AZZAM

AZZAM
Bertemu Elang


__ADS_3

Elang sedang bersantai di rumahnya ketika Kenzie berkunjung ke kediamannya. Pria itu menyambut kedatangan Kenzie dengan hangat. Dia membawa Kenzie masuk ke ruang tamu. Keduanya mendudukkan diri di sofa yang ada di sana.


“Tumben ke sini mendadak, ada apa, Ken?”


“Maaf ya, bang kalau aku ganggu waktu istirahatnya.”


“Ngga apa-apa. Ada apa?”


“Begini.. apa benar bang El kenal dengan Irjen Rasyid?”


“Maksudnya Irjenau Rasyid?”


“Iya.”


“Iya, aku kenal cukup dekat dengannya. Ada apa?”


“Abang tahu juga soal anaknya?”


“Setahuku anak mas Rasyid itu ada tiga orang. Anak pertamanya sudah menjadi perwira di angkatan laut, anak keduanya juga menjadi perwira di angkatan darat, dan yang bungsu masih pendidikan di akademi angkatan udara.”


“Sebenarnya ada masalah yang terjadi di akademi. Kebetulan anak bungsuku juga pendidikan di sana. Dan baru-baru ini ada kejadian penyiksaan junior oleh seniornya. Dan korbannya itu temannya Azzam.”


Tentu saja Elang terkejut mendengar penuturan rekan bisnisnya itu. Kenzie mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan rekaman video penyiksaan Seno dan Eko yang dilakukan oleh Gusti.


“Astagfirullah.. kenapa bisa sekejam itu mereka.”


“Ini benar anaknya pak Rasyid?” Kenzie menunjuk pada gambar Gusti.


“Iya, itu anaknya. Terakhir aku ketemu lebaran kemarin. Mas Rasyid memang pernah cerita kalau anak bungsunya itu memang sedikit bermasalah. Dia sengaja memasukkan Gusti ke akademi agar hidupnya lebih tertata dan disiplin. Tapi tidak disangka, malah ada kejadian seperti ini. Lalu bagaimana dengan korbannya?”


“Seno masih dirawat di rumah sakit, sedang yang satunya lagi, Eko.. dia meninggal dunia.”


“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.”


“Kedatanganku ke sini ingin memastikan apa pak Rasyid sudah tahu masalah ini. Menurut Azzam, kasus ini ditutup rapat. Orang tua korban juga tidak diberitahu sama sekali. Bahkan pergerakan Azzam juga diawasi oleh mereka.”


“Aku juga ngga tahu, Ken. Tapi coba aku tanyakan padanya. Tapi melihat bagaimana karakter mas Rasyid, kalau sampai masalah ini ditutupi pihak akademi, sepertinya dia belum tahu.”


“Aku mohon bantuannya, bang. Sekarang aku akan berangkat ke Sleman untuk menengok Azzam. Aku akan menepati janjiku padanya, memberikan keadilan untuk kedua temannya.”

__ADS_1


“Baiklah, Ken. Aku akan segera menghubungi mas Rasyid. Apapun yang terjadi, aku pasti akan mendukungmu. Kejahatan seperti ini tidak bisa disembunyikan. Bisa aku minta rekaman videonya?”


Kenzie segera mengirimkan rekaman video tersebut pada Elang. Setelahnya, pria itu segera berpamitan. Dia akan langsung menuju bandara. Kenzie akan menunggu pandawa lima bersama Kenan di sana. Elang mengantarkan pria itu sampai ke depan mobilnya. Setelah Kenzie berlalu, Elang kembali masuk ke dalam rumahnya.


“Yang tadi siapa, yah?” tanya Irzal yang baru saja turun dari lantai dua.


“Om Kenzie, kakaknya om Kenan.”


“Ada urusan apa, yah?” Irzal mendudukkan diri di samping Elang.


“Anak bungsunya lagi pendidikan di akademi angkatan udara. Baru-baru ini ada kasus penyiksaan senior ke junior. Korbannya teman anak bungsunya om Ken, bahkan yang satu sampai meninggal dunia.”


