AZZAM

AZZAM
Adu Strategi


__ADS_3

Kembali ke akademi, taruna mulai disibukkan lagi dengan pelatihan dan pendidikan. Begitu pula dengan Seno yang kembali harus menghadapi Gusti dan kedua temannya yang semakin menjadi saja mengerjainya. Dia masih bersabar dan menunggu momen yang tepat untuk membalas mereka. Beruntung ketiga sahabatnya selalu membantu dan menemaninya, hingga Gusti tidak leluasa untuk mengerjainya.


Dengan kesal Gusti menghempaskan bokongnya ke kursi. Hari ini dia kembali gagal mengerjai Seno, karena ketiga sahabatnya selalu berada di dekatnya. Kedua temannya menyusul duduk di dekatnya.


“Si Seno makin belagu aja sekarang,” ujar Esa.


“Kayanya dia ngadu ke teman-temannya. Udah seminggu ini temannya ngikutin dia terus,” timpal Hari.


“Nanti tunggu waktu yang tepat. Tuh anak harus dikasih pelajaran lagi,” geram Gusti.


Beberapa kali percobaannya untuk mendekati Seno gagal. Usahanya terhalang dengan kehadiran Eko, Zakaria dan Azzam. Apalagi Azzam selalu menatapnya dengan tajam. Pemuda itu kelihatannya tidak takut sama sekali padanya. Gusti terus memutar otak bagaimana mendekati Seno lagi.


Tanpa Gusti ketahui, Seno diam-diam juga menyusun rencana untuk menjebak Gusti. Dia menunggu momen yang tepat untuk membalikkan keadaan. Dengan sabar pemuda itu menunggu kesempatannya tiba. Waktu di mana sang pelatih akan melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan Gusti dan kedua temannya padanya.


Kesempatan yang ditunggu Seno tiba. Seperti biasa, Gusti dan kedua temannya selalu menunggunya di sudut dekat flat mereka. Matanya kemudian menangkap seorang pelatih yang berjalan kea rah Gusti. Dengan cepat Seno memotong dan mendahului pelatih tersebut untuk sampai ke dekat Gusti. Mangsa langsung terkena umpannya.


“Seno!”

__ADS_1


Seno menghentikan langkahnya ketika mendengar Gusti memanggilnya. Pemuda itu bergegas menghampiri Gusti. Melihat mainannya yang kemarin seolah sedang kucing-kucingan dengannya, Gusti langsung mendekati Seno. Dia mencengkeram rahang pemuda itu.


“Sudah puas main kucing-kucingan denganku?” tanya Gusti dengan mata melotot.


“Maaf, saya tidak mengerti.”


“Ngga usah sok bego.”


BUGH


“Ada apa ini?!”


“Siap! Tidak ada apa-apa, komandan!” jawab Gusti.


Seno pun segera berdiri dengan wajah meringis. Pelatih memperhatikan wajah Seno, Gusti, Hari dan Esa. Tadi dengan jelas dia melihat Gusti memukul perut Seno.


“Kamu kembali ke flat!” ujar sang pelatih pada Seno.

__ADS_1


“Siap, komandan!”


Setelah memberi hormat, Seno segera menuju flatnya. Dia melirik pada Gusti yang tengah terkena hukuman dari pelatih. Senyum mengembang di wajahnya. Akhirnya dia bisa membalas Gusti. Semoga saja pria itu kapok dan tidak mengerjainya lagi.


Sementara itu, Gusti, Hari dan Esa terkena hukuman dari sang pelatih. Ketiga taruna itu diminta lari mengelilingi lapangan sebanyak lima kali, lanjut dengan push up dan jalan jongkok hingga ke pos Radar. Merek bertiga juga diharuskan piket walau hari ini bukan jadwal mereka.


Mendapat hukuman dari pelatih ternyata tidak membuat Gusti jera. Pria itu justru semakin terprovokasi untuk membalas Seno atas hukuman yang diterimanya. Bersama dengan Hari dan Esa, pria itu menyusun rencana untuk membalas Seno. Mereka akan melaksanakan rencananya pada saat libur akhir pekan nanti. Saat itu di rasa paling tepat karena akademi tidak seramai biasanya, karena banyak taruna yang pergi pesiar.


“Pokoknya, Seno harus dikasih pelajaran!” geram Gusti.


“Tenang aja. Tunggu tiga hari lagi,” ujar Hari meyakinkan.


Gusti nampak menyeringai. Dia sudah tidak sabar menunggu waktu membalas Seno tiba. Dia akan membuat pemuda itu menyesali perbuatannya yang sudah membuatnya terkena hukuman.


🌻🌻🌻


Waduh🙈

__ADS_1


__ADS_2