
Ketika Abi dan yang lain menuju akademi, Juna bersama dengan Cakra, Kevin dan Anfa menuju rumah sakit untuk menengok Seno. Cukup lama mereka mencari keberadaan sahabat dari Azzam tersebut. Saat menanyakan pada bagian rawat jalan, mereka tidak mau memberikan informasi tentang Seno atas perintah gubernur akademi. Juna sampai minta bertemu dengan direktur rumah sakit, untuk mengetahui keberadaan Seno.
Mengetahui kedatangan Juna, direktur rumah sakit langsung menyambut baik kedatangan keturunan Hikmat tersebut. Pria itu tidak kuasa menolak ketika Juna bersikeras untuk menjenguk Seno. Dia pun menyebutkan alasan mengapa pihak rumah sakit tidak memperbolehkan siapapun menjenguk taruna angkatan dua tersebut. Setelah sepakat, sang direktur mengantarkan Juna dan yang lain ke kamar perawatan Seno.
Hati Juna miris melihat Seno yang ditempatkan di kamar terpisah atau kamar isolasi. Kamarnya jauh dari jangkauan suster dan lingkungan di sekitarnya juga sangat sepi. Terdapat seorang prajurit yang berjaga di depan kamar rawat. Di saat bersamaan, Lettu Putra yang hendak menengok Seno juga baru sampai.
“Silahkan pak Juna. Seno dirawat di sini.”
“Terima kasih.”
Sebelum masuk ke dalam ruang rawat, Juna melihat pada Lettu Putra yang terus melihat padanya. Setelah direktur rumah sakit pergi, Lettu Putra mendekati Juna.
“Bapak mau bertemu Seno?”
“Iya.”
“Maaf, bapak siapa?”
“Saya, Arjuna Hikmat,” Juna mengulurkan tangannya.
“Oh.. bapak, kakeknya Azzam. Maaf kalau saya tidak sopan. Saya Lettu Putra,” pria itu segera membalas uluran tangan Juna.
Dalam hati pria itu kagum dengan kesigapan keluarga Hikmat. Baru tadi pagi dia berbicara dengan Azzam, dan sekarang mereka sudah datang.
“Direktur rumah sakit bilang, gubernur akademi yang meminta Seno ditempatkan di sini.”
“Betul, pak. Pak gubernur ingin mengubur masalah ini sepertinya. Saya dan Mayor Indra berusaha mengungkapnya. Mayor Indra berencana bertemu dengan Irjen Rasyid, karena otak pelaku penyiksaan adalah anaknya. Tapi kami kalah cepat, sekarang Mayor Indra dikurung di ruang isolasi.”
__ADS_1
“Benar-benar keterlaluan.”
“Silahkan, pak.”
Lettu Putra membukakan pintu, lalu mempersilahkan Juna dan yang lain masuk. Nampak Seno sedang duduk di ranjang, dengan tatapan kosong mengarah ke depan. Pemuda itu tersadar dari lamunannya ketika Juna dan yang lain mendekat. Sejenak Seno memandangi Juna, Cakra, Kevin dan Anfa. Sepertinya dia pernah melihat keempat orang ini. Pemuda itu langsung ingat kalau mereka adalah kakek dari Azzam.
“Kakek..” panggilnya pelan.
“Kakek sedang di akademi. Ini grandpa, ini opa dan ini nono,” Cakra menunjuk pada Juna, Kevin dan Anfa.
“Kalau yang ini, panggil saja eyang,” Cakra menunjuk dirinya sendiri.
Seno meraih tangan keempat orang tua tersebut, lalu mencium punggung tangannya satu per satu. Cakra melirik nampan berisi makanan yang sama sekali belum tersentuh oleh Seno. Wajah pemuda itu nampak pucat dan sama sekali tidak ada gairah hidup terlihat darinya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Juna.
“Sepertinya kondisi mental Seno tidak baik-baik saja,” ujar Juna sambil melihat pada Lettu Putra.
“Dia shock saat tahu temannya meninggal. Dia merasa bersalah menjadi penyebab meninggalnya Eko. Harusnya dia didampingi psikolog sekarang. Tapi bapak lihat sendiri, hanya perawatan seperti ini yang didapatnya.”
“Eko.. Eko sudah tidak ada, Eyang. Eko meninggal gara-gara aku,” ujar Seno di sela-sela tangisnya. Perlahan Cakra mengurai pelukannya.
“Apa yang terjadi pada Eko, bukan kesalahanmu. Itu kesalahan orang-orang yang sudah menyiksamu dan Eko. Kamu sama sekali tidak bersalah. Kamu harus kuat, Eko akan sedih kalau melihatmu seperti ini.”
“Aku takut, eyang. Aku takut Eko tidak memaafkanku. Aku takut orang tua Eko membenciku. Azzam dan Zaka pasti marah padaku. Mereka tidak menjengukku sama sekali.”
“Azzam tidak marah padamu. Dia tidak bisa keluar dari akademi untuk menengokmu. Makanya dia mengutus kami untuk melihatmu. Tenang saja, sebentar lagi Azzam dan Zaka akan datang ke sini.”
__ADS_1
Juna berusaha menenangkan Seno. Secara fisik, kondisinya sudah mulai membaik, namun secara mental, dapat Juna lihat kalau anak itu hancur. Terlebih di saat terberatnya tidak ada orang yang menemani dan menenangkannya.
“Kamu jangan menangis lagi. Sekarang kamu makan, ya.”
“Aku ngga lapar, eyang.”
“Kamu harus makan. Kamu harus cepat sembuh, kembali belajar di akademi dan meraih cita-citamu.”
“Aku tidak mau kembali. Aku tidak pantas berada di sana.”
Kevin yang sedari tadi hanya diam melihat perbincangan Seno dengan kedua sahabatnya, maju ke depan. Dipeganginya kedua bahu Seno, dan matanya menatap lekat pada kedua netra Seno.
“Jangan jadi anak cengeng! Kamu harus kuat! Kalau kamu hancur seperti ini, orang yang menyiksamu akan tertawa di atas penderitaanmu. Kamu harus tunjukkan, kalau kamu bisa melanjutkan hidup dan kamu bisa lebih baik dari mereka.”
Juna, Cakra dan Anfa saling berpandangan. Sejenak mereka terpana melihat sahabatnya yang biasanya irit bicara dan sekalinya mengeluarkan kata-kata, tidak terasa enak di telinga, kini bisa berbicara panjang lebar. Tapi tetap saja Kevin mengatakan itu semua dengan wajah tanpa ekspresi.
“Apa yang opa bilang itu benar. Sekarang lebih baik kamu fokus untuk memulihkan keadaanmu. Ingat, banyak orang yang peduli padamu. Jangan sia-siakan pengorbanan Eko. Dia ingin kamu terus melanjutkan pendidikan dan lulus sebagai perwira TNI AU,” tutur Juna.
“Ayo makan. Biar eyang yang suapi.”
Melihat sikap hangat Juna dan yang lain, sedikit demi sedikit membuat kondisi mental Seno membaik. Cakra mengambil nampan berisi makanan, kemudian menyuapi Seno. Lettu Putra begitu terharu melihat kebaikan keluarga Hikmat.
Setelah Seno menghabiskan makanannya, pintu ruangan terbuka. Azzam dan Zakaria yang datang bersama Abi serta yang lain, langsung masuk ke kamar perawatan. Mereka sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Seno.
“Seno..” panggil Azzam.
🌻🌻🌻
__ADS_1