
Semenjak shubuh sampai sekarang, Seno terlihat banyak melamun. Pemuda itu terus mengingat mimpinya tadi malam. Rasanya begitu nyata ketika Eko hadir dalam mimpinya. Mereka banyak berbincang, dan seperti biasa, Eko selalu bersikap baik padanya. Pria itu juga menasehatinya dengan kata-kata bijak. Kedatangan sang sahabat dalam mimpinya, semakin membuat Seno merasakan rindu pada Eko.
Azzam dan Zakaria yang sengaja menginap untuk menemani Seno dibuat bingung dengan tingkah temannya. Setelah membantu Seno membersihkan diri, keduanya mengajak Seno berjalan-jalan keluar dari kamar. Selain untuk menghilangkan kejenuhan, Seno juga perlu melemaskan otot-otot tubuhnya yang kaku karena sudah terlalu lama berbaring.
“Zam.. Zak.. tadi malam aku mimpiin Eko.”
“Eko? Eko datang ke mimpimu?” tanya Zakaria memastikan.
“Iya. Dia juga titip salam untukmu, Azzam, bang Yakob dan Willi.”
“Whoaaaaa… aku merinding,” Zakaria mengusap kedua lengannya.
“Kenapa?” tanya Seno bingung.
“Kemarin pas di makam Eko, aku bilang, kalau dia ngga sibuk minta dia datang ke mimpimu. Apa jangan-jangan dia dengar ya.”
Zakaria jadi bergidik sendiri. Bagaimana kalau Eko datang ke mimpinya tapi dengan penampilan lain. Kepala Zakaria menggeleng saat membayangkan itu.
“Oh iya, kalian udah kasih tahu bang Yakob sama Willi soal Eko?” tanya Seno.
“Udah. Semalam aku kasih kabar ke mereka. Willi langsung berangkat ke sini. bang Yakob nunggu jadwal keluar dari akademi. Mereka kaget dan marah ngga dikasih tahu lebih cepat. Tapi situasi kita emang ngga memungkinkan buat kasih kabar ke mereka.”
Seorang suster nampak memasuki ruangan VIP tempat Seno dirawat sambil mendorong troli berisi makanan. Ketiganya segera kembali ke kamar. Azzam membantu Seno naik ke atas bed.
__ADS_1
“Sen.. kamu harus makan biar cepat sembuh,” ujar Azzam.
Seno memang masih kehilangan selera makannya. Kondisi mentalnya yang masih terpukul, membuat pemuda itu tidak bisa memakan makanan dengan benar.
Azzam menaruh nampak di meja lipat yang terdapat di sisi bed. Dia terkejut ketika melihat Seno dengan cepat mengangkat sendoknya, lalu menghabiskan bubur beserta lauk yang disediakan. Azzam dan Zakaria saling berpandangan. Tentu saja mereka senang melihat Seno yang sudah mau makan.
“Akhirnya kamu mau makan juga.”
“Aku harus cepat pulih dan kembali ke akademi. Aku udah banyak ketinggalan pelajaran. Sebentar lagi kita mau pendidikan terbang layang. Aku harus penuhi janjiku sama Eko. Dia minta saat terbang layang nanti, aku harus teriakin namanya. Aku mau mewujudkan itu untuk Eko.”
“Bukan cuma kamu. Aku juga bakal panggil nama Eko begitu terbang,” sahut Azzam.
“Aku juga,” sambung Zakaria.
Wajah Azzam dan Zakaria terlihat senang. Sedikit demi sedikit kondisi mental Seno semakin membaik. Semoga saja sahabatnya itu bisa secepatnya kembali ke akademi dan melanjutkan pendidikan.
🌻🌻🌻
Terdengar teriakan Yakob ketika pria itu masuk ke dalam ruang perawatan sahabatnya. Di belakangnya menyusul Willi. Mereka sampai bersamaan di rumah sakit dan menuju ruang perawatan VIP bersama. Yakob langsung memeluk Seno. Terdengar ringisan Seno saat Yakob memeluknya dengan erat. Tulang rusuknya yang patah masih menyisakan rasa nyeri karena belum sepenuhnya pulih.
“Maaf.. maaf… apa masih sakit?” tanya Yakob seraya melepaskan pelukannya.
“Sedikit.”
__ADS_1
Kini giliran Willi yang mendekat. Dia memeluk Seno sebentar, karena tidak mau menyakiti sahabatnya itu. Dipandanginya Seno, kondisinya sudah mulai membaik, hanya masih diperlukan perawatan beberapa hari lagi.
“Bagaimana ceritanya? Kenapa kalian sampai disiksa sama senior?” tanya Yakob tak sabar.
Sejak mendapatkan kabar dari Zakaria, Yakob tidak bisa tidur dengan tenang. Pikirannya terus tertuju pada Eko dan Seno. Pria itu bahkan menangis menjelang tidur begitu tahu Eko sudah tidak ada di dunia ini lagi. Hal yang sama juga terjadi pada Willi. Begitu mendapat kabar, pemuda itu langsung bergegas meminta ijin berlibur dan keluar dari akademi malam-malam.
Seno menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya. Dimulai dari awal mula perselisihannya dengan Gusti, sampai akhirnya hari penyiksaan itu terjadi. Tanga Yakob terkepal erat. Kalau Gusti dan kedua temannya ada di hadapannya saat ini, ingin sekali dia menghajar ketiganya sampai babak belur.
“Apa mereka sudah dihukum?”
“Awalnya pihak akademi mau menutup kasus ini. Tapi Alhamdulillah, sekarang semuanya sudah terbongkar. Ayah dari Gusti sendiri yang ingin membuka kasus ini dan membiarkan anaknya menerima hukuman setimpal.”
“Baguslah. Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab.”
“Kita mau lihat makam Eko,” seru Willi.
“Aku juga mau lihat makam Eko,” mohon Seno.
“Tapi kamu belum boleh keluar.”
“Tolong minta ijin sama dokter. Aku mau melihat makam Eko.”
Di tengah perbincangan, seorang suster masuk untuk memeriksa keadaan Eko. Azzam segera mengatakan maksudnya membawa Seno keluar sebentar untuk mengunjungi makam sahabatnya. Sang suster tentu saja tidak mengijinkan, namun karena Seno bersikeras, perawat itu hendak berbicara dulu dengan dokter yang merawat Seno.
__ADS_1
Setelah menghubungi dokter melalui sambungan telepon, suster tersebut kembali ke ruang perawatan. Seno terlihat senang begitu tahu dokter mengijinkannya keluar. Namun dia hanya memberi waktu dua jam saja. Hal tersebut dilakukan setelah sang dokter berunding dengan psikolog. Seno langsung bersiap dibantu oleh Zakaria. Sementara Azzam menghubungi ayahnya dan minta dikirim mobil ke rumah sakit.
🌻🌻🌻