
Mobil yang dikendarai Mayor Indra memasuki gerbang akademi angkatan udara. Pria itu terus mengemudikan kendaraannya melewati pos pemeriksaan. Azzam dan Zakaria bersembunyi di bagian belakang mobil. Mayor Indra menghentikan kendaraannya di dekat flat tempat para taruna dan taruni tinggal.
“Terima kasih komandan. Sudah memberikan kami kesempatan melihat Eko untuk terakhir kalinya,” ujar Zakaria sebelum mereka turun dari mobil.
“Cepatlah masuk. Saya sudah memberikan alasan untuk ketidakhadiran kalian hari ini.”
“Komandan, saya mau bertemu Gusti dan kedua temannya,” ujar Azzam.
Tak ada jawaban dari Mayor Indra. Zakaria mengajak Azzam untuk turun, namun pemuda itu bergeming. Matanya terus menatap pada Mayor Indra yang duduk membelakanginya melalui kaca spion. Zakaria terus berusaha menarik Azzam untuk turun. Dia membuka pintu mobil. Sekali lagi Azzam menatap pada pelatihnya, kemudian mengikuti Zakaria turun.
“Jam sebelas malam, saya tunggu di depan flat.”
“Siap. Terima kasih, komandan.”
Kendaraan yang dikemudikan Mayor Indra langsung berjalan setelah kedua taruna itu turun. Azzam dan Zakaria segera memasuki gedung tempat mereka tinggal. Malam nanti, Azzam akan menemui Gusti dan kedua rekannya. Dia akan memastikan ketiga orang itu merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan Eko dan Seno.
“Zam..” panggil Niken saat Azzam akan masuk ke kamarnya. Dia dan Zuhaidar memang sedang menunggu kedatangan Azzam dan Zakaria.
“Kamu tidak masuk perkuliahan hari ini. Komandan bilang kalian sedang sakit. Ini aku sudah rangkum materi untuk hari ini,” Niken menyerahkan buku di tangannya.
“Terima kasih,” Azzam mengambil buku tersebut.
__ADS_1
“Aku juga sudah rangkum materi untukmu.”
Zuhaidar memberikan buku di tangannya. Jika di situasi normal, pasti Zakaria akan jingkrak-jingkrak kesenangan mendapat perhatian dari Zuhaidar. Tapi tidak kali ini. Wajahnya nampak muram saat mengambil buku dan mengucapkan terima kasih.
“Keadaan Eko dan Seno, gimana?” tanya Niken.
Tak ada jawaban dari Azzam, pemuda itu langsung masuk ke dalam kamarnya, begitu pula dengan Zakaria. Niken hanya bisa memandangi pintu kamar yang sudah tertutup. Dia paham bagaimana perasaan Azzam. Melihat keadaan mereka, pasti kondisi Eko dan Seno tidak dalam keadaan baik. Gadis itu mengajak Zuhaidar kembali ke kamar mereka.
🌻🌻🌻
Tepat pukul sebelas malam, Azzam keluar dari kamarnya. Di saat bersamaan, Zakaria juga keluar dari kamarnya. Bukan hanya Azzam, tapi dirinya juga ingin ikut menghajar Gusti dan kedua temannya yang sudah membuat dua sahabatnya celaka. Bahkan Eko harus meregang nyawa di tangan mereka.
“Hanya Azzam yang bisa ikut.”
“Siap. Saya mohon, saya juga ingin ikut.”
“Ini terlalu berbahaya. Saya hanya bisa membawa Azzam. Kamu kembalilah ke kamarmu.”
“Tapi..”
“Zak.. biar aku aja. Kamu kembali ke kamar.”
__ADS_1
“Baiklah. Aku titip pukulan dan tendangan untuk mereka bertiga.”
Azzam hanya menganggukkan kepalanya. Pemuda itu kemudian segera mengikuti Mayor Indra. Zakaria bergegas kembali ke gedung flat sebelum penjaga melihatnya menyusup keluar diam-diam. Sebelum masuk, dia melihat sekilas pada Azzam. Semoga saja sahabatnya itu bisa memberikan pelajaran pada Gusti dan kedua temannya.
Kedua pria berbeda generasi berjalan menuju sebuah gedung. Mereka memilih berjalan di kegelapan agar tidak tertangkap petugas yang sedang berpatroli. Seorang anak buah memberikan hormat ketika Mayor Indra memasuki gedung. Mereka terus berjalan menaiki tangga untuk menuju lantai tiga. Mayor Indra berhenti di depan sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang prajurit. Keduanya segera memberikan hormat pada pria yang sangat disegani oleh para bawahannya.
“Buka pintunya.”
“Siap.”
Dengan cepat, salah seorang prajurit membukakan pintu. Di ruangan ini, Gusti, Hari dan Esa berada. Mereka ditahan sementara, sambil menunggu para petinggi mengambil keputusan akan nasib mereka.
“Waktumu hanya lima belas menit. Tidak lebih, tidak kurang. Apa yang terjadi padamu di dalam, aku tidak bertanggung jawab. Jangan sampai kamu mengalami nasib yang sama seperti kedua sahabatmu.”
“Siap. Terima kasih komandan.”
Azzam memberikan hormatnya, lalu masuk ke dalam ruangan. Prajurit yang berjaga di luar, langsung menutup pintu ruangan. Dia dan Mayor Indra menunggu di luar. Pria itu melihat jam di pergelangan tangannya.
🌻🌻🌻
Kisah Eko terinspirasi dari kisah nyata tentang kekerasan di organisasi atau lembaga pendidikan. Salah satunya, prajurit yang meninggal dianiaya seniornya hanya karena tidak memakai helm saat masuk untuk bertugas. Mudah²an ada solusi untuk masalah seperti ini.
__ADS_1