
Setelah empat hari terbaring koma, akhirnya Seno membuka matanya. Pemuda itu masih terbaring di ruang ICU. Ruangan serba putih, bau obat-obatan dan disinfektan, serta suara alat medis menyapa panca inderanya. Perlahan jari-jari tangannya bergerak, kemudian terangkat dan melepaskan masker oksigen di wajahnya.
Seorang perawat masuk ke dalam ruang intensif tersebut. Begitu melihat Seno telah sadarkan diri, dia segera keluar lagi untuk memanggilkan dokter yang menangani Seno. Tak lama kemudian, seorang dokter laki-laki paruh baya masuk ke dalam ruangan. Dia langsung mendekati bed Seno.
Dokter tersebut segera memeriksa keadaan Seno. Dia mengeluarkan senter kecil dari saku jas snelinya. Pria itu mengarahkan senter ke mata Seno. Dia meminta Seno mengikuti pergerakan cahaya senter di tangannya. Mata Seno bergerak ke kanan dan kiri, mengikuti arah cahaya.
“Kamu ingat siapa namamu?”
“Se..no” jawab Seno dengan suara parau.
“Selamat datang kembali Seno. Kamu adalah pejuang tangguh. Kamu berhasil lolos dari maut,” dokter tersebut menepuk pundak Seno pelan.
“Dokter.. teman saya.. Eko.. bagaimana keadaannya?”
Untuk sejenak dokter tersebut tidak menjawab pertanyaan Seno. Dia berpandangan sebentar dengan perawat yang berdiri di sampingnya. Seno menatap sang dokter tanpa berkedip, menunggu jawaban keluar dari mulut pria itu.
“Sekarang lebih baik kamu fokus dulu untuk memulihkan dirimu. Jangan pikirkan hal lain.”
“Tapi dokter..”
__ADS_1
“Kalau kamu sudah keluar dari ruang ICU, kamu akan tahu kabar tentang temanmu.”
Dokter tersebut menatap Seno dengan wajah meyakinkan. Akhirnya Seno menganggukkan kepalanya. Dokter itu tersenyum pada Seno, kemudian keluar dari ruangan. Riskan baginya memberi tahu tentang Eko di saat Seno baru saja terbangun dari komanya. Tidak ada yang tahu bagaimana pemuda itu akan bereaksi. Jalan satu-satunya dengan mengulur waktu dan menunggu saat yang tepat untuk mengatakan kebenarannya.
Sepeninggal dokter dan perawat, Seno hanya bisa berbaring sambil menatap langit-langit kamar perawatan intensif tersebut. Matanya berkaca-kaca saat membayangkan kembali peristiwa tragis yang menimpa dirinya dan Eko. Masih jelas dalam ingatannya, bagaimana tubuh Eko ambruk dengan wajah bersimbah darah setelah dihajar habis-habisan oleh Gusti dan kedua temannya.
🌻🌻🌻
Dua hari kemudian, Seno dipindahkan ke ruang perawatan biasa setelah kondisinya dinyatakan stabil. Pemuda itu dibawa ke ruangan isolasi. Hanya ada satu bed, nakas dan sebuah kursi untuk yang datang menjenguk. Ruangan Seno dipisahkan dari pasien lain, di depan kamar ditempatkan seorang kopral yang menjaga kamarnya.
Tidak ada satu pun teman atau keluarganya yang datang menjenguknya. Seno bertanya-tanya sendiri, mengapa keluarganya tidak ada yang datang. Ingin rasanya dia bertanya pada yang berjaga di depan kamarnya. Namun untuk bangun dari bednya dan berjalan keluar, fisiknya belum mampu. Dokter menyarankan pemuda itu lebih banyak berbaring untuk memulihkan kondisinya. Tulang rusuknya yang patah membuat Seno belum leluasa bergerak, sampai kondisinya benar-benar pulih.
Seorang pria bertubuh tegap, mengenakan pakaian dinas TNI Angkatan Udara berjalan mendekati kamar perawatan Seno. Di bagian lengannya terdapat tanda pangkat berupa dua garis, artinya prajurit tersebut adalah seorang letnan satu. Lettu Putra segera datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Seno atas perintah Mayor Indra. Atasannya itu masih berada dalam ruangan isolasi, dan tidak bisa keluar dari sana sampai gubernur akademi mengijinkannya.
“Komandan,” panggil Seno.
“Syukurlah keadaanmu sudah lebih baik.”
“Eko.. bagaimana keadaan Eko? Apa dia masih berada di ruang ICU?”
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Lettu Putra, pria itu menundukkan kepalanya. Seno semakin dibuat curiga melihat reaksi pria itu. Dia takut kalau sahabatnya itu mengalami kondisi yang parah dan sampai saat ini belum keluar dari ruang ICU, atau yang lebih parah, Eko tidak bisa diselamatkan. Namun buru-buru Seno menepiskan pikiran buruknya itu.
“Komandan, tolong jawab. Bagaimana keadaan Eko?”
“Maaf…” jawab Lettu Putra pelan.
“Apa maksud komandan? Ada apa dengan Eko? Ada apa dengannya?!”
“Eko sudah meninggal dunia.”
“Apa?”
Kepala Seno seperti dihantam gada besar mendengar jawaban Lettu Putra. Mata pemuda itu berkaca-kaca, lalu mulai menangis sambil memanggil nama sahabatnya.
“Eko.. Eko.. EKOOOOOOOOOO!! AAAARRGGGGGHHHHH!!!”
Seno berteriak kencang sambil memanggil nama Eko di sela-sela tangisnya. Pemuda itu syok mendengar sang sahabat meninggal dunia karena menolongnya. Seno memukul-mukul dada dan kepalanya sambil terus menangis dan berteriak. Lettu Putra memegangi tangan Seno, sebelah tangannya meraih bel di dekat bed lalu menekannya.
Seorang suster segera masuk ