
Seno mengeluarkan brevet dari saku celananya, lalu memberikannya pada Puji. Kembali kedua orang tua Eko dibuat terharu dengan pemberian terakhir dari Seno.
“Pak gubernur menitipkan ini untuk ibu dan bapak. Ini brevet terbang layang untuk Eko. Ibu bisa pasangkan di seragam milik Eko.”
Tangis Puji kembali pecah. Dia lalu memasuki kamar anaknya. Dikeluarkannya seragam taruna angkatan udara milik Eko dari dalam lemari, lalu digantungkan di gagang lemari. Setelah mengusap airmatanya, wanita itu menyematkan brevet terbang layang. Posisinya berada di atas brevet para dasar yang dulu didapat anaknya.
“Eko pasti senang. Sekarang dia sudah punya dua brevet di seragamnya. Mudah-mudahan nanti, kami bisa memberikan brevet ketiga untuknya,” ujar Azzam.
Gendis mengusap airmata yang meleleh di pipinya. Sampai saat ini gadis itu masih belum bisa sepenuhnya menerima kepergian sang kakak. Terkadang menjelang tidurnya, diam-diam dia menangis sambil memeluk foto Eko.
“Gendis.. kamu jangan terus-terusan bersedih. Nanti mas Ekomu juga sedih kalau kamu masih sering menangis,” ujar Yakob sambil merangkul bahu Gendis.
“Masku sudah nda ada,” jawab Gendis di sela-sela tangismu.
“Mas Eko sudah tenang di alamnya. Kamu masih punya kakak, sekarang kami juga kakak-kakakmu,” sambung Willi.
Seno memandangi Gendis dengan perasaan tak menentu. Perasaan bersalah masih belum sepenuhnya hilang dari hatinya. Apalagi jika melihat sikap Gendis yang masih memusuhinya. Dia hanya bisa berharap, semoga saja gadis itu bisa memaafkannya.
🌻🌻🌻
Usai shalat isya, Azzam dan yang lain berkumpul di halaman depan. Slamet, sepupu Eko datang dan membuatkan api unggun untuk mereka. Dia juga membawa ubi yang baru saja dipanen untuk dibakar. Tanah pemberian Abi ditanami jagung, ubi, singkong, tomat dan cabai oleh Darmo. Mereka baru saja memanen ubi, tomat dan cabai. Besok rencananya mereka akan memanen jagung.
“Mas Slamet ikut bapak juga ngolah lahan?” tanya Azzam.
“Iya, Zam. Aku sama kakakku yang bantu paklik. Hasilnya lumayan, kemarin paklik baru jual panen tomat dan cabai ke pasar.”
“Alhamdulillah.”
“Besok kita mau panen jagung. Kalian mau ikut?”
“Boleh, mas.”
__ADS_1
“Zam.. kamu kan udah belajar gitar, ayo iringi aku sama bang Yakob nyanyi,” pinta Zakaria.
Setelah Eko meninggal, Azzam memiliki hobi baru, yakni belajar gitar. Untuk mengenang sahabatnya, pemuda itu sengaja membeli gitar dan belajar memainkannya secara otodidak. Setiap libur, dia selalu menyempatkan diri untuk belajar.
“Wah.. kau bisa gitar, kah?” tanya Yakob.
“Dikit-dikit, bang. Baru belajar, belum lancar.”
“Coba pinjam gitar Eko. Ayo iringi aku nyanyi.”
Baru selesai Yakob menyelesaikan kalimatnya, Gendis datang menghampiri mereka. Gadis itu berdiri di depan Slamet.
“Mas Slamet kapan mau betulin genting kamarku?”
“Oh iya, lali aku. Besok aja ya.”
“Jangan lupa lagi, mas. Nanti kalau hujan, bocor kamarku.”
“Iyo.”
“Kamarnya Gendis bocor?” tanya Yakob.
“Iya. Gentingnya kayanya ada yang pecah. Aku sudah siapkan gantinya,” Slamet menunjuk beberapa genting yang diletakkan di bawah bale-bale.
“Tapi belum sempat menggantinya,” sambung Slamet.
“Besok aja biar kita yang ganti. Sekarang kita nyanyi dulu,” jawab Yakob.
Slamet hanya menganggukkan kepalanya. Seno berdiri kemudian masuk ke dalam rumah. Dia akan mengambilkan gitar dari dalam kamar Eko. Saat masuk ke dalam rumah, dilihatnya Gendis baru saja keluar dari kamar sahabatnya itu.
“Gendis.. aku mau pinjam gitarnya Eko,” ujar Seno.
__ADS_1
“Ambil aja,” jawab Gendis tanpa melihat pada Seno.
“Gendis.. maafkan aku. Aku tahu, kamu pasti marah padaku soal Eko. Aku juga tidak mau hal ini terjadi. Aku benar-benar minta maaf.”
“Kalau bukan karena menolong mas Seno, kakakku nda akan meninggal. Kenapa mas Eko harus menolongmu, kenapa?”
Tak dapat dipungkiri, hati Seno teriris mendengar perkataan Gendis. Jika bisa memilih, dia juga tidak ingin menjadi penyebab kematian sahabatnya sendiri. Andai Gendis tahu, beban moral yang ditanggungnya atas kepergian sang sahabat.
Melihat Seno yang hanya diam saja, Gendis segera meninggalkan pemuda itu. Puji yang sedang berada di dapur, tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan anak gadisnya dengan Seno. Wanita itu bergegas keluar dari dapur, lalu menghampiri Seno.
“Maafkan Gendis ya, Seno. Dia masih belum bisa menerima kepergian Eko. Tolong beri Gendis waktu. Dia masih belum dewasa.”
“Ngga apa-apa, bu. Aku mengerti. aku akan menunggu sampai Gendis mau memaafkanku.”
“Kamu jangan bersedih lagi. Kamu harus lebih semangat menjalani hidupmu.”
“Iya, bu. Aku mau pinjam gitar Eko, bu.”
“Ambil saja di kamar.”
Seno beranjak dari tempatnya, kemudian masuk ke kamar Eko untuk mengambil gitar. Puji masuk ke dalam kamar Gendis. Dia harus berbicara dengan anak gadisnya itu. Tidak bijak kalau gadis itu menyalahkan Seno atas kepergian Eko. Puji menghampiri Gendis yang duduk di sisi ranjang. Anak gadisnya itu sedang menyusut airmatanya.
“Nduk..” panggil Puji seraya mendudukkan diri di samping Gendis.
“Kenapa kamu bersikap seperti tadi pada Seno?”
“Gara-gara dia, mas Eko meninggal.”
“Istighfar, nduk. Masmu meninggal karena memang sudah takdirnya. Walau tidak menolong Seno, masmu tetap akan meninggalkan kita semua. Ndak baik kamu melimpahkan kesalahan pada Seno. Dia juga bersedih dan terpukul dengan kepergian Eko. Sepanjang hidupnya, mungkin dia akan dilanda perasaan bersalah. Kamu harus mengikhlaskannya, nduk. Lihatlah, masmu sudah meninggalkan lima sahabatnya untuk kita. Masmu pergi, tapi sahabat kakakmu ada di sini untuk menjagamu, ibu dan bapak. Ibu harap kamu tidak menyimpan dendam dan benci pada Seno. Itu hanya akan menyakiti hatimu.”
Dengan lembut, Puji mengusap rambut anak gadisnya yang panjang sebahu. Kemudian wanita itu meninggalkan Gendis sendiri. Sepeninggal Puji, Gendis masih terdiam di tempatnya, merenungi ucapan sang ibu barusan.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Jan mewek lagi ya🤭🏃🏃🏃