Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 29


__ADS_3

Esoknya, Azka berangkat ke sekolah pagi-pagi. Hari ini seperti biasa, Ia menggunakan seragamnya dengan rapih, tas selempang di tangan kiri dan beberapa buku di tangan kanan. Tidak lupa pula pantofel yang senantiasa memperindah tampilannya. Setelah berpamitan Azka berangkat menuju gang rumahnya untuk menunggu angkot. Sudah 5 menit Ia menunggu, tapi angkot tak juga muncul. Beberapa angkot yang lewat sudah penuh sesak dengan anak sekolahan. Ada juga angkot yang penuh oleh Ibu-Ibu yang membawa barang-barang belanjaannya.


Tin.. tin..


Suara klakson motor terdengar di belakang Azka.


“Mau bareng?” tanya seseorang yang tak lain tak bukan adalah Alfan


Dengan menghembus nafas kasar, Azka kembali membalikkan wajahnya menghadap ke depan setelah tadi Ia menoleh ke asal suara klakson.


“Hei, mau bareng nggak?” tanya Alfan lagi


“Enggak!” jawab Azka ketus. Ia merutuki angkot yang entah kenapa sangat lama ditunggunya. Alfan mematikan mesin motornya. Ia turun dari motor dan mendekati Azka.


“Kamu marah sama aku gara-gara kejadian kemarin?” tanya Alfan mencoba membuka percakapan


“Enggak, cuma males aja. Nanti aku di labrak lagi” jawab Azka tanpa menoleh. Sekali lagi Ia merutuki mang-mang angkot yang entah pada pergi kemana saat ini. ‘Ini angkot pada kemana Ya Allah!’ pekiknya dalam hati.


 “Azka?” suara panggilan menyelamatkan Azka dari keheningan antara dirinya dan Alfan.


“Eh, Kak Rasya” jawab Azka sambil menoleh ke arah Rasya yang sudah menghentikan motornya


“Pada ngapain disini?” tanya Rasya penasaran


“Nunggu angkot, tapi gak dateng-dateng” ucap Azka mendekati Rasya “Kak, aku ikut Kak Rasya deeh, ya?” ucapnya berbisik


Rasya mengangguk dan menyuruhnya menggunakan helm yang biasa dibawanya.


“Fan, duluan ya” ucap Rasya yang jadi sedikit tidak enak dengan Alfan


“Iya gak apa-apa, saya juga mau berangkat” ucap Alfan sambil menaiki motornya.


“Kamu sama Alfan kenapa Dek?” tanya Rasya ditengah-tengah perjalanan mereka menuju sekolah


“Gak kenapa-kenapa”


“Kok diem-dieman kayak tadi?”


“Aku abis dilabrak sama ceweknya. Jadi aku males deket sama dia” ucap Azka sambil mendekatkan kepalanya agar suaranya terdengar.


“Wah, cari mati tuh cewek” ucap Rasya sambil tertawa.


“Ish, maksudnya apa sih?”


“Ya cari mati lah, berani-berani dia ngelabrak pacar aku” Rasya terkekeh.


“Emang kamu berani ngapain?” tanya Azka penasaran.


“Ya nggak ngapa-ngapain” jawabnya sambil tertawa.


“Temen-temen kamu tau Dek?” lanjutnya.


“Tau” jawab Azka.


“Gak dilabrak balik?”


“Ogah ah, gak mau ngerusuh” jawab Azka.


“Hahahaha, jangan bilang kamu takut”


“Dih, siapa yang takut!”


Mereka sampai ke sekolah lebih dulu dari Alfan. Azka segera melepas helm dan mengajak Rasya segera pergi dari area parkiran.


“Ayoo Kak” ajaknya sambil menarik ujung seragamnya


“Sabar elaah! Ini aku kan gabisa jalan cepet” Rasya merasa kesulitan untuk menyamakan langkahnya


“Oh iya, aku lupa. Hehe” Azka kemudian melepas tarikannya, lalu berjalan sejajar dengan Rasya di samping kanannya.


“Makanya kamu jangan terlalu deket sama Alfan, deketnya sama aku aja” ucap Rasya melanjutkan percakapan mereka tadi.


“Huuu, maunya kamu itu mah”


“Loh, emang kamu gak mau?” tanya Rasya sambil menoleh ke arah gadis di sebelahnya.


“Enggak!!” Azka menjulurkan lidah lalu berlari kecil meninggalkan Rasya


“Heh, tunggu! Ga sopan ya main ninggalin aja!” teriak Rasya sambil berusaha mempercepat langkahnya.


“Biarin!” ucap gadis itu sambil tersenyum. Lalu meninggalkan Rasya dibelakangnya.


