Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 7


__ADS_3

Kamu tahu apa itu rindu? Sesuatu tak kasat mata yang menuntut temu meski harus menunggu.


Rasya sudah berdiri di sana sejak setengah jam lalu. Kabar dari Azka bahwa dirinya sudah hampir sampai membuatnya bergegas menuju terminal. Meski Ia harus menunggu lebih dari setengah jam dan terpaksa membatalkan jam tidurnya, nyatanya waktu seminggu bukan waktu yang cukup untuk membayar rasa rindunya. Ia dengan senang hati menunggu di terminal itu meski harus menggadai rasa kantuknya dengan guyuran air dingin di pagi hari. Ia meneliti satu persatu bis yang sampai. Mengedarkan pandangan pada setiap penumpang yang memencar. Sampai akhirnya netranya menangkap sesosok yang paling Ia nanti.


“Lancar?” tanya Rasya pada Azka yang sudah berdiri di hadapannya. Ia menggendong sebuah ransel yang terlihat penuh. Tidak lupa sebuah tas kecil yang senantiasa menemaninya kemanapun Ia pergi. Gadis itu tersenyum meski wajahnya terlihat lelah.


“Alhamdulillah. Dua belas jam” jawab Azka tersenyum lagi. Entah mengapa melihat pemuda di hadapannya membuat sudut-sudut bibir itu terus tertarik lebar. Bahkan lengkung sabit itu sudah terbit sejak Ia menangkap sosok itu saat pertama kali bis yang Ia tumpangi memasuki halaman terminal.


“Cape dong” Ia terkekeh seraya mengambil alih tas ransel di punggung Azka. Azka sontak saja melepaskan belitan tali temali di depan perut dan dilengannya guna menurunkan ransel itu agar jatuh pada lengan Rasya yang terjulur. Kini ransel itu sudah berpindah bahu.


“Heeum. Pengen cepet sampe rumah biar bisa tidur. Aku di jalan gak bisa tidur” keluhnya seraya berjalan menuju sebuah mobil berwarna abu yang terparkir cantik di depan sebuah loket.


“Kamu udah makan?” tanya Rasya terdengar basa-basi. Tapi memang begitulah dirinya. Menanyakan hal-hal yang terkesan remeh tapi itu adalah salah satu bentuk perhatian yang tidak pernah Azka dapat dari orang lain.


“Belum lah Kak. Aku baru sampe ini. di jalan mah gak nafsu” ucap Azka menggelengkan kepalanya.


“Mau sarapan dulu?” tanyanya lagi.


“Eh? Kamu juga belum makan?” Azka melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Ini baru jam tujuh kok. Belum telat sarapan. Kirain kamu sarapan dulu di rumah” ucap Azka berhenti di samping pintu penumpang yang masih tertutup. Rasya berdiri di sebelahnya, membuka pintu penumpang bagian belakang dan meletakkan ransel Azka di kursi penumpang. Ia menutup pintu itu dengan debam keras.


“Belum, tadi buru-buru kesini. Takut kamu nunggu” ucapnya mengalihkan tangannya ke handle pintu di depan Azka. Ia menarik handle dan membuka pintu lebar-lebar. Azka ikut mundur mengikuti gerakan pintu. Rasya menyamping, memberi isyarat Azka agar masuk melalui celah yang Ia berikan. Azka menurut saja dan masuk ke dalam mobil. Azka berputar mengelilingi mobilnya setelah menutup pintu di samping Azka. Membuka pintu mobil kemudi untuk dirinya sendiri. dan kemudian masuk melesak di atas kursi yang empuk itu.


“Siap sarapan masakan Mama?” tanya Rasya memegang stir dengan kedua tangannya.


“Siap. Ayo pulang” Seru Azka bersemangat.


---


“Assalamu’alaikum” ucap kedua orang di depan pintu itu.  Keduanya berdiri dengan kaki telanjang karena sepatu keduanya sudah terlepas berserak di teras.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam” ucap Mama dari dalam. Bunyi pintu terbuka bersamaan dengan jerit kaget membuat kedua orang itu berjengit. ”Lho Adek? Kok gak bilang-bilang udah sampe. Papa lagi nungguin kabar Adek udah sampe mana” Mama memulai ceramahnya.


“Kak Rasya udah di sana dari setengah jam lalu. Jadi pas adek sampe, Adek langsung pulang aja. dari pada Papa cape harus jemput ke sana”


“Gak apa-apa Tante, Rasya sengaja jemput Azka” ucap pemuda itu dengan senyum manisnya. Mengundang Mama untuk ikut tersenyum dan mengelus bahu pemuda itu dengan lembut.


“Makasih ya Rasya. Masuk dulu yuk. Sekalian sarapan bareng. Papa lagi mau sarapan di ruang makan” info Mama. Belum sempat Rasya menolak, lengannya sudah ditarik lebih dulu oleh Mama Azka. Keduanya meninggalkan Azka yang memutar bola matanya malas sambil ngedumel.


