Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 26


__ADS_3

Pagi-pagi Azka terbangun, dengan badan yang justru terasa pegal akibat posisi tidurnya yang salah. Azka baru sadar buku-buku yang semalam Ia pakai belum sempat dibereskan. Adzan subuh berkumandang, Azka segera membersihkan diri, berwudhu dan shalat subuh. Tak lama setelah shalat, pintu terketuk tanda Papa pulang dari masjid. Azka bergegas membukakan pintu untuk Papa dan menguncinya kembali saat Papa sudah masuk ke dalam rumah. Azka bergegas ke dalam kamar untuk menyiapkan buku-buku dan peralatan sekolah lainnya. saat sedang memasukkan buku-buku ke dalam tas, tak sengaja ponselnya ikut terangkat dan akhirnya terjatuh ke lantai dengan debam yang lumayan keras.


“Astaghfirullah! Yaaah, hape Gue” Azka segera mengambil ponselnya dan melihat kondisi benda pipih tersebut. Ternyata masih hidup. Pandangannya segera terfokus pada notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab di layar. Kesemuanya adalah pesan dan panggilan dari Rasya.


“Ya Allah, ini orang gak ada kerjaan apa yah, ngirim pesen segini banyak” gumam Azka dan ketika Ia membuka pesan nya, Ia baru ingat bahwa pesan Rasya kemarin belum sempat Ia balas. Azka lalu mengetikkan pesan untuk Rasya dengan mengetikkan permintaan maaf terlebih dahulu


-Azka-


Kak, sorry banget, kemarin aku ngobrol sama Mama jadi lupa bales.


Kak, kenapa ngirim pesen cuma manggil doang tapi sebanyak itu?


Azka tak menunggu balasannya. Azka segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Selesai mandi, Ia bersiap. Seperti biasa Azka mematut diri di depan cermin, mengoleskan pelembab ke wajah dan memberi sedikit taburan bedak bayi di wajahnya. Cukup, Pikirnya. Lalu Ia menyambar tas selempang dan tas jinjing untuk dibawa ke depan rumah. Setelah itu Ia kembali ke kamar, menjinjing sepatu pantofel dan menyambar ponsel yang tadi tergeletak begitu saja di ranjang.


Di teras rumah Azka melirik sekilas ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih jam enam lebih dua puluh menit. Azka menyempatkan membuka-buka catatan, mencoba memahami apa yang akan dipelajari hari ini disekolah. Lalu Ia mengecek ponselnya. Ada pesan dari Rasya.


-Rasya-


Oh, iya gak apa-apa


Kangen aja, abis dari kemarin gak ngechat.


-Azka-


Tumben kangen, hehehe


-Rasya-


Aku selalu kangen sama kamu. Cuma gak pernah bilang


-Azka-


Gombal!!  Aku berangkat ke sekolah dulu.


Nanti kalo kangen ke kelas aja


Kalo berani hahahahahaa


Azka berangkat ke sekolah seperti biasanya. Berjalan menuju gang, menunggu angkot yang lewat, menaikinya dan kemudian sampai. Azka berjalan dari gerbang melewati ruang-ruang kelas sepuluh yang sudah mulai ramai. Anak kelas sepuluh memang masih rajin. Atau memang mereka anak rajin?


“Pagi Mbak” sapa seseorang dari belakang Azka


“Hei, pagi juga” sapanya


“Baru dateng Mbak?”


“Iya, baru dateng. Kalo udah dari tadi gak mungkin saya masih di sini”


“Kirain nungguin pacarnya dateng, biasanya kan gitu” Azka hanya tersenyum, mungkin maksud Adik yang Ia tak tau namanya itu pacar sama dengan Rasya. Its Okey.


“Saya duluan Mbak”


“Iya silahkan” jawab Azka ramah


Azka sebenarnya mengingat jelas wajahnya yang Ia rasa tak asing. Tapi untuk masalah nama, Ia tak berani menebak. Karena memang tak ada yang terlintas tentang siapa namanya. Azka melanjutkan berjalan menuju kelasnya yang ada disebrang lapangan. Dari jauh terlihat tiga orang yang tak asing. Juan, Tama, dan Nando.


“Eh, Mbak Unyil!” sapa Juan, yang dibalas dengan senyuman oleh Azka


“Kalian emang selalu bertiga begini kemana-mana?” tanya Azka setelah menghentikan langkahnya tepat dibelakang gawang di lapangan sepak bola.


