AZZAM

AZZAM
Tangisan Seno


__ADS_3

“Seno..” panggil Azzam.


“Azzam.. Zaka..”


Keduanya segera mendekat, lalu memeluk sahabatnya ini. seno kembali menangis. Sejak sadar dari koma, Seno selalu menunggu kedatangan kedua sahabatnya. Namun Azzam dan Zakaria tidak kunjung muncul. Itulah yang membuatnya berpikir kalau kedua sahabatnya marah dan tidak ingin melihatnya lagi.


“Maaf kami baru bisa menengokmu sekarang,” ujar Azzam seraya mengurai pelukannya.


“Aku kira kalian marah padaku.”


“Kami memang marah, tapi bukan padamu. Kami marah pada orang yang sudah membuatmu terluka dan Eko meninggal,” sahut Zakaria.


“Kalau Mayor Indra tidak menahanku, aku mungkin sudah membuat tiga orang itu masuk ICU,” lanjut Azzam.


“Kamu harus cepat pulih, Sen. Semua teman-teman di akademi sudah merindukanmu.”


Seno hanya bisa menangis mendengar ucapan kedua sahabatnya. Pemuda itu seperti baru saja kembali dari pengasingan setelah kedua sahabatnya dan keluarga Azzam menjenguknya.


“Seno.. bagaimana keadaanmu? Bagian mana yang masih sakit?” tanya Abi.


“Kakek..”


“Nah ini baru kakek. Diingat ya, jangan salah panggil. Kalau yang ini KiJo. Jangan lupa, eyang yang paling ganteng,” seru Cakra.


“Eyang memang ganteng, tapi dulu,” sahut Abi.


“Itu juga kalau ngga ada grandpa, baru dibilang ganteng,” lanjut Juna.


“Ganteng tapi timbangan otaknya kurang se-ons,” sambung Jojo.


“Percuma ganteng kalau jarang mandi,” timpal Kevin.


“Kaya yang ngomong,” pungkas Anfa.


“Hahaha…”


Kenan hanya menepuk keningnya saja. Di saat seperti ini pun, pandawa lima masih sempat-sempatnya berbalas pantun. Namun celetukan mereka ternyata mampu membuat Seno tersenyum. Kenzie mendekat, lalu mengusap punggung Seno.


“Orang tuamu belum tahu soal keadaanmu. Kami akan menjemput orang tuamu ke sini,” ujar Kenzie.


“Jangan om. Jangan kasih tahu orang tuaku. Aku ngga mau buat mereka sedih.”


“Kamu yakin tidak ingin mereka tahu?”


“Iya, om. Kondisi mama kurang sehat. Aku ngga mau mama sakit.”


“Apa kamu mau menghubungi orang tuamu?” tanya Abi.


“Kamu hafal nomor orang tuamu?” tanya Kenan seraya memberikan ponselnya.


“Hafal, om.”

__ADS_1


“Hubungi orang tuamu.”


Seno mengambil ponsel dari tangan Kenan. Pemuda itu kemudian mengetik sederet nomor dan melakukan panggilan. Jantungnya berdebar kencang menunggu sang mama menjawab panggilannya. Tak berapa lama kemudian,


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Seno..”


“Mama… mama…”


Mendengar suara sang mama, Seno tidak bisa menahan airmatanya. Tiba-tiba saja kerongkongannya terasa kering. Tangan pemuda itu sibuk menghapus airmata yang terus mengalir dari kedua matanya.


“Kamu kenapa, nak? Apa kamu sakit?”


“Mama…”


Seno hanya bisa menangis, tanpa bisa mengatakan apapun. Azzam dan Zakaria terus mendampinginya, dan memberinya kekuatan. Seno menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, baru kemudian berbicara.


“Aku kangen mama.”


“Mama juga kangen kamu. Apa kamu sakit?”


“Aku cuma demam aja, ma.”


“Istirahat yang cukup. Apa mama boleh menengokmu?”


“Jangan, ma. Aku ngga apa-apa. Aku cuma kangen mama dan papa.”


“Makasih, ma. Aku tutup dulu, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Pembicaraan antara Seno dan mamanya berakhir. Seno mengembalikan ponsel pada Kenan seraya mengucapkan terima kasih. Hatinya sedikit lega bisa mendengar suara sang mama. Ditambah dengan kedatangan Azzam, Zakaria dan juga keluarga Azzam membuat kondisi mental pemuda itu sedikit membaik.


“Kamu harus cepat sehat, Sen. Awal bulan kita udah mulai pelatihan terbang layang. Jangan sampai kamu ketinggalan materi di kelas. Waktu belajarnya empat bulan, semangat sembuh ya, Sen,” Zakaria terus menyemangati sahabatnya.


Semua yang berada di ruangan menolehkan kepalanya ketika pintu terbuka. Dari arah luar Irjen Rasyid, Perwita dan kedua anaknya masuk. Keempatnya menyalami Juna dan yang lain lebih dulu, baru kemudian menghampiri Seno. Mata Irjen Rasyid tak lepas memandangi Seno. Dia sudah mendapatkan laporan dari direktur rumah sakit tentang keadaan Seno.


