
“Gusti!”
“Mami!”
Wanita yang dipanggil oleh Gusti dengan sebutan mami, segera menghampiri pria itu, lalu memeluknya. Gusti seperti mendapatkan perlindungan ketika sang mami datang mengunjunginya. Kemarin mama dan kedua kakaknya menjenguk dan hanya menunjukkan wajah dingin saja. Tidak ada kata-kata yang mereka ucapkan untuk menghiburnya, apalagi berusaha meredakan amarah ayahnya.
“Kamu ngga apa-apa, sayang?”
“Mami.. aku takut. Papa mau memasukkan aku ke penjara. Aku takut mami.”
“Kamu tenang saja. Mami tidak akan membiarkan kamu di penjara. Tidak akan! Kamu adalah anak mami! Anak mami!”
Kembali wanita itu memeluk Gusti. Tangannya mengusap punggung Gusti, berusaha memberikan ketenangan dan dukungan untuknya. Apapun akan dilakukan untuk mencegah Rasyid memasukkan anaknya ke dalam penjara.
Mendengar kedatangan kakaknya, Perwita bergegas menuju ruangan di mana Gusti dikurung. Dia yakin kalau sang kakak akan berulah lagi dengan dalih sangat menyayangi Gusti. Astari, kakaknya memang banyak memiliki kenalan orang berpengaruh di pemerintahan dan juga TNI. Dia tidak mau Astari menggunakan kekuasaannya untuk meloloskan Gusti dari hukuman.
Astari adalah seorang janda. Suami dan anak tunggalnya meninggal dalam kecelakaan pesawat 22 tahun yang lalu. Wanita itu begitu terpukul saat kehilangan dua orang yang dicintainya sekaligus. Dia lebih banyak berdiam diri di rumah dan enggan untuk merawat diri. Saat itu, hidupnya seperti sudah berakhir.
Tiga bulan setelah suami dan anaknya meninggal, Perwita melahirkan Gusti. Demi mengembalikan semangat hidup sang kakak, Perwita sering membawa Gusti yang baru berumur sebulan ke rumah Astari. Apa yang dilakukannya berhasil. Melihat Gusti, Astari kembali bersemangat untuk hidup. Wanita itu memohon agar Gusti diberikan saja padanya.
Tentu saja Perwita tidak mengabulkan keinginan kakaknya. Bagaimana pun juga, dia yang sudah mengandung dan melahirkan Gusti. Tidak mungkin dia menyerahkan Gusti begitu saja. Karena Astari terus memohon, akhirnya Perwita mengijinkan kakaknya itu merawat Gusti bersama dirinya, dengan syarat Astari tidak ikut campur dalam caranya dan suaminya ketika mendidik anak. Astari pun menyanggupinya.
Di saat Perwita sibuk mengurus dua anaknya yang lain, Astari datang membantunya. Dia hanya ingin mengurus Gusti saja, sedang untuk urusan Rizky dan Razak, dia sama sekali tidak peduli. Baginya, Gusti adalah anak yang diberikan Tuhan olehnya sebagai ganti anaknya yang sudah lebih dulu berpulang.
__ADS_1
Diam-diam di belakang Perwita dan Rasyid, Astari selalu memanjakan Gusti. Dia selalu memenuhi apa yang Gusti inginkan. Bahkan saat anak itu melakukan kesalahan, maka dia ada di garda paling depan untuk menutupi semua kesalahan Gusti. Setiap anak itu mendapat hukuman dari Rasyid, diam-diam Astari membantunya. Hal tersebut malah membentuk Gusti menjadi pribadi yang manja, arogan dan semaunya sendiri.
Berulang kali membuat masalah dan tidak jera, Rasyid memutuskan mengirimkan anaknya bersekolah di akademi angkatan udara. Dia ingin Gusti menjadi lebih disiplin dan terarah hidupnya. Rasyid berharap, berada jauh dari Astari akan membuat sikap Gusti berubah. Namun ternyata, sekali lagi sang anak mengecewakannya. Bahkan kini Gusti melakukan kesalahan yang lebih fatal.
Kembai ke dalam ruang isolasi, di sana Gusti tengah menceritakan permasalahan yang menimpanya. Apa yang dilakukannya pada Seno, dan kenapa sampai Eko ikut terlibat dan akhirnya meninggal dunia.
“Seno itu kurang ajar, mi. Dia ngga ada hormat-hormat sama senior. Wajar kan mi, kalau aku tegur dia. Eh dia ngga terima dan jebak aku sampai aku dihukum sama pelatih. Bukan itu aja, mi. Dia nyebar fitnah tentang aku ke teman-teman di jurusan. Sampai akhirnya aku ngga kuat dan lawan dia. Dia sama Eko ngeroyok aku. Hari dan Esa bantu aku, mi. Pas kita berantem dan Eko jatuh kepeleset. Dia meninggal karena ulahnya sendiri, kenapa aku yang disalahin? Ini ngga adil kan, mi?”