“Solmet Mbak” jawab Tama


“Segitu solmetnya sampe dateng pergi bareng mulu” Ucap Azka


“Iya dong Mba. Mba sendirian?” tanya Nando

__ADS_1


“Kamu liat saya sama siapa emang nya?”


“Lo kalo basabasi yang bener dikit napa Nan?” ucap Juan sambil menjitak kepala Nando.


“Namanya juga basa basi Ju”


“Hehehe, kalian tuh ada ada aja ya. Kapan latihan lagi? Mau dong denger kalian nyanyi lagi” Azka ikut berbasa basi.


“Kata Bang Alfan nanti pas dia latihan di lab komputer aja, biar satu waktu katanya” Tama memberitahu.


“Ceh, sok sibuk banget dia, sampe nyatu-nyatuin jadwal latihan” Azka menyeringai.


“Kan biar Mbak bisa denger sekalian” ucap Juan


“Tapi jadi ngeganggu, kan di lab bukan mau main” Azka tetap bersikukuh


“Yaudah Mbak bilang aja sama Bang Alfan ya. Kan Mbak temennya. Pasti dia dengerin” ucap Tama lagi


Mereka mengobrol lebih lama, ngalor ngidul kemana saja arah pembicaraan itu mengalir. Sesekali Azka tersenyum, atau bahkan tertawa lepas. Tanpa sadar Rasya sudah melewati mereka menuju kelas, kali ini tanpa ditemani oleh Azka.


---


Di depan kelas Rasya mulai memperhatikan dengan seksama interaksi Azka dengan ketiga orang di seberang sana. Ia mengenali mereka sebagai teman Alfan di kelompok nasyid sekolah. Agil menghampirinya, menepuk bahunya pelan sehingga membuatnya tersentak.


“Saingan bergerak cepat Bro?” tanya Agil pada Rasya


“Enggak lah kayaknya”


“Itu Anak kelas sepuluh kan?” tanya Agil lagi sambil menyipitkan matanya agar dapat melihat lebih jelas


“Temennya Alfan di Nasyid” jelas Rasya


“Kok bisa akrab bener sama si Azka?”


“Udah pernah ketemu kali”


---


“Ciwi-ciwi? Emang ada banyak?” Azka hanya tertawa mendengar ucapannya.


“Di sini ajalah, bentar lagi juga istirahat” ucap Risa yang masih membersihkan papan tulis


“Disini? Ngeri amat tempatnya?” tanya Fabel


“Yaelah lab doang, bukan dipojokan” jawab Azka


“Iya nanti saya coba suruh kesini”


Bel istirahat berbunyi, seorang perempuan datang menghampiri ruang Lab Kimia tempat mereka tadi belajar. Ruangan ini sejajar dengan ruang kelas sepuluh enam dan sepuluh tujuh.


“Assalamu’alaikum” ucapnya


“Wa’alaikumsalam” jawab mereka serempak


“Ada perlu apa?" tanya Fabel yang paling dekat dengan pintu


“Mau ke Kak Alfan”


“Woooooaaa, Fan nih ada yang nyariin”


“Mas, tuh dicariin cewek”


“Deuh Fan, disamperin cewek noooh”


Ucapan mereka ramai saling bersaut memanggil Alfan yang sedang ada di ruang persiapan bersama Azka. Sekilas Azka melihatnya dan mengenali bahwa perempuan yang mencari Alfan adalah adik kelas yang menabraknya waktu itu. Alfan sedang ada di ruang bahan yang letaknya lebih di dalam. Azka memutuskan untuk menghampiri Alfan.

__ADS_1


“Mas, tuh dicariin” Azka mengintip ke ruang bahan memanggil Alfan lagi.


“Ya bentar” Alfan keluar dari ruang bahan, lalu bersama Azka keluar menuju ruang lab.


Perempuan tadi sedikit terkejut, melihat Alfan keluar bersama Azka dari dalam ruang persiapan. Tapi rasa terkejutnya ia sembunyikan ketika Azka menangkap ekspresi terkejutnya itu.


“Eh, Tria sini masuk” ajak Alfan pada perempuan tadi.


Azka dan teman-temannya ber ooh ria, mengetahui ternyata perempuan ini yang sedang dekat dengan Alfan. Azka memperhatikan perempuan itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak ada yang menarik, rambutnya bergelombang, wajahnya bulat, kulitnya putih, sedikit gemuk daripada dirinya dan teman-temannya yang semuanya memiliki tubuh bak papan berjalan.


