
Keramaian nampak di jalan Simpang Lima, Semarang. Hari ini warga kota Semarang tengah merayakan hari jadi kota Semarang. Banyak warga yang berkumpul sejak pagi hari untuk menyaksikan dan mengikuti serangkaian acara yang digelar oleh pemerintah setempat.
Untuk acara ulang tahun kali ini, pemkot Semarang mengudang Gita Dirgantara sebagai pengisi acara untuk memeriahkan acara ulang tahun. Gita Dirgantara yang berasal dari Taruna Karbol Tingkat II, III dan IV sudah berkumpul untuk mempertunjukkan kemampuan mereka bermain drum band.
Kenzie yang tahu kalau anaknya akan tampil bersama grup drumband-nya memutuskan untuk melihat langsung pertunjukkan sang anak. Dia mengajak istri dan anak kembarnya ke Semarang untuk melihat penampilan Azzam. Zar sudah siap dengan ponselnya untuk mengabadikan penampilan sang adik.
Penonton yang berkumpul di sisi jalan menolehkan kepalanya ketika mendengar suara pembawa acara membuka acara parade.
“Hadirin yang berbahagia, dalam rangka ulang tahun kota Semarang, untuk membuka parade hari ini, kita sambut penampilan Gita Dirgantara dari taruna angkatan udara!”
Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar ketika sang pembawa acara memanggil Gita Dirgantara untuk tampil. Rombongan Gita Dirgantara mulai memasuki jalan simpang lima lengkap peralatan yang dibawanya. Di barisan depan, berbaris para pemegang snare drum dan tenor drum yang tergantung di pinggang.
Seno berada di bagian pemegang snare drum. Pemegang snare drum mengenakan seragam drumband berwarna biru dan putih. Di belakang mereka, pemain tenor drum berbaris rapih mengenakan seragam coverall & Anti G-suit warna oranye dan hijau. Ada pula yang mengenakan helm pilot lengkap dengan masker oksigen.
Barisan kedua adalah pemegang bass drum, di mana Azzam dan Zakaria berada. Pada barisan ini pemegang bass drum mengenakan seragam yang bermacam-macam. Empat orang mengenakan seragam loreng yang dilapisi jubah berupa replika elang maguwo, lengkap dengan kepala burung di bagian atas. Zakaria dan tiga orang rekannya mengenakan jubah ini.
Sisanya ada yang mengenakan seragam penerbang berwarna hijau dan oranye dan seragam pashkas berwarna loreng. Azzam sendiri mengenakan seragam penerbang berwarna hijau army, lengkap dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Bass drum tergantung di depan dadanya.
Selanjutnya di barisan belakang, berbaris para pemegang bellyra. Sama seperti pemain snare drum, mereka mengenakan seragam biru dan putih. Di belakang mereka, pemain terompet, melofon dan tuba berbaris rapih. Pemain terompet dan melofon mengenakan seragam biru dan putih, sedang pemain tuba memakai seragam pashkas.
Barisan Gita Dirgantara dipimpin oleh satu orang komandan Gita Dirgantara dan tiga orang penatarama. Sang komandan mengenakan seragam drumband berwarna biru dan putih, lengkap dengan atributnya. Penatarama pertama dan kedua mengenakan seragam pashkas. Niken selaku penatarama ketiga, mengenakan seragam penerbang coverall & G-suit oranye-hijau.
Sang komandan memberikan aba-abanya. Dia mengangkat tongkat di tangannya tinggi-tinggi. Kemudian tiga penatarama di belakangnya mengikuti gerakannya. Mereka berempat menekuk lututnya, badan dicondong ke belakang dengan posisi sejajar dengan lutut, seperti gerakan kayang. Tangannya memuutar-mutar tongkat dengan posisi seperti itu. Mereka kembali menegakkan tubuh, dan anggota tim mulai memainkan alat musik sesuai instruksinya.
Sambil berjalan mereka memainkan alat musik. Untuk lagu pertama, mereka membawakan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Komandan dan ketiga penatarama terus bergerak, menari sambil menggerakkan tongkatnya.Sang komandan melempar tongkatnya, lalu menangkapnya lagi.
Usai membawakan lagu pertama, mereka lanjut lagu kedua. Kali ini mereka diam di tempat. Para pemain bellyra memainkan nada lagi Bengawan Solo. Para pemegang bass drum maju ke depan, termasuk Azzam dan Zakaria. Bersama ketiga rekannya yang mengenakan jubah elang maguwo, Zakaria menabuh bass drumnya. Kemudian Azzam dan yang lainnya bergabung. Mereka melakukan gerakan berputar sambil menabuh drum.
“Itu si Azzam ngga pusing apa, muter-muter kaya gitu?” tanya Zar sambil terus mengarahkan kamera ponselnya.
__ADS_1
“Azzam mah udah biasa. Kalau abang langsung nyungsep, hahaha..” timpal Arsy.
