
Karena pasangan dari sebuah pertemuan itu adalah perpisahan. Dan perpisahan itu adalah syarat agar kita mengenal yang namanya rindu. Hingga akhirnya kita akan selalu ingin kembali dan bertemu.
Azka tengah menyiapkan keberangkatannya menuju kota Bandung. Menurut jadwal Ia akan berangkat sekitar dua jam lagi. Kepergian Azka ke Bandung kali ini bukan untuk menetap, melainkan hanya untuk singgah sementara. Kurang lebih seminggu setelah ini, Ia akan kembali lagi. Azka ke Bandung untuk mempersiapkan kuliahnya, melakukan registrasi ulang, mencari kontrakan, dan mengunjungi keluarga dari pihak Mama yang ada di sana. Azka pergi seorang diri. Tanpa ditemani oleh siapapun. Meski ini adalah pertama kali baginya, namun kemandirian yang sudah terpupuk dalam dirinya membuat dirinya tidak merasakan ketakutan apapun.
Lain Azka lain lagi Mama. Mama terlihat sekali tidak rela melepas Azka untuk pergi sendiri ke Bandung. Berulang kali Mama berusaha agar Azka ditemani oleh salah seorang dari anggota keluarga yang lain, namun nyatanya memang tidak ada yang bisa. Papa ada urusan kantor yang harus dilakukan. Mbak Ratna tidak bisa ijin dari kantornya, sedangkan Mama tidak berani jika mengantar Azka seorang diri. Maka akhirnya dengan berat hati Mama merelakan gadisnya pergi seorang diri.
“Ma, Pa, Ade nanti di sana langsung ke rumah Amih aja?”
“Iya, Amih udah Mama kasih tau. Nanti Adek di jemput sama Abah” ucap Mama menyiapkan bekal yang akan dibawa Azka di perjalanan.
“Oh, Oke. Eh Ma, jangan banyak-banyak. Azka kan perjalanan malem. Gak akan makan sebanyak itu” protes Azka pada bekal makanan yang disiapkan Mama. Pasalnya bekal makanan itu tiga kali lipat dari porsi makan Azka yang biasa.
“Kita gak tau apa yang terjadi di jalan. Siapa tau lama di jalannya” Dan Azka memilih menerima saja apa yang Mama siapkan. Mengingat Mama memang sedikit khawatiran.
“Yaudah Adek siap dulu, Jangan banyak-banyak makanannya. Susah bawanya” peringatan Azka menggema lagi, dan hanya mendapat tanggapan berupa decakan dari sang Mama.
“Berkas udah? Duit udah dipisah-pisah tempat? Atm udah masuk dompet? Ktp jangan lupa. Tiketnya mana? Makanan yang mama siapin dimana? Nanti beli minum lagi aja kalo kurang. Perlu beli camilan gak?” Mama mengecek semua bawaan Azka untuk ke sebelas kalinya. Dan Azka hanya pasrah saat harus menjawab kembali pertanyaan Mama untuk yang ke sebelas kalinya juga. Papa yang melihat kelakuan Mama hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Pasalnya setiap kali ada yang protes Mama akan mengeluarkan jurus merajuk andalannya. Dan bisa jadi, Papa dan Azka akan harus bersusah payah untuk membujuk Mama agar mau membolehkan Azka pergi sendiri. Beruntung ponsel Azka berdering, menandakan sebuah panggilan masuk ke benda pipih berlayar lebar itu.
“Halo”
“Udah siap?”
“Udah Kak”
“Berangkat jam berapa?”
“Sebentar lagi. Ini lagi siap-siap. Belum dapet pesan dari petugasnya” ucap Azka sambil membenarkan jaketnya. Ia kemudian menyusul Mama dan Papa masuk ke mobil masih dengan ponsel bertengger di telinganya.
“Aku udah nunggu di pol bis ya. Sampe jumpa”
“Eh, serius?”
Tut
Tut
Tut
__ADS_1
Sambungan telepon berakhir. Membuat Azka mengerucut sebal. Bisa-bisanya Rasya mematikan sambungan telepon begitu saja sebelum Azka selesai menjawab. Akhirnya, bersamaan dengan sunggingan senyum pada wajahnya untuk Mama dan Papa yang memperhatikan, Azka memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.
