
“Tentu saja saya ingin bertemu dengan cucu saya. Hari ini taruna libur, kan? Saya bisa bertemu dengan cucu saya?”
Sejenak Marsda Edi hanya terdiam. Dia baru ingat kalau Azzam berada di ruang isolasi. Jika sampai keluarga taruna itu tahu, Azzam berada di sana, maka urusannya akan panjang. Pria itu bangun dari duduknya, lalu dengan telepon ekstensi yang ada di atas meja kerjanya, menghubungi salah satu anak buahnya.
“Antarkan Azzam ke ruangan saya.”
Baru saja Marsda Edi menaruh telepon ke tempatnya, perkataan Abi berikutnya kembali membuat kepalanya pening.
“Sekalian panggilkan temannya Azzam. Kami pernah bertemu saat pelatihan di Bandung.”
Sang gubernur menelan ludahnya kelat. Tapi untuk menolak keinginan Abi, dia pun tidak bisa menemukan alasan yang tepat. Apalagi sekarang adalah hari libur, semua taruna dibebaskan dari kegiatan pendidikan dan pelatihan.
“Atau bagaimana kalau kita ke asramanya saja, Ken? Pasti Azzam ada di sana dengan teman-temannya,” lanjut Abi karena tidak ada tanggapan dari Marsda Edi.
“Eh jangan pak Abi. Jarak ke asrama cukup jauh. Biar mereka dipanggil ke sini saja.”
Tak ada pilihan, kembali pria itu mengangkat gagang telepon dan menghubungi anak buahnya untuk memanggilkan Zakaria. Dia lalu mendekati kembali para tamunya dan mendudukkan diri di sofa.
Sepuluh menit kemudian pintu ruangan terketuk. Dari arah luar, masuk Azzam bersama seorang perwira muda dan wakil gubernur. Wajah pemuda itu langsung sumringah begitu melihat ayah, kakek dan pamannya. Kenzie berdiri, kemudian menghampiri sang anak. Azzam mencium punggung tangan papanya, yang langsung dibalas dengan pelukan.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik, pa.”
Kenzie mengurai pelukannya. Di belakangnya sudah berdiri Kenan. Azzam segera menghambur pada sang paman, kemudian memeluknya. Beberapa kali Kenan menepuk pelan punggung keponakannya. Jojo dan Abi ikut berdiri, kemudian menghampiri cucunya. Azzam mencium punggung tangan kedua kakeknya, lalu memeluknya.
__ADS_1
Pintu ruangan kembali terketuk, kini Zakaria yang masuk dengan diantar seorang perwira. Pemuda itu terkejut melihat kedatangan keluarga Azzam. Melihat Abi, Zakaria langsung menghampirinya.
“Kakek..”
Zakaria mencium punggung tangan Abi cukup lama. Melihat Abi, dia seakan melihat dewa penyelamat yang akan membantunya dan Azzam mengungkap ketidakadilan yang terjadi pada kedua sahabatnya.
“Mana temanmu yang lain, Seno dan Eko?” tanya Abi santai.
“Seno masih di rumah sakit. Eko.. Eko..”
Zakaria tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Pemuda itu tak bisa menahan tangisnya. Setiap mengingat Eko, airmatanya akan mengalir begitu saja. Azzam pun hanya menundukkan kepalanya. Sama seperti Zakaria, hatinya langsung bersedih jika teringat akan sahabatnya yang sudah tiada.
“Eko kenapa? Seno sakit apa?” tanya Abi.
Gubernur dan wakil gubernur saling berpandangan. Mereka harus bertindak cepat sebelum Zakaria membuka mulutnya.
“Lalu Eko?”
“Eko sudah tidak ada di akademi lagi. Dia mengalami kecelakaan dan nyawanya tidak bisa diselamatkan.”
“BOHONG!!” teriak Azzam mengagetkan gubernur dan wakil gubernur.
“Sampai kapan komandan akan menutupinya? Sampai kapan?! Aku menuntut keadilan untuk temanku. Berikan keadilan untuknya!!”
“Azzam tenang dulu. Ada apa sebenarnya ini?” Abi berpura-pura menenangkan cucunya.
__ADS_1
“Ayo kalian duduk dulu.”
Jojo mengajak Azzam dan Zakaria untuk duduk. Abi mempersilahkan kedua petinggi akademi yang berada dalam ruangan untuk kembali duduk.
“Sebenarnya ada apa? Coba kalian ceritakan,” ujar Abi.
“Maaf pak Abi, apa yang terjadi di dalam akademi adalah masalah intern yang orang luar tidak boleh ikut campur. Lagi pula Seno dan Eko tidak ada hubungan dengan keluarga bapak,” sela Marsda Edi.
“Seno dan Eko adalah sahabat dari Azzam, dan saya sudah menganggapnya seperti cucu sendiri. Masalah yang menimpa mereka, saya harus tahu. Apalagi saya sudah kenal dekat dengan orang tua Eko.”
Suasana di dalam ruangan semakin tegang. Kata-kata Abi walau diucapkan dengan ada pelan, namun terasa seperti sembilu yang menusuk jantung kedua petinggi akademi tersebut.
“Azzam.. ceritakan apa yang terjadi.”
“Eko.. mengalami kecelakaan saat bermain futsal. Kepalanya terbentur lantai dan perutnya sobek terkena pinggiran gawang. Nyawanya tidak bisa diselamatkan, karena pendarahan da nada gumpalan darah di kepalanya. Seno mengalami kecelakaan saat pesiar. Sekarang sedang dalam masa pemulihan di rumah sakit.”
Marsda Edi melihat pada wakilnya ketika mendengar penjelasan Azzam. Dia cukup terkejut pemuda itu mengatakan apa yang menimpa kedua sahabatnya menurut versi yang dibuat olehnya sendiri.
“Itu adalah kejadian yang menimpa Eko dan Seno versi akademi,” lanjut Azzam. Tentu saja itu membuat kedua petinggi tersebut dibuat terkejut dan mati kutu.
“Lalu kejadian yang sebenarnya bagaimana?” tanya Kenan. Pria itu mulai memercikkan bensin ke dalam api yang mulai tersulut.
“Eko dan Seno disiksa oleh senior di akademi. Gusti, Hari dan Esa. Nyawa Eko tidak terselamatkan, karena luka-luka yang dideritanya. Dia mengalami pendarahan internal dan juga ada gumpalan darah di kepalanya. Seno juga mengalami luka parah, tapi nyawanya masih bisa diselamatkan. Keluarga Eko sama sekali tidak diberitahu penyebab kematiannya. Seno juga dibiarkan terkurung di kamar isolasi selama di rumah sakit. Orang tuanya sampai sekarang tidak tahu keadaan anaknya. Tapi hanya karena salah satu pelaku adalah anak dari Irjenau, pihak akademi memilih menutup mata dan menutup kasus ini rapat-rapat. Bahkan sampai sekarang ketiga pelaku belum dihukum.”
“AZZAAM!!” bentak Marsda Edi.
__ADS_1
“JANGAN BENTAK CUCUKU!!!”
🌻🌻🌻