
Sementara di luar, setelah Seno menyerahkan gitar, Azzam mulai menyetem gitar sahabatnya itu. Kemudian pemuda itu mencoba memainkan dan memetiknya. Sebenarnya dia belum terlalu lancar, namun Yakob dan Zakaria memaksanya untuk bermain.
JRENG
JRENG
Terdengar Azzam memainkan gitar di tangannya. kening Yakob mengernyit, ternyata sahabatnya ini baru bisa memainkan kunci saja, namun belum tahu bagaimana cara memainkan senar untuk mengiringi bernyanyi. Slamet tertawa melihat gaya Azzam yang masih kaku.
“Sini, aku saja yang mainkan,” ujar Slamet.
“Mas Slamet bisa?”
“Yo bisa. Eko belajar gitar dariku.”
“Ngomong kek mas dari tadi. Biar ngga malu-maluin,” ujar Azzam seraya menyerahkan gitar ke tangan Slamet.
“Mau nyanyi lagu apa?”
“Dangdut. Lagunya babang Rhoma saja,” usul Yakob.
“Yang mana? Lagunya bang Haji banyak,” jawab Slamet.
“Kegagalan cinta.”
“Jiaaahhh.. si abang curhat. Lagi patah hati ya,” goda Zakaria.
“Itu lagu spesial buat kau yang selalu ditolak Idar, hahahaha…”
“Asem.”
Setelah sepakat akan lagu yang ingin dibawakan, Slamet mulai memainkan gitarnya. Zakaria dan Willi berdiri, keduanya sudah siap untuk berjoged. Kedua jempol mereka sudah terangkat ke atas. Yakob pun mulai memperdengarkan suara merdunya.
“Cukup sekali.. aku merasaaaaaa… kegagalan cinta… takkan terulang, kedua kaliiiii.. di dalam hidupku.”
“Ooohh.. ya nasib, ya nasib.. mengapa begini. Baru pertama bercinta, sudah menderita,” sambung Zakaria sambil terus bergoyang.
“Cukup sekali aku merasaaaaa.. kegagalan cinta.”
__ADS_1
“Yihaaaa!!” seru Willi.
Yakob bangun dari duduknya, dia lalu menarik Seno dan Azzam untuk ikut berdiri dan berjoged bersama mereka. Azzam hanya menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri saja. Gerakannya sangat kaku, Yakob sampai menertawakannya. Seno yang sudah terbawa suasana, ikut bergoyang seperti yang lain.
“Kau yang mulai, kau yang mengakhiri. Kau yang berjanji, kamu yang mengingkari. Kau yang mulai, kau yang menyakiti. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari,” Yakob dan Zakaria menyanyikan part refrain secara duet.
Setelah lagu pertama selesai, nyanyian terus berlanjut. Yakob dan Zakaria tetap menjadi vocalis, sedang Seno, Willi dan Azzam diminta menjadi penari latar. Dengan setia, Slamet terus mengiringi konser dadakan Yakob dan Zakaria.
“Tidakkah kau rasakan. Getaran cinta yang telah kuberikan. Ataukah kau sengaja. Permainkan diriku,” Yakob.
“Haruskah kurelakan. Dirimu yang selama ini kuharapkan. Jujur aku terluka. Melihat kau bersamanya,” Zakaria.
Yakob dan Zakaria berdiri berhadapan sambil menyanyikan part refrain. Keduanya menggerakkan dadanya maju mundur. Willi menarik tangan Azzam, lalu memutar tubuh pemuda itu. Seno asik sendiri berjoged maju mundur dengan tubuh agak sedikit condong ke belakang. Tanpa disadari, Darmo dan Puji melihat apa yang mereka lakukan. Senyum tersungging di bibir keduanya.
🌻🌻🌻
Matahari baru saja menyembul, menampakkan sinarnya, namun Seno sudah bersiap untuk memperbaiki genting kamar Gendis. Pemuda itu mengambil tangga, kemudian menaruhnya ke dekat jendela kamar Gendis. Dia mengambil beberapa buah genting, lalu naik ke atap. Matanya memandang ke sekeliling, mencari genting yang pecah.
“Sen! Sedang apa?” tanya Yakob.