“Siap Dek?”
“Siap Pa. Yuk berangkat” ucap Azka bersemangat.
“De?” panggil mama dari kursi di sebelah kemudi.
“Iya Ma?” Azka menyandarkan dagunya pada sandaran kursi depan, mencondongkan wajahnya agar mendekat ke arah Mama yang duduk di samping papa.
“Udah pamit sama Rasya?” tanya Mama santai
“Kak Rasya nunggu di pol bis Ma, kayaknya mau ikut anter” Ucap Azka memandang jalanan di depan dari balik kursi penumpang yang diduduki Mama.
“Ya ampun, pasti dia sedih kamu mau pergi ke Bandung”
“Biasa aja kok Ma” Azka berkilah
“Eh, mana kamu tau. Dalamnya laut bisa diukur, tapi sedangkal-dangkalnya hati siapa yang tau?” Mama memulai ceramahnya.
“Iya iya.. nanti Kak Rasya suruh nyusul aja ke Bandung kalo kangen” Ucap Azka asal.
“Rasya apa kabar?” Sapa Mama setelah turun dari mobil. Mendapati seorang pemuda dengan kemeja maroon kotak-kotak dan celana jeans panjang tengah menanti kedatangan mereka.
“Baik Tante. Tante sehat?” tanyanya basa basi setelah mencium punggung tangan Mama. Ia kemudian beralih pada Papa. Mengambil tangan yang sudah mulai keriput itu dan melakukan hal yang sama.
“Sehat, cuma lagi ketar ketir Azka mau ke Bandung sendiri” ucap Mama tersenyum.
“Tenang aja Tante, Azka anak mandiri. Azka gak akan kenapa-napa” jawab Rasya sopan. Kini Azka sudah berdiri di sampingnya, mengulas senyum senang karena Rasya mendukungnya. Dan berhasil membuat wajah Mama yang cantik itu terlihat lebih tenang.
“Bisa aja ngomongnya. Baru tuh Mama wajahnya setenang itu. Dari tadi ribet mulu, pengen nganterin” Seloroh Azka setengah meledek Mama. Ia menyenggol lengan Rasya saat mengatakannya.
“Bisa dong” ucap Rasya bangga.
“Dek, bisnya udah dateng. Ayo Papa bawakan ranselnya”
“Gausah Om. Sama Rasya aja” Rasya segera mengambil alih ransel Azka dan membawanya masuk ke dalam bis. Azka mengikuti Rasya dari belakang. “Yang mana?” tanya Rasya saat mereka sudah di dalam bis.
__ADS_1
“Itu Kak, kursi nomor lima” tunjuk Azka pada kursi di ujung dekat jendela.
“Aku tarok di sini ya Dek, tasnya”
“Makasih Kak. Yuk ke bawah. Aku pamit sama Papa Mama dulu” ajak Azka menarik lengan Rasya. Rasya mengikuti. Ia pindahkan tangan Azka yang menyeret lengannya untuk digenggam. Azka hanya terdiam sambil mengulum senyum. Genggaman terlepas saat keduanya mendekati Mama dan Papa.
“Ma, Pa, Ade berangkat ya” Azka pamit, Mama sudah berkaca-kaca. Segera saja Azka memeluk Mama. “Ssst, Ma. Adek cuma seminggu. Minggu depan Adek pulang” ucap Azka menenangkan. Mama mengangguk. Pelukannya beralih ke Papa, Azka memeluk pria paruh baya itu dengan amat sanagt erat. Entah mengapa Azka merindukan hangatnya pelukan Papa, menyadari bahwa seminggu ini nantinya akan menjadi berbulan-bulan. Dan Ia akan sangat kehilangan Papa di tanah perantauan. Papa mencium puncak kepala Azka, menepuk bahu gadisnya memberi isyarat untuk segera masuk ke bis karena bis akan segera berangkat.
Kini Azka berdiri menghadap Rasya. Rasa sesak seketika menyelimuti dadanya.
