
Rencana berlibur dan menginap di rumah Eko seusai latihan para dasar sampai saat ini belum terlaksana. Begitu kembali dari Bandung, para taruna langsung disibukkan dengan tugas-tugas kuliah. Belum lagi, jadwal piket mereka yang tidak bersamaan. Tentu saja hal tersebut membuat mereka kesulitan untuk menyamakan waktu untuk pergi bersama.
Di waktu libur, usai mengerjakan tugas kuliah, seperti biasa, Azzam, Eko dan Zakaria berkumpul untuk melepaskan penat sambil mengobrol dan bernyanyi. Saat pesiar beberapa waktu lalu, Azzam menyempatkan diri membeli gitar. Sudah beberapa lagu dinyanyikan oleh Zakaria, dan semuanya bergenre dangdut. Tidak ada Seno di antara mereka. Hari ini Seno terkena giliran piket, jadi pemuda itu tidak bisa berkumpul bersama.
“Zam.. coba kamu nyanyi sekarang,” pinta Zakaria.
“Bahaya kalau aku nyanyi, bisa bubar satu akademi, hahaha..”
“Kamu mau coba belajar gitar, Zam?” tawar Eko.
“Susah, ngga?”
“Ngga juga. Nih coba.”
Eko memberikan gitar pada Azzam. Dia kemudian berpindah duduk di dekat Azzam. Dia menempelkan jari-jari Azzam ke senar.
“Kalau ini kunci G. Coba kamu mainin senarnya.”
Azzam memetik senar dengan jarinya. Suaranya masih terdengar timpang. Eko kemudian membenarkan jari Azzam di tangan kirinya yang sedang menekan senar gitar. Lalu memberikan aba-aba lagi pada Azzam untuk memetik senarnya.
“Cakep. Kalau ini kunci C.”
Zakaria hanya memperhatikan saja ketika Eko mengajari Azzam bermain gitar sedikit demi sedikit. Sepertinya mudah, tapi jika dilakukan cukup sulit juga. Apalagi ketika memainkan senarnya, harus sesuai dengan irama lagu.
Dari arah belakang, muncul Niken dan Zuhaidar. Melihat ada Azzam, Eko dan Seno berkumpul tak jauh di depan mereka, keduanya berniat untuk bergabung. Langkah Niken tertahan ketika mendengar perbincangan Azzam dengan Zakaria.
“Zam.. yang namanya Soraya itu, pacarmu, ya?”
“Bukan.”
“Masa? Ngga percaya, aku.”
“Beneran. Aku sahabatan sama dia sejak SMP.”
“Yakin cuma sahabat doang? Kalian tuh dekat banget soalnya. Yakin ngga ada perasaan lain sama Soraya? Apalagi dia cantik.”
“Aku sama dia murni sahabatan aja. Kita emang udah lama kenal, jadi wajar aja kalau dekat.”
“Kalau aku deketin dia, boleh ngga?”
“Boleh aja, asal dianya mau, hahaha…”
__ADS_1
Dibalik tawanya, ada rasa tak rela menelusup dalam hati Azzam mendengar penuturan Zakaria. Sepertinya pemuda itu tidak rela kalau ada laki-laki lain yang lebih dekat dengan Soraya selain dirinya.
Niken yang mendengarkan percakapan mereka mengurungkan niatnya untuk mendekati Azzam dan yang lain. Sejak bertemu dengan Soraya dan melihat interaksi Azzam dengan Soraya, Niken sudah memutuskan untuk mundur teratur. Dia mengajak Zuhaidar ke tempat lain. untuk saat ini, gadis itu belum sanggup mendengar nama Soraya keluar dari mulut Azzam.
Zakaria terlonjak dari duduknya ketika merasakan ponsel yang berada di saku celananya bergetar. Dia mengambil ponselnya untuk melihat nama sang pemanggil. Senyumnya merekah ketika melihat Yakob melakukan panggilan Video. Dengan cepat pemuda itu menjawab panggilan tersebut.
“Halo bang Yakob!”
“Eh Zaka.. itu video apa yang kau kirim, hah? Kenapa pula kau yang bisa ketemu idolaku?”
“Hahaha… sorry, bang. Itu rejeki anak soleh namanya.”
“Ah curang kau. Aku yang mau ketemu pak Abi, kenapa kamu yang kena peluk.”