“Yang anak siapa sih? Ini anak Mama yang baru sampe dari Bandung tuh ini lho Ma” ucap Azka setengah kesal. “Ma!” panggilnya lagi karena wanita yang disebutnya Mama itu tidak menanggapi. Rasya hanya pasrah mengikuti sambil melirik dengan tatapan meledek pada Azka. ‘Wlee, Aku lebih di sayang Mama’ ledeknya tanpa suara. Azka pun hanya bisa mencebik kesal dan mengikuti langkah Mama hingga ke dalam.


“Pagi Om” ucap Rasya saat mereka sudah sampai di ruang makan. Papa sedang menyantap nasi goreng buatan Mama dengan satu gelas teh hangat sebagai temannya.


“Eh, Rasya. Sini duduk. Kita makan dulu. Makasih udah jemput Azka ya” Papa menyambutnya dengan hangat. Sehangat sambutan ayah kepada anaknya yang telah lama tidak pulang.


“Iya Om” Rasya menarik sebuah kursi lalu duduk di sana bersamaan dengan duduknya Mama di samping Papa. Kini Rasya sudah duduk di hadapan Papa, sedangkan Azka masih berdiri di belakang kursinya.


“Dek? Gak mau sarapan?” tanya Papa menoleh ke arah anak gadisnya itu.


“Kak Rasya itu gak kemana-kemana. Kenapa jadi Kak Rasya sih yang disambut? Ditawarin makan? Adek laper juga tau” tambahnya yang membuat Papa dan Mama terawa.


“Adek tuh cemburu? Kenapa? Harusnya Adek seneng dong. Rasya itu udah seperti bagian dari keluarga kita ini. Ya kan Sya?” ucap Papa meminta pendapat. Rasya hanya mengangguk sambil tersenyum geli.


“Udah cepet duduk. Nanti malah tambah lama, tambah laper. Cepet gausah cemberut-cemberut” ucap Mama melambai-lambaikan tangannya mengisyaratkan Azka agar duduk di sebelah Rasya. Azka pun menurut. Cacing-cacing di dalam sana pasti sudah meronta, terdengar dari perutnya yang terus berbunyiminta diberi isi.


“Azura mana Ma?” tanya Azka menyadari ketiadaan Azura, adik bungsunya.


“Azura latihan drumband. Kecil-kecil ternyata dia pinter main itu. Jadi disuruh gurunya ikutan” Mama seru memberi tahu. Sementara Azka hanya ber ooh ria sambil manggut-manggut. Ia segera mengambil piring, mengisi dengan nasi goreng untuk Ia makan. Baru mulutnya terbuka untuk Ia suapkan sesendok nasi goreng, Mama sudah kembali menginterupsinya.


“Ade! Kok makan sendiri. Itu Rasya belum di ambilin makannya” ucap Mama gemas.

__ADS_1


“Bisa sendiri kali Ma. Kak, makan gih ambil sen—Aw!” Azka meringis saat tangannya di geplak oleh Mama dengan ujung sendok. “Sakit Ma” keluh Azka dari tempatnya.


“Ambilin Rasyanya. Cepet” ucap Mama sambil melotot.


“Iya iya deh, buat anak pungut kesayangan” ucap Azka asal.


“Heh, Azka!” sekali lagi Azka mendapat geplakan di tangannya.


“Astaga Mama. Ade baru dateng berapa menit udah dapet geplakan mulu dari tadi” sungut Azka pura-pura. Ia menerbitkan cengirannya, lalu mulai mengambil sepiring nasi goreng untuk Rasya.


“Nih. Makan yang banyak. Biar sehat dan kuat. Soalnya nanti kalo kita udah jauhan harus nahan rindu. Rindu itu berat, kamu gak akan kuat” ucap Azka yang seketika mendapat lirikan berarti dari sang Papa.


“Iya iya, Azka makan” ucap Azka lalu menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


.


.


.


“Tante, Rasya pulang dulu” Pamit Rasya setelah mereka menyelesaikan sarapan dengan berbagai ceremoni lainnya. Dari mulai mendengar Papa ceramah tentang perusahaannya, menanyakan perkara kuliah Rasya ke depan, sampai obrolan ngalor ngidul yang tidak berfaedah sebenarnya.


“Iya, hati-hati ya. Makasih udah anter jemput Azka. Dia mah emang suka nyusahin” ucap Mama.


“Mama, mulai deh” Azka menginterupsi.


“Sama-sama Tante. Rasya gak pernah ngerasa disusahin kok sama Azka” ucap Rasya tersenyum penuh arti.


“Panggilnya Mama aja. Biar sama kayak Azka. Yaudah Mama ke dalam dulu ya” Mama pamit meninggalkan mereka berdua di depan pintu yang masih terbuka.

__ADS_1


“Ciieee anak emas ciiiee. Ciiieee panggil Mama ciieee”


__ADS_2