
Memasuki semester tujuh, artinya Azzam dan rekan yang lainnya sudah berada di tingkat IV. Mereka mendapat pangkat baru, yakni Sermatutar atau Sersan Mayor Satu Taruna. Selain disibukkan dengan serangakaian praktikum dan mempersiapkan diri untuk tugas akhir, mereka juga mendapat tugas membimbing juniornya saat latihan.
Azzam berjalan menuju gedung asrama di mana para taruna tinggal. Malam ini dia bertugas piket dan harus mengecek para taruna apakah sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia mendatangi setiap lantai, bertanya pada taruna yang juga sedang piket malam, menjaga asrama.
Taruna yang bertugas piket berjaga di setiap lantai. Mereka harus memastikan semua taruna sudah masuk ke kamar masing-masing setelah bunyi lonceng. Azzam menapaki anak tangga menuju lantai tiga. Di sana dua orang taruna sudah berjaga. Mereka duduk di belakang meja yang ditempatkan di dekat tangga. Keduanya langsung berdiri dan memberikan hormat pada Azzam.
“Apa kalian sudah mengecek setiap kamar?’
“Siap, belum.”
“Kenapa?”
Tak ada jawaban dari keduanya. Mereka memang sengaja menunda pengecekan, menunggu sampai semua rekannya masuk ke dalam kamar, baru kemudian melakukan pengecekan. Namun ternyata Azzam datang lebih cepat dari perkiraan. Taruna tingkat II itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika Azzam menghukumnya.
“Posisi push up!”
Keduanya segera mengambil posisi push up di lantai. Azzam memberikan aba-abanya. Mereka melakukan push up sampai Azzam meminta berhenti. Setelah melakukan 30 kali push up, Azzam meminta mereka berhenti. Pria itu kemudian berjalan untuk memeriksa kamar para taruna.
Azzam membuka salah satu kamar. dinyalakannya saklar yang ada di dekat pintu. Taruna tersebut sudah tertidur. Pria itu kembali mematikan lampu dan keluar dari kamar. Dia lalu menuju kamar yang lain. Sama seperti tadi, dia menyalakan lampu kamar. Nampak seorang taruna tidur dengan mengenakan seragam penerbang berwarna oranye. Azzam segera membangunkan taruna tersebut.
“Bangun!” seru Azzam sambil mengguncang bahu sang taruna. Pemuda itu bangun dari tidurnya. Dia mengucek mata sebentar. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
“Kenapa kamu tidur pakai seragam?”
“Siap. Ngantuk, kak.”
“Ganti seragammu. Cepat pakai piyama. Nanti saya cek lagi, kalau belum ganti, saya hukum!”
“Siap!”
Azzam keluar dari kamar, kemudian mengecek kamar yang lain. Tidak ada yang melakukan pelanggaran lagi di lantai tiga. Pria itu melanjutkan inspeksinya ke lantai empat. Dia membuka salah satu kamar yang lampunya masih menyala. Seorang taruna mengenakan kaos dan celana pendek baru saja akan tidur.
“Kamu kenapa pakai kaos dan celana pendek? Emangnya mau olahraga?”
“Siap, tidak, kak.”
“Ganti piyama!”
“Siap!”
Kembali Azzam keluar dari kamar. Dia kembali melakukan pemeriksaan. Setelah yakin tidak ada taruna yang melanggar, pria itu keluar dari gedung asrama. Dia menuju pos tempatnya bertugas, yakni Garuda 2. Di sana Seno sudah menunggunya. Dia memang piket bersama sahabatnya itu.
“Gimana, aman?” tanya Seno.
“Biasalah, ada yang ketiduran pake seragam.”
“Kaya si Zaka dulu, hahaha…”
Azzam ikut tersenyum ketika mengingat masa awal pendidikannya dulu. Zakaria sering terkena hukuman push up karena acap kali tertidur mengenakan seragam. Kadang pria itu terpergok pelatih atau seniornya belum tidur setelah lonceng berbunyi.
“Katanya latihan CWP sekarang ke Jepang, ya?” tanya Seno.
“Iya.”
__ADS_1
“Wah, asik. Kalau bukan jadi taruna, belum tentu aku bisa keluar negeri. Kamu pernah ke Jepang, Zam?”
“Pernah. Tiga kali.”
“Ngapain juga aku tanya kamu pernah atau ngga, ya pasti pernah lah.”
Seno terkekeh sambil menepuk keningnya. Bagi keluarga konglomerat seperti Azzam pasti bepergian keluar negeri bukanlah sesuatu hal yang aneh. Azzam berdiri dari duduknya, lalu mengajak Seno untuk berkeliling. Sudah waktunya mereka melakukan patroli.
🌻🌻🌻
Azzam sedang sibuk mengerjakan tugasnya di kamar flatnya. Perhatiannya teralihkan dari laptop di depannya, ke ponsel yang tergeletak tak jauh dari laptop. Segurat senyum tercetak di wajahnya ketika melihat sang pemanggil adalah kakaknya, Arsy. Dengan cepat Azzam menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Zam.. kamu lagi apa?” tanya Arsy dari seberang.
“Lagi ngerjain tugas, kak.”
“Sekarang kan hari libur. Kamu ngga pesiar?”
