AZZAM

AZZAM
Mimpi


__ADS_3

Menjelang sore, kamar perawatan Seno mulai didatangi teman taruna seangkatannya. Larangan untuk keluar sudah dicabut. Ponsel mereka juga dikembalikan. Mereka diperkenankan menjenguk Seno secara bergiliran. Niken dan Zuhaidar juga ikut menengok ke rumah sakit.


“Ini..”


Zuhaidar memberikan ponsel pada Zakaria. Dengan senang pria itu menerima ponsel miliknya. Dia melemparkan senyum manis pada Zuhaidar, tapi gadis itu mengabaikannya dan memilih menghampiri Seno.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Zuhaidar.


“Alhamdulillah sudah baikan.”


“Syukurlah kamu sudah membaik. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu.”


“Sama aku khawatir, ngga?” sela Zakaria.


Tak ada jawaban dari Zuhaidar. Gadis itu menjauhi Zakaria dan memilih duduk di dekat Azzam. Zakaria bergerak cepat mengikuti sang gadis, lalu duduk di sampingnya. Seno tersenyum melihat kelakuan Zakaria. Namun senyumnya memudar ketika mengingat Eko sudah tidak bersama mereka sekarang. Biasanya Eko yang sering menyemangati Zakaria tidak menyerah untuk mengejar Zuhaidar.


“Ada apa, Sen?” tanya Niken yang menyadari perubahan wajah Seno.


“Ngga apa-apa. Aku cuma inget Eko aja.”


“Eko sudah tenang di tempatnya yang baru, Sen. Cukup dikenang kebaikan yang sudah Eko lakukan selama hidup. Aku tahu perasaanmu, pasti kamu merasa sangat bersalah atas kepergiannya. Tapi percayalah Sen, itu bukan kesalahanmu. Eko sangat menyayangimu, dia ingin kamu melanjutkan hidupmu. Kamu harus bangkit, Sen. Jangan sia-siakan pengorbanan Eko untukmu.”


Seno terdiam mendengar nasehat panjang lebar Niken. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar, namun dia masih belum sepenuhnya bisa memaafkan dirinya sendiri. Setiap kali mengingat sahabatnya, maka pria itu akan terus dihujami perasaan menyesal dan bersalah. Lebih baik dirinya mati dipukuli dari pada orang lain yang harus mengalaminya. Terlebih Eko adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Belum lagi ketika Seno melihat Gendis. Tatapan gadis itu benar-benar menusuk tepat di jantungnya. Walau tidak mengatakan apapun, namun dia tahu kalau Gendis marah dan menyalahkan dirinya atas kematian sang kakak. Gendis sangat menyayangi Eko, wajar saja kalau gadis itu marah bahkan membencinya. Karena membantunya, Eko kehilangan nyawanya.


🌻🌻🌻


“Sen..”


Seno menolehkan kepalanya saat mendengar sebuah suara yang sangat dirindukannya memanggil namanya. matanya berkaca-kaca ketika melihat Eko berdiri di hadapannya. Wajah sahabatnya itu nampak cerah dan penuh dengan senyuman. Dia mengenakan pakaian serba putih. Dengan langkah perlahan Eko mendekati Seno, lalu duduk di sampingnya.


“Eko..”


“Bagaimana kabarmu, Sen?”


“Eko…”


Sambil menangis Seno memeluk sahabatnya. Eko menepuk pelan punggung sahabatnya itu. Membiarkan pemuda itu menangis sepuasnya. Setelah beberapa saat, Eko mengurai pelukannya.


“Ko.. maafin aku.. maafin aku..”


“Apa yang harus dimaafkan? Kamu ngga salah apa-apa.”


“Karena aku, kamu meninggal. Maafin aku, Ko…”


“Seno.. bukan salahmu aku meninggal. Waktu hidupku di dunia memang sudah habis. Tapi aku bahagia, di akhir hidupku aku bisa melakukan hal yang berguna, menyelamatkanmu. Kalau aku diminta mengulang waktu, aku tetap akan memilih jalan yang sama.”

__ADS_1


Seno menangis tersedu mendengar ucapan sahabatnya. Kepalanya menunduk, buliran bening terus mengalir dari kedua matanya.


“Sen.. kalau kamu merasa bersalah. Apa kamu bisa melakukan sesuatu untukku?”


“Apa itu? Bilang aja, Ko. Walau berat, aku akan berusaha melakukannya.”


“Aku mau kamu belajar dengan giat. Kamu harus lulus menjadi perwira AU, seperti cita-citamu, aku, Azzam dan Zaka. Bisa kamu melakukannya untukku?”


“Aku akan melakukannya untukmu.”


“Selain melakukan untukku, kamu harus melakukannya untuk dirimu sendiri. Aku ingin melihatmu sukses. Maaf saat terbang layang nanti, aku ngga bisa ikut. Tapi saat kamu latihan terbang layang, bisa kan kamu teriakan namaku saat kamu berada di atas?”


Dengan cepat Seno menganggukkan kepalanya. Tangannya mengusap airmata yang masih membasahi pipinya. Dia berjanji akan secepatnya pulih dan melanjutkan pendidikan seperti apa yang diinginkan sahabatnya.


“Sampaikan salamku pada Azzam, Zaka, bang Yakob dan Willi. Senang bisa mengenal kalian dan terima kasih sudah menjadi temanku. Selamat tinggal, Sen. Aku akan menunggu sampai kita dipertemukan lagi nanti.”


Eko bangun dari duduknya. Sejenak ditatapnya Seno dengan lekat. Sambil berjalan mundur, pemuda itu melambaikan tangan dan melemparkan senyumnya.


“Eko…”


Seno bangun dari duduknya, berusaha mengejar sahabatnya. Namun kakinya seperti dipaku, dia sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya. Airmatanya kembali berderai ketika melihat sosok Eko yang semakin menjauh dan kemudian hilang ditelan kabut putih.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Semoga ngga ada drama penyekapan Azzam lagi, aamiin...


Masih butuh tisu ngga?🏃🏃🏃


__ADS_2