AZZAM

AZZAM
Wing Day


__ADS_3

“Azzam!!”


“Mama..”


Azzam mencium punggung tangan mamanya, kemudian memeluknya dengan erat. Tak dapat digambarkan betapa bahagianya perasaannya hari ini. Disaksikan oleh keluarganya, dia melakukan atraksi terjun payung dan sekarang sang mama akan memasangkan brevet padanya.


Nara mengurai pelukannya, diciumnya kening sang anak. Jarinya mengusap sudut mata Azzam yang berair. Kemudian dia memasangkan brevet yang sudah berada di tangannya ke dada kiri sang anak. Wanita itu juga tidak bisa menahan airmata harunya saat melakukan itu. Kembali dia memeluk Azzam setelah memasangkan brevet.


“Selamat sayang, mama bangga padamu.”


“Ini semua berkat doa mama.”


Kenzie menunggu dengan sabar istri dan anaknya yang masih berpelukan. Setelah Nara selesai, pria itu maju kemudian memeluk anaknya. Pria itu menepuk pelan punggung sang anak. Perasaannya sungguh bangga melihat sang anak yang sudah bertahan sejauh ini dan berhasil menyelesaikan satu latihan dalam pendidikannya.


Setelah Kenzie, Zar dan Arsy mendekat. Mereka bergantian memeluk Azzam. Beberapa kali Zar menepuk punggung sang adik seraya mengatakan betapa dirinya merasa bangga. Sekarang giliran Arsy yang memeluk Azzam. Pemuda itu mengangkat tubuh sang kakak, kemudian memutarnya.


“Azzam turunin, nanti kakak jatuh!” pekik Arsy.


“Hahaha…” Azzam menurunkan kembali sang kakak.


“Mumpung kakak belum nikah. Kalau kakak udah nikah, aku ngga bisa gendong kakak kaya gini lagi,” lanjut Azzam.


“Azzam.. selamat ya,” ujar Soraya.


“Makasih.”


“Kamu tadi kloter berapa?”


“Sepuluh.”


“Sayang aku ngga tahu kamu yang mana pas terjun, tapi kamu keren, Zam.”


Abi bersama yang lain menghampiri Azzam. Pemuda itu mencium punggung tanan pandawa lima beserta para istri. Sebagai gantinya, mereka memeluk Azzam satu per satu. Juna mengusak puncak kepala Azzam. Pria itu bangga melihat Azzam yang perlahan akan berhasil menggapai cita-citanya. Mereka kemudian mengambil foto bersama bergantian.


“Mana teman-temanmu?” tanya Abi.


“Kayanya di barisan belakang, kek.”


Bersama dengan anggota gank-nya, Abi mencari keberadaan Seno, Eko dan Zakaria. Ketiga pemuda itu langsung mendekat ketika melihat Abi cs.


“Selamat, ya. Kalian semua memang pemberani,” ujar Abi.


“Makasih, kek.”


“Ayo kakek pasangkan.”


“Sebentar, kek. Aku mau telepon mamakku dulu,” kepala Zakaria menoleh ke kanan dan kiri,mencoba mencari pelatih yang bisa dipinjam ponselnya.


"Kamu bawa hape?"


"Ngga, kek. Aku mau cari pelatih dulu."


"Pake hape kakek aja. Kamu hafal nomer ibumu?"


Zakaria menganggukkan kepalanya. Abi memberikan ponsel pada pemuda itu. Dengan cepat Zakaria menghubungi mamanya melalui panggilan video. Tak butuh waktu lama bagi ibunya untuk menjawab panggilan darinya.


“Assalamu’alaikum, mamaaakk..”


“Waalaikumsalam. Zaka.. Ini nomer siapa?"

__ADS_1


"Kakek Abi."


"Kau sudah terjun payung kah?”


“Sudah, mamak.. mamak.. ini ada kakek Abi. Kakek Abi mau memakaikan brevet untukku mewakili mamak.”


Zakaria mengarahkan kamera ponsel pada Abi. Pria itu melemparkan senyuman pada ibu dari Zakaria.


“Ibu.. saya mohon ijin memakaikan brevet pada Zakaria.”


“Silahkan, bapak. Terima kasih banyak sudah mewakili saya.”


Dengan brevet di tangannya, Abi mendekati Zakaria. Azzam yang berada tak jauh dari sana, meminjam ponsel Arsy, kemudian merekam adegan saat Abi memasangkan brevet di dada kirinya. Melihat Azzam merekamnya, dia bermaksud mengirimkan video tersebut pada Yakob.


“Bang Yakob!! Lihat, pak Abimanyu Hikmat yang memakaikan brevetku!!”


Teriak Zakaria sambil melihat pada ponsel di tangan Azzam. Abimanyu merangkul Zakaria, lalu melihat pada kamera ponsel seraya melambaikan tangannya. Zakaria mengucapkan terima kasih, kemudian mencium punggung tangan pria itu. Mereka berfoto lebih dulu. Setelah pemakaian brevet selesai, pemuda itu kembali berbincang dengan ibunya.


Mata Seno melihat Azzam dan keluarganya yang sedang mendekat ke arahnya. Dia harap-harap cemas menunggu siapa yang dikirimkan Azzam untuk memakaikan brevet padanya. Begitu Azzam mendekat, Seno langsung bertanya pada sahabatnya itu.


“Zam.. pesananku gimana?”


“Tenang aja, lagi otw.”


“Sama kak Arsy, kan?”


“Enak aja. Kak Arsy yang bisa diganggu gugat.”


Azzam mengeratkan pelukannya di bahu sang kakak. Arsy hanya tertawa saja. Dari arah belakangnya, muncul Adinda. Wanita itu membawa brevet untuk Seno, kemudian mendekati pemuda itu. Seno melemparkan senyumannya ketika Adinda memakaikan brevet di dada kirinya.Azzam kembali merekam momen tersebut.


“Terima kasih, nek,” ujar Seno seraya mencium punggung tangan wanita itu.


“Ninda!” teriak Azzam.


“Sama-sama. Kamu hebat. Orang tuamu pasti bangga padamu.”


Usai memakaikan brevet, Seno mengajak Adinda berfoto bersama. Tangan wanita itu melambai memanggil suaminya. Jojo mendekat, dan mereka pun berfoto bertiga. Azzam hanya mengulum senyum saja, saat Seno mendekatinya.


“Lunas, ya. Aku udah bawain perempuan cantik buat pasang brevet di dadamu.”


“Ninda emang cantik, tapi dulu.”


“Hahahaha…”


Sekarang hanya tinggal Eko yang belum dipasangkan brevet. Dia melihat pada keluarga Azzam. Kira-kira siapa perwakilan dari mereka yang akan memasangkan lambang selesainya pelatihan para dasar yang dilakukannya.


“Eko..”


Tubuh Eko mematung mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Perlahan dia membalikkan tubuhnya. Pemuda itu tidak percaya menatap kedua orang tuanya dan Gendis berdiri di hadapannya.


“Ibu..” panggilnya pelan.


“Iya, nak. Ini ibu..”


“Ibu….”


Eko langsung menghambur pada ibunya. Pemuda itu mencium punggung tangan sang ibu, kemudian memeluknya. Tangisnya pecah dalam pelukan Puji. Dia sama sekali tidak menyangka sang ibu bisa datang menyaksikan atraksinya.


“Ibu bisa ke sini? Ibu naik apa?”

__ADS_1


“Alhamdulillah, ibu, bapak dan Gendis dijemput orang suruhannya papanya Azzam.”


“Azzam?”


Kepala Eko tertoleh pada Azzam yang sedang bercengkrama dengan keluarganya. Hatinya terharu mendapatkan perhatian yang begitu besar dari sahabatnya. Lamunannya buyar ketika Puji memakaikan brevet ke dada kiri anaknya. Kemudian jarinya mengusap airmata sang anak yang membasahi pipinya.


“Jangan menangis. Masa tentara cengeng,” ujar Puji seraya terkekeh.


Darmo mendekat, kemudian memeluk anaknya ini. Perasaan bangga menelusup dalam hatinya. Sang anak membuktikan ucapannya ingin menjadi TNI Angkatan Udara pria itu tidak bisa berkata-kata ketika melihat para taruna meloncat dari pesawat kemudian turun ke bawah menggunakan parasut. Dan salah satu taruna itu adalah anaknya.


“Bapak dan ibu kapan sampai di Bandung?”


“Kemarin malam. Pak Kenzie juga menyediakan kamar hotel untuk kami.”


“Keluarga temanmu baik-baik, Eko.”


“Iya, bu, pak. Azzam memang sangat baik.”


Eko kemudian mengajak orang tua dan adiknya berfoto. Lalu pemuda itu menghampiri Azzam.


“Zam.. makasih ya, kamu mau mendatangkan kedua orang tua dan adikku ke sini.”


“Kamu suka kejutan yang aku kasih?”


