AZZAM

AZZAM
Bukti


__ADS_3

Lewat pukul sepuluh, semua taruna akademi angkatan udara yang mendapatkan jatah libur di akhir pekan, bersiap untuk meninggalkan akademi, kecuali taruna angkatan kedua. Mereka tidak diperkenankan keluar dari akademi, dan hanya bisa menikmati waktu libur di asrama sampai batas waktu yang belum ditentukan. Bahkan mereka menyita ponsel milik para taruna tersebut. Tidak ada dari mereka yang diperkenankan menggunakan ponselnya, di hari libur sekali pun. Kebijakan tersebut diambil petinggi akademi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.


Tentu saja aturan tersebut membuat kesal Azzam dan juga Zakaria. Tadinya mereka berencana untuk menjenguk Seno di rumah sakit. Sampai sekarang keduanya belum mendengar kabar tentang Seno. Azzam khawatir kalau Seno mengalami nasib yang sama dengan Eko.


Zakaria mengajak rekan-rekannya berkumpul di belakang flat. Mereka ingin membicarakan kemajuan dalam menemukan bukti atas penyiksaan yang dialami rekan mereka.


“Sampai sekarang, kita belum dapat bukti apapun. TKP benar-benar sudah dibersihkan. Bahkan noda darah di tembok sudah tidak ada. Pihak akademi sudah mengecat ulang ruang ganti.”


“Mereka benar-benar mau mengubur kasus ini.”


“Aku juga coba tanya senior yang bertugas di ruang cctv. Ternyata rekaman kejadian hari ini sudah dihapus.”


“Brengsek,” geram Zakaria.


Tangan Zakaria mengepal erat. Dia benar-benar tidak rela, kematian temannya ditutupi begitu saja. Apalagi sampai sekarang belum ada tanda-tanda pelaku penyiksaan akan mendapatkan hukuman. Mereka masih menahan Gusti, Hari dan Esa di ruang isolasi. Bahkan kabarnya Gusti dipindahkan ke klinik untuk merawat luka-lukanya.


“Bagaimana kabar Eko dan Seno?” tanya salah satu rekan Azzam.


“Aku ngga tahu gimana kabar Seno. Terakhir yang aku tahu, dia masih koma,” jawab Zakaria.


“Lalu Eko?” tanya Zuhaidar.


Semua mata tertuju pada Azzam dan Zakaria. Mereka yakin kalau kedua rekannya itu tahu soal Eko. Sejak kejadian penyiksaan, kabar kedua rekannya yang terluka sama sekali tidak terdengar. Petinggi akademi menutup rapat kasus ini.


“Eko sudah meninggal dunia,” jawab Azzam pelan.


“Innalilllahi wa inna ilaihi rojiun.”

__ADS_1


“Eko… meninggal?” tanya Zuhaidar lagi.


Hanya anggukan kepala yang diberikan oleh Azzam. Gadis itu nampak shock mendengar kabar tentang Eko. Niken memegangi tubuh Zuhaidar yang hampir saja terjatuh. Perlahan gadis itu melepaskan tangan Niken dari tubuhnya, kemudian tanpa mengatakan apapun, dia kembali ke kamarnya. Melihat keanehan sikap sahabatnya, Niken bergegas menyusul sahabatnya itu.


“Ternyata untuk mengungkap kebenaran tidak semudah yang dibayangkan,” gumam Zakaria pelan.


“Mayor Indra, apa kalian ada yang melihatnya? Aku tidak melihat Mayor Indra beberapa hari ini,” ujar Azzam.


Semua rekan Azzam menggelengkan kepalanya. Sudah beberapa hari ini, mereka memang tidak melihat Mayor Indra. Biasanya pria itu selalu ada saat mereka melakukan pelatihan fisik. Tapi belakangan ini, tidak nampak batang hidungnya. Perasaan Azzam tidak enak. Dia takut terjadi sesuatu pada komandannya itu.


“Hape kita juga belum dikembalikan. Mereka benar-benar mau menutup kasus ini.”


