
Sepulang sekolah, mereka (Azka, Risa, Ocha, Iren, Alfan dan Fabel) memutuskan untuk bermain terlebih dahulu kerumah Ocha. Rumah Ocha sedang kosong karena kedua orang tuanya sedang bekerja, sedangkan Mba Zahra sedang pergi kerumah temannya. Mereka masuk kerumah setelah Ocha membuka pintu. Mereka sudah terbiasa main disana sejak kelas sepuluh. Semacam basecamp dadakan. Rumah Ocha memang pewe, karena di lantai dua ada satu ruangan yang cukup luas dan bisa bebas digunakan oleh mereka.
---
“Cha, ada makanan apa?” Azka bertanya saat mulai memasuki dapur dan menyambangi kulkas rumah Ocha.
“Buka aja di kulkas. Apa aja bawa deh ke atas Ka yang bisa dimakan” ucap Ocha yang melesat ke kamarnya.
Azka membawa beberapa macam cemilan ke atas meja, menyiapkan gelas dan membuat minuman berasa dan berwarna, juga memotong-motong Mangga yang Ia temukan di kulkas.
“Gercep juga Lo Ka. Udah siap semua begini” kata Ocha sambil merapihkan kaos yang digunakannya, kemudian menutup pintu kamarnya yang memang tak jauh dari meja.
“Lo nya yang kelamaan di kamar” ucap Azka menyodorkan piring dengan potongan mangga di atasnya.
“Lo bawa mangga sama cemilan ke atas. Gue yang bawa minumnya” ucapnya pada Ocha
“Oke deh”
Keduanya segera ke lantai dua. Ketika mereka membuka pintu, keempat sahabatnya sudah rebahan dengan enaknya sambil memainkan masing-masing ponsel di tangan mereka. Kecuali Alfan yang selalu lebih memilih bermain dengan laptop yang Ia bawa sehari-hari. Azka dan Ocha meletakkan cemilan dan minuman serta buah di tengah-tengah mereka. Azka menuangkan minum ke gelas lalu menyesapnya sedikit dan ikut rebahan di dekat Risa.
“Bel, lagi apaan sih?” tanya Azka ketika memperhatikan Fabel yang senyum-senyum sendiri
“Chating!” jawabnya sekilas sambil menoleh ke arah Azka
“Sama Ita yah? Sejak Lo berdua deket dia jadi jarang kumpul ama kita” ucap Azka lagi
“Dia malu kali, bakal jadi bulan-bulanan Lo pada” jawab Fabel santai
“Mending Lo gausah deket sama Ita deh kalo gitu” ucap Iren sambil melempar sebungkus cemilan yang dengan sigap langsung ditangkap oleh Fabel
“Sembarangan! Ntar Gue ajakin laah kalo ngumpul. Kan sekarang baru baru” Fabel terkekeh sendiri
“Fan, nonton dong. Ada film apa di laptop?” tanya Ocha
“Kalo film harusnya tanya Azka, jangan tanya saya” jawab Alfan menyodorkan laptopnya ke arah Ocha “Nih lihat sendiri” Alfan bangkit dari kursi dan mengambil minuman, membawanya ke meja tempat Ia tadi duduk.
“Jadi gimana kelanjutan si Wede sama Adam?” tanya Alfan saat Azka dan Ocha sedang asik memilih film yang ada di laptopnya. Filmnya jadul semua gila!
“Putus" jawab Risa mulai bangun dari posisi rebahan menghampiri Azka dan Ocha lalu ikut melihat-lihat.
“Gila sih, labrakan kemarin” tambah Fabel “Nggak nyangka aja Gue cewek-cewek IPA satu ternyata bahaya semua!” cerocosnya sambil memasukkan kacang ke dalam mulutnya.
“Makanya jangan berani macem-macem” ucap Azka yang disetujui dengan anggukan dari Ocha, Risa, dan Iren.
“Gue boleh curhat gak?” Mereka semua menoleh ke arah Alfan yang baru saja bersuara
“Sejak kapan Mas, pake Gue-Guean?” tanya Azka
“Jawab dulu, boleh gak curhat disini?” tanyanya balik ke arah semua sahabatnya itu
“Yaelah Fan, curhat mah curhat aja. Sama kita ini” ucap Iren. “Sejak kapan kita mau curhat ijin dulu? biasanya juga langsung nyerocos gak berenti” tambahnya
“Itu kan gaya kalian, biasanya Gue cuma sebagai pendengar” Alfan memperbaiki posisinya menjadi menghadap mereka semua. Begitu juga Fabel yang sedang selonjoran di sofa bangkit dan ikut duduk di karpet.
__ADS_1
“Btw, geli Gue denger Mas Alfan pake sapaan ‘Gue’” Azka kembali bersuara
“Diem dulu sih Ka, lagi mau curhat juga si Alfannya” ucap Ocha sambil menepuk lengannya
“Sorry, sorry”
“Ehm, jadi..” Alfan mengambil jeda sejenak “ Gue tuh lagi.. apa yah istilahnya?”
“Jadi gini” Ia mengulangi. Mereka berlima hanya diam menunggu kalimat Alfan selesai diucapkan.
“Kayaknya Gue lagi kena virus” ucapnya akhirnya
“Virus apaan?” tanya kelimanya cepat
“Virus merah jambu” ucapnya sambil tersenyum, nyengir lebih tepatnya
“Ya Allah Mas, mau bilang kamu lagi suka sama orang aja lama bener dah” ucap Azka kesal.
“Iya nih si Alfan mau bilang gitu aja lama amat. Bisa-bisa sampe tahun depan curhatnya kalo mukoddimah aja selama itu!” Risa ikut kesal.
“Jadi, mau gak denger curhatannya?” tanya Alfan yang membuat mereka semakin kesal
“Ya tapi jangan lamaa ngomongnya, to the point aja lah” ucap Iren yang sudah merubah posisi duduknya jadi bersandar ke sofa tempat Fabel tadi merebahkan dirinya.
“Iya, jadi Gue lagi deket gitu deh sama cewek”
“Anak kelas sepuluh itu Fan?” tanya Fabel cepat
“Iya, jadi tambah deket sekarang. Dia juga kayak ngasih sinyal gitu” lanjut Alfan memulai cerita
“Ya gak tau juga Sa. Bakal jadi apa nggak. Dianya takut sama kalian” Alfan terkekeh
“Lah, dia kira kita makan orang apa?” ucap Azka nyolot.
“Bilang aja, kita gak akan gigit” sergah Ocha sambil ikut bersender ke sofa. Fabel mulai bergerak mengambil posisi selonjoran di sofa di atas para sahabat perempuannya
“Nah, ini nih, yang bikin cewek-cewek takut deket sama nih anak” tunjuk Fabel pada keempat perempuan di ruangan itu lalu ke Alfan secara bergantian.
“Lah, kenapa?”
“Omongan Lo pada tuh ya, isinya emang bilang kalo Lo Lo gak akan ngapa-ngapain, tapi justru bikin takut tau gak?”
Mereka berempat tertawa mendengar penuturan Fabel.
“Suruh aja dia ketemu kita dulu” usul Iren kepada Alfan
“Trus mau kalian apain?” tanya Alfan khawatir
“Ya kenalin lah, trus kita ajak ngobrol biar dia tau kita itu baik hati, ramah tamah, murah senyum, rajin menabung, dan tidak sombong” ucap Iren
“Setelah kejadian sama Adik Wede kemarin, yang udah kesebar sampe semua anak kelas sepuluh tau, Lo kira dia bakal berani?”
“Ya dia beneran gak, mau sama Lo nya?” tanya Risa memastikan
__ADS_1
“Kalo mau, ya suruh aja ketemu dulu ama kita” tambahnya
“Gitu yah?” tanya Alfan kepada mereka semua, lalu keempatnya- kecuali Fabel-mengangguk untuk mengiyakan pertanyaannya.
“Emang yang mana sih anaknya?” tanya Ocha penasaran
“Tauu deh, yang mana sih Mas?” Azka ikut bertanya
“Namanya Tria, anak kelas sepuluh dua” jawab Alfan
“Kok bisa deket?” tanya Ocha lagi
“Karena dia nanya nomor hape Gue, trus dia suka nanya-nanya tentang komputer dan rohis. Trus jadi suka chat, deket deh” jawab Alfan santai
“Gila, gercep juga” saut Iren mendengar jawaban Alfan tadi.
“Yaudah, suruh ketemu dulu aja. Biar dia gak takut” Azka terkikik
“Dia paling takut sama kamu dan Risa sih” jelas Alfan
“Yah, dia salah orang!” ucap Risa, “Gue cantik ramah tamah dan bersikap hangat kayak gini ditakutin” ucapnya
“Kalo sama Azka mah iya, nih anak kan muka nya doang ramah, imut, padahal mah gesrek!” ucap Iren
“Sial lo Ren!” ucap Azka yang menepuk kepala Iren pelan
---
Sepulangnya dari rumah Ocha, Azka baru sempat mengecek ponsel yang sedari tadi Ia simpan di dalam tas. Ternyata sudah ada beberapa pesan masuk, diantaranya dari pak Alex yang mengatakan bahwa OKI kabupaten akan diselenggarakan lebih cepat. Kemudian ketika Ia melihat pesan di bawahnya, ada pesan dari Pak Edo, yang mengatakan bahwa beliau akan memberi kisi-kisi ujian kepadanya dan meminta email untuk mengirimkan kisi-kisi tersebut. Azka segera membalas pesan kedua guru itu. Setelah selesai Ia bergerak ke pesan selanjutnya, dari Rasya. Baru saja Ia buka pesannya, Mama muncul di ambang pintu kamar Azka.
“Tadi kemana dulu Dek?” tanya Mama
“Ngumpul di rumah Ocha mah”
“Oh, ngapain?” tanya Mama lagi penasaran
“Ngumpul aja, udah lama gak ngumpul” ucap Azka bangkit dari kasur dan menghampiri Mama, Ia cium pipi Mama sekilas sambil tersenyum
“Tadi pulang sama siapa? Kok Mama gak kenal motornya?”
“Oh, itu Mas Alfan Ma, vespa nya dibawa sama Om nya. Jadi Mas Alfan pake motor itu”
“Kok Alfan gak masuk dulu?” tanya Mama curiga, Azka mengikuti Mama yang berjalan ke dapur, dan berdiri bersandar di samping Mama.
“Emang kenapa sih Ma?”
“Enggak kenapa-kenapa” Mama diam.” Cuma takut nanti Rasya cemburu kalo kamu terlalu dekat sama yang lain”
“Mama cuma berpikir, Rasya sedang dalam titik terendah, jangan kamu buat kecewa. Harapan hidupnya dia mungkin sudah mulai terkikis setelah kecelakaan itu” jelas Mama panjang lebar.
“Kak Rasya udah tau kalo Adek sama Mas Alfan sahabatan Ma” Azka membela diri
“Ya bagus deh kalo gitu. Udah sana mandi udah sore”
__ADS_1
Lalu Azka pun mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selepas shalat magrib dan mengaji Ia memulai rutinitasnya membaca buku dan mengerjakan tugas. Tak lupa Ia membuka kiriman email dari Pak Edo tentang kisi-kisi ujian Biologi. Azka membuat catatan kecil dari masing-masing poin dalam kisi-kisi. Rencananya Ia akan membagikan kisi-kisi yang dikirim oleh Pak Edo lengkap dengan catatan yang Ia buat. Azka terlalu asik mengerjakan tugas sehingga lupa bahwa tadi Ia sudah membuka pesan dari Rasya dan belum sempat membalasnya. Karena terlalu lelah Azka pun terlelap begitu saja dengan tumpukan buku yang berserakan di sisi ranjangnya.