkataan mereka membuat teman sekelas mereka yang tak mengetahui masalah di lab tadi bergerak mendekat. Saling bertanya ada apa, dan sebab musabab ketiga gadis itu terlihat begitu marah saat ini. setelah Gita yang ada di lab menyaksikan pertengkaran tadi menceritakan kepada seluruh teman sekelas mereka, barulah yang lain ikut bereaksi sama tidak sukanya dengan Risa dan Iren.


“Dapet Adek baru nih kita” ucap Wede santai mendekati Azka. Azka tersenyum sinis


“Iya, Adek Lo trendsetter tuh Wed. jadi Gue dilabrak tanpa alasan” ucapnya sedikit kesal


“Lagian dia harusnya ngelabrak Harisa, bukan Gue! Yang deket kayak laki bini kan mereka berdua. Bukan Gue. Sial!” umpat Azka yang mendapat tabokan di lengan oleh Harisa sambil tertawa.


---


Azka merebahkan diri di atas ranjangnya. Hari ini bener-bener membuatnya lelah. Apa yang ada dipikiran Tria sampai gadis itu nekat ngelabrak Azka? Azka tak habis pikir.


“Kenapa anak kelas sepuluh sekarang sangar semua gitu sih?” gumam Azka sambil berguling membalikkan tubuh menjadi tengkurap. Ia memainkan ponselnya dengan malas. Tak ada pesan, dan tak berniat untuk berbicara dengan siapapun saat ini. Sangking lelahnya Ia akhirnya tertidur tanpa mengganti seragam sekolahnya.

__ADS_1


__ADS_2