
Setelah beberapa minggu hanya menghabiskan waktu libur di dalam akademi, akhirnya Azzam bersama yang lain, bisa menghabiskan waktu di luar. Walau hanya beberapa jam saja, sudah membuat mereka senang.
Mereka berjalan-jalan ke pusat kota Yogyakarta sambil berburu kuliner. Zakaria yang penasaran dengan rasa gudeg, mengajak teman-temannya untuk memakan gudeg. Eko membawa mereka menuju tempat menjual gudeg yang rasanya enak dan harganya ramah di kantong. Dia memang sudah hafal seluk beluk kota Yogya ini, karena daerahnya tinggal tidak jauh dari pusat kota.
Baru pertama kali merasakan gudeg, namun Zakaria sudah menyukainya. Dia memesan nasi gudeg komplit untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Gudeg, opor ayam, kerecek, tempe dan tahu bacem ke dalam piringnya. Eko hanya menggelengkan kepalanya melihat piring Zakaria yang penuh.
“Piringmu ngga kelihatan, Zak,” gurau Eko.
“Piringnya sekalian dimakan sama si Zaka, hahaha..”
“Asem..”
Keempatnya segera menikmati nasi gudeg yang sudah sangat terkenal sampai ke manca negara. Bahkan sekarang sudah ada kemasan gudeg dalam kaleng, yang lebih praktis dan tahan lama. Usai menikmati nasi gudeg, mereka kembali berkeliling untuk mencari makanan lain, atau sekedar cuci mata.
Seno mengajak yang lain untuk membeli bakpia dan beberapa makanan lain. Cukup banyak juga makanan yang dibelinya. Tentu saja hal tersebut mengundang kecurigaan yang lain.
“Sen.. kamu beli banyak makanan buat apa? Ngga takut kena inspeksi?” tegur Azzam.
“Bukan buat aku. Ada teman-teman yang ngga bisa keluar, nitip makanan.”
“Ooh..”
Yang lain percaya saja dengan apa yang dikatakan Seno, tapi tidak dengan Eko. Dia curiga apa yang dilakukan sahabatnya ini ada hubungannya dengan senior yang sempat dilihatnya berperilaku tidak baik pada Seno. Namun Eko tidak mengatakan apapun pada Azzam dan Zakaria sebelum semuanya jelas.
__ADS_1
Setelah puas berkeliling, Azzam dan yang lainnya kembali ke akademi. Mereka langsung menuju flat untuk beristirahat. Diam-diam Seno keluar dari flatnya dan menuju flat di mana Gusti berada. Eko mengintip dari balik pintu kamarnya, kemudian mengikuti Seno secara diam-diam.
Seno menyerahkan barang belanjaan yang tadi dibelinya pada Gusti. Pria itu terlihat senang. Ditepuknya rahang Seno beberapa kali, tepukannya sendiri cukup kuat hingga menimbulkan suara saat telapak tangannya beradu dengan rahang pemuda itu. Eko melihat itu semua dari balik tembok seraya mengepalkan tangannya.
Usai mengantarkan pesanan, Seno segera kembali ke kamarnya. Dia terkejut saat tiba-tiba Eko menarik tangannya. Pemuda itu menarik Seno menuju kamar flat mereka, namun mereka berhenti di tempat yang sedikit jauh.
“Kamu ngapain beli makanan buat mereka?” tanya Eko tanpa basa-basi.
“Ngga apa-apa. Ngga tiap hari juga.”
“Tapi ini ngga baik, Sen. Lama-lama mereka makin ngelunjak. Aduin aja ke komandan.”
“Jangan. Lagian mereka juga ngga tiap hari minta yang macam-macam. Mereka juga sebentar lagi lulus. Yakin mereka ngga akan berbuat yang aneh-aneh menjelang lulus.”
“Ko.. biarin aja. Aku ngga apa-apa.”
Eko tak bisa berbuat apa-apa lagi di saat Seno bersikeras untuk menutupi apa yang dilakukan Gusti dan kedua temannya. Dia hanya berharap apa yang dikatakan Seno benar, kalau Gusti tidak akan macam-macam menjelang kelulusannya yang hanya tinggal hitungan setengah semester lagi.
🌻🌻🌻
Hari yang ditunggu untuk bisa berlibur dan menginap di rumah Eko akhirnya tiba. Setelah menyelesaikan ujian akhir semester, mereka diijinkan untuk berlibur. Azzam, Eko, Zakaria dan Seno meninggalkan flatnya dengan pakaian dinas pesiar siang sambil membawa ransel. Mereka segera menuju pos untuk memberikan surat ijin berlibur pada penjaga.
Bersama taruna yang lain mereka antri untuk menyerahkan surat ijin berlibur dan mengisi buku besar. Bergantian mereka mengisi buku dan menandatanganinya. Beberapa kali mereka menjawab pertanyaan dari pelatih yang ikut memantau para taruna yang sedang melakukan ijin di pos.
__ADS_1
“Kalian mau kemana?” tanya sang pelatih.
“Siap! Bantul, komandan.”
“Ke rumah siapa?”
“Siap! Ke rumah Eko.”
“Jangan nakal.”
“Siap!”
“Jangan godain perempuan di sana.”
“Siap! Tidak, komandan.”
“Siap! Tapi kalau Azzam yang digoda gimana, komandan?” tanya Zakaria.
“Oh itu beda perkara, hahaha..”
Setelah selesai mengisi buku besar, keempatnya memberi hormat pada pelatih tersebut, kemudian segera meninggalkan akademi. Mereka akan menuju alun-alun Yogya untuk menunggu kedatangan Yakob. Dari sana mereka akan langsung ke rumah Eko. Sore harinya mereka akan menuju terminal Giwangan untuk menjemput Willi.
🌻🌻🌻
__ADS_1