Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 30


__ADS_3

“Dek, kamu kenapa sih” tanya Rasya yang merasa ada perubahan pada Azka sepulang dari toko buku.


“Gak kenapa-kenapa, emang aku kenapa?”


“Lebih diem aja, beda dari pas berangkat” Rasya mengutarakan perasaannya.


“Perasaan kamu aja kali kak, aku biasa aja kok. Atau aku cape kali yah, hehe” Azka terkekeh mencoba membuat tingkah seperti biasanya.


“Mungkin” ucap Rasya mengakhiri.


“Kak, kesitu dulu dong bentar!” ajak Azka menunjuk penjual minuman kekinian. Rasya menepikan motornya. Azka segera mendekati si mang penjual minuman, memesan dengan 2 rasa berbeda. Azka terlihat senang ketika si mang sedikit membuat atraksi ketika membuat minuman yang cara buatnya ditarik-tarik itu. Senyumnya terus terpasang di wajahnya. Melihat itu, Rasya jadi ikut tersenyum. Ia memilih duduk di salah satu kursi plastik yang disediakan di sana.


Azka ditawarkan untuk mencoba membuat minuman itu, Azka pun mengangguk, dipegangnya dua buah cangkir yang terbuat dari stainless itu. Dengan takut-takut Ia menirukan gerakan mang penjual tadi. Alih-alih melakukannya dengan benar, minuman yang hendak di tuangnya justru jatuh berhamburan kemana-mana. Azka yang kaget berteriak kecil dan lalu tertawa.  Rasya mendekatinya, memperhatikannya dari jarak yang lebih dekat. Satu kali, dua kali, Azka tidak juga berhasil. Sebagian pakaiannya terkena tumpahan minuman, tapi Ia justru sangat senang. Akhirnya Ia menyerah dan mengambalikannya kepada si Mang.


“Udah ah mang, ntar mangnya rugi, tumpah semua” ucap Azka.


“Makanya jangan sok bisa” ucap Rasya yang ada disampingnya.


“Kak, bayarin yah yang tumpah tadi. Hehe” Azka nyengir.


“Yang numpahin siapa, yang disuruh bayar siapa” Rasya menolak.


“Yaelah, besok aku ganti. Ini cuma cukup bayar dua porsi ini buat kita” Azka kekeuh.


Rasya mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu dan membayar ke si Mang, “Sekalian aja semuanya” ucapnya sebelum Azka membayar bagiannya.


Mereka berdua duduk, Azka menyodorkan satu gelas minuman yang tadi Ia belikan untuk Rasya, meskipun yang membayar ujungnya Rasya juga.


“Nih,” sodornya


“Makasih”


“Aku yang makasih” timpal Azka


“Kak” panggil Azka saat Rasya menyeruput minuman yang baru diambil dari tangannya


“Hemmm”


“Kamu masih inget sama Nadia gak?” tanya Azka


“Eh?” Rasya terkejut, “Nadia? Ya inget lah” Rasya mengatakan itu seolah Nadia bukan siapa-siapa baginya, lebih karena memang tadi Ia baru saja bertemu dengan gadis masa lalunya. Dan dengan bodohnya, Ia tak memikirkan siapa yang bertanya padanya saat ini.


“Iya ya, mana mungkin gak inget” jawab Azka sekenanya.


“Kenapa nanya gitu?”


“Enggak, aku tiba-tiba inget sama dia aja” timpal Azka menjadi salah tingkah.


Mungkinkah tadi Azka melihat Nadia? Atau hanya kebetulan Azka mengingat gadis itu saat


tadi Rasya bertemu dengannya?


“Ngapain nginget-nginget? Bukannya kamu gak saling kenal?” tanya Rasya menyelidik.


“Iya, aku gak kenal sama dia. Aku taunya aja dari Nadia, waktu kelas 8 kalian berantem” ucap Azka menyebut sahabatnya, yang memiliki nama yang sama dengan gadis yang tadi Ia lihat sedang bersama Rasya.