“Suka, pake banget. Makasih Zam, makasih banyak.”


Eko memeluk sahabatnya ini. Walau persahabatan mereka baru terjalin satu tahun lebih, tapi dia bisa merasakan kebaikan hati dan ketulusan Azzam. Pemuda itu mengurai pelukannya, kemudian mengajak sang sahabat berfoto bersama.


Tak jauh dari mereka, Zuhaidar melihat pada keluarga Eko dan Azzam yang berkumpul dengan Seno dan Zakaria. Gadis itu masih menunggu pelatih yang akan memasangkan brevet padanya. Taruna yang tidak ditemani keluarganya, akan dipasangkan brevet oleh pelatihnya. Zuhaidar terkejut ketika seseorang menepuk bahunya. Ternyata Nina, nenek Azzam yang melakukannya.


“Boleh nenek pasangkan brevet untukmu?” tanya Nina sambil tersenyum.


“Bo.. boleh, nek.”


Perasaan Zuhaidar penuh haru ketika Nina memasangkan brevet berbentuk wing di dada sebelah kirinya. Azzam meminta untuk membantu memasangkan untuk Zuhaidar. Pemuda itu tahu kalau temannya itu tidak ditemani keluarganya. Usai memasangkan brevet, Nina memeluk gadis itu.


“Selamat, ya. Kamu adalah gadis pemberani. Pasti kedua orang tuamu bangga padamu.”


“Aamiin.. makasih, nek.”


Sambil memeluk lengan Zuhaidar, Nina mengajak gadis itu menuju kumpulan keluarganya. Kepalanya menoleh pada Niken yang sedang bersama kedua orang tuanya. Sahabatnya itu juga terlihat bahagia.


“Ayo kita foto bersama,” ajak Abi.


Azzam dan ketiga sahabatnya segera berdiri sejajar. Arsy mengambil gambar keempatnya. Kemudian mereka berkumpul untuk foto bersama. Azzam meminta bantuan salah satu temannya untuk mengambil gambar mereka. Di bagian depan, Azzam, Seno, Eko, Zakaria dan Zuhaidar berjongkok. Gadis itu diapit oleh empat rekannya. Di belakang mereka, Zar, Arsy, Soraya, Gendis, orang tua Eko, Kenzie dan Nara berdiri setengah membungkuk. Di belakangnya lagi, berdiri pandawa lima beserta istri.


“TERIMA KASIH KEPADA BAPAK DAN IBU ATAS PARTISIPASINYA. KAMI PERSILAHKAN KEMBALI KE TEMPAT. UNTUK PARA TARUNA SEGERA KEMBALI KE BARISAN SEMULA.”


Kembali terdengar pembawa acara memberikan pengumuman. Para orang tua kembali ke tepi lapangan. Begitu pula para taruna sudah berbaris rapih. Mereka akan melakukan upacara penutupan pelatihan para dasar, sekaligus pelepasan taruna kembali ke akademi angkatan udara di Sleman.


Sang komandan maju ke depan, kemudian memberikan aba-aba. Kompak para taruna berjalan dengan rapih. Mereka keluar dari lapangan dan menuju ke kendaraan yang sudah siap membawa mereka menuju bandara Husein Sastranegara. Arsy dan Zar terus mengikuti kelompok di mana Azzam berada.


“Azzam!!” panggil Arsy.


“Azzam..” Soraya juga ikut memanggilnya.


Azzam menghentikan langkahnya di depan truk yang akan membawanya pergi. Dia melambaikan tangan pada kedua kakaknya dan Soraya, lalu masuk ke dalam truk tersebut. Setelah para taruna masuk ke dalam truk, kendaraan militer itu perlahan melaju pergi.


Arsy hanya bisa memandangi kepergian sang adik. Rasanya masih belum puas menghabiskan waktu dengannya. Zar memeluk bahu adiknya ini. Dirinya juga masih merasakan rindu pada Azzam, tapi dia harus melepas Azzam pergi untuk melanjutkan studinya. Soraya pun hanya bisa melepas kepergian pemuda yang menjadi penghuni hatinya dengan senyuman dan doa.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Dear readers keceku, aku ada sedikit pengumuman. Kalau sampai episode 40, Azzam ngga kunjung dikontrak, dengan berat hati aku akan hapus cerita ini dan akan aku pindahkan ke lapak lain. Kalau kontrak tidak turun, usahaku sia² aja,ngga ada pemasukan untuk kami selaku othor, Sebelumnya aku minta maaf🙏


__ADS_2