“Aku berangkat Kak. Sampe ketemu minggu depan” ucap Azka memaksa senyumnya tetap terbit.
“Hati-hati ya” Ia menggenggam tangan Azka sekilas, lalu beralih meletakkan tangannya pada puncak kepala Azka untuk mengusaknya pelan. “Kabarin aku terus” setelah mengangguk, Azka segera berlari masuk ke dalam bis.
Dari balik jendela Azka melihat ketiga orang itu disana. Masih setia menungguinya sampai bis benar-benar melaju membelah jalanan. Azka melambaikan tangannya. Seolah lambaian itu akan mampu menitipkan rindu yang akan Ia ambil seminggu lagi setelah berhasil bertemu. Mobil melaju, menggeser satu persatu bayangan di depan melewati dirinya. Ia menengok patah ke belakang. Masih melambai seakan tak rela untuk melepaskan.
Azka menyandarkan kepalanya pada kepala kursi. Mencoba menenangkan diri dari rasa sesak yang tiba-tiba menjalar dalam dirinya. Rasanya Ia tidak merasakan ini saat di rumah tadi. Tapi saat dirinya benar-benar bergerak pergi, saat dirinya sadar bahwa waktu seminggu akan memisahkan dirinya dari orang-orang tersayang, rasa sesak itu baru muncul secara tiba-tiba tanpa aba-aba.
Suara musik melantun dari mesin pemutar lagu di bagian depan. Membuat Azka merasa sedikit rileks dalam duduknya. Sampai sebuah bayangan motor berkelebat di sebelahnya. Azka menoleh. Betapa terkejutnya Ia, ketika mengetahui Rasya mengikutinya dengan mengendarai motor. Ia terus mensejajarkan posisinya dengan jendela tempat Azka duduk. Rasya gila! Itu sangat berbahaya. Bahkan tatapannya terus menerus ia tujukan pada Azka yang posisinya berada di atasnya. Ia harus mendongak sesekali sambil terus fokus pada jalanan. Azka terharu. Ia terus memperhatikan laju motor yang terlihat lebih kecil dari posisinya. Tangannya terangkat, menyentuh kaca jendela dengan hikmat. Seolah sentuhannya akan sampai pada pemuda yang sedang mengejar laju bis yang mengangkutnya.
Bis mencapai perbatasan kabupaten. Waktu sudah terlalu malam, langit sudah terlalu gelap. Rasya sudah tak telihat. Mungkin Ia sudah memutar balik laju kendaraannya untuk kembali kerumah. Azka menyandarkan kembali tubuhnya. Merasakan lagi hampa karena sudah berpisah semakin jauh dari orang-orang yang dicinta.
Ckiiit!
Bis berhenti. Azka terlonjak. Ia mengikuti gerakan penumpang lain yang melongok ke depan melihat apa yang menjadi sebab berhentinya bis secara mendadak. Dan betapa terkejutnya Azka, bahwa disana ada Rasya. Tengah turun dari motornya dan kemudian berbalik menghadapnya. Dua tangannya terangkat, mengisyaratkan Azka agar turun menemuinya. Azka ragu, tapi longokan petugas saat pintu penghalang antara supir dan penumpang itu terbuka membuat Azka segera merespon.
“Saya turun sebentar Pak” ucap Azka menerobos pintu dan kemudian turun dengan tergesa. Napasnya menderu, detak jantungnya tak beraturan. Ia tidak memiliki ide tentang apa yang dilakukan Rasya saat ini.
“Nih, buat di jalan” Rasya menyodorkan bungkusan di hadapan Azka.
“Ini apa?” Azka bertanya
“Bawa masuk aja. buruan itu ditungguin” ucap Rasya terburu-buru. Tidak mau terlalu lama menjadi bahan tontonan.
“Makasih” ucap Azka. Ia segera kembali ke arah bus, namun gerakannya terhenti saat Rasya mengatakan hal yang sederhana namun mampu membuat dirinya leleh seketika.
“Hati-hati sayang, Anggap aja kita latihan. Kita cuma berjarak dan bukan berpisah. Sampai ketemu lagi di rumah”
__ADS_1