AZZAM

AZZAM
Enam Sekawan


__ADS_3

“Kita foto-foto dulu. Gendis, tolong ambilin foto kita ya.”


Gendis menganggukkan kepalanya. Azzam memberikan ponselnya pada Gendis. Keenam pria itu mulai berpose. Gendis memberikan aba-aba sebelum mengambil gambar mereka. Eko kemudian mengajak foto berdua saja dengan teman-temannya. Bergantian pemuda itu berpose bersama Azzam, Seno, Zakaria, Yakob dan Willi. Eko juga mengambil foto berempat dengan teman-temanya di akademi angkatan udara. Malam ini semua terlihat begitu bahagia.


“Oh iya, kalian mau tidur di mana?” tanya Eko. Malam semakin larut, Gendis juga sudah masuk ke dalam kamarnya.


“Kita tidur di bale aja.”


“Jangan, banyak nyamuk.”


“Ya sudah di tengah ruangan aja.”


Yakob dan Azzam mematikan api unggun. Seno dan Zakaria merapihkan bekas makanan mereka, sedang Eko dibantu Willi menyiapkan tempat untuk mereka tidur. Eko menggelar tikar. Dia juga mengeluarkan bantal, guling dan selimut dari kamarnya. Tentu saja guling dan bantalnya tidak cukup untuk mereka semua, tapi itu tidak menjadi masalah.


Yakob berbaring tanpa alas kepala. Dia sudah terbiasa tidur tanpa alas kepala, hanya kedua tangannya saja yang dijadikan bantalan. Di sampingnya berbaring Zakaria, Willi, Seno, Azzam dan terakhir Eko. Keenamnya tidur dengan posisi sejajar, sudah seperti pindang saja. Sebelum kantuk menyergap, mereka berbincang lagi dengan suara pelan.


Suasana rumah Eko begitu sunyi. Semua penghuni yang ada di dalamnya sudah tertidur pulas dan masuk ke alam mimpi. Eko terbangun dari tidurnya saat tanpa sengaja, tangan Azzam menyenggolnya. Pemuda itu bangun dari posisinya. Dipandanginya kelima temannya yang masih tertidur nyenyak.


Perlahan pemuda itu bangun kemudian menuju kamar mandi. Waktu baru menunjukkan pukul tiga dini hari. Eko berniat untuk shalat malam, sambil menunggu waktu shubuh tiba. Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan tangan, kaki, wajah dan kepala terbasuh air. Dia segera masuk ke kamarnya dan memulai shalat tahajud.


Usai melaksanakan shalat tahajud delapan rakaat yang ditutup dengan shalat witir tiga rakaat, Eko mengangkat kedua tangannya. Pemuda itu mengucapkan shalawat pada nabi Muhammad SAW, yang dilanjut dengan membaca doa. Pemuda itu mendoakan kedua orang tuanya, adiknya dan memohon ampunan untuk dirinya dan kedua orang tuanya. Tak lupa dia juga mendoakan teman-temannya agar diberi kemudahan untuk meraih cita-citanya.


Selesai dengan doanya, Eko mengambil mushaf yang ada di atas meja belajarnya. Pemuda itu mulai membaca ayat suci Al-Qur’an sambil menunggu waktu shubuh. Mendengar suara Eko mengaji, Azzam membuka matanya. Dia melihat sekeliling, teman-temannya masih terlelap. Pemuda itu segera bangun, kemudian menuju kamar mandi. Sebentar lagi waktu shubuh tiba.


🌻🌻🌻


Setelah sarapan, Eko mengajak para sahabatnya berjalan-jalan di sekitar kampungnya. Tak lama lagi, mereka akan pergi dan kembali ke akademi masing-masing. Sambil menghirup udara segar, keenamnya menyusuri jalan yang kanan kirinya terhampar persawahan. Azzam mengajak Eko dan yang lainnya menuju toko yang terdapat keterangan melayani tarik tunai.