“Ngga, kak. Tugasku banyak. Mau beresin tugas dulu. Apalagi senin mau ada praktikum juga.”
“Praktikum apa?”
“Sistem pesawat terbang.”
“Zam..”
“Ada apa, kak?”
“Kamu ada waktu bentar ngga, dengarin curhatanku?”
“Aku selalu ada waktu buat kakak. Ada apa, kak?”
Azzam bangun dari duduknya, kemudian menuju ranjangnya. Dia memilih membaringkan diri di ranjang untuk meluruskan punggungnya. Sudah tiga jam lebih dia berkutat di depan laptop. Berbincang dengan Arsy dimanfaatkan dirinya untuk beristirahat sejenak.
“Aku mau nikah, Zam.”
“Alhamdulillah. Sama siapa, kak?”
“Mas Irzal, cucu temannya kakek. Kakek udah jebak aku, terus maksa aku nikah sama dia.”
“Jebak gimana, kak?”
Arsy menceritakan penjebakan yang dilakukan oleh Abi. Dia dan Irzal terjebak di rooftop Humanity Corp. Semalaman gadis itu harus menghabiskan waktu bersama Irzal. Dan keesokan malamnya, Abi mengundang semua yang berkepentingan ke rumahnya dan memaksa dirinya menikah dengan Irzal.
“Tapi selama di rooftop, dia ngga macam-macam kan sama kakak?”
“Ngga. Dia sopan banget. Malah dia buat pembatas ruangan pakai sofa. Aku yakin, kakek berani aku jebak sama dia berduaan di rooftop karena tahu orangnya seperti apa. Dia emang soleh, Zam, pake banget malah.”
“Nah terus masalahnya di mana? Bagus dong kalau jodoh yang dipilihin kakek, laki-laki yang baik.”
“Tapi aku belum siap nikah, Zam. Lagian aku juga ngga tahu perasaan dia ke aku gimana. Mana waktu pernikahan cuma dua bulan lagi. Kan aku bingung.”
__ADS_1
“Ngapain bingung sih, kak? Kakak shalat istikharah aja. Kalau dia emang jodoh kakak, kakak mau menghindar kemana pun, pasti balik ke dia. Sebaliknya, kalau dia bukan jodoh kakak, biar kakek usaha apa aja, tetap aja kalian ngga akan bersama.”
“Iya juga sih. Oh iya.. bang Zar ada telepon kamu, ngga?”
“Ngga. Kenapa, kak?”
“Dia juga lagi kena masalah. Sebenarnya bukan dia yang kena masalah, cuma secara ngga langsung dia ikut andil.”
“Maksudnya?”
Arsy menceritakan masalah tentang Renata. Cerita dimulai ketika Renata memfitnah Zar, sampai kemudian wanita dilecehkan oleh Richie dan ketiga temannya yang lain. Malam saat pelecehan itu terjadi, Renata sempat meminta tolong pada Zar. Namun pria itu mengabaikannya.
“Pasti bang Zar merasa bersalah.”
“Iya.”
“Sekarang kondisi kak Rena, gimana?”
“Udah baikan. Dia tinggal di rumah KiJo sekarang.”
“Kok bisa?”
“Rena sempat mau bunuh diri. KiJo jadi ingat sama adik kembarnya yang meninggal karena bunuh diri. Makanya KiJo ngajak Rena tinggal di rumah.”
“KiJo punya kembaran?”
“Iya, aku juga baru tahu. Kamu sendiri gimana? Ada kegiatan apa aja?”
“Bulan depan kita mau latihan Cakra Wahana Paksa di Jepang.”
“Latihan apa tuh?”
“Semacam latihan navigasi pesawat, kak. Aku terangin juga kakak ngga akan ngerti,” Azzam terkekeh.
“Ya udah, ngobrol yang lain aja. Kemarin aku ketemu Soraya.”
Cerita Arsy tentang Soraya langsung mengalir. Azzam terlihat antusias mendengar cerita tentang sahabatnya itu. Terakhir mereka bertemu saat lebaran tahun kemarin. Rasanya rindu juga, sudah lama tidak bertemu dengan Soraya.
“Kamu kalau suka sama Soraya, jangan kelamaan, Zam. Kalau udah selesai pendidikan, minimal Soranya diiket dulu. Tunangan aja dulu.”
“Aku belum mikir ke sana, kak. Habis pelantikan, aku kan mau lanjut pendidikan penerbang satu setengah tahun.”
“Maksudku, kamu ngomong sama dia. Biar dia nunggu, gitu loh.”
“Aku juga ngga tahu gimana perasaanku sama Sora. Aku ngga berani janji, karena perasaanku sendiri belum pasti.”
"Yakinin dulu aja perasaanmu."
Perbincangan antara Arsy dan Azzam terus berlanjut. Banyak hal yang dibicarakan mereka berdua. Mendengar suara sang kakak, setidaknya bisa mengurangi kerinduannya pada keluarga.
🌻🌻🌻
Menanggapi komentar soal biaya pendidikan gratis yg katanya hoax dan ada yang harus bayar, setahuku sekolah kedinasan itu gratis. Anak kenalanku juga jadi taruna di AAL dan emang gratis. Tapi kalau ada yang pake uang, ya maklumlah,namanya juga negara wakanda, kali aja ada oknum nakal.Apalagi seleksinya ketat banget.
__ADS_1