“Aku benar-benar berharap keadilan untuk Eko dan Seno bisa ditegakkan. Aku ngga ikhlas Eko meninggal sia-sia,” ujar Zakaria sambil mengepalkan tangannya.


Saat sedang berbincang, mereka dikejutkan dengan kedatangan Lettu Putra. Kompak mereka berdiri dan memberikan hormat pada komandannya itu. Mata Lettu Putra memandangi satu per satu wajah para taruna yang sedang berkumpul. Lalu pria itu melihat pada Azzam dan meminta pemuda itu mengikutinya.


“Seno sudah sadar. Dia masih harus menjalani perawatan.”


“Apa Seno sudah tahu soal Eko?”


Lettu Putra menganggukkan kepalanya. Dapat Azzam bayangkan bagaimana perasaan Seno saat ini. Ingin rasanya dia menemui Seno dan menghiburnya. Temannya itu pasti merasa sangat bersalah atas kematian Eko.


“Mayor Indra apa baik-baik saja? Saya tidak melihatnya beberapa hari ini.”


“Mayor Indra dikurung di ruang isolasi. Kamu pasti sudah tahu apa penyebabnya.”


“Apa yang akan terjadi pada Mayor Indra?”

__ADS_1


“Saya tidak tahu. Azzam.. masalah ini lebih pelik dari yang kita bayangkan. Gusti adalah anak dari Irjenau. Itulah yang menyebabkan pihak akademi menutup rapat masalah penyiksaan yang menimpa Eko dan Seno.”


“Tapi keadilan harus ditegakkan. Mereka harus mendapat hukuman setimpal.”


“Saya tahu, karenanya saya datang menemuimu. Saya sudah mengamankan beberapa bukti terkait penyiksaan Eko dan Seno atas perintah Mayor Indra. Tapi untuk mengungkapkan semuanya, kita butuh dukungan kuat. Kamu pasti tahu arah pembicaraan saya.”


Azzam menganggukkan kepalanya pelan. Sekarang sudah waktunya dia meminta bantuan pada keluarganya. Tapi pergerakannya selama ini terus diperhatikan. Ponselnya disita dan gerak-geriknya diawasi. Dia tidak mau mengambil resiko dengan melibatkan seniornya yang menawarkan bantuan.


“Aku perlu akses untuk menghubungi keluargaku.”


Kepala Lettu Putra menoleh ke kanan dan kiri. Tangannya kemudian merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan ponsel Azzam lalu memberikannya pada pemuda itu. Lewat bantuan rekannya, Lettu Putra berhasil membawa ponsel Azzam keluar dari ruang penyitaan.


“Lakukan yang terbaik.”


“Siap, terima kasih komandan.”


Setelah menyerahkan ponsel, Lettu Putra segera meninggalkan Azzam. Sepeninggal Lettu Putra, Azzam bergegas menuju kamarnya. Saat berjalan menuju kamarnya, dia melihat Niken sudah menunggu di depan kamarnya. Di tangan gadis itu terdapat satu potong kue brownies yang terbungkus plastik putih.


“Zam.. ini buatmu,” Niken menyerahkan kue di tangannya.


“Terima kasih.”


“Kamu harus memakannya, sekarang!”


Usai mengatakan itu, Niken segera meninggalkan Azzam. Sejenak Azzam terpaku memandangi kue di tangannya. Lalu pemuda itu masuk ke dalam kamarnya. Melihat gelagat Niken tadi, dia curiga ada sesuatu yang hendak disampaikan Niken padanya. Buru-buru dia membuka bungkusan kue tersebut. Azzam mengeluarkan kue, lalu membelahnya. Di dalamnya dia menemukan sebuah SD card yang sengaja dimasukkan ke dalam kue.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Hari ini aku cuma up 2x aja ya, sistem review entuun lagi anu, bikin males. Mudah²an up kedua ngga pake lama ya review-nya.Klo ngga nongol hari Sabtu sore, kesalahan bukan di aku.


__ADS_2