AZZAM

AZZAM
Bertemu Abimanyu Hikmat


__ADS_3

Satu per satu rekannya mulai terjun dari pesawat. Para pelatih mengarahkan mereka ke sebelah kiri pesawat. Jeda penerjun satu dan yang lainnya hanya berbeda beberapa detik saja. Azzam semakin mendekati pintu pesawat, gilirannya akan tiba sebentar lagi. Pelatih mengarahkan dua rekan di depannya terjun ke sebelah kanan pintu pesawat. Begitu dia berada di depan pintu pesawat, pemuda itu meloncat dengan mengambil posisi samping kanan pintu pesawat.


Nyawanya seakan terlepas dari raga ketika tubuhnya melayang-layang di udara. Azzam kemudian menarik tali yang ada di bagian sampingnya. Seketika payung keluar dan terkembang. Payung berbentuk kubah itu terkembang dengan sempurna. Azzam menggerakkan tali untuk mengemudikan payung. Landasan semakin terlihat jelas, dan sebentar lagi dia akan bersiap mendarat.


Kaki Azzam menapaki lapangan berumput, dia menjatuhkan tubuhnya seperti saat latihan dan berhenti dengan posisi tubuh melengkung seperti pisang. Lalu dengan cepat dia melepaskan payung yang masih melekat di tubuhnya. Dilipatnya payung tersebut, lalu dimasukkan ke dalam ransel. Sambil menggendong ranselnya, dia berlari menuju titik kumpul.


Sesampainya di sana, Azzam langsung bergabung dengan rekannya lain. Dia duduk di atas rumput sambil memperhatikan rekan-rekannya yang masih melakukan latihan terjun payung. Nampak Eko berlari mendekati titik kumpul begitu selesai melakukan pendaratan dengan selamat. Azzam menyalami pemuda itu. Keduanya duduk bersisian, menunggu Seno dan Zakaria yang masih melayang-layang di udara.


Setelah semua taruna selesai melakukan latihan terjun untuk pertama kali, mereka berkumpul dan mendengarkan arahan dari para pelatih. Mereka akan terus mengulangi latihan terjun sampai waktu latihan para dasar terakhir, yakni hari penyematan brevet para dasar atau wing day.


“SIAPA KITA?!!” teriak pelatih sebelum membubarkan para taruna.


“KARBOL!!” jawab para taruna kompak sambil mengangkat sebelah tangannya.


🌻🌻🌻


Di sela ketatnya latihan para dasar, para taruna masih bisa mendapatkan kesempatan untuk refreshing. Mereka diberikan jatah pesiar, melakukan aktivitas di luar akademi, seperti berjalan-jalan di kota Bandung.


Azzam memanfaatkan waktu pesiar pulang menemui keluarganya. Dia juga membawa tiga orang sahabatnya yang lain untuk berkunjung. Niken dan Zuhaidar juga diperbolehkan ikut. Dikarenakan mereka tidak punya sanak saudara di sini, kedua gadis itu menerima ajakan Azzam.


Keluarga besar Hikmat sudah tahu kalau Azzam akan melakukan latihan para dasar di Bandung. Ketika Azzam mengatakan akan pulang saat waktu pesiar, Abi langsung mengadakan acara di rumahnya. Kebetulan sekali, kepulangan Azzam bertepatan dengan jadwal berkumpul semua keluarga.


Nara, Zahra, Freya dan Rayi sibuk menyiapkan hidangan untuk makanan utama. Sedang Naya dan Azra mengurus camilan. Tahu Azzam berada di Bandung, tentu saja mereka sangat senang. Selain memasak untuk acara makan-makan, mereka juga sudah menyiapkan makanan yang akan diberikan untuk para pelatih di akademi. Anggap saja itu sebagai bentuk ucapan terima kasih karena mereka sudah mendidik dan menjaga Azzam selama ini.