‘Apa tadi Azka liat Gue sama Nadia pas ngobrol?' Ia menimbang untuk menanyakannya atau tidak,

__ADS_1


“Kamu kenapa?” tanya Rasya, enggan menanyakan apa yang ada dipikirannya saat ini


“Enggak apa-apa”


“Kak?” panggilnya lagi


“Hemmm” jawab Rasya masih menyedot minumannya


“Kalo Nadia dateng ke sini, trus dia bilang mau balik ke kamu, kamu bakal lakuin apa?”


Rasya yang mendengar menelan salivanya dengan susah payah. Alih-alih menjawab Ia malah diam, menurunkan gelas transparan yang dari tadi Ia pegang menjauhi mulutnya.


“Minumannya diminum dulu” ucap Rasya yang justru memperhatikan jemari Azka yang mengaduk minuman tanpa meminumnya.


Tes


tes


tes


“Kak, Ujan Kak” Azka menengadah ke atas


“Wah iya. Ayo cari tempat neduh dulu kalo gitu. Yuk” Rasya segera bangkit menuju motornya dan menghidupkannya. Ia melajukan motornya saat Azka sudah duduk dijok belakang. Rasya terus melaju hingga Ia berhenti di sebuah warung makan yang juga ramai dijadikan tempat orang berteduh.


“Masuk duluan sana” Rasya menyuruh Azka mendahuluinya. Pakaian dan sepatu mereka yang sudah basah membuat jejak pada lantai warung makan tersebut. Mereka bergerak mencari kursi, lalu duduk di salah satu kursi kosong yang ada di pinggir jendela sebelah belakang.


“Yah, gak bisa pulang deh” Keluh Azka yang menatap ke luar melalui jendela di sebelahnya. Hujan semakin deras, beberapa motor terlihat ikut menepi ke sana setelah pengemudinya basah kuyup diguyur hujan.


“Pesen teh anget ya?” tawar Rasya yang melihat Azka nampak kedinginan


“Gak usah, ini masih ada” jawab Azka memperlihatkan Teh tarik yang tadi Ia beli.


“Yaudah aku aja yang pesen, nanti kalo mau minta aja” lanjutnya karena pertanyaannya tak dijawab oleh Azka. Rasya pun bangkit, memesan teh manis hangat satu gelas, lalu kembali ke kursinya. Mereka menyesap minuman mereka masing-masing. tidak ada percakapan antara keduanya. Antara Azka dan Rasya masih tenggelam dengan pikirannya masing masing.


“Aku mau ke toilet dulu” ucap Azka


“Heem” jawab Rasya singkat sambil mengalihkan pandangannya dari hujan menuju wajah gadis yang tadi duduk di hadapannya.


“Udah?” saat Azka kembali duduk di kursinya dengan wajah yang masih tanpa ekspresi. “Udah. Kak, pulang aja yok. Udah sore banget nanti aku dimarahin mama” 


“Coba telpon dulu Mama nya. Ini masih gede loh hujannya”


“Hape aku mati. Kalo gak, aku pulang duluan yah naik angkot. Biar kita sama-sama gak basah” usul Azka yang memang sudah gelisah ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore.


“Terserah kamu deh” ucap Rasya acuh, kembali menatap hujan diluar. Ia sebenarnya masih tidak enak hati dengan pertanyaan Azka yang belum Ia jawab. Entah kenapa pertanyaan itu membuatnya kesal. Entah karena Ia tak suka membahas masalalunya atau justru karena bingung menjawabnya. Azka mendengus kesal karena merasa diacuhkan. Ia menggamit tas yang ada di kursinya lalu berjalan keluar warung makan. Ia berlari-lari kecil sampai ke trotoar lalu menyetop angkot yang lewat. Azka menaikinya tanpa menoleh ke arah Rasya yang memandanginya dengan ekspresi kosong.


---


-+62821 68xx xxxx-


Sore Rasya. ini nomor aku, save yah. Siapa tau kita bisa berteman lagi.


Nadia.


Rasya membuka pesan dari nomor tidak dikenal, matanya melebar ketika membaca nama pengirim yang ditulis di akhir pesan. Ia menarik nafas dalam sebelum menyentuh nomor tersebut dan menyimpannya. Ia mengetikkan namanya ‘Nadia’, tapi belum sempat di save, Ia menghapusnya kembali. Sambil menimbang-nimbang ponsel di tangannya akhirnya Ia mengetikkan lagi nama untuk nomor Nadia. ‘Sakura’.