---


Sesampainya Azka di kelas, Ia menghampiri ke empat temannya yang sedang asik mengobrol.

__ADS_1


“Woy, lagi ngobrolin apaan sih?” sapa Azka pada Ocha, Risa, Iren, dan Fabel


“Ngomongin Lo” jawab Risa santai


“Susah emang jadi Artis mah yak?” ucap Azka sambil mengambil tempat di samping Fabel


“Dih, narsis!” ucap Fabel sembari menggeser kursinya agar sedikit berjarak


“Tumben agak siang Ka? Biasanya Lo kuncen! Dateng paling pagi pulang paling sore?” tanya Ocha


“Tadi berangkat seperti biasa kok, cuma di parkiran gue –-“


“Parkiran?” potong Fabel sebelum Azka menyelesaikan kalimatnya. “Oh, Gue tau. Bareng Rasya nih anak!” ucap Fabel meledek


“Ember” ucap Azka


“Jadi di parkiran Lo ngapain dulu? Berantem?”


“Duh, ngomongnya gitu banget sih Ren! Ngedoain gak bagus Lo buat Gue sama Kak Rasya” Azka tak terima.


“Hehehe, biasanya kan gitu Ka, pacaran mah banyak bumbu-bumbu cintanya gitu deh” ucap Iren terkekeh


“Iye iye, yang lebih berpengalaman mah beda” Azka manyun


“Iya dong, makanya Lo harus banyak belajar dari Gue” ucap Iren bangga.


“Baik suhu” ucap ketiga sahabatnya bersamaan. Fabel hanya mendelik mendengar ucapan sahabat-sahabatnya itu.  Alfan masuk ke kelas dan duduk di bangkunya tanpa menoleh. Lalu melesat pergi dari kelas entah kemana.


“Buset, dia ngacir gitu aja yak?” Fabel yang memperhatikan gerakan Alfan mulai bersuara


“Biarin aja lah, mungkin dia belum bisa kasih penjelasan apa-apa soal kemarin”


“Atau mungkin dia masih takut sama ceweknya kalo deket-deket kita lagi”


“Atau mungkin dia gengsi”


“Atau mungkin dia merasa bersalah karena bukannya misahin, dia malah kabur kemarin” ucapan Azka membuat suara yang lain diam.


“Lo masih marah Ka sama Alfan?” tanya iren


“Enggak, Gue gak marah. Cuma masih kesel aja” jawab Azka yang juga jadi bingung sendiri.


“Gak marah tapi ngegas” Feber meledek


“Iya yak, ngapa Gue ngegas? Hahahaha” Azka tertawa, tepatnya menertawai dirinya sendiri.


Mereka mengangguk, menyadari bahwa di atas masalah kemarin persahabatan mereka jauh lebih berharga. Mereka sepakat memberi kesempatan untuk Alfan membereskan masalah ini terlebih dahulu.


Saat jam istirahat, Risa mencoba mengajak mereka ke kantin bersama setelah mereka selesai shalat Dhuha terlebih dahulu. Semuanya menyetujui, tak terkecuali Alfan. Meskipun masih belum mengatakan apa-apa selain meng-iyakan ajakan Risa tadi.


“Bentar lagi UTS, abis UTS ngumpul yuk” ajak Risa saat mereka semua tengah duduk di kantin Pak De


“Boleh-boleh!” saut Ocha bersemangat


“Ngikut aja Gue mah” jawab Fabel dengan sikap santainya.


“Boleh ngajak yang lain atau cuma kita doang?” tanya Azka yang langsung mendapat tatapan dari semua temannya.


“Eh, kok ngeliatnya gitu? Gue nanya doang suer!”


“Niat ngajak siapa Lo Ka?” Fabel mengambil beberapa gorengan ke dalam mangkoknya saat mengucapkan itu.


“Nggak ngajak siapa-siapa. Cuma nanya doang” bela Azka


“Alaah, bilang aja Lo mau ajak si Rasya. Ye kan?” tebak Iren benar.


“Ya kan kaliii boleh ajak yang lain gitu” Azka melengos menyusul Fabel yang masih sibuk memilih cemilan lain setelah gorengan di mangkoknya tandas.


Azka yang menyadari dirinya menjadi salah satu perhatian seseorang di ujung kantin lalu menoleh. Melihat tatapan tak suka dari Tria membuatnya merasa mual dan moodnya serasa anjlok. Azka pun bangkit tiba-tiba dari duduknya. Menyelesaikan aktivitas makannya meskipun makanannya belum habis. “Ka, mau kemana?” Ocha kaget karena Azka yang duduk di sebelahnya tiba-tiba bergerak menjauh dari meja.