“Hahaha..”
Zakaria tidak bisa berhenti tertawa. Apalagi ketika melihat wajah sewot Yakob. Azzam dan Eko segera mendekati Zakaria, wajah mereka langsung terlihat di layar ponsel.
“Azzam!! Bawa aku ketemu pak Abi!!”
“Hahaha.. segitu ngefans-nya sama kakekku, bang.”
“Itu kenapa pula si Zaka yang ketiban durian runtuh. Aku yang mau ketemu pak Abi.”
“Beneran ya, Zam.”
“Iya.”
“Kalau abang ketemu kakek Abi, sampaikan salam dariku ya, bang,” goda Zakaria.
“Ogah. Jangan ada Zaka di antara aku dan pak Abi.”
“Hahaha…”
Pembicaraan terus berlanjut. Eko menceritakan rencana Azzam dan yang lain menginap di rumahnya setelah ujian akhir semester. Yakob bersemangat untuk ikut. Karena tidak bisa pulang ke kotanya, pria itu juga ingin ikut menginap di rumah Eko. Tentu saja Eko menyambut gembira jika Yakob ingin ikut menginap.
“Coba ajak Willi. Siapa tahu dia bisa ikut,” saran Yakob.
“Iya, bang. Nanti aku telepon Willi.”
“Bagus kalau dia bisa ikut. Anggap aja kita lagi reunian.”
__ADS_1
“Iya, bener.”
“Telepon aja sekarang, ya.”
Tanpa menunggu persetujuan Eko, Yakob langsung memanggil Willi. Tak berapa lama pemuda itu menjawab panggilannya. Dia menyapa Azzam, Eko dan Zakaria, serta tak lupa menanyakan keberadaan Seno.
“Wil.. kau mau ikut ke rumah Eko, liburan semester nanti?”
“Boleh. Kumpul di mana?”
“Di terminal Giwangan aja. Kan kamu naik bis dari terminal Purabaya, nanti turun di terminal Giwangan.”
“Oh oke.”
“Kabarin aja berangkat jam berapa. Nanti kita bisa ngira-ngira sampai jam berapa.”
“Sip.”
Selain membicarakan rencana reuni, Willi juga menanyakan soal latihan para dasar kemarin. Dia ikut senang melihat foto-foto yang dikirimkan di grup wa. Mereka memang membuat grup yang terdiri dari mereka berenam. Di sana mereka bertukar informasi dan juga cerita menarik yang mereka alami selama di asrama.
🌻🌻🌻
Sejak pukul tujuh pagi sampai empat sore, Seno berada di pos ksatrian Garuda. Hari ini dia memang kebagian tugas piket. Hal rutin yang harus para taruna lakukan. Pemuda itu menggerakkan pinggangnya ke kanan dan kiri. Dia masih menunggu taruna lain yang akan menggantikan tugasnya.
Tak berapa lama empat orang taruna datang dan menggantikan tugas mereka. Setelah saling memberikan hormat, Seno dan tiga orang lainnya segera meninggalkan pos. saat sedang berjalan, tiba-tiba saja Seno merasakan sakit di perutnya. Ada yang mendesak ingin segera dikeluarkan.
Pemuda itu segera berlari menuju bangunan flatnya. Karena terburu-buru, dia menabrak salah satu senior yang berjalan ke arahnya bersama dua orang lainnya. Hampir saja seniornya itu jatuh terjengkang kalau tidak tahan oleh kedua temannya.
“Maaf Sermatupar!” seru Seno. Senior yang ditabraknya adalah taruna tahun keempat.
“Kamu jalan ngga lihat-lihat!” bentak senior yang tertabrak.
“Siap! Maaf, saya buru-buru. Maaf..”
Setelah memberikan hormatnya, Seno segera berlari menuju kamar mandi yang ada di sana. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Senior yang tertabrak oleh Seno terus melihat ke arah pemuda itu.
“Angkatan berapa dia?”
“Kayanya tahun kedua,” jawab temannya.
Sejenak senior tersebut melihat ke kamar mandi yang didatangi oleh Seno. Setelah beberapa saat, pria itu segera mengajak kedua temannya untuk pergi. Raut tidak suka terlihat di wajahnya.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Seno ketemu senior galak, bahaya🙈