Rasya memasukkan ponselnya ke dalam saku. Melihat lagi ke arah luar yang menampilkan langit kelabu tanpa rintik hujan. Ya, hujan sudah berhenti, meninggalkan basah pada bangunan, pohon, dan jalanan. Mungkin juga ada hati yang basah saat ini. Rasya keluar dari warung makan itu setelah sebelumnya membayar pesanan teh hangatnya. Ia menuju motor yang sudah penuh dengan butir air langit. Ia membenarkan posisi helm yang sebelumnya digunakan oleh Azka. Menggunakan helmnya sendiri dan menyalakan mesin motor. Motor menderu, lalu keluar dari halaman parkir warung makan yang sudah mulai lengang. Motornya membelah jalanan panjang, membawa nya ke tempat yang nyaman, untuk sekedar mengistirahatkan perasaannya.

__ADS_1


“Kenapa Gue jadi bingung sama perasaan Gue sendiri” gumam Rasya.


---


Azka memasuki halaman rumah dengan kondisi pakaian yang sudah basah hampir di seluruh bagiannya. Ia melepas sepatunya dan meletakkannya dengan posisi vertikal pada dinding depan rumahnya.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam” jawab Mama dari dalam rumah. “Dari mana De? Kok baru pulang? Hujan-hujanan?” tanya Mama beruntun. Azka menggamit tangan Mama dan menciumnya.


“Iya Mah, tadi cari notebook dulu. Eh hujan. Karena udah sore Adek maksa aja pulang. Trus pas sampe depan gang hujannya berenti” ucap Azka panjang lebar.


“Yaudah mandi dulu, biar gak sakit” ucap Mama sambil mengusap punggung anak gadisnya itu.


---


“Lo kemana Ka kemarin?” tanya Risa saat mereka sedang duduk di kelas.


“Pulang” Azka menjawab seadanya.


“Buru-buru banget, pasti jalan dulu kemarin sama Rasya” tebak Risa.


“Tuh tau, hehe” Azka nyengir.


“Gitu yah kalo mau jalan tuh langsung nylonong” ucap Ocha yang sudah duduk disamping Azka


“Slonong girl” Azka dan Risa berucap bersamaan lalu mereka tertawa.


“Dari jalan kemana kemarin?” tanya Ocha lagi


“Ke toko buku, beli notebook ini” jawab Azka tak bersemangat sambil menunjukkan dua buah notebook dihadapannya


“Lo kenapa Ka? Kok jadi gak semangat gitu?”


“Eh--? Enggak kok. Biasa aja” jawab Azka dibuat santai.


“Berantem lagi?” tebak Risa


“Enggak, kita baik-baik aja”


“Bagus deh, jangan keseringan berantem. Sayur juga kalo dikasih garem terus-terusan ya gak jadi enak. Asin!” ucap Ocha


“Apa hubungannya sama sayur?” Azka menoleh.


“Ya gitu, kayak Cinta. Ibarat sayur, Romantis, berantem, salah paham, maafan, itu semua bumbunya. Tapi kalo berantem terus, ya gak enak juga. Romantis terus juga ga enak. Sama kayak sayur, dikasih garem kebanyakan asin, dikasih gula doang juga gak enak, Kemanisan, ujungnya pait” celoteh Ocha sok bijak.


“Tumben bener” ucap Risa menepuk kepala Ocha pelan.


“Gue” Ocha menepuk-nepuk dada bangga.


“Kayak pernah aja Lo Cha” ledek Azka sambil tersenyum.


“Weits, meski belum berpengalaman, gini-gini Gue jago lah soal teori mah”


“Teori doang! Coba aja sono praktek, masih bisa gak Lo sebijak ini” Risa meledek


“Liat aja nanti”

__ADS_1


“Iyeee kita liatiiin” Azka dan Risa tertawa, sedangkan Ocha hanya mencebikkan bibirnya tanda tak suka.


__ADS_2