Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 15


__ADS_3

“Kak, aku IP nya turuuun” ucap gadis itu bersedih melalui sambungan telepon.


“Asik. Berarti aku dapet tiket nih”


“Kak!!!” gadis itu berteriak kesal


“Ehehehe, bercanda. Kok bisa seorang Azkania IP nya turun?”


“Gak tau, kayaknya aku gak fokus semester ini” ucapnya lesu.


“Makanya jangan mikirin aku terus” Rasya malah terus menggodanya.


“Kak Rasyaaaa!!!!” teriakan gadis itu menjeda percakapan mereka.


“Iya iyaaa. Jadi gimana dong? Sini cerita sama aku” ucapnya mengantar gadis yang bernama Azkania itu bercerita panjang lebar mengeluhkan IPnya.


"Yaudah, santai dong. Masih lebih besar dari aku IP nya" ucap Rasya saat Azka selesai dengan keluhannya.


"Eh iya, kamu berapa IP nya?" Azka mencoba antusias.


"Tiga koma empat"


"Waaaaah Kak Rasya hebat!!! Aku harus urusin buat bikin kupon tiket nih. Biar bisa untuk masa berlaku yang lama" ucap Azka


"Asik, ke Bandung nih aku" Rasya ikut senang mendengar suara Azka sudah kembali seperti biasanya.


"Oke. Nanti aku kirimin ya" ucap Azka seru.


"Gausah buru-buru. Nanti biar aku selesai KKN dulu"


"Ih lama banget kalo selesai KKN. Taunya wacana nih karena setelah KKN sibuk sama cinloknya" ledek Azka.


"Wah kamu doain aku dapet cinlok di KKN?"


"Hahahaha. Mau mu!" sembur Azka.


---


Azka mulai lebih sibuk. Tahun ke tiga kuliahnya ternyata harus menguras banyak waktu dan tenaga lebih banyak. Terlebih Azka sedang memegang beberapa jabatan di organisasi mahasiswa yang Ia ikuti. Intensitasnya dalam menghubungi Rasya jadi berkurang. Bahkan terkadang hanya bisa menghubungi di akhir minggu.


"Maaf Kak, baru bisa angkat telpon" ucap Azka di sela-sela kegiatannya.


"Iya gak apa-apa. Kamu lagi apa?"


"Ka, ruangan harus di siapin. Ayo" suara telepon mulai diintervensi oleh banyak suara lain. Bahkan sepertinya Azka lupa dirinya sedang menerima telepon.


"Halo? Kak Maaf. Aku lagi sibuk nyiapin acara musyawarah mahasiswa. Nanti lagi yaa" Sambungan telepon terputus begitu saja.


Kalimat "Nanti lagi ya" atau "Aku hubungin lagi nanti" menjadi yang paling banyak mendominasi percakapan mereka. Banyak yang berubah setelahnya. Baik itu Azka maupun Rasya. Meskipun mereka tidak begitu saja hilang kontak, tapi intensitas yang berkurang drastis membuat keduanya lebih banyak fokus pada apa yang ada dj depannya. Tugas kuliah, organisasi, game bagi Rasya, dan ini semua kembali menggerus rasa membutuhkan diantara keduanya.


"Toh, dia seneng kok bisa main game banyak-banyak tanpa digangguin aku"

__ADS_1


"Toh dia lebih seneng sibuk sama semua deadlinenya daripada diganggu sama aku"


Dan beragam kalimat serupa yang mereka pikir bisa menguatkan pemakluman diantara keduanya.


.


.


Tut..


Tut..


Tut..


Nada sambung terus mencoba menggedor keheningan diantara mereka yang sudah tidak saling mengabari hampir dua bulan lamanya. Nyatanya, nada sambung tetap berbunyi sampai akhirnya sambungan itu diputus oleh pihak operator. Azka menyerah? Oh tentu tidak. Ia mencoba kembali mendial nomor dengan nama Rasya sebagai pemiliknya.


Tut .


Tut..


Tut..


Sampai sambungan itu kembali terputus, ponsel yang masih melekat di telinga itu menjadi satu-satunya benda yang paling tahu bagaimana detak jantung Azka tiba-tiba saja menjadi tidak normal. Pikiran-pikiran buruk menghampiri, tapi lebih banyak hal yang mengkhawatirkan yang berkelebat di dalam lipatan otaknya.


"Kak Rasya kenapa ya?" Azka bergumam.


"Dia sibukkah?"


Ck!