“Terima kasih karena kamu sudah bertahan. Atas nama Gusti, saya meminta maaf padamu,” ujar Irjen Rasyid seraya menepuk bahu Seno pelan.


“Kamu pasti sangat menderita atas perlakuan Gusti padamu,” sambung Perwita sambil mengusap puncak kepala Seno.


“Ma..af.. ibu, siapa?”


“Saya mamanya Gusti. Atas nama Gusti, saya minta maaf padamu. Saya akan pastikan Gusti mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Kami tidak akan menghalangi proses hukum padanya.”


“Terima kasih, bu.”


Seno terharu mendengar penuturan ibu dari Gusti. Dia memang sudah mendengar dari Lettu Putra kalau Gusti adalah anak salah satu petinggi angkatan udara. Waktu itu Seno sudah pesimis akan nasibnya. Dia tidak yakin Gusti dan kedua temannya akan mendapat hukuman atas perbuatannya. Tapi begitu mendengar ucapan Perwita, pemuda itu dapat bernafas lega.


“Kalau boleh kami tahu, apa masalahmu dengan Gusti sampai dia melakukan ini.”

__ADS_1


Seorang pria mengenakan seragam TNI angkatan laut mendekat, lalu bertanya pada Seno. Dia adalah Rizky, anak pertama Irjen Rasyid dan Perwita.


“Awalnya waktu saya selesai piket, karena terburu-buru, tidak sengaja saya menabrak Gusti. Saya sudah minta maaf waktu itu dan menganggap tidak ada masalah lagi. lalu saat acara tour de campus, ada pengunjung yang ingin foto bersama saya. Dia meminta Gusti yang mengambil gambar kami. Sejak saat itu, dia mulai mengintimidasi bersama dua temannya. Saya diminta mencari bahan untuk tugas kuliahnya, mengerjakan tugasnya, minta dibawakan makanan setiap pergi pesiar. Saat Gusti terkena hukuman dari pelatih karena ketahuan tengah membully saya, dia jadi dendam. Lalu hari itu tiba, dia menghampiri saya di sasana krida dan memukuli saya. Eko datang untuk membantu, tapi…”


Seno tidak dapat menyelesaikan kalimatnya begitu teringat pada Eko. Pemuda itu kembali menangis mengenang pengorbanan Eko untuk menyelamatkannya. Sang sahabat harus meregang nyawa di tangan ketiga orang itu. Razak, anak kedua Irjen Rasyid terlihat kesal setelah mendengar cerita Seno. Lagi-lagi sang adik membawa masalah dalam keluarganya. Dan sekarang kesalahannya sangat fatal karena korban sampai meninggal dunia.


“Anak itu benar-benar keterlaluan,” kesal Razak.


Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini dokter yang merawat Seno masuk bersama dengan seorang perawat. Dokter tersebut memeriksa dulu keadaan Seno, sesekali dia melihat pada catatan yang dibawakan suster untuknya.


“Bagaimana keadaannya, dok?” tanya Irjen Rasyid.


“Hanya tinggal pemulihan saja. Seno mulai therapy fisik, untuk melenturkan otot-ototnya yang terlalu lama tidak bergerak.”


“Syukurlah. Saya minta Seno dipindahkan ke ruangan lain. Berikan kamar VIP, dan juga sediakan psikolog untuknya. Saya yang akan menanggung semua biayanya.”


“Baik, pak Irjen. Suster, siapkan ruang perawatan VIP untuk Seno.”


“Baik, dok.”


Setelah memeriksa keadaan Seno, dokter tersebut keluar dari ruangan bersama perawat yang bersamanya. Sang suster akan langsung mempersiapkan kepindahan Seno ke ruang perawatan VIP.


“Azzam.. sekarang apa bisa kamu mengantar kami menemui keluarga Eko?”


“Siap, komandan.”


“Kami juga ikut,”sahut Abi.


“Lettu Putra, tolong temani dulu Seno.”


“Siap, komandan. Tapi.. apa saya bisa minta sesuatu?”


“Apa itu?”


“Mayor Indra terkena sanksi dari gubernur. Sekarang pak Mayor sedang dikurung di ruang isolasi. Apa bisa komandan membebaskannya?”


“Tenanglah, Mayor Indra akan segera dibebaskan.”


“Siap, terima kasih komandan.”


“Bisa kita pergi sekarang?” tanya Irjen Rasyid sambil melihat pada Azzam.


“Siap, komandan.”


Sebelum meninggalkan ruangan, Azzam melihat pada Seno lebih dulu. Sahabatnya itu hanya menganggukkan kepalanya. Semua yang berada di ruangan, kecuali Lettu Putra. Pria itu tetap bertahan di ruangan, menunggu Seno dipindahkan ke ruangan lain.


🌻🌻🌻


Yang nunggu kemarin, lupa ya kalau Kamis aku libur.


Ngga janji double up. Lihat sikon, kalau tanggal 6, penyakit entuun suka kumat.

__ADS_1


__ADS_2