Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 1


__ADS_3

Acara perpisahan sekolah sudah di depan mata. Hanya tinggal hitungan jam, seluruh siswa di SMA Negeri 45 akan hadir dalam acara bertajuk “Kisah Klasik untuk Dikenang” itu. Seluruh siswa, tanpa terkecuali, semua bisa hadir di sana. Dan itu artinya Azka beserta teman-temannya akan berkumpul dengan kurang lebih 500 siswa lainnya dari angkatan yang berbeda. Meskipun Risa dan iren tidak akan hadir dalam acara itu, Azka tetap merasa sangat bergairah menyambut acara yang hanya sekali seumur hidup Ia datangi itu. Ya. Siapa yang akan melewatkan acara perpisahan di tahun terakhir kalian menyandang status sebagai siswa?


Siang ini, Azka dan Ocha tengah berada di kedai eskrim. Membicarakan persiapan untuk acara perpisahan yang akan di gelar malam nanti.


“Ka, Lo jadinya bakal dateng sama siapa?” tanya Ocha sambil menjilat eskrim di cone berwarna ungu.


“Sama Kak Rasya kayaknya. Dia mau jemput” ucap Azka santai, Ia masih memperhatikan jalanan tanpa menyentuh eskrim di cup kertas bercorak mesis itu.


“Weh, inget gak bakal ada Juan juga di sana?”


“Hmm” Azka memilih tidak menjawab.


“Ka, Ragil juga dateng, Lo gak mau bareng dia aja?”


“Cha… jangan mulai deh ya” Azka malas membahas itu. Karena sampai saat ini Ragil masih tetap sama, tidak melihatnya.


“Sorry-sorry” Ocha terkikik geli. “betewe, Rasya bakal bawa motor? Malem loh”


“Tau deh, dia nanya sih, Gue mau dijemput pake motor apa mobil. Tapi Gue jawab terserah” Azka mulai mengangkat sendok plastik kecil di sisi eskrimnya. Membuka bungkusnya dan menyendok sejumput besar eskrim untuk Ia masukkan ke dalam mulut.


"Mobil aja Ka. Jadi nanti Gue bisa nebeng” Ocha tertawa senang sebelum akhirnya mengaduh, “Aduh sakit bege!” Azka tersenyum menang setelah menoyor kepala Ocha seperti yang biasa Ocha lakukan padanya.


“Cha, entar Lo mau dateng jam berapa? Acaranya jam tujuh kan?” Azka mulai membuka suaranya lagi. Eskrim di tangan Ocha sudah tandas. Ia membuang kertas yang melapisi cone eskrim ke tempat sampah. Ia melirik sekilas ke arah cup eskrim Azka. Eskrimnya masih tersisa setengah, sebagian besarnya sudah berubah mencair karena terlalu lama didiamkan.


“Tumben Lo lama banget makan eskrim. Biasanya gercep dah tuh” Bukannya menjawab Ocha justru membicarakan hal lain yang jauh dari topik pembicaraan.


“Jawab pertanyaan Gue napa sih Cha” Azka sudah setengah kesal karena Ocha malah mengeluarkan cengirannya. “Sorry Ka” ucapnya.


“Gue mau berangkat abis Isya aja deh. Abis Shalat, Gue berangkat. Sekarang Isya jam tujuh lima belas soalnya. Deket ini rumah Gue” Ocha mengatakan kalimat itu dengan sekali tarikan napas. Dan apa yang terjadi sekarang? Ia batuk batuk, nyaris kehabisan napas karena kalimat panjangnya.


“Kabarin ya. Gue lagi gak shalat sih. Tapi Risa sama Iren kan gak dateng. Gue ntar mati gaya kagak ada Lo”


“Siyaap Bos” ucap Ocha sambil tersenyum. “Udah belum? Pulang Yuk!”


“Hayu, Gue gak nafsu ngabisinnya. Udah jadi water cream” ucap Azka nyeleneh.


“Eskrim cair Elah! Whahaha, pake segala dikasih nama Water cream” Ocha menoyor kepala Azka gemas.


“Cha, mulai deh”

__ADS_1


Keduanya menuju motor Ocha yang terparkir tidak jauh dari tempat dimana mereka duduk. Sebelumnya Azka menuju kasir untuk membayar dua eskrim yang tadi Ia dan Ocha makan.


“Belum bayar main kabur aja Lo” hardik Azka saat sudah berdiri di sebelah sahabatnya itu.


“Lah, iya Gue lupa” ucap Ocha tanpa rasa bersalah.


