
Azka tengah berada di klinik itu. Ia sudah sejak kemarin menjaga Rasya yang tengah terbaring sedikit tak berdaya. Azka sudah menyempatkan pulang ke kosan pemuda itu untuk sekedar membersihkan diri dan mengambil beberapa barang yang di butuhkan. Azka tidak pernah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Dan memang tidak ada yang mengharapkan hal buruk ini terjadi.
"Kak, aku mau pulang dulu ke kosan ya.. Mau bawa barang kamu yang kotor sama mau beresin baju Aku. Aku udah gak punya baju nih gimana dong?" Azka merapihkan barang-barang di sana. Ia segera mengambil sebuah baskom di dalam nakas dan handuk kecil yang ada di dalam tasnya tanpa menunggu tanggapan Rasya. Ia mengisi airnya dengan air hangat di dalam kamar mandi. Membawanya ke dekat ranjang dan meletakkannya di atas nakas. Dengan hati-hati Azka membantu Rasya bangun dari posisi tidurnya.
"Kak Rasya mau mandi? atau aku lap?" melihat Rasya masih sedikit lemas, Azka berinisiatif untuk membantu pemuda itu.
"Aku ke kamar mandi aja. Malu di lap sama kamu"
"Kiat? udah gak lemes?" Rasya menggeleng, membebaskan kakinya dari bawah selimut. Ia menurunkan kakinya hingga satu kakinya menyentuh lantai. Azka membantu Rasya yang berjalan dengan satu kaki menuju kamar mandi.
"Kak? Bisa sendiri?" tanya Azka khawatir. Pasalnya Rasya tidak bertumpu pada selain satu kakinya. Awalnya Azka meminta satu kursi roda, namun keterbatasan klinik membuat permintaan itu tidak bisa diberikan.
"Emang kamu mau masuk?" Tanya Rasya sambil terkekeh.
"Emm, ya enggak. Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja" Azka membelakangi pintu kamar mandi. Menunggu Rasya selesai dengan ritualnya. Dirinya menunggu dengan rasa was-was. Takut kalau-kalau pemuda itu terjatuh di dalam sana.
Seandainya ada Mama Rasya di sini, sepertinya semua ini akan menjadi lebih mudah. Huft.
Mama Rasya masih dalam perjalanan. Ketika dirinya mengabari kemarin, Mama Rasya tidak bisa segera ke sini. Jadi, Azka lah yang menjaga Rasya sejak kemarin.
Cklek!
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang diambang pintu.
"Wa'alaikumsalam" jawab keduanya. Di sana ada Mama Rasya. Dengan beberapa bawaan yang terlihat sangat penuh di kedua tangannya. Azka sedang membantu Rasya merapihkan pakaian dan rambutnya. Melihat Mama Rasya sedikit kesusahan, Azka segera mendekat, saking terburunya Ia hampir saja jatuh tersungkur karena tersandung kaki kursi yang Ia duduki.
"Eh maaf Tante" Ucap Azka saat tubuhnya terhuyung ke depan, hampir menabrak tubuh wanita paruh baya yang adalah Mama dari Rasya.
"Pelan-pelan Ka" ucap Mama Rasya lembut.
"Eh, Iya Tante" ucap Azka membenarkan posisi berdirinya. "Di bantu Tante" Azka menerima beberapa barang bawaan Mama Rasya di kedua tangannya. Membawanya ke nakas yang ada di sisi ranjang Rasya.
"Kenapa kamu bisa sakit gini sih Sya" suara Mamanya menggema di ruangan itu. Beruntung hanya Rasya pasien di sana.
"Gak tau Ma. Cape kali aku" Rasya mencoba melepaskan diri dari pelukan dan elusan bertubi-tubi yang diberikan Mamanya.
"Gak papa gimana? Ini kamu sakit Sya, di rawat dan kamu udah nyusahin calon mantu Mama" Ucapan itu membuat Azka berhenti dari aktivitas meletakkan barang-barang ke dalam lemari. Azka melirik ke arah Rasya yang sudah meliriknya juga dengan tatapan geli.
__ADS_1
"Iya maaf Ma. Rasya udah bikin repot calon mantu" ucapnya masih dengan tatapan yang tertahan di wajah Azka. Azka sudah menatap ngeri dua manusia di depannya. Apa sih yang mereka bicarakan?
"Emm.. Tante, Azka mau ijin ke kosan Kak Rasya dulu ya? emm Azka mau beresin barang-barang Azka di sana. Udah terlalu berantakan" Azka nyengir, melirik tas yang isinya sudah sedikit berserak di bawah sana.
"Kamu pake baju aku aja dulu Dek" potong Rasya pada percakapan yang baru Azka mulai.