“Ka, ngeliatnya gak gitu juga kali” ucap Fabel menyadarkan Azka


“Sorry, tersepona Gue” ucap Azka asal sambil tersenyum jail


“Jadi ini Mas?” tanya Azka mengawali pertemuan itu


“Iya. Saya kenalin ya. Tria, ini Azka, ini Fabel, Risa, Ocha, Iren. Azka, Fabel, Risa, Ocha, Iren, ini Tria”


“Hei” sapa mereka berlima hampir serempak, dan Tria hanya bisa tersenyum yang dipaksakan.


“Santai aja sama kita mah” ucap Iren mencoba mencairkan suasana.


“Sejak kapan deket sama Alfan?” Risa bertanya


“Emm—gak tau juga sih Mbak, tiba-tiba deket gitu aja” jawabnya malu-malu. Kelima teman Alfan itu manggut-manggut


“Udah pacaran belum?” tanya Ocha to the point. Tria hanya tersipu, lalu tersenyum. Mereka menganggapnya iya.


“Tuh, berarti udah jadian dong! Wah si Mas Alfan gak mau ngaku niih” Azka nyeletuk, sedang Alfan gelagapan mendengar ucapannya.


“Kudu ada pajak jadian dong!” ucap Fabel, “Makan makan” tambahnya lagi berseru senang.


“Tria, disini santai aja yah. Kita emang deket dari dulu kok. Jangan cemburu sama salah satu dari kita. Tenang aja, kita udah gak napsu sama Alfan mah” jelas Risa panjang lebar.


“Nih anak satu, emang deketnya kebangetan sama Alfan. Tapi tenang, dia udah ada pawangnya. Kayaknya Lo juga tau siapa pawangnya dia” ucap Risa lagi sambil menunjuk Azka


“Lah, jadi Gue?” Azka kebingungan


“Kan kemarin si Alfan bilang dia paling takut sama Lo beg*k” Risa menjitak kepala sahabatnya pelan


“Oh, emang beneran Lo takut sama Gue?” Azka mengkonfirmasi


"Giila Lo Ka! ciut anak orang Lo tanya gitu” Ocha membela Tria


“Elaaah Gue cuma mau konfirmasi!” ucap Azka sewot.


“Udah-udah, kenalan nya kok jadi gini sih?” Alfan menengahi.


“Iya iya, beneran sekarang mah” Azka mengalah. “Gue Azka, emang deket sama Mas Alfan. Kalo Lo liat kita berdua di lab komputer, itu karena kita latihan bareng buat OKI. Biasanya Ocha juga ikut. Kalo Lo liat gue bareng mas Alfan ke sekolah, itu biasanya kebetulan kalo dia anter adiknya” Azka menjeda sebentar “ tapi selebihnya, wajarin aja laah” ucapnya kepada Tria.


“Mbak gak ada apa-apa sama Kak Alfan?”


“Ada apa-apa laah, dia sahabat Gue!” ucap Azka bangga. “Gausah cemburu, Alfan emang dasarnya deket sama semua orang, terutama cewek-cewek. Kalo dia macem-macem, boleh lapor kita” ucap Azka yakin, Tria tersenyum senang mendapat sambutan yang hangat dari teman-teman Alfan meskipun tidak manis.


Azka mendekat ke arahnya “Percaya aja sama Alfan. Dia gak akan ngedeketin cewek lain kalo hubungan sama kamu baik-baik aja. Yang penting kamu harus tau aja dia biasa sama siapa. Biar gak cemburu buta” bisik Azka.


“Makasih Mbak” jawabnya ikut berbisik


“Woy woy, gausah bisik-bisik juga kaleee” ucap Fabel menarik tangan Azka


“Hehehe”  Azka hanya cengengesan


“Yaudah gitu aja. Yang penting Lo tau kita, kita sahabatan, gak lebih” Risa menegaskan


“Iya Mbak. Makasih ya, mmm—saya ke mushola dulu ya Mbak, seneng bisa kenalan sama Mbak dan Kak Fabel” ucapnya manis.

__ADS_1


Ledekan dan candaan terus mereka layangkan untuk Alfan sepeninggalan Tria. Semoga saja ini menjadi hal yang baik untuk Alfan dan untuk persahabatan mereka juga.


__ADS_2