
Selepas jam sepuluh sudah banyak taruna yang meninggalkan akademi untuk melakukan pesiar. Azzam, Eko dan Seno tidak ada rencana keluar. Mereka menemani Zakaria yang tidak bisa keluar. Pemuda itu kebagian jadwal piket malam. Usai jam piketnya, pemuda itu masuk ke dalam kamarnya dan langsung tidur.
Azzam keluar dari kamarnya dengan membawa sepatu, tak lama kemudian Eko dan Seno keluar dari kamarnya. Mereka juga membawa sepatu untuk dicuci. Ketiganya segera menuju kamar mandi.
“Zaka masih tidur?” tanya Seno.
“Iya.”
“Sen.. Gusti masih suka bully kamu?” tanya Eko.
“Ngga sih, udah tiga hari ini adem ayem. Mudah-mudahan seterusnya. Mereka kapok kali abis dapat hukuman dari pelatih.”
“Semoga aja.”
Ketiganya mulai mencuci sepatu mereka. Cuaca hari ini cerah, mereka yakin sepatu yang dicuci akan cepat kering. Usai mencuci sepatu, mereka berencana menuju gedung olahraga untuk bermain basket.
Setelah menjemur sepatu, ketiganya menuju masjid lebih dulu untuk menunaikan shalat dzuhur. Mereka lalu menuju ruang makan, karena sudah masuk jam makan siang. Zakaria yang sudah bangun, juga langsung menuju ruang makan usai mandi dan shalat dzuhur.
Mereka makan bersama dengan Niken dan Zuhaidar. Ternyata kedua taruni itu juga memilih tinggal di asrama saat hari libur. Seno mengajak keduanya bermain basket dan langsung disetujui Zuhaidar. Gadis itu memang sangat menyukai olahraga basket.
“Mau main basket, ngga?” tanya Eko.
__ADS_1
“Mau. Tapi tunggu makanan turun dulu,” sahut Zakaria.
“Sambil jalan aja. Kita duduk-duduk dulu di sana,” usul Azzam.
Semua menyetujui usulan Azzam. Keenam orang itu segera menuju gedung sasana krida atau gedung olahraga. Letak gedung ini cukup jauh dari tempat mereka sekarang. Butuh beberapa menit untuk sampai ke sana. Seno membuka pintu, bola-bola nampak berserakan di lantai, sepertinya ada yang baru saja bermain namun belum sempat dibereskan. Sebelum bermain, mereka memasukkan dulu bola ke dalam keranjang.
“Semester ini kita ada latihan terbang layang, ya?” tanya Zuhaidar seraya melempar bola ke keranjang.
“Iya. Tiga bulan lagi, kita latihan terbang layang,” jawab Seno.
“Di mana latihannya?”
“Ya di sini. Emangnya pengen di mana? Di Bandung lagi?”
“Kenapa ngga bisa? Jangan bilang kamu takut naik pesawat tidak bermesin?” kekeh Seno.
“Semua taruna harus ikut, Ko. Biar takut juga tetap harus ikut.”
Hanya senyuman saja yang diberikan Eko. Pemuda itu mendrible bolanya, lalu melemparkannya ke ring. Azzam mengambil bola yang keluar dari ring, membawanya menjauh lalu melakukan tembakan tiga poin. Terdengar tepukan tangan Seno ketika pemuda itu berhasil melakukannya.
Setelah hampir satu jam bermain, kelima orang tersebut berhenti bermain basket. Mereka duduk di lantai untuk mengistirahatkan diri. Niken mengibas-ngibaskan tangan ke lehernya, keringat bercucuran membasahi wajahnya. Seorang pelatih masuk lalu menghampiri mereka. Sontak semua langsung berdiri.
__ADS_1
“Kalian tidak ada kegiatan?”
“Siap, tidak ada komandan!”
“Kalian bantu bersihkan Teleng Krida. Kamu dan kamu rapihkan bola-bola ini. Masukkan ke tempatnya.”
“Siap, komandan!”
Azzam, Eko dan Niken segera meninggalkan gedung olahraga. Mereka bertiga segera menuju Teleng Krida. Sedang Seno dan Zuhaidar tetap berada di gedung tersebut. Keduanya diberi perintah untuk membereskan bola. Saat sedang merapihkan bola, Zuhaidar nampak meringis sambil memegangi perutnya.
“Kenapa?” tanya Seno.
“Aduh perutku mulas, Sen.”
“Sana ke kamar mandi. Jangan sampai keluar di sini,” Seno menutup hidungnya.
“Aku tinggal, ya.”
Sambil berlari, Zuhaidar keluar dari gedung olahraga tersebut. Tinggal Seno sendirian membereskan bola dan memasukkannya ke dalam gudang. Tak berapa lama pintu ruang olahraga kembali terbuka. Seno menyangka Zuhaidar sudah kembali.
“Cepat amat. Udah cebok belum?” Seno terkekeh setelahnya.
__ADS_1
Karena tidak ada jawaban dari Zuhaidar, Seno membalikkan tubuhnya. Dia terkejut ketika melihat Gusti, Hari dan Esa berdiri di hadapannya. Ketiga seniornya itu berjalan mendekat. Refleks Seno memundrkan tubuhnya. Dia menangkap niat tidak baik dari Gusti dan kedua temannya.
🌻🌻🌻