
“Kalian mau apa ke sini?” tanya Seno sambil berjalan mundur.
“Membantumu membereskan bola.”
Gusti mengambil salah satu bola kemudian melemparkannya ke arah Seno. Dengan cepat Seno mengelak, hingga bola tidak mengenainya. Namun Hari dan Esa juga ikutan melemparkan bola. Gusti juga tak berhenti melemparkan bola ke arahnya. Pemuda itu terbatuk ketika bola mengenai perutnya. Dia menundukkan tubuhnya untuk menahan rasa sakit yang dirasakannya.
Hari dan Esa mendekat, lalu menarik tubuh Seno. Mereka membawa pemuda itu ke ruang ganti. Sudah beberapa hari ini Gusti menahan diri dan mencari kesempatan untuk membalaskan kekesalannya pada Seno. Sesampainya di ruang ganti, tubuh Seno dipojokkan sampai punggungnya menyentuh tembok di belakangnya. Lalu Gusti mengarahkan tinjunya ke perut pemuda itu.
BUGH
Uhuk.. uhuk..
Seno terbatuk ketika perutnya terkena hantaman tangan Gusti. Bukan itu saja, Hari dan dan Esa pun ikutan memukulinya. Tubuh Seno jatuh ke lantai setelah mendapat bogeman di wajahnya. Tak terima terus disiksa, Seno berusaha melawan. Dia memeluk pinggang Gusti lalu mendorong tubuh pria itu hingga jatuh terjengkang. Seno mengepalkan tangannya lalu mengarahkan ke wajah Gusti.
Gusti menahan tangan Seno, lalu kakinya menendang pemuda itu hingga jatuh terjengkang. Hari datang membantu Gusti berdiri, sementara Esa menendangi tubuh Seno. Sebisa mungkin Seno melindungi kepala dan tubuhnya dengan kedua tangan dan kakinya.
__ADS_1
Sementara itu, Eko yang baru saja sampai di Teleng Krida merasa tak enak hati meninggalkan Seno dan Zuhaidar di sasana krida. Pemuda itu bermaksud kembali untuk menyusul sahabatnya.
“Ko.. mau kemana?” tanya Azzam.
“Aku mau lihat Seno dulu.”
“Ko.. tunggu!”
Tanpa mempedulikan teriakan Zakaria, Eko segera berlari menuju sasana krida. Perasaannya tidak tenang, dia takut Gusti dan teman-temannya mengganggu sahabatnya lagi. Tadi dia sempat melihat Gusti dan kedua temannya menuju sasana krida saat dia meninggalkan gedung tersebut.
“Seno!” teriak Eko.
Dia terkejut melihat wajah Seno sudah babak belur dan sudut bibirnya berdarah. Dengan cepat dia mendekati Seno, lalu membantunya berdiri. Matanya menatap nyalang pada tiga pria yang sudah menyiksa temannya.
“Kalian kenapa menyiksanya?!”
__ADS_1
“Jangan ikut campur kalau kamu mau selamat. Aku mau buat perhitungan dengannya!”
Dengan kasar Gusti menoyor kepala Seno. Eko menepis tangan Gusti, pemuda itu lalu berdiri di depan Seno, menghalangi sahabatnya agar tidak terkena pukulan lagi. Melihat itu tentu saja membuat Gusti menjadi berang. Dia melayangkan tinjunya ke arah Eko. Dengan cepat Eko menghindar, hingga tinju Gusti mengenai tembok. Dia lalu mendaratkan pukulan di wajah Gusti.
Perkelahian pun tidak dapat dihindarkan. Hari dan Esa membantu Gusti menghadapi Eko dan Seno. Jual beli pukulan pun terjadi, demi melindungi dirinya dan juga Eko, Seno pun mulai melawan. Perkelahian dua lawan tiga terus terjadi.
BRUK!
Seno jatuh tersungkur ke lantai ketika sebuah tendangan keras mengenai perutnya. Pemuda itu berusaha bangun, namun Hari menginjak punggungnya. Eko berusaha membantu, dia melancarkan pukulannya pada Hari. Esa dari arah belakang menendang punggung Eko hingga terjatuh ke lantai. Gusti, Hari dan Esa menendangi Eko beberapa kali.
“JANGAAAAAAANN!!!” teriak Seno.
Tanpa mempedulikan teriakan Seno, ketiga orang itu terus menendangi Eko. Kaki mereka mengenai tubuh dan kepala Eko. Walau sudah tidak berdaya, namun dengan keji, mereka terus menyiksanya. Seno menangis melihat Eko yang sudah lemah tak berdaya namun terus mendapatkan tendangan dari Gusti dan kedua temannya. Tangannya mencoba menggapai Eko.
🌻🌻🌻
__ADS_1