“Astagfirullah, sadis banget.”


Elang memperlihatkan video yang dikirimkan padanya. Irzal sampai beberapa kali mengucap istighfar melihat kekejaman yang terjadi pada korban. Kemudian matanya memicing saat melihat sosok Gusti.


“Loh.. ini bukannya anaknya om Rasyid?”


“Iya. Makanya ayah mau ngobrol sama om Rasyid soal masalah ini. Takutnya dia belum tahu.”


“Kalau om Rasyid udah tahu dan sengaja mengubur kasusnya gimana, yah?”


“Iya, yah. Ayah kalau mau ke Jakarta, biar aku yang antar.”


“Ayah hubungi dulu om Rasyid.”


Dengan cepat jari Elang mencari nomor Rasyid, lalu menghubunginya. Butuh beberapa kali deringan sebelum orang yang dihubungi menjawab panggilannya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Apa kabarnya, mas?”


“Alhamdulillah, baik. Bagaimana kabarmu, El?”


“Alhamdulillah baik juga, mas. Mas lagi ada di Jakarta?”


“Aku lagi di Pontianak, El. Kenapa? Kamu ada perlu?”


“Iya, mas. Ada yang mau kubicarakan.”

__ADS_1


“Soal apa? Kalau penting lewat telepon saja.”


“Duh.. aku ngga enak kalau lewat telepon.”


“Aku masih ada pekerjaan di sini. Kalau nunggu aku pulang takutnya kelamaan. Kalau masalahnya urgent, via telepon aja, El. Ngga usah sungkan, kamu kaya sama siapa aja.”


Awalnya Elang ingin membicarakan masalah ini secara langsung dengan Rasyid. Namun karena pria itu sekarang ada di seberang pulau, mau tidak mau Elang harus membahasnya via sambungan telepon.


“Gusti, gimana kabarnya mas?”


“Aku juga belum tahu kabarnya lagi, El. Pekerjaanku juga banyak di Jakarta. Aku percayakan saja pada bawahanku saja di sana untuk menggembleng Gusti. Tumben kamu nanyain Gusti.”


“Gini, mas. Barusan aja temanku datang dan membawa kabar kalau ada masalah di akademi angkatan udara, kebetulan anaknya pendidikan di sana.”


“Masalah apa?”


“Bullying, mas. Senior menyiksa juniornya. Korbannya dua orang, yang satu masih dirawat di rumah sakit, satu lagi meninggal dunia.”


“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Aku sama sekali belum dengar kasus ini.”


“Sebentar, mas.”


Elang segera mengirimkan video yang didapatnya dari Kenzie. Dia harus berbicara dengan bukti, agar Rasyid percaya apa yang dikatakannya. Setelah mengirimkan video, Elang meminta Rasyid membukanya. Suasana hening sejenak saat Rasyid memutar video yang dikirimkan Elang.


“Gusti…” desis Rasyid pelan.


“Iya, mas. Pelakunya adalah Gusti. Aku harap mas bisa bijak menyikapi kejadian ini. Orang tua korban belum tahu kejadian yang sebenarnya. Mungkin mereka masih menutupi demi nama baik akademi, tapi itu tidak adil untuk orang tua korban. Apa yang dilakukan Gusti dan kedua temannya adalah tindakan kriminal. Dia harus mendapatkan hukuman, mas. Apalagi ada nyawa yang melayang.”


“Terima kasih El, kamu sudah memberitahukan masalah ini. Aku akan berangkat ke Sleman hari ini juga.”


“Sama-sama, mas. Semoga mas bisa mengambil keputusan bijak untuk masalah ini. Maaf kalau aku terkesan ikut campur. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Pembicaraan antara Elang dan Rasyid berakhir. Sesuai dugaannya, Rasyid belum tahu apa yang sudah dilakukan anaknya. Semoga saja pria itu bisa bersikap bijak dan adil, walau pun harus menghukum anaknya sendiri. Karena kejahatan yang dilakukan Gusti tidak bisa dianggap sepele.


🌻🌻🌻


Kira² gimana sikap Rasyid?

__ADS_1


__ADS_2