“Balik. Enek Gue diliatin mulu” jawab Azka


Seketika mereka semua mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin mencari siapa yang membuat Azka merasa enek tadi. Dan tatapan ekspresi mereka seketika berubah kesal ketika mendapati Tria yang duduk di ujung kantin dengan bersidekap tangan di dada.


“Ck, nyari masalah mulu dah” ucap Fabel sambil menggaruk pelipisnya.


“Gue juga mau balik deh” ucap Risa yang duduk di samping Alfan. Ia memberi tatapan tajam tanda ‘Lo harus selesain ini Fan’ kepada Alfan yang mendongak ke arah nya ketika Risa bangun.


“Gue ikut”


“Gue juga” ucap Ocha mengikuti ucapan Iren dan mereka bergegas pergi dari kantin menyusul Azka dan Risa.


“Bro, Gue gak suka suasana kek gini. Kita ngumpulnya jadi gak asik” Fabel membuka suara.


“Memangnya saya suka suasana kayak gini Bel?” Alfan malah bertanya.

__ADS_1


“Ya makanya Lo harus berbuat sesuatu lah”


“Saya bingung”


“Lo kan ga harus milih salah satu. Lagian Azka itu sahabat Lo. Dan Tria, kalo Lo emang suka sama dia, kita semua gak apa-apa. Tapi Lo harus bisa kasih pengertian sama itu anak untuk gak bikin masalah sama Azka atau salah satu dari mereka” ucap Fabel panjang lebar. Alfan hanya mengangguk, masih bingung menentukan sikap. Ia bangun ketika Fabel menepuk bahunya mengajaknya keluar kantin menuju ke kelas.


---


Pulang sekolah, tidak seperti biasanya Rasya menghampiri Azka dan menunggunya di depan kelas. Azka yang melihat segera merapikan barang-barangnya ke dalam tas lalu bergegas menuju Rasya yang sudah lama menunggu.


“Kak, tumben?”


“Tumben apanya?” Rasya kembali bertanya


“Tumben nyamperin. Biasanya pergi gitu aja sama Agil” jawab Azka.


Alih-alih merespon ucapan Azka, Rasya justru menarik tali tas yang tersampir di lengan kiri Azka. “Pulang yuk” ajaknya. Azka pun mengikuti langkah Rasya setelah berpamitan dari jauh tanpa suara dengan semua temannya di kelas.


“Buru-buru amat sih Kak? Mau kemana emangnya?” tanya Azka yang sudah berjalan di sisi Rasya.


“Pulang” jawabnya santai.


“Temenin ke toko buku yok?” ajak Azka.


“Boleh”


“Asik” ucap Azka senang. “Makasih” tambahnya


“Mau cari buku apaan sih?”


“Mau cari notebook, buat nulis” ucap Azka sambil menarik ujung jaket Rasya


“Gausah buru-buru amat, santai aja jalannya” ucap Rasya yang terpaksa berjalan lebih cepat mengikuti tarikan Azka


“Biar cepet sampe” ucapnya


Sesampainya di toko Buku, Azka langsung melesat meninggalkan Rasya begitu saja menuju deretan alat-alat tulis yang di sana juga tertata rapih notebook dengan beragam motif. Azka sibuk mencari apa yang Ia inginkan. Karena menurutnya semuanya lucu, Ia jadi bingung. Ia menoleh ke arah tempat Rasya tadi berdiri, tapi ternyata Rasya sudah tidak ada.


Azka yang tadi memutuskan untuk mencari Rasya bergerak mengitari rak-rak buku disekitarnya. Ia membawa dua buah notebook yang tadi sulit dipilihnya. Ia merasa butuh pendapat dari Rasya untuk memilih salah satu dari dua buku yang Ia bawa. Tapi langkahnya terhenti ketika pandangannya melihat kedekatan antara Rasya dengan seorang wanita. Sepertinya wanita itu seumuran dengannya. Apakah itu teman mereka? Tapi apa Rasya sedekat itu dengan teman wanita mereka? Azka tak tahu itu. Ia memutuskan bergerak ke sisi berlawanan agar dapat sedikit melihat wajah gadis yang saat ini tengah membuat tatapan Rasya begitu memuja. Setidaknya itu yang ada dipikiran Azka.


Ia bergerak perlahan, mencoba bertingkah secara normal untuk tidak begitu kentara tengah memata-matai seseorang. Saat Ia rasa Ia bisa mengamati dari tempat Ia berdiri, Ia mencoba mengambil satu buku dihadapannya, dan menampilkan pandangan yang pas tepat pada dua orang yang saat ini sedang bercengkrama. Sesaat Azka terdiam, wajah gadis itu seolah familiar, tetapi Ia tidak mengingatnya dengan jelas. Lama Azka memperhatikan, lalu bayangan foto pada ponsel Rasya yang dulu mengingatkannya. Gadis itu..