“Udah Gue bayar. Ayo pulang” ajak Azka meraih satu helm dan memasangnya di kepala. Ocha menaiki motornya setelah mengucapkan terima kasih sambil mencium pipi Azka. Sontak Azka bergerak mundur sambil mengumpat.


“Gue normal Geblek!” Ocha tertawa puas sudah mengerjai sahabatnya itu. Mereka pun pulang, menuju rumah Azka.


Tidak ada yang berbeda selama mereka berjalan dari kedai eskrim menuju rumah Azka. Langit biru cerah, matahari bersinar dengan terangnya, membuat mata segera menyipit saat mendongak ke arahnya. Awan putih berarak, berkejaran di sekitar mereka seolah saling berebut untuk mendahului. Azka merasa senang bisa keluar berdua dengan Ocha. Meski merasa kurang karena empat sahabatnya yang lain tidak ikut serta. Azka ingin menikmati masa-masa terakhirnya di kota itu. Sebelum akhirnya Ia harus merantau ke kota kembang tempat Ia akan melanjutkan sekolahnya.


“Ka, Rasya nanti yang bantu ngurus daftar ulang di kampusnya siapa?”


“Gue bakal bantu” jawab Azka sambil sedikit berteriak.


“Emang Lo belum ke Bandung?” tanya Ocha lagi dari balik kemudi sepeda motornya.


“Daftar ulangnya dua hari sebelum Gue ke Bandung” jawab Azka lagi. Selanjutnya tidak ada percakapan sampai akhirnya keduanya berhenti di depan gerbang rumah Azka.


“Gak mau masuk dulu Cha?” tawar Azka


“Sampe ketemu ntar malem Cha” teriak Azka ke arah Ocha yang sudah melaju menjauh dari rumahnya.


Azka masuk ke dalam rumah, merasa aura di sekitarnya berbeda karena rumah terlihat lebih sepi. Padahal ketika Ia keluar bersama Ocha, semua penghuni rumah masih ada. “Horor amat sih” gumamnya untuk diri sendiri. Azka melewati ruang tamu, masuk menuju ruang keluarga dengan TV yang masih menyala. Ia terus berjalan hingga berhenti di depan pintu kamarnya. Ia menoleh ke belakang sekilas, mencoba mencari gerak sesuatu yang akan memberi petunjuk bahwa penghuni rumah ini masih ada.


“Ma? Pa?” panggilan Azka menggema. “Azura?” panggilnya lagi. Tidak mendapat jawaban apapun, Azka memilih membuka pintu kamarnya.


Cklek!


“SURPRISE!!!” Azka menutup telinga kuat-kuat saat indera pendengarannya itu menangkap jeritan yang seperti petasan meledak. Membuat telinganya pengang seketika.


“Surprise apaan ini?” Azka bertanya setelah riuh suara itu telah hilang tertelan senyuman yang mengembang di wajah masing-masing. Di sana ada Mama, Papa, Azura, dan Mbak Ratna dengan sebuah boneka beruang berwarna coklat berada di pelukannya.


“Selamat untuk kelulusan Ade jadi mahasiswa dong” ucap Mbak Ratna menggoyang-goyangkan boneka sebesar Azura itu.


“Selamat ya De” “Semoga Ade sukses ya” “Yee Mbak Azka kuliah, Azura ikut!” suara-suara itu bergantian menyerobot gendang telinga Azka. Pelukan dari Mama dan Papa bergantian diterima Azka. Azka tersenyum, lalu melirik ke arah boneka besar dengan pita di lehernya. Tergantung secarik kertas di pita itu. Boneka itu tampak asing. Azka tidak suka boneka. Dan Boneka itu terlalu besar untuk Azka.


“I-Itu boneka apaan Mbak? Dari siapa?” tanya Azka setelah dirinya terbebas dari pelukan seluruh anggota keluarganya.

__ADS_1


“Ini? tebak aja dari siapa” ucap Mbak Ratna membuat Azka semakin penasaran. “Nih, buat Ade, spesial dari seseorang” Azka melirik ke seluruh wajah di sana, Mama dan Papa terlihat tersenyum. Namun ekspresi wajahnya tidak bisa terbaca. Azura sudah mesem-mesem, seperti remaja tengah jatuh cinta. Padahal dirinya baru tau jajan dan nolak makan saja. Azka mengambil boneka besar itu, Meraih kertas di pitanya, dan membukanya.


Dear, Ay.


Semoga suka sama bonekanya.


Aku gak bisa nemenin kamu di Bandung,


Jadi ijinkan Boneka ini jadi wakil aku.


