AZZAM

AZZAM
Pesiar Ke Palbapang


__ADS_3

“Bang Yakob!!”


Zakaria berteriak kencang ketika melihat Yakob sedang menunggu mereka di alun-alun. Pemuda itu segera berlari ke arah Yakob, lalu meloncat ke dalam gendongannya. Apa yang dilakukan Zakaria mengundang perhatian banyak orang. Yakob segera menurunkan sahabatnya itu.


“Kau ini.. sudah seperti monyet saja, main nemplok,” seru Yakob.


“Kalau aku monyet, abang gorilanya, hahaha..”


Kedua pria itu berpelukan, disusul oleh Azzam, Seno dan Eko. Enam bulan tidak bertemu dengan Yakob, ternyata mereka merindukan sosok yang sangat humoris ini. tinggal menunggu Willi, maka formasi mereka sudah lengkap.


“Bagaimana kabar kalian? Sehat?” tanya Yakob.


“Alhamdulillah sehat. Abang sendiri.”


“Puji Tuhan. Tak kau lihat badanku bertambah kekar.”


“Awas jadi pendekar, bang,” ujar Seno.


“Aku memang pendekar. Lihat ototku ini, badanku juga gagah” Yakob memamerkan otot tangannya.


“Maksudku pendek dan mekar, hahaha…”


“Kurang asem, sini kau!!”


Sambil tertawa, Seno menghindari kejaran Yakob. Azzam segera mengajak mereka semua untuk pergi karena tidak enak menjadi pusat perhatian. Eko segera mengajak mereka menuju shelter Trans Yogya yang ada di Malioboro.


“Kita naik Trans Yogya?” tanya Seno.


“Iya. Bayarnya murah. Ayo.”


Sesampainya di shelter, mereka menunggu bus yang akan membawa mereka ke Bantul. Setelah membeli tiket, mereka segera naik ke dalam bus. Bus yang mereka tumpangi akan membawa mereka menuju terminal Palbapang, desa di mana Eko dan keluarganya tinggal.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, bus yang mereka tumpangi akhirnya tiba di terminal Palbapang. Dari terminal mereka hanya perlu berjalan kaki saja untuk sampai di kediaman Eko. Saat melintasi daerah persawahan terdengar suara anak-anak memanggil nama Eko.


“Mas Eko!! Mas Eko!!”

__ADS_1


Eko melambaikan tangannya pada anak-anak tersebut. Mereka terus berjalan menyusuri daerah persawahan, hingga akhirnya sampai di pemukiman penduduk. Eko melemparkan senyumnya pada tetangga yang dilewatinya. Dia kemudian berhenti di depan rumah sederhana bercat hijau muda yang sudah mulai pudar warnanya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Puji keluar dari rumah untuk menyambut kedatangan anaknya. Eko mencium punggung tangan ibunya itu, disusul oleh yang lain. Tak lama kemudian ayahnya keluar, kembali kelima pemuda itu mencium punggung tangannya. Puji dan Darmo segera mengajak mereka semua untuk masuk.


Eko mengajak teman-temannya menaruh barang bawaan di kamarnya. Rumah Eko sangat sederhana. Di dalamnya terdapat tiga kamar dengan ukuran yang tidak besar, bahkan bisa dibilang kecil. Ruang depan menyambung ke bagian belakang rumah di mana terdapat dapur dan kamar mandi tanpa penyekat. Di bagian depan rumah terdapat bale yang terbuat dari bambu. Mereka semua beristirahat di bale sambil menunggu waktu shalat dzuhur.


“Adem yo,” ujar Seno.


“Iya. Biar udaranya panas, tapi adem, karena banyak pepohonan di sekitar rumah,” terang Eko.


“Sudah adzan. Kita shalat di mushola?” tanya Azzam.


“Iya. Bang.. kita tinggal dulu, ya.”


Yakob hanya mengangkat ibu jarinya saja. Keempat temannya segera beranjak menuju mushola yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Eko. Sambil menunggu yang lain selesai shalat, Yakob mengabadikan pemandangan di sekitar rumah Eko dengan ponselnya.