__ADS_1


Bersama dengan yang lain, Azzam menuju toko tersebut. Dia hendak mengambil uang untuk Gendis. Eko juga memutuskan untuk mengambil uang juga. Uang yang kemarin didapat dari Abi, setengahnya akan diberikan pada orang tuanya. Usai mengambil uang, mereka semua kembali ke rumah Eko.


“Ini untukmu, titipan dari kakek Abi,” Azzam memberikan uang pada Gendis.


“Alhamdulillah, makasih kak Azzam.”


“Sama-sama.”


“Kalian mau pergi sekarang?” tanya Darmo.


“Iya, pak.”


“Terima kasih sudah menerima kami. Maaf kalau kami merepotkan,” ujar Azzam.


“Sama sekali ndak merepotkan. Kami yang minta maaf karena hanya bisa memberi menu seadanya saja, dan tempat untuk tidur yang jauh dari kata layak.”


“Belajar yang rajin, ya. Ibu titip Eko.”


“Iya, bu.”


Satu per satu Eko dan yang lainnya mencium punggung tangan Darmo dan Puji bergantian. Lalu gentian Gendis yang mencium tangan mereka. Gadis itu mengantarkan kakak dan para sahabatnya sampai ke halaman rumah. Eko melihat sejenak pada kedua orang tua dan adiknya, kemudian melambaikan tangannya. Pemuda itu berjalan bersama yang lain menuju terminal Palbapang.


Sesampainya di terminal Giwangan, mereka berpisah tujuan. Willi kembali ke Surabaya dengan menggunakan bus AKAP. Yakob juga kembali ke Magelang menggunakan bus. Sedang Azzam, Eko, Seno dan Zakaria kembali ke Sleman menggunakan trans Yogya. Setelah bus yang membawa Willi dan Yakob meninggalkan terminal, barulah mereka menuju shelter trans Yogya.


“Nanti sebelum kembali ke akademi, aku mau mampir dulu beli makanan,” ujar Seno.


“Untuk siapa? Untuk seniormu itu?” ceplos Eko kesal.

__ADS_1


“Ko..”


“Udahlah, Sen. Ndak usah ditutup-tutupi lagi.”


Sontak Azzam dan Zakaria menolehkan kepalanya pada Seno dan Eko yang sepertinya sedang terlibat perdebatan. Mereka berdua memang belum tahu perihal Seno yang mendapat bully-an dari seniornya.


“Ada apa memangnya, Ko?” tanya Azzam.


“Si Seno diperas terus sama salah satu senior. Setiap keluar selalu minta dibelikan oleh-oleh.”


“Benar itu, Sen?” Azzam menatap Seno dengan tatapan penuh selidik.


“Sudah cerita saja. Aku juga belum tahu cerita yang sebenarnya,” desak Eko.


Karena Eko sudah membeberkannya, akhirnya Seno menceritakan pengalaman tak mengenakan yang diterimanya dari Gusti dan kedua temannya. Zakaria terlihat kesal mendengar cerita Seno.


“Adukan saja pada pelatih. Kamu jangan mau ditindas terus,” usul Zakaria.


“Betul apa yang Zaka bilang. Mereka pasti takut kalau ditegur pelatih. Kalau macam-macam mereka bisa dikeluarkan dari akademi,” timpal Eko.


“Tapi aku takut kalau mengadu pada pelatih, mereka malah tambah marah padaku.”


“Kamu harus bermain cantik, Sen. Jangan adukan ke senior, tapi ciptakan momen di mana pelatih melihat sendiri perlakuan mereka sama kamu,” tutur Azzam.


“Nah betul apa yang Azzam bilang.”


Seno menganggukkan kepalanya. Sepertinya ide yang dilontarkan Azzam cukup masuk akal dan bisa dicoba olehnya. Semoga saja rencana ini berhasil dan membuat Gusti beserta temannya kapok.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2