“Nadia” gumam Azka


Mata Azka memanas ketika melihat senyum manis dari seorang Nadia terpancar ketika mereka saling menunduk melihat sesuatu yang tak tertangkap pandangannya. Sepertinya mereka bertukar suatu informasi. Azka menunduk, tak tau harus apa. Akhirnya Ia memilih membawa kedua notebook itu ke kasir. Ia sudah tidak peduli mana diantara kedua buku itu yang bagus. Ia hanya ingin keluar dari sana, menghirup udara yang lebih banyak hanya untuk menenangkan degup jantungnya yang sudah tak karuan.


---


Di sisi lain toko, Rasya memilih melihat deretan buku cerita fiksi ilmiah. Ia menyusuri jemarinya sambil bergumam mebaca setiap judul yang tertata di rak tersebut. Sampai ketika Ia membaca sebuah judul yang menarik, tangannya bergerak untuk mengambil satu dari tumpukan buku dengan judul yang sama. Disaat yang sama, ada tangan lain yang juga akan mengambil buku itu.


“Eh, Sorry. Kamu duluan aja” ucap gadis itu mempersilahkan. Suara yang tak begitu asing membuat Rasya menoleh ke sumber suara.  “Nadia?” tanya Rasya ragu, takut Ia mengenali orang yang salah.


“Eh, Rasya? Rasya kan?” tanya gadis itu ragu. Rasya mengangguk.


“Hmm. Aku gak nyangka kita bisa ketemu di sini” ucap gadis bernama Nadia itu.


“Em, Iya. Sejak kapan kamu kembali ke sini? Bukannya kamu pindah ke Jakarta?” tanya Rasya penasaran


“Aku hanya mengunjungi nenek, esok lusa sudah pulang lagi ke Jakarta. Oiya, apa kamu sendiri?”


Sesaat Rasya ragu. Gadis dihadapannya adalah masa lalu yang belum sempat Ia selesaikan. Dalam pikirannya masih ada sedikit kenangan yang tersimpan. Tapi Azka? Gadis itu juga bagian masa lalunya juga masa kini nya. Bahkan mungkin Azka adalah harapannya untuk masa depan?


“Em, aku bareng sama temen” jawab Rasya sedikit ragu.


“Oh, mmm- Sya, Apakah kontakmu masih yang lama? Mungkin nanti kita bisa saling berkomunikasi” ajak Nadia dengan wajah tersenyum.


“Em, ponselku hilang saat aku kecelakaan beberapa bulan lalu. Jadi nomor ponselku juga sudah ganti” jawab Rasya lagi.


“Bolehkah aku meminta kontakmu? Rasya?” lagi, senyum yang dulu selalu meluluh lantakan hatinya kembali terukir di wajah mungil itu.


“Boleh, silahkan di catat” jawab Rasya. Mereka pun bertukar nomor kontak. Untuk beberapa saat, ada seseorang yang cemburu dengan kedekatan yang singkat itu.


---


Rasya berkeliling mencari Azka. Ia lebih dulu berpamitan pada Nadia karena Ia merasa sudah terlalu lama berada disana. Namun Azka tak Ia temukan. Dengan tertatih Ia keluar dari toko buku tanpa membeli apapun. Ia bahkan lupa kalau tadi Ia tertarik pada satu buku fiksi ilmiah. Matanya mengedar ke penjuru ruangan, tapi tak ada tanda-tanda Azka di sana. Rasya mulai gelisah.


“Kamu dimana sih Dek?” belum lama Ia bertanya, Ia menangkap gadis yang dicarinya tengah menjilat satu cone eskrim vanila di dekat pintu keluar. Ia bergegas berjalan lebar dan secepat yang Ia bisa untuk menghampiri gadis itu.


Puuk


“Kamu kemana aja?” Rasya mengetuk kepala Azka pelan, membuat gadis itu mendongak menatapnya.


“Disini” jawabnya mengulum senyum.


“Kenapa ninggalin?”

__ADS_1


“Emm, tadi aku cari kamu gak ada, jadi aku turun deh” Azka berbohong “Lagian aku haus, jadi beli eskrim ini. mau?” tambahnya mencoba mengalihkan perhatian Rasya yang sudah berekspresi seperti orang curiga. Rasya hanya menggeleng, “Yaudah ayok pulang” ajaknya sambil berlalu menuju parkiran


Azka hanya mengikuti dari belakang.


__ADS_2