Entah mengapa Azka mulai tidak nyaman dengan keadaan ini.


Drrrt


Drrrt


...


...


Drrrt


Azka membiarkan ponselnya tetap bergetar. Berkali-kali getaran itu berhenti lalu bergetar lagi dan berakhir dengan diam diikuti notifikasi panggilan yang begitu banyak.


Bukan Azka ingin membiarkan pemuda yang meneleponnya itu menunggu, itu bukan Azka sekali. Tapi saat ini dirinya tengah bergelung dengan lem, air, bubur koran, dan lain sebagainya. Agak sulit memang dan tidak memungkinkan mengingat Ponsel itu Ia letakkan di atas Nakas dan tangannya kini berlumur koran dan lem.


"Sorry Kak" gumamnya dalam hati.


Setelah selesai dengan mainannya tadi, Azka bergegas menyambangi dimana tempat ponselnya berada. Ia menyambar dengan kasar dan tergesa-gesa. Ia lihat di sana, lima belas panggilan tidak terjawab dari 'Kak Rasya'.


Ya Tuhan, menyedihkan sekali sih. Segera saja Azka balik menelepon, menghubungi kembali seseorang disana yang jika Azka tidak salah pasti tengah berpikir keras tentang kemana dirinya pergi. Sampai-sampai tidak bisa mengangkat teleponnya dua jam yang lalu itu.

__ADS_1


"Halo Dek, kamu tuh kemana aja ya ampun!"


Satu rentetan kalimat berhasil Azka dapatkan. Bukan sedih, Ia justru gembira mendengarnya.


"Hai Kak!"


"Kamu buat aku khawatir Dek!" Masih dengan nada kesal.


"Maaf, aku abis ngerjain tugas. Tangan aku penuh bubur koran dan lem. Maaf karena gak bisa angkat tadi"


"Hmmm" Rasya masih kesal rupanya.


"Hei, jangan kesel gitu dong. Emangnya aku gak kesel kemarin-kemarin kamu gak bisa dihubungi?"


"Jangan suka ngalihin pembicaraan deh ya" Rasya terkekeh.


"Oh ya ampun. Dasar kamu Kak!" Rasanya ingin Ia pukul pemuda itu jika dirinya sedang berhadapan langsung.


"Kamu kemana kemarin?" Azka mencoba bertanya dengan nada yang sudah normal kembali.


"Hape aku ketinggalan di rumah. Jadi seminggu gak pegang hape" ucapnya enteng.


"Ish"


"Ish" Rasya mengikuti. "Jadi tiket aku mana?" ucapnya.


"Oh My God! Aku belum konfirmasi lagi. Oh ya ampuuun, aku terlalu banyak tugas sampe lupa konfirmasi ke sana. Aku buat kupon itu dengan kesepakatan berlaku hingga tiga tahun sejak dikeluarkan. Jadi, kalo ternyata pas Kakak dapet kupon tiket perjalanan itu kak Rasya gabisa kesini, bisa digunain sampe tiga tahun ke depan"


"Wow"


"Aku baik kan!!"


"Hemmm, baik karena kalah taruhan" cibir Rasya.


"Heh!" Azka tidak terima.


"Coba kalo aku yang kalah, pasti deh mode jahat kamu muncul"


"Heh!!" lagi, Azka mendengus kesal mendengarnya.


"Terserah kamu deh Kak" Rasya tergelak ditempatnya. Gadis ini lucu sekali sih. Dasar si selalu tak ingin kalah!


Untuk pertama kalinya di semester itu, mereka kembali saling bercerita dengan banyak kata terlontar. Ledekan, pujian, dan pembelaan dari satu sama lain saling bersahut-sahutan. Malam itu, menjadi malam panjang bagi mereka. Dalam kesyahduan malam dengan semilir angin yang berhembus datang. Rasa tidak rela yang dirasakan seolah mencegah mata saling terpejam. Saling berbinar meski tatap nyata hanya sebatas angan.


"Selamat tidur. Selamat istirahat"


"Selamat tidur juga Kak, selamat istirahat. Jangan bangun kesiangan ya besok" pesan Azka sambil tersenyum, meski Ia sadar betul itu takkan terlihat.


"Kamu juga. Boleh bilang sesuatu gak?"


"Apaan Kak? bilang aja" ucap Azka . Rasa kantuk sudah menjalari matanya. Nyaris terpejam saat kata-kata itu membuatnya kembali terjaga.

__ADS_1


"I Love You"


__ADS_2