Semua keluarga sudah berkumpul di kediaman Abi. Para sepupu Azzam juga sudah berkumpul semua. Hanya tinggal menunggu bintang tamu yang masih dalam perjalanan. Azzam sudah mengabarkan akan datang bersama teman-temannya di akademi. Abi sudah mengirimkan dua mobil untuk menjemput mereka di Lanud Sulaiman.


“Azzam ke sini sama teman-temannya, ya?” tanya Stella sambil mencomot satu potong kroket kentang, dan memasukkan ke dalam mulutnya.


“Iya, ada tiga cowok sama dua cewek,” jawab Arsy.


“Gue penasaran pengen lihat modelan pentol korek secara langsung, hahaha..” ujar Stella.


“Bukan pentol korek, tapi kacang ijo, kan suka pake seragam loreng ijo, hahaha..” sambung Arsy.


“Kalau menurut gue, tentara tuh kalau udah pake seragam, mukanya sama semua kalau dilihat sekilas. Mata gue siwer kalau mau bedain muka mereka,” lanjut Dayana.


“Hahaha… bener. Secara rambut cepak semua, seragam sama, gaya jalan sama, ya muka juga keliatan sama.”


“Kecuali kalo si Zar jadi tentara. Udah keliatan bedanya,” celetuk Arya.


“Apa yang bikin beda?” pancing Ervano.


“Suaranya yang kaya petasan perepet, bhuahahaha..”


“Kalo tentara yang lain, pas lari paling bilang tu.. wa.. ga.. pat.. nah kalo si Zar, buset lari mulu, pegel kaki gue. Coba mana tukang pijet, gue butuh tukang pijet.”


“Hahaha..”


“Salah… kalau gue ada di antara mereka, ya jelas beda. Secara gue bakalan jadi yang paing ganteng dan bercahaya,” jawab Zar dengan sangat percaya diri.

__ADS_1


“Narsis!”


“Iyalah bercahaya, orang mukanya disorot senter.”


“Hahahaha…”


Ledekan para sepupu tidak mempan untuk pria seperti Zar. Ibaratnya ucapan mereka hanya masuk kuping kanan, dan keluar melalui kuping kiri. Di tengah perbincangan seru mereka, terdengar suara orang mengucapkan salam.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“AZAAAAAAAAMMMMM!!!”


Kompak semua sepupunya meneriakkan namanya ketika pemuda itu memasuki rumah. Semua temannya yang ikut bersamanya, tentu saja terkejut mendengar teriakan tersebut. Suara mereka mengalahkan desingan peluru saat latihan dopper.


“Astaghfirullah,” Eko mengelus dadanya.


Zar mendekati Azzam kemudian meloncat ke arah sang adik. Refleks tangan Azzam menahan tubuh sang kakak yang sudah bergelantungan di lehernya.


“Mas bro!! Kangen gue!!” seru Zar.


“Buset!! Turun, Zar! Lo udah kaya onye ketemu sama gorila,” celetuk Arya.


Zar turun dari gendongan Azzam, kemudian memeluknya. Satu per satu para sepupunya mendekat, lalu memeluknya. Arya, Firhan, Sam, Ervano, Alden, Farzan dan Gilang mendatanginya satu per satu. Kemudian disusul oleh Stella, Adisty, Vanila, Geya, Dayana dan terakhir Arsy yang memeluknya. Arsy memeluk erat Azzam, dia sudah sangat merindukan adiknya ini.


Seno, Zakaria, Eko, Niken dan Zuhaidar hanya terbengong saja melihat sambutan para sepupu Azzam. Mereka terlihat kompak dan saling menyayangi. Melihat kedekatan keluarga ini, mereka juga merindukan keluarga masing-masing.


“Alhamdulillah. Kakak sehat?”


“Alhamdulillah.”


Setelah menyambut Azzam, kini mata semuanya tertuju pada lima rekan Azzam yang ikut datang bersamanya. Satu per satu Azzam mengenalkan teman-temannya pada kakak dan sepupunya. Seno, Zakaria dan Eko tak bisa berkata apa-apa melihat wajah sepupu Azzam yang di atas rata-rata kecantikannya. Sedang Niken dan Zuhaidar terpana dengan ketampanan para sepupu pria Azzam.


“Lo ngga takut apa, Zam bawa temen-temen lo ke sini?” tanya Zar.


“Takut kenapa?”


“Takut pesona lo luntur karena kalah saing dari gue, hahahaha…”


“Narsis,” desis Azzam.


Setelah mengenalkan teman-temannya, Azzam kemudian mengenalkan mereka pada pandawa lima beserta istri masing-masing, kedua orang tuanya dan juga paman dan bibinya. Zakaria tidak percaya bisa bertemu dengan sosok Abimanyu Hikmat. Pasalnya dia kerap mendengar cerita tentang Abimanyu Hikmat lewat Yakob. Temannya itu memang sangat mengagumi Abi.


“Kalau bang Yakob ada di sini, pasti dia senang banget bisa ketemu kakek Abi,” ujar Zakaria.


“Senang kenapa?”


“Dia itu penggemar berat kakek.”

__ADS_1


“Yakob tidak ikut?”


“Bang Yakob pendidikan di Akmil, kek. Tapi dia suka cerita soal kakek. Dia itu asal Ambon, katanya kakek itu dikenal baik sama masyarakat NTT.”


“Ternyata pesona Abi ngga ada matinya. Sampai sekarang tetap ada yang mengagumi,” ujar Abi jumawa sambil melihat pada sahabatnya.


“Narsis,” celetuk Juna.


“Pede gila,’ lanjut Cakra.


“Kumat,” sambung Jojo.


“Ada juga orang yang kagum, kirain komodo doang,” pungkas Kevin.


“Hahaha..”


Azzam tak bisa menahan senyumnya mendengar celetukan pandawa lima. Biar sudah tua, tapi celetukan mereka tak ayal sering membuatnya tertawa. Selain itu, mereka juga tetap saling menyayangi dan menjaga sampai sekarang dan menurun pada anak dan cucu, termasuk dirinya.


“Ini yang cantik-cantik, siapa namanya?” tanya Nina.


“Niken, nek.”


“Zuhaidar.”


Bergantian Niken dan Zuhaidar mencium punggung tangan pandawa lima beserta para istri mereka yang masih terlihat cantik walau wajahnya sudah mulai dipenuhi keriput.


“Bagaimana latihannya?” tanya Juna.


“Alhamdulillah lancar, grandpa.”


“Nanti saat wing day, orang tua kalian datang?” tanya Abi sambil melihat pada kelima teman Azzam.


“Ngga, kek.”


Kecuali Niken, semuanya kompak menjawab tidak. Pertimbangan biaya, membuat orang tua mereka tidak bisa datang untuk menghadiri wing day. Berbeda dengan orang tua Niken yang menyempatkan diri untuk datang.


“Kakek nanti datang saat atraksi terjun payung?” tanya Zakaria.


“In Syaa Allah, kami semua datang.”


“Kalau kakek berkenan, saya mau dipasangkan brevet sama kakek, boleh?”


“Dengan senang hati.”


“Terima kasih, kek.”


Senyum mengembang di wajah Zakaria. Dirinya merasa tersanjung seorang Abimanyu Hikmat mau memasangkan brevet para dasar di dada kirinya nanti, mewakili kedua orang tuanya. Dia juga akan memamerkan hal ini pada Yakob. Pasti pria itu merasa iri padanya.


Nina meminta Azzam mengajak teman-temannya menikmati hidangan. Pemuda itu mengajak teman-temannya menuju halaman belakang, tempat di mana para sepupunya berkumpul.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Temen²nya Azzam sawan lihat kelakuan sepupu Azzam🤣


__ADS_2