
Sudah satu bulan lamanya, Azka menjalani rutinitas sebagai kuli tinta untuk Rasya. Bolak balik setiap selasa dan minggu kesana membuat Azka sudah sangat kenal dengan Mama dan Papa Rasya. Bahkan Azka juga jadi dekat dengan Tante, Nenek, dan sepupu-sepupunya. Biasanya, Azka akan kesana dengan ditemani Ocha, Risa, Iren, Fabel, atau Alfan. Tetapi lebih banyak ditemani Ocha dan Risa daripada yang lain. Hari ini jadwal Azka kembali mengunjungi Rasya setelah satu minggu kemarin Azka tidak bisa kerumahnya dan memutuskan untuk mengajari Rasya via telpon. Belajar melalui sambungan telpon ternyata tidak terlalu efektif, sebab tidak bertatap muka dan lebih banyak distraksinya. Jadi hari ini, Azka akan membayar ketidak seriusan belajar kemarin. Azka mencoba membujuk Risa dan Ocha untuk menemani, tapi mereka berdua tidak bisa.
---
“Tumben-tumbenan kalian gak mau nemenin Gue, kemarin-kemarin juga selalu nemenin” ucap Azka dengan suara lemah.
“Bukan gak mau Ka. Ajak Alfan lagi aja gih, biar ada yang anter” usul Ocha
“Enggak bisa, dia mau apa gitu, lupa”
“Ayolaaah, sekaliii ini lagi aja” ajak Azka lagi sambil memohon dengan merapatkan telapak tangan di depan dada
“Lo sih enak Ka, cepet belajarnya. Lah Gue? Minggu depan UTS kali Ka. Gue juga mau belajar” kali ini Risa yang memberikan alasan
“Hmmm, yaudah deh..” Azka melengos kembali ke bangkunya. Membereskan buku-buku ke dalam tas.
“Ka, Lo gak marah kan?” tanya Ocha sedikit takut-takut
“Enggak, gak apa-apa. Kalian kan mau belajar, masa Gue ganggu? Hehe” susah rasanya mau marah dengan dua sobat baiknya ini.
“Beneran, sorry banget Ka untuk sekali ini”
“Iya, gak apa-apa, Gue bisa kesana sendiri” Azka menjawabnya sambil tersenyum.
Mereka berpisah, Ocha pulang ke arah parkiran, sedangkan Risa bergabung bersama Nadia untuk pulang bersama. Azka baru pulang setelah buku-bukunya rapih di dalam tas jinjing yang setiap hari Ia bawa. Azka bergegas keluar kelas karena sekolah sudah terlihat lebih sepi dari sebelumnya.
“Tumben sendirian? Pengawal-pengawal lo pada kemana?” tanya seseorang tepat saat Azka melewati pintu kelas. Azka menoleh ke arah sumber suara
“Eh, Agil. Iya, mereka pada pulang. Mau belajar buat UTS minggu depan”
“Lah, Lo mau kemana? Kok gak ikut pulang?”
“Mau ke rumah Kak Rasya, mau ngajarin matematika. Soalnya seminggu kemarin gak bisa kesana” jawabnya sambil berjalan beriringan dengan Agil.
“Mau Gue anter? Kesana jauh loh kalo sendirian”
“Emang boleh?” Azka menoleh lebih mendongak ke arahnya, sebab tinggi Azka hanya sebatas dada Agil
“Emang siapa yang nggak bolehin?” tanyanya kembali
“Pacar-pacar kamu” jawab Azka enteng. Agil memang saat ini sudah punya pacar, pacarnya adalah anak kelas sepuluh yang sangat manis.
“Pacar-pacar? Emang Gue punya berapa Pacar? Hahahaha, lagian bisaan Lo. Sejak kapan Lo mikirin hal kayak gitu?”
“Sejak kamu punya pacar” jawab Azka lagi
“Oooh, nggak apa-apa, toh kita gak ngapa-ngapain”
“Jadi? Mau Gue anter gak?” Agil menghentikan langkahnya
“Kalo nggak keberatan gak apa-apa”
.
.
.
“Assalamu’alaikum” Azka mengucapkan salam sambil mengetuk pintu tiga kali ketukan. Agil berdiri disampingnya sambil melipat tangannya di depan dada.
“Wa’alaikumsalam” jawab suara dari dalam rumah. Pintu terbuka, Rasya yang duduk di atas kursi roda tersenyum melihat Azka datang tapi kemudian ekspresinya berubah saat mengetahui Agil berdiri disamping Azka.
“Ngapain Lo kesini?” tanya nya pada Agil yang masih bersikap tak acuh
“Dih, galak amat Lo. Gue baik, nih Gue anterin bidadari Lo kesini. Daripada sendirian? Gak kasian Lo?” tanya Agil, Ia melengos masuk ke dalam rumah. Mengambil gelas air mineral dan meminumnya. Azka hanya tersenyum, mencoba bersikap biasa saja. Rasya mengedikkan kepalanya memberi tanda agar Ia masuk.
“Lo berdua belajar aja, Gue males ikut belajar yak” ucap Agil dari ruang tamu saat Azka dan Rasya memasuki ruang keluarga di rumah Rasya. Beberapa saat kemudian Agil muncul lagi
“Sya, Gue pinjem kamar ya, mau rebahan”
“Serah Lo Gil” jawab Rasya masa bodo
“Tengkyu Bro” Agil melesat ke dalam kamar
“Mama kemana?” tanya Azka saat menyadari rumah ini sangat sepi
“Mama kerumah Emak” Azka ber ooh ria sambil manggut-manggut ‘untung Gue sama Agil, kalo gak, berdua doang dong’ Azka merasa bersyukur
“Ngapain ajak Agil sih?”
“Tadinya aku mau sendirian, soalnya gak ada yang bisa nemenin. Trus ternyata ada Agil, dan dia nawarin, yaudah.. dari pada aku sendiri?”
__ADS_1
“Oh”
“Bener kata Agil, emang kamu gak kasian sama aku kesini sendirian?”
“Iya, iya, Agil bener, aku salah”
“Dih, cemburu Kak?”
“Enggak!”
“Kalo lagi marah gitu tambah ganteng lhoo” Wajah Rasya bersemu, tapi alih-alih tersenyum dia malah memalingkan wajah ke arah lain. ‘gengsi dong. Kan lagi ngambek, masa dipuji dikit langsung ambyar. Elaah, lemah amat nih hati’ pikirnya
“Kak, ngapain nahan-nahan senyum sih? Kalo mau senyum senyum aja Kak”
“Kak” Azka menggoyang-goyangkan bahunya.
“Heem”
“Hihihhi, lucu deh, sini sini liat aku, biar tau senyum yang manis itu gimana” Azka tersenyum dengan senyuman paling manis.
“Gausah senyum-senyum Dek. dosa”
“Loh, kok dosa?”
“Iya, senyum kamu tuh kayak Riba, bikin aku jadi berbunga”
“Ahahahahahha, Kakak kira lagi minjem uang di rentenir?” Azka terkikik mendengar ucapan Rasya yang dikatakan dengan nada datar, padahal isinya seperti menggombal atau justru melucu
“Udah-udah, ayo belajar. Jangan kesorean pulangnya. Nanti ujan bahaya, sama Agil soalnya”
“Bahaya? Emang kenapa kalo sama Agil”
“Ya bahaya aja”
“Hihihihi, Kak Rasya pasti ketinggalan berita, Agil udah punya pacar tau”
“Nah, lebih bahaya berarti. Siapa pacarnya? Sial tuh anak, udah punya pacar lagi aja”
“Heem, anak kelas sepuluh” bisik Azka sambil manggut-manggut yakin
“Beuh, Adek kelas lagi!” kali ini nada suaranya meninggi
“Kakak juga mau punya pacar anak kelas sepuluh kayak Agil?”
“Hihihi, mau juga gak apa-apa Kak, nanti Aku bilang ke Agil biar dia cariin buat Kakak” ‘Duh, kok ada yang cenut-cenut gini yah, di dada. Ya Rabb.. ini kali yah yang namanya sakit hati sama omongan sendiri’ batin Azka
“Mana ada yang mau sama orang cacat gini Dek” nada suara Rasya melemah. Azka tertegun, ‘Salah ngomong nih? Duh beg*k deh Lo Ka!’ Azka merutuki dirinya sendiri
“Eh, gak boleh gitu.. nanti yang mau malah gak jadi lho” ucap nya
“Kalo kamu udah gak mau nemenin aku gak apa-apa Dek, cari aja yang lebih baik dan sehat”
Rasya menutup bukunya, lalu menyandarkan diri di punggung kursi.
“Eh, kok ditutup. Ayo belajar!” Azka mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nanti aku belajar sendiri aja, aku bangunin Agil dulu” kak Rasya menggerakkan kursi rodanya ke arah kamar. Azka mencegahnya sebelum Rasya membuka pintu kamarnya
“Kak, belajar dulu sama aku. Yah.. aku udah kesini mau ngajarin kamu” pinta Azka dengan suara nyaris berbisik.
Rasya hanya bergeming, lalu Azka arahkan kursi roda itu menuju ruang keluarga tempat mereka mengobrol tadi. Azka mengambil buku catatan yang berisi semua tulisannya, lalu Ia buka pada bagian yang memang Ia janjikan untuk dibahas hari ini. Dengan terpaksa Rasya akhirnya mau belajar, mendengarkan penjelasan Azka dan mengerjakan sedikit soal yang gadis itu berikan. Lalu Azka beralih pada mata pelajaran lain setelah meninggalkan beberapa soal di buku untuk dikerjakan nanti malam. Saat sedang menjelaskan, Tante Atik datang dari pintu belakang
“Eh, ada Azka? Sama siapa?”
“Sama Agil Tante” jawab Azka sembari tersenyum, mengalihkan sebentar pandangannya dari buku catatan
“Loh, Agilnya mana?” tanya Tante Atik lagi
“Di kamar Rasya Ma, dia tidur” kini Rasya yang menjawab
“Gak ikut belajar bareng?”
“Udah jenius Tante, saya mah” terdengar suara Agil yang masih serak khas orang bangun tidur. Tante Atik hanya tersenyum, lalu berjalan menuju kamarnya.
“Udah belum belajarnya?” tanya Agil mengambil tempat duduk disamping Azka
“Belum, dikit lagi, abis shalat Ashar ya pulangnya” Azka memberitahu
“Belajar apa sih?” Agil mendekatkan tubuhnya ke arah Azka, mengintip buku apa yang sedang gadis itu pegang. Sebuah bantal kursi mendarat di kepalanya secara tiba-tiba
“Aaaargh, sakit beg*k” rintih nya sambil mengelus-elus puncak kepalanya
__ADS_1
“Gak usah deket-deket” sembur Rasya
“Beuh, galak amat sih” Agil melempar kembali bantal kursi yang tadi mengenai kepalanya ke arah Rasya
“Awas lo ya, macem-macem ama ni anak padahal Lo udah punya cewek!” ancam Rasya.
“Gila, posesif amat cowok Lo Ka?” Azka hanya diam mendengar percakapan mereka,
“Udah-udah, buruan ayo, bentar lagi ashar. Aku gak mau pulang sore-sore” Azka menengahi, mencoba membuat Rasya kembali fokus pada penjelasannya.
Setelah adzan ashar berkumandang, Azka membereskan buku-bukunya, menumpuk buku-buku catatan Rasya pada satu tumpukan di ujung meja. Lalu meminta ijin untuk ikut shalat di mushalanya. Azka berjalan menuju kamar mandi, mengambil wudhu dan masuk ke sebuah ruangan diantara kamar Rasya dan kamar Mba Eva. Dulu kamar ini adalah kamar Rasya sebelum Rasya pindah ke kamar almarhum kakaknya setelah kakaknya meninggal dunia. Azka shalat, lalu setelah selesai Ia membereskan mukena yang Ia pakai. Azka keluar menuju ruang tempat mereka belajar tadi tepat saat kedua laki-laki itu sedang berbincang.
“Gue gak niat ngedeketin Azka yaelaah Sya”
“Kali ini susah percaya Gue ama Lo Gil”
“Aseli Gue udah punya pacar, masa iya Gue mau ngedeketin cewek lain?”
“Bisa aja, lo mana pernah serius sama yang namanya pacaran”
“Sial Lo, serius Gue sekarang. Tapi gatau nanti, hehehe”
“Kalo Lo mau ngedeketin Azka, bilang dulu ama Gue. Gue bakal ngijinin kalo Lo beneran serius sama dia”
“Gue gak mau bikin Lo ngalah-ngalahan lagi Sya”
“Bukan soal ngalah, mungkin Azka gak akan mau lagi sama Gue dengan kondisi Gue kayak gini. Kalo dia bisa bahagia sama Lo, kenapa enggak?”
Kalimat ini membuat hati Azka serasa sakit tak berdarah. Ada rasa sesak yang menyeruak tiba-tiba. Entah Ia sedih karena Agil bilang bahwa Ia tak pernah niat untuk mendekati Azka, atau Ia sedih karena kalimat pesimis yang dikatakan oleh Rasya. Azka menahan langkahnya, tidak ingin buru-buru bergabung. Azka takut kedua laki-laki di hadapannya jadi salah tingkah jika tau bahwa Ia mendengar semuanya.
“Sya, Lo jangan minder sama diri Lo. Azka gak akan lepas dari Lo, kalo bukan Lo yang buat itu”
“Gue tau Azka tulus sama Lo. Tapi kalo Lo terus kayak gini, dan Lo malah jadi ragu sama dia, Gue gak tau apa Azka akhirnya bisa tetep bertahan” Agil melanjutkan.
Setelah percakapan mereka kembali santai, Azka melangkah mendekat. Sebisa mungkin Ia bersikap biasa saja, seolah tak mendengar semuanya.
“Yuk, pulang”
“Lama amat shalatnya?”
“Banyak-banyak doa dulu” jawab Azka asal
“Biar langgeng sama ini bocah?” tanya Agil
“Bisa jadi” jawabnya lagi dengan tatapan jail
“Mama kamu mana Kak?” tanya Azka lagi
“Oh iya, bentar dipanggilin dulu” ucapnya. Rasya bergerak dengan kursi rodanya ke kamar utama. Meninggalkan Azka dan Agil berdua,
“Lo denger apa yang kita omongin tadi Ka?” Agil memandang Azka dalam
“Eh--? Ap-pa? omongan apa? Yang kalian bercanda tadi?” Azka mencoba menebak dengan mengarahkan kepada pembicaraan terakhir mereka.
“Serius Lo gak denger apa-apa sebelum itu?”
“Enggak, emang apaan? Kepo nih jadinya”
“Enggak. Gak usah dipikirin!” jawab Agil lalu mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya yang berdering
Tak lama setelah itu, Rasya dan Tante Atik muncul. Azka lalu bangkit dari duduknya menghampiri tante Atik dan Rasya. “Tante, Azka pulang dulu ya. Udah sore. Kasian juga Agil belum pulang dari tadi karena nganter kesini”
“Iya, hati-hati ya. Jangan terlalu maksain kesini kalo lagi sibuk. Azka jaga kesehatan ya” ucap Tante Atik begitu perhatian.
“Ia Tante, makasih udah perhatiin Azka” Azka tersenyum, lalu meraih tangan Tante Atik dan menciumnya.
Rasya ikut menyodorkan tangannya.
“Apaan?” tanyanya heran
“Salim!” perintah Rasya sambil menggamit tangan Azka menyuruhnya untuk salim juga. Azka meletakkan tangan Rasya ke jidatnya.
“Bibirnya pindah ke jidat emang?”
“Idih, nyuruh salim kayak ngajak berantem” ucap Azka yang mendapat kekehan dari Tante Atik. Azka melepaskan tangannya lalu menoleh ke arah Agil yang baru masuk setelah menerima telpon.
“Tante, Agil pamit dulu ya” ucap Agil seraya ikut Salim dengan Tante Atik.
“Sya, Gue pulang dulu. Doain selamet, dan sampe tepat waktu di rumah Azka” ucapnya sambil menepuk bahu Rasya pelan
“Jangan dibawa kabur anak orang Gil!”
__ADS_1
“Siap bos. Ayok Ka” Azka dan Agil pun keluar diantar oleh Tante Atik yang mendorong kursi roda Rasya. Azka menaiki motor Agil, lalu mereka bergerak meninggalkan rumah Rasya setelah sebelumnya berpamitan kembali.