Para pemain bass drum melepaskan drum dari tubuhnya, kemudian menggerak-gerakkan dengan tangannya. Lalu mereka menyusun bass drum menjadi bentuk pyramid. Di kedua sisi, dua orang pemain bass drum memegangi drum agar posisinya tidak bergeser. Dan beberapa taruna menahannya dari belakang. Lalu sang komandan naik ke atas tumpukan drum tersebut. Dia memainkan tongkatnya dan Gita Dirgantara memainkan lagu ketiga, Manuk Dadali. Ketiga penatarama di bawah terus menari dan memberi aba-aba.
Sang komandan turun, dan sekarang giliran Azzam naik ke atas. Dua orang taruna memberikan dua buah bass drum padanya. Azzam memegang dua bass drum di kedua tangannya. Dia menaikturunkan drum di tangannya, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi.
Nara dan Arsy menahan nafasnya ketika Azzam melakukan atraksi tersebut. mereka takut kalau Azzam sampai terjatuh. Apalagi bass drum yang dipegangnya, bobotnya cukup berat. Gemuruh tepuk tangan terdengar ketika Azzam menyelesaikan atraksinya. Pria itu turun, dan susunan drum dirubah menjadi bentuk segitiga yang dibuat berendengan sebanyak tiga jajar.
Tiga orang penatarama naik ke atas bass drum. Mereka bergerak memainkan tongkatnya. Seluruh anggota unit Gita Dirgantara terus memainkan musik sesuai arahan mereka. Selesai membawakan lagu ketiga, para pemain bass drum kembali ke posisinya. Kini mereka membawakan lagu milik Melly Goeslaw,Bagaikan Langit.
Setelah 45 menit menampilkan permainan ciamik, atraksi Gita Dirgantara berakhir. gemuruh tepuk tangan terdengar memberikan aplaus untuk mereka. Para taruna kembali ke titik kumpul. Mereka menaruh kembali peralatan di kendaraan. Selanjutnya, mereka diberi waktu untuk mengikuti rangkaian acara lain.
Azzam memanfaatkan waktu luang untuk menemui keluarganya. Zakaria dan Seno pun memilih mengikuti Azzam. Tangan Arsy melambai saat melihat sang adik mendekat. Dia langsung berlari dan meloncat ke atas tubuh sang adik. Refleks Azzam menangkap tubuh sang kakak.
“Arsy.. turun lo! Malu-maluin aja. Nemplok udah kaya onye!” seru Zar.
Seno dan Zakaria mendekat. Mereka mencium punggung tangan Kenzie dan Nara bergantian, kemudian menyalami Zar. Arsy turun dari gendongan Azzam, namun tangannya masih melingkari pinggang sang adik.
“Zam.. kamu ngga berat tadi angkat-angkat drum?” tanya Nara.
“Lumayan, ma. Tapi karena udah sering latihan kaya gitu, jadi ya biasa aja.”
“Baek-baek lo pas muter. Abis muter, keleyengan terus lo c*pok si Zaka, hahaha..”
“Kalau mau nyipok juga lihat-lihat dulu, bang. Ngga modelan dia juga, hahaha…”
“Asem..”
“Kalau aku jadi Azzam, keleyengan terus pura-pura nyipok Niken, hahaha..” timpal Seno.
__ADS_1
“Zam, kok lo ngga jadi mayoret sih?” tanya Zar lagi.
“Bahaya bang, kalau Azzam jadi penatarama. Nanti orang-orang bingung, itu yang mimpin drum band, orang apa robot android,” jawab Zakaria.
“Hahaha…”
Azzam hanya tersenyum saja mendengar ledekan temannya. Nara mengajak Azzam dan kedua sahabatnya untuk berburu kuliner yang ada di sana. sepanjang jalan, Arsy tidak melepaskan pelukan dari sang adik. Beberapa kali Azzam berhenti dan Arsy harus rela melepas pelukannya ketika ada pengunjung yang meminta foto bersama.
“Puas-puasin lo peluk Azzam sekarang. Tar kalau udah nikah, udah kaga bisa,” seru Zar.
“Emang kak Arsy mau nikah?”
“Iya.”
“Ngga,” jawab Arsy dan Zar berbarengan.
“Kakek udah nyiapin jodoh buat dia,” bisik Zar di telinga adiknya.
“Siapa bang?”
“Cucunya keluarga Ramadhan.”
Azzam hanya mengernyitkan keningnya mendengar nama Ramadhan. Nama itu terdengar asing di telinganya. Namun pria itu yakin, jika itu adalah pilihan sang kakek, maka dia adalah yang terbaik untuk kakak tersayangnya. Sedang sang objek pembicaraan sama sekali belum tahu kalau dirinya tengah digadang-gadang sang kakek untuk menikah dengan cucu dari Irzal Ramadhan.
🌻🌻🌻
Yang kepo dengan penampilan Gita Dirgantara, cek aja ke utub.
__ADS_1