Lima belas menit kemudian, mereka sudah kembali dari mushola bersama Darmo. Puji segera mengajak Eko dan teman-temannya untuk makan siang. Dia sudah menyiapkan menu sederhana untuk makan bersama kali ini. Nasi, tumis kangkung, tempe goreng, tahu goreng, ikan asin, sambal terasi, lalapan berupa kacang panjang, timun dan kol sudah siap di ruang depan. Mereka duduk di lantai beralaskan tikar.


“Terima kasih, bu. Ini juga sudah Alhamdulillah,” jawab Azzam.


Satu per satu mereka mulai mengambil makanan. Saat akan memulai makan, Gendis, adik Eko baru saja pulang sekolah. Puji segera meminta Gendis berganti pakaian, lalu ikut makan bersama.


Tak lebih dari sepuluh menit, Eko dan yang lainnya sudah menyelesaikan makan mereka. Kebiasaan makan cepat tetap terbawa walau mereka berada di luar akademi. Yakob menepuk-nepuk perutnya yang sudah terisi penuh. Walau menu yang disuguhkan begitu sederhana, namun rasa masakan ibu dari Eko ini layak diacungi jempol. Apalagi sambal terasinya.


“Nanti malam, kalian mau bakar-bakaran?” tanya Darmo.


“Iya, pak,” jawab Eko.


“Bapak sudah sediakan kayu bakarnya. Ubi, singkong sama jagungnya belum bapak ambil.”


“Biar kita aja, pak.”

__ADS_1


“Kamu ke kebun saja. Bapak sudah ijin sama pak Samsul.”


“Nggih, pak.”


Usai beristirahat sebentar, Eko mengajak teman-temannya menuju kebun untuk mencabut singkong, ubi dan memetik jagung. Mereka berkumpul dulu di bale. Sebelum berangkat, Azzam bermaksud mengambil ponsel di tasnya. Saat akan masuk ke dalam rumah, langkah kakinya tertahan begitu mendengar percakapan antara Darmo dan Gendis.


“Pak.. sepatuku jebol. Ndak bisa dipake lagi,” ujar Gendis sambil menunjukkan sepatunya yang jebol.


“Bapak belum punya uang. Bapak perbaiki aja dulu. Mudah-mudahan besok atau lusa, bapak sudah dapat uang.”


“Nggih, pak.”


Gendis keluar dari rumah untuk menaruh kembali sepatunya. Dia terkejut ketika melihat Azzam di dekat pintu. Pemuda itu melemparkan senyumnya, lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa ponselnya. Azzam segera bergabung dengan yang lain menuju kebun.


“Nanti kita bakar ubi sama jagung?” tanya Seno.


“Iya.”


“Tambah ayam sama ikan,” usul Yakob.


“Iya, Ko. Tambah ayam sama ikan. Nanti biar uangnya dari kita,” sambung Azzam.


“Ah aku jadi ndak enak. Kalian kan tamu, masa kalian yang modalin.”


“Ngga apa-apa, Ko. Kamu sudah menyediakan tempat untuk menginap dan ibumu sudah memasakkan makanan enak, itu sudah lebih dari cukup,” jawab Azzam seraya tersenyum. Pria itu membuka dompetnya lalu memberikan lima lembar seratus ribuan pada Eko.


“Ini buat beli ikan dan ayam. Sisanya pakai buat beli beras atau kebutuhan lain buat di rumahmu,” lanjut Azzam.


“Makasih, Zam.”


“Oh iya, nanti pas kita jemput Willi, ajak juga Gendis.”


“Ok, Zam.”


Kedatangan Eko dan teman-temannya disambut oleh Purwo, rekan kerja Darmo di kebun. Pria itu segera menunjukkan di mana mereka bisa mencabut ubi dan singkong. Selain mengambil singkongnya, Puji sudah mewanti-wanti anaknya untuk mengambil daunnya juga. Rencananya wanita itu akan membuat urab daun singkong.

__ADS_1


Momen ketika mereka mencabut singkong dan ubi langsung diabadikan oleh Yakob. Azzam terlihat gembira ketika berhasil mencabut singkong. Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan kegiatan seperti ini. Dia akan mengirimkan foto yang diambil Yakob kepada Arsy dan juga Zar.


🌻🌻🌻


__ADS_2