“Kurang ajar anak yang namanya Seno itu. papamu juga asal percaya saja kabar yang didapatnya. Kamu jangan khawatir, mami akan bantu kamu. Kalau perlu mami akan kirim surat ke presiden untuk membebaskanmu.”
“Makasih, mami.”
Gusti memeluk Astari. Sekarang hanya wanita itulah harapan satu-satunya. Dia tidak masuk ke hotel prodeo. Pria itu tidak mau kebebasannya terbelenggu dan tidak ingin masa depannya hancur. Sebentar lagi dia akan dilantik menjadi perwira TNI AU. Kerja kerasnya selama ini akan sia-sia kalau sampai dirinya dikeluarkan dari akademi.
Pintu ruangan terbuka dengan kasar, dari arah luar Perwita masuk. Matanya menatap tajam pada sang kakak yang masih memeluk anaknya. Melihat kedatangan mamanya, Gusti bersembunyi dibalik Astari.
“Keterlaluan kamu, Wita. Sebagai ibu, harusnya kamu membela anakmu. Bukan malah mendorongnya ke tepi jurang. Kamu itu ibu kandung apa ibu tirinya?!” amarah Astari meledak begitu saja melihat kedatangan adiknya.
“Mba.. ayo keluar dulu. Kita bicara di tempat lain.”
“Ngga perlu! Kalau mau bicara di sini aja. Aku tidak akan meninggalkan anakku!”
“Ini bukan rumah di mana mba bisa berbuat seenaknya. Ayo keluar, mba. Sebelum mas Rasyid memerintahkan anak buahnya menyeret mba keluar.”
__ADS_1
Mendengar ancaman Perwita, Astari akhirnya beranjak darii tempatnya. Sebelum pergi, dia kembali menenangkan Gusti. Wanita itu melewati adiknya begitu saja. Perwita melihat pada Gusti sebelum keluar dari ruangan.
“Kalau kamu memang anak mama dan papa. Beranilah untuk menghadapi kenyataan dan menerima hukuman. Jangan bersembunyi lagi dibalik ketiak mamimu. Mama benar-benar kecewa padamu, Gusti. Hanya karena mamimu selalu mengabulkan apa keinginanmu, kamu anggap dia lebih baik dari mama. Mama keras padamu, karena ingin kamu tumbuh menjadi anak yang baik dan bertanggung jawab. Bukan menjadi anak manja dan arogan. Tidak selamanya sikap baik dan lunak akan membimbingmu dalam kebaikan. Bisa jadi itu jalan untuk menjerumuskanmu. Camkan itu!”
Perwita keluar dari ruangan setelah berbicara panjang lebar pada anaknya. Gusti jatuh terduduk setelah Perwita berlalu. Dia memegangi kepalanya yang seketika terasa pusing. Sepertinya untuk kali ini, seorang Astari pun tidak akan bisa membantunya keluar dari masalah.
Setelah keluar dari ruang isolasi Gusti, ajudan Irjen Rasyid membawa Astari menuju ruangan gubernur akademi. Perwita dan Rasyid menggunakan ruangan tersebut untuk berbicara dengan sang kakak. Selama penyelidikan berlangsung, Irjen Rasyid mengambil alih akademi. Gubernur dan wakil gubernur dibebas tugaskan, dan sementara menjadi tahanan rumah. Begitu juga dengan orang-orang yang membantu menutupi kasus ini.
Sang ajudan membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Astari untuk masuk. Wanita itu segera masuk ke dalam lalu duduk di sofa. Matanya terus memandangi adik iparnya yang duduk di belakang meja kerja gubernur. Tidak lama kemudian, Perwita masuk. Wanita itu duduk tepat di hadapan sang kakak.
“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Astari tanpa basa-basi.
“Aku mau mba tidak ikut campur dalam masalah Gusti.”
“Tidak bisa! Gusti itu anakku. Aku mau dia dibebaskan sekarang juga!”
“Gusti sudah melakukan kesalahan. Dia harus dihukum agar jera,” timpal Irjen Rasyid.
“Kalian tidak boleh menghukumnya, tidak boleh! Kalian tidak berhak menghukum Gusti! Atas dasar apa kalian menghukum Gusti? Atas dasar apa?!”
“GUSTI ADALAH ANAKKU!!”
🌻🌻🌻
__ADS_1