"Lho? Azka gak ada baju?" Mama Rasya terlihat terkejut.
"Eh, mm.. udah tiga hari Tante di sini. Jadi bajunya pada kotor" Tidak apa-apa kan Azka jujur di sini?
"Beli aja yuk, kita keluar seben--"
"Eh gausah Tante, Azka pinjem baju Kak Rasya aja dulu" Dari pada harus menyusahkan karena dirinya membeli baju, lebih baik pinjam kan? Begitu pikir Azka.
---
"Assalamu'alaikum" Azka masuk ke ruang rawat Rasya. Dengan sebuah Hoodie yang terpasang terlalu besar di badannya. Ranselnya sudah penuh dengan baju-bajunya. Bahkan tidak ada lagi ruang untuk sekedar menyelipkan ponsel. Azka berencana untuk pulang karena Mama Rasya sudah ada di sana.
"Maaf ya Tante, Kak Rasya kayaknya kecapean gara-gara bantuin Azka. Jadinya drop" ucap Azka pada Mama Rasya yang Ia ajak bicara di luar ruangan.
"Makasih karena Azka udah bawa Rasya ke sini" ucap Mama Rasya tulus. Tangannya tidak berhenti memberi usapan di lengan Azka.
"Iya Azka, Maaf gak bisa anter Azka"
"Gak apa-apa Tante, Azka bisa pulang sendiri" Azka tersenyum.
"Hati-hati ya. Kabarin Tante kalo ada apa-apa"
"Iya Tante"
"Pamit dulu sama Rasya" minta perempuan paruh baya itu.
Azka membuka pintu ruang rawat. Kemudian berjalan mendekat ke ranjang Rasya. Pemuda itu tengah menoleh ke arah jendela membelakangi Azka.
"Ehm" Azka berdehem, membuat pemuda itu menoleh. Tidak mengatakan apa-apa Ia menjentikkan jarinya agar Azka mendekat.
"Aku pulang ya" ucap Azka lemah.
__ADS_1
"Hmm" Rasya merentangkan tangannya, mengisyaratkam agar Azka memberinya satu pelukan perpisahan.
BUGH!
"Sembarangan!" ucap Azka memukul perut Rasya pelan.
"Hehehe siapa tau kamu mau kayak di novel-novel" Rasya terkekeh.
"Ngayal!!!" sembur Azka.
"Kamu beneran pulang sekarang?"
"ehemm" Azka mengangguk. "Gak apa-apa kan?"
"Emang kalo aku bilang apa-apa kamu mau tetep di sini Dek?"
"Eemmm.. Aku bahkan gak pulang ke rumah untuk nemenin kamu di sini" Azka menunduk dalam
"Iya aku tau, pulanglah Dek" Rasya kini menarik lengan Azka agar gadis itu mendekat. Menarik dagu Azka agar pandangan mereka bertemu.
"Kenapa cemberut?" tanya Rasya menatap Azka, "Maaf udah buat kamu lama di sini tapi ga sempet pulang ke rumah"
"Mmm.. bukan salah kamu Kak" ucap Azka lagi.
"Senyum dong" pinta Rasya sambil menarik pipi Azka dengan dua jari telunjuknya. Azka tersenyum dengan terpaksa.
---
Azka akan menaiki taksi yang Ia berhentikan di depan klinik. Ia menoleh ke arah kamar Rasya berada. Di sana, Ia melihat Rasya berdiri memandangnya. Pandangan mereka bertemu dengan jendela sebagai penghalang. Azka dapat melihat bahwa Rasya masih menginginkan dirinya. Hal itu terpancar jelas dari tatapan matanya. Azka tersenyum dengan terpaksa. Mencoba mengatakan bahwa Rasya akan baik-baik saja. Terlebih ada Mamanya di sana. Namun sepertinya ucapan itu tak sampai. Rasya masih tertegun memandang Azka yang siap meninggalkannya.
Hei, sejak kapan Rasya menjadi sangat melankolis seperti ini? Azka rasanya tidak tega meninggalkannya. Tapi bukankah Ia harus kembali?
"Mbak, jadi gak taksinya?" Ucap sang sopir yang sudah menunggu terlalu lama.
"Emmh, iya Pak" Azka mengatakannya sambil kemudian berbalik. Menyentuh handle pada pintu mobil dan membukanya. Ia menatap lagi sekilas pada Rasya yang berdiri di balik jendela. Ia tersenyum sebelum akhirnya hilang di balik pintu mobil yang tertutup.
------
__ADS_1
Agak gak jelas. Lagi gak mood. Maafkan 🙏
Semoga tetap terhibur, Love u.