Semoga dia bisa bikin kamu selalu hangat di tengah


dinginnya udara Bandung.


With Love,


Iiay.


Azka menutup mulut dengan satu tangannya yang bebas. Matanya seketika panas, air dari telaga bening itu sudah siap menyeruak di sana. Sapuan di lengan Azka mengantarkan kepergian Mama, Papa, dan Azura kembali pada aktivitasnya. Sementara Mbak Ratna masih setia di sana.


“Ade tau itu dari siapa. Seniat itu dia berusaha ada buat kamu” Selesai mengucapkan itu Mbak Ratna ikut beranjak. Meninggalkan Azka dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Antara senang, terharu, bahagia, juga… sedih.


---


Azka mematut diri di depan cermin kamarnya. Dirinya baru saja selesai mandi, bahkan rambutnya belum selesai Ia keringkan. Ia membuka lemari pakaiannya, mengambil dress berwarna putih dengan corak abstrak berwarna ungu dan pink di bagian bawah dress se mata kaki itu. Azka mengambil hair dryer lalu memulai aktivitas mengeringkan rambutnya.


Selesai dengan rambut, kini Azka gesit menuju meja riasnya. Ia memakai pelembab wajah, melapisinya dengan sedikit foundation dengan tekstur ringan. Azka memainkan jarinya yang memegang brush di wajahnya. Ia mengoleskan satu persatu make up di wajah mungil itu. Setelah lima belas menit berlalu, Azka melihat pantulannya di cermin, wajahnya sudah terlukis sempurna. Make up flawless yang memberi kesan sederhana itu justru memberikan aura cantik alami pada wajah Azka. Wajahnya yang bersih dan putih memang menjadi salah satu keuntungan. Karena Ia tidak perlu bermake up terlalu tebal untuk membuat kulitnya mulus.


Azka mengenakan dress yang sudah Ia siapkan. Memasangkan sepatu high heels 8cm di kakinya. Sepatu itu sukses membuat tubuh ramping Azka terlihat jenjang. Ia menambahkan selingkar gelang di pergelangan tangan kanannya. Sementara jam tangan Alexander Cristie berwarna silver yang senada dengan gelangnya Ia gunakan di tangan sebelah kiri. Jari manisnya menggunakan cincin seperti biasa. Azka menanggalkan cincin pemberian Juan awal tahun ajaran itu. Kali ini, cincin pemberian Mama yang menjadi pilihannya. Azka siap. Ia keluar kamar dengan disambut riuh suara memuji dari semua anggota keluarga. Suara mesin mobil yang berhenti di depan membuat seluruhnya mengarahkan atensinya pada pintu ruang tamu. Itu pasti Rasya.


Rasya turun dari mobilnya, ia mengenakan setelah berwarna hitam dengan dalaman kao\=us berwarna putih. Kakinya tertutup sempurna oleh celana bahan yang licin. Mungkin semut akan terjun bebas begitu saja saking licinnya. Jam tangan pemberian Azka di ulang tahunnya yang ke-17 melingkar sempurna di pergelangan tangan sebelah kiri. Rasya gugup. Ini pertama kalinya Ia menjemput Azka lagi setelah kisah mereka berakhir di akhir tahun kedua mereka di SMA. Dengan berbekal rasa percaya diri, Ia melangkah menuju pintu rumah Azka. Di depan pintu, Ia terlebih dahulu berdehem dan membenarkan pakaiannya. Ia mengangkat tangannya yang terkepal untuk Ia daratkan pada benda persegi yang terbuat dari kayu itu. Tiga ketukan di pintu yang langsung mendapat sambutan dari dalam.


Pintu terbuka, Mama Azka keluar dengan senyum yang mengembang.


“Eh, Rasya. tunggu ya. Masuk dulu” ucap Mama bergegas masuk untuk memanggil Azka. Rasya memilih untuk berdiri di depan pintu dengan menghadap ke arah mobilnya. Posisinya membelakangi pintu rumah Azka. Sekitar tiga menit Ia berdiri mematung di sana. Bergelut dengan jantungnya yang sudah mulai berdegub di luar batas normal. Ia juga sibuk mengatur bagaimana bernapas dengan benar. Nyatanya kegugupan yang Ia rasa nyaris membunuhnya dengan rasa sesak di dada dan kemampuan mengatur napas yang menurun tajam.


“Ehm” suara yang Rasya kenali itu memaksa dirinya berbalik.


Ya Tuhan, bidadari dari mana ini?

__ADS_1


__ADS_2