“Tunggu, aku ikut!”
Bergegas Yakob menyusul naik. Sesampainya di atas, nampak Seno berjalan hati-hati mendekati genting yang pecah. Dia mengambil genting yang pecah itu. Ada tiga buah genting yang pecah. Yakob mendekat seraya membawa genting di tangannya. dengan cepat keduanya mengganti genting yang pecah.
“Beres,” ujar Seno.
“Di bagian lain, ada yang pecah juga, ngga?”
“Ngga ada, aman.”
“Ayo turun.”
Keduanya segera bergegas turun setelah mengganti genting. Sesampainya di bawah, Puji sudah menyiapkan sarapan untuk mereka di bale-bale. Sepiring ubi rebus, sepiring pisang kapok rebus, kopi hitam dan teh manis sudah tersedia di sana. Azzam, Willi dan Zakaria yang habis berjalan-jalan segera menuju bale-bale.
“Ini adalah senjata paling mematikan,” Yakob mengambil sepotong ubi rebus.
“Preeettt..” sahut Zakaria.
__ADS_1
“Coba kau bayangkan. Kalau semua batalyon di TNI memakan ubi rebus di saat bersamaan, maka akan tercipta sebuah ledakan dahsyat. Gas beracun yang sangat mematikan. Kita tidak perlu perang dengan senjata lagi, cukup dengan menampung gas beracun ini dan lemparkan ke daerah lawan, hahaha..”
“Halumu, bang.”
Zakaria mengambil sebuah ubi rebus, lalu memasukkan ke dalam mulut Yakob. Azzam mengambil sebuah pisang rebus, kemudian memakannya. Jarang-jarang dia bisa menikmati pisang rebus di kediamannya dulu.
“Pisangnya manis,” seru Willi.
“Apalagi kalau sambil lihat aku makannya. Tambah manis,” celetuk Yakob dengan pedenya.
“Pahit, bang, hahaha..”
Sambil berbincang, kelimanya menikmati sarapan ubi dan pisang rebus. Sesekali mereka menyesap minuman yang sudah disediakan. Tak berapa lama kemudian, Slamet datang bersama kakaknya. Keduanya sudah siap untuk ke kebun untuk memanen jagung. Sebelum pergi, Slamet dan kakaknya juga menikmati sarapan lebih dulu.
“Sen.. kamu sudah pikirkan akan masuk ke korps mana nanti?” tanya Yakob.
Pada saat terakhir mereka berkumpul bersama Eko, Yakob pernah menanyakan hal ini, namun Seno masih belum memberikan jawaban. Pemuda itu masih belum tahu akan mengambil korps apa. Tapi sekarang dia sudah memiliki jawaban pasti.
“Sudah, bang.”
“Kamu mau ambil apa? Korps elektronika atau navigasi?”
“Bukan. Aku mau ambil korps penerbang tempur.”
“Sama seperti Azzam dan Eko.”
“Iya. Aku belum punya keinginan ingin bergabung di korps mana saat itu. Tapi sekarang aku sudah yakin mau melanjutkan perjuangan Eko. Aku akan menjadi penerbang tempur seperti keinginannya.”
“Aku akan bantu kamu mewujudkannya.”
Dengan pelan Azzam menepuk pundak sahabatnya itu. Jika Seno mantap memilih korps penerbang tempur, maka mereka akan kembali menempuh pendidikan penerbang selama satu setengah tahun. Sebelum menjalani pendidikan, tentu saja mereka harus melewati tes lebih dulu. Tidak semua yang mendaftar di korps penerbang tempur bisa diterima. Jika mereka tidak lolos tes, maka mereka tidak bisa melanjutkan pendidikan.
Seno sudah bertekad untuk meneruskan cita-cita Eko. Dimulai dari sekarang, dia sudah mempersiapkan diri agar bisa memenuhi kualifikasi seorang penerbang tempur. Selain masalah fisik, dia pun harus memiliki kesehatan yang prima dan juga kecerdasan. Sesulit apapun, Seno akan menjalaninya, hingga dia bisa mencapai impian sang sahabat juga dirinya.
🌻🌻🌻
Yang nebak lagu bang Haji, bener ya. Cuma judulnya aja yang salah😂
__ADS_1