Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 34


__ADS_3

Setelah shalat Dhuha, seperti biasa keempat gadis itu duduk-duduk di depan mushola sambil melihat mading yang terpampang. Mading yang tertempel disana masih mading yang sama dengan dua minggu lalu. Tapi karena tujuan mereka bukan melihat mading, mereka tak menghiraukan keberadaan mading yang sebenarnya isinya sudah ‘basi’ itu.


Mereka duduk sekedar melepas penat setelah ujian pertama hari itu terlewati. Sambil bertukar cerita yang tak ada habisnya. Atau kalau ada Fabel, Alfan, dan teman-temannya yang lain di bagian ikhwan mereka akan mengobrol dengan papan mading sebagai hijabnya. Begitulah mereka, ketika di mushola semuanya mematuhi peraturan yang dibuat.


“Mbak Azka! Huh huh. Mbak, Mbak dipanggil Mbak Achin di IPS 3” ucap seorang anak kelas sepuluh yang sudah terengah-engah. Sepertinya Ia berlari dari sana menuju mushola. Beberapa pasang mata jadi ikut memperhatikan.


“Kenapa? Ngapain kesana?” Azka bingung Ia mendekatinya, setelah memasukkan ponselnya ke saku baju di bagian depan.


“Tria Mbak, disana” tunjuk anak kelas sepuluh itu. Anak kelas sepuluh itu kemudian menceritakan kalo Tria sedang dikeroyok oleh Achin dan teman-temannya. –serangan balasan?-


“Hah???”


Azka langsung menggunakan sepatunya detik itu juga. Jelas Ia terkejut, pasalnya ini adalah kabar yang tak Ia duga. Tetapi bukan Azka namnaya jika Ia terlihat seperti sedang kebakaran jenggot. Ia mencoba lebih tenang dan berjalan dengan kecepatan yang biasa saja. Risa, Ocha, dan Iren segera mengikutinya dari belakang. Mata Azka panas, entah kenapa mendengar nama Tria membuat emosinya memuncak begitu saja.


Alfan yang melihat dan mendengar pembicaraan mereka dengan anak kelas sepuluh tadi juga segera bergegas menuju kelas IPS 3 yang letaknya dekat dengan Mushola. Azka menarik nafas dalam, menyeruak diantara teman teman satu geng Achin yang menghadang dari pintu sampai bangku paling belakang. Di dalam kelas itu lebih banyak lagi orang yang mereka temui. Terlihat, Tria sedang duduk bersandar ke sanggahan kursi kedua dari belakang. Wajahnya penuh emosi, amarah, dan juga takut. Semua ekspresi itu menjadi satu. Di depannya Achin sudah berdiri terhalang meja, dibelakangnya ada Ipit yang dengan posisinya saja sudah sangat mengintimidasi Tria. Belum lagi ada Fauza, Nia, Dia, dan banyak lagi.


“Ka, sini” suara Achin membuyarkan pikiran Azka tentang pemandangan yang Ia saksikan di depannya


“Ini anak yang cari masalah sama Lo?” tanya Achin lagi


“Heem” Azka hanya berdehem untuk meng-iya-kan.


“Lo, minta maaf sama Azka. Sama Risa juga. Sa! Sini” panggil Achin ke arah Risa yang juga sudah menyeruak bersama ocha dan Iren.


Tria hanya diam, mengulurkan tangannya dengan sangat tidak tulus. Dari sorot matanya masih tersimpan kebencian yang amat dalam. Di pojok kelas terlihat beberapa anak kelas sepuluh lain yang bergidik ngeri melihat kejadian yang ada dihadapan mereka. Bagaimana tidak? Hampir semua orang-orang yang ‘ditakuti’ ada disana untuk melabrak satu orang.

__ADS_1


“Yang bener Lo minta maafnya!! Bilang maaf sama Azka!” bentak Ipit yang sudah tidak sabar.


“Mb-Mbak, saya minta maaf” ucapnya terbata.


“Minta maaf?? Buat apa? Lo ngerasa salah?” Azka justru bertanya. Karena sejujurnya Ia sama sekali tidak tau apa motif Achin dan teman-temannya melakukan ini.


“Minta maaf! Jawab kenapa Lo minta maaf! Jangan pura-pura bisu!” teriak Fauza, yang bahkan Azka dekat saja tidak. Tapi sepertinya mereka senang sekali ada disini. Tria tak ayal seperti mainan baru bagi mereka, yang siap dilempar kesana kemari hingga awut-awutan lalu ditinggal pergi. Azka bergidik sendiri mendengar bentakan demi bentakan teman-temannya pada Tria.


“Ini ada apa sih?” Alfan berteriak ke arah dimana Azka, Achin, dan Ipit berdiri menghadang Tria.


“Mas” Azka bergumam.


“Biar cewek Lo tau Fan, Dia harus punya sopan santun sama kakak kelas. Kalo dia gak bisa dikasih tau sama Lo. Sekarang kita dengan senang hati ngajarin dia gimana sopan santun” ucap Ipit masih dengan posisinya.


“Bisa gak, gak usah keroyokan! Kamu lagi, kenapa bawa orang-orang sebanyak ini sih?” Alfan menatap Azka lurus.


“Heh!!! Minta maaf cepet yang bener! Azka tadi nanya apa, jawab!!!” bentak Ipit lagi


“Ma-Maaf Mbak, karena saya udah ngelabrak Mbak sama mbak Risa kemarin. Ma-maaf saya gak sopan” ucapnya terbata sambil mengulurkan tangannya yang terlihat gemetar.


“Ka, Lo sudi gak maafin dia?” tanya Achin degan suara rendah tapi mematikan. Alfan terus menatap Azka tajam, seolah jika Azka tidak menerima permohonan maaf Tria, maka Azka harus berhadapan dengannya.


Azka melirik sekilas ke arah Tria, wajahnya mulai sendu, takutnya sudah lebih mendominasi rasa marahnya. Azka mengalihkan wajahnya ke arah pintu yang sudah banyak siswa berkumpul ingin tau apa yang terjadi. Sekilas Ia melihat tatapan Rasya, Juan, Tama, Agil, dan beberapa orang lain. Azka menarik nafas panjang, mengangkat tangannya, menyentuhkan telapaknya sesaat pada tangan Tria yang sedari tadi terulur.


“Iya, Gue maafin” belum sempat Tria menjabat tangan Azka, Azka sudah menarik kembali tangannya. Alfan berbalik dan keluar ruangan. Sebelum keluar Ia meninju dinding yang ada di samping pintu kelas dengan keras hingga orang-orang didekatnya berjengit. Azka terkejut, lalu Ia ikut berbalik dan meninggalkan ruang kelas itu. Risa berbuat hal yang sama, lalu Ocha dan Iren menyusul kepergian dua sahabatnya. Sepanjang jalan sejak keluar dari kelas IPS 3 sampai ke kelas, sudah terdengar kasak-kusuk yang semuanya membahas kejadian ini.

__ADS_1


“Gila si Tria beranian cari mati”


“Gue gak nyangka Mbak Azka kayak gitu”


“Mbak Azka preman juga yah, padahal wajahnya lembut kayak anak-anak”


“Mbak Azka ngeri ya, aku jadi takut mau basa basi sama Mbak Azka”


Banyak kasak kusuk lain yang terlempar sepanjang kepergian Azka dari ruang kelas itu.


“Mbak Unyil, jangan marah-marah dong” Juan mensejajari langkah Azka menuju kelas.


“Bisa diem nggak?” Azka malah semakin emosi dibuatnya. Akhirnya Juan hanya mengikuti langkah Azka menuju ruang kelas. Alih-alih ke ruang ujiannya, Ia justru berbelok menuju ruang kelas Juan, yang disana


sudah duduk Alfan dengan ekspresi marah yang tertahan.


“Mas” panggil Azka mendekati mejanya. Alfan hanya mendongak, berusaha mengontrol emosi dan ekspresinya. Dengan susah payah Ia membuat ekspresi santai seperti biasa.


“Gak usah ditahan, keluarin aja emosi kamu. Pulang sekolah, ke rumah Ocha. Kita harus bicara” ucap Azka.


“Rumah gue?” Ocha yang sudah ikut masuk ke ruangan jadi bingung.


“Diem, udah kerumah Lo aja” bisik Iren


“Kita semua. Pulang nanti kita ke Ocha” ulang Azka sambil memandang Fabel, Ocha, Iren dan Risa bergantian.

__ADS_1


Bel masuk berbunyi, semua bubar dan kembali melanjutkan ujian kedua hari itu.


“Baru dua hari, udah banyak banget kejadian gila. Kejadian apa lagi yang mau Lo Lo pada buat sih” Gerutu Fabel sebelum mereka pergi kerumah Ocha sepulang sekolah.


__ADS_2