AZZAM

AZZAM
Jungle Survival


__ADS_3

Sesampainya di titik aman, para taruna terus bergerak. Dikarenakan mereka masih berada di daerah musuh, maka mereka diharuskan terus bergerak menyisiri hutan demi menghindari kejaran musuh. Sebelum bergerak, lebih dulu mereka melakukan penyamaran. Mencoreng muka, menutupi ransel, topi dan tubuhnya dengan rerumputan atau tanaman. Barulah kemudian mereka berjalan memasuki hutan.


Mereka berjalan mencari rute teraman untuk menghindari sergapan musuh. Banyak teknik yang mereka aplikasikan saat jungle survival ini. Salah satunya menuruni tebing curam dengan cara repling. Tiap kelompok diberi titik koordinat berbeda untuk sampai di pos yang sudah ditentukan. Mereka menggunakan kompas siang untuk membantu menemukan titik koordinat yang dimaksud. Setiap kelompok didampingi dua orang pelatih.


Setelah cukup jauh berjalan memasuki hutan, mereka beristirahat sejenak untuk shalat dan juga makan siang. Di sini para pelatih mengajarkan bagaimana bertahan di dalam hutan, memakan apa saja yang bisa dimakan untuk bertahan hidup. Para taruna harus mempraktekkan apa yang sudah diperoleh saat ground school.


Usai melaksanakan shalat dzuhur secara bergantian, pelatih memerintahkan para taruna untuk mencari hewan di sekitar hutan yang bisa dimakan. Diasumsikan bekal mereka sudah habis, dan sekarang mereka harus bertahan dengan memakan apa saja untuk bertahan hidup. Saat sedang menyisiri area sekitar mereka beristirahat, Azzam dan Zakaria menemukan seekor ular. Dengan berhati-hati Azzam menangkap ular tersebut. Dia memegang bagian di dekat kepala, menekannya dengan cukup kuat, hingga hewan tersebut tidak bisa menggigitnya.


Selanjutnya Azzam meregangkan tubuh hewan tersebut beberapa kali. Dengan bantuan Zakaria, mereka memotong kepala hewan tersebut. Semua anggota kelompoknya sudah berkumpul dan siap untuk meminum darah ular sesuai instruksi sang pelatih. Sambil menahan rasa amis yang teramat sangat, Niken menelan darah ular yang masuk ke mulutnya.


Setelah semua darah ular dikeluarkan dan diminum oleh seluruh taruna, kini mereka siap mengolah daging ular untuk menjadi santapan. Beberapa rekan Azzam segera membuat api unggun, Zakaria memotong-motong daging ular, lalu menusuknya. Setelah api berhasil dinyalakan, mereka membakar daging tersebut dan memakannya.


Perjalanan dilanjutkan saat malam menjelang. Dikhawatirkan musuh akan menyergap, mereka kembali berjalan menyusuri hutan dengan bantuan kompas malam. Perjalanan di malam hari lebih sulit dibanding siang hari. Mereka harus menghindari jalan berbahaya dan tentu juga serangan binatang buas.


Azzam berhenti kemudian menggunakan kompasnya untuk mencari arah. Di sampingnya, Seno mencatat sudah sejauh mana pergerakan mereka sejak meninggalkan tempat peristirahatan tadi. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya tiba di pos yang sudah ditentukan. Di sana mereka bisa beristirahat dan akan melanjutkan perjalanan saat hari sudah terang.


Para taruna mulai mendirikan tenda untuk beristirahat dan berlindung. Tak lupa mereka menutupi tenda dengan tanaman yang ada di sekitar untuk menutupi keberadaan mereka dari musuh. Setiap anggota kelompok akan berjaga bergiliran sampai pagi menjelang.


Azzam, Seno dan Zakaria duduk di depan api unggun. Kali ini giliran mereka bertiga berjaga, sedang teman yang lain beristirahat. Zakaria menyeduh minuman yang ada di kotak perbekalan. Dia membuat tiga gelas kopi untuk kedua sahabatnya dan juga dirinya.


“Sen.. Gendis masih belum mau bicara denganmu?” tanya Zakaria.


“Iya.”


“Sabar, Sen. Aku yakin ini hanya sementara. Gendis masih labil, dia belum bisa sepenuhnya menerima kepergian Eko,” Azzam menyemangati sahabatnya.


“Iya, Zam. Tenang aja, aku ngga akan nyerah untuk mendapatkan maaf dari Gendis. Aku bukan Zaka yang nyerah dapetin Zuha, hahaha..”


“Asem.. aku bukannya nyerah, tapi break dulu. kalau terus-terusan kukejar, nanti bisa-bisa dia muntah gerobak, hahaha…”


Tak ayal Azzam ikut tertawa juga mendengarnya. hubungan Zakaria dengan Zuhaidar sudah seperti anjing dan kucing saja. Setiap bertemu lebih banyak bertengkarnya dibanding akurnya. Tapi justru itu yang disukai oleh Zakaria.


“Oh iya, kasus Gusti gimana? Kamu tahu, ngga?” tanya Zakaria.

__ADS_1


“Putusan pengadilan sudah keluar. Gusti dihukum 12 tahun penjara, Hari dan Esa 8 tahun penjara. Tapi Marsda Rasyid meminta hukuman lain. Gusti dan dua temannya akan dikirim ke pulau C. Mereka akan bekerja mengolah lahan dan membangun infrastruktur di sana. tapi dari yang aku dengar, mereka bertiga dikirim ke pulau kosong selama seminggu lebih dulu, baru dikirim ke pulau C.”


“Ya mereka pantas mendapatkan itu,” sahut Zakaria.


“Kalau keputusan ada di tanganku. Aku ingin dia dihukum mati aja. Biar impas, nyawa dibayar nyawa,” timpal Seno


Azzam menepuk pelan pundak Seno. Wajar saja kalau pria itu menginginkan kematian Gusti, Hari dan Esa. Karena ketiga orang itu yang sudah membuat nyawa Eko melayang. Zakaria mengalihkan pembicaraan ke arah lain, agar suasana mellow di antara mereka berlalu.


“Kamu sendiri gimana, Zam?” tanya Zakaria.


“Aku?”


“Iya. Sahabatmu, siapa tuh.. Soraya. Gimana perasaanmu padanya?”


“Sejauh ini aku nyaman sebagai sahabat aja.”


“Yakin?”


“Iya.”


Tak ada jawaban dari Azzam. Pemuda itu hanya berdehem saja. Namun raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan mendengar penuturan Seno. Hal tersebut tertangkap jelas oleh Seno.


“Ck.. segitu kelihatan cemburunya, masih aja ngeles. Kamu suka kan, sama Soraya?” desak Seno.


“Ngga tahu juga.”


“Pastikan perasaan kamu, Zam. Jangan sampai kamu terlambat menyadari. Kalau dia keburu diambil orang, bisa nyesal kamu,” nasehat Zakaria.


Azzam hanya termenung saja mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia juga bingung dengan perasaannya pada Soraya. Setahunya dia hanya menyayangi Soraya sebatas sahabat. Namun mendengar ada pria lain yang ingin mengejarnya, dia juga tidak rela.


Niken yang sedang beristirahat di dalam tenda tanpa sengaja mendengar perbincangan ketiga orang tersebut. Harapannya untuk mendapatkan Azzam semakin jauh saja rasanya. Sepertinya dia harus melupakan Azzam dan membuka hati untuk orang baru.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Paginya mereka langsung meninggalkan lokasi. Naasnya baru saja berjalan beberapa saat, mereka tertangkap oleh musuh. Dengan mata tertutup kain hitam, mereka digiring ke daerah musuh. Mereka ditempatkan di sebuah kurungan bambu dan mendapatkan penyiksaan demi memperoleh informasi. Namun mereka tetap bertahan dan tidak membocorkan informasi.


Bantuan datang, pasukan penyelamat datang menyerbu daerah musuh. Azzam dan yang lain segera melarikan diri menuju daerah aman dan memberi sinyal untuk pertolongan berikutnya. Setelah mereka berhasil memberikan sinyal dan mendapatkan pertolongan, latihan sea and jungle survival ini dinyatakan selesai.


🌻🌻🌻


Seperti biasa, usai melakukan latihan di luar, pasti akan diadakan upacara penutupan. Kali ini wakil gubernur akademi yang memimpin jalannya upacara penutupan latihan Wanatirta. Di upacara penutupan ini juga dilakukan penyematan brevet Wanatirta pada seluruh taruna.


Mayor Indra mendekati Azzam, lalu memakaikan brevet di dada kirinya. Brevet ini melengkapi brevet yang sudah dikoleksi pemuda itu. Dan ini adalah brevet terakhir yang didapatkan oleh taruna angkatan udara. Azzam memberikan hormatnya pada sang komandan.


Selanjutnya pria itu menuju pada Zakaria. Dia juga menyematkan brevet di tempat yang sama. Zakaria memberikan hormatnya setelah brevet tersemat di dada kirinya. Kini Mayor Indra menuju Seno. Pria itu menyematkan brevet di dada kiri Seno. Kemudian dia mengeluarkan sebuah brevet lagi dan memberikannya pada pemuda itu.


“Ini.. brevet untuk almarhum Eko.”


“Siap! Terima kasih komandan!”


Seno memberikan hormatnya pada Mayor Indra. Hatinya bahagia, akhirnya sang sahabat bisa mendapatkan brevet ketiganya. Seno menggenggam erat brevet titipan di tangannya. kepalanya menoleh pada Zakaria dan Azzam sambil tersenyum.


“Kapan kita mau antarkan brevet ke orang tua Eko?” tanya Zakaria selesai upacara penutupan.


“Saat liburan semester aja. Supaya kita bisa menginap dan berkumpul bersama bang Yakob dan Willi.”


“Boleh juga. Tapi apa mereka ngga pulang kampung untuk Natal?” tanya Azzam.


“Oh iya, aku lupa. Bagaimana kalau kita hubungi dulu? Siapa tahu mereka bisa kumpul sebelum pulang.”


“Iya, lebih baik hubungi aja dulu.”


Seno menganggukkan kepalanya. Dia berharap Yakob dan Willi bisa ikut bersama mereka memberikan brevet terakhir untuk sang sahabat.


🌻🌻🌻


Yang pengen nyobain enertab buat diet,cek aja di online, ketik ransum TNI, cari yang jual enertab aja😂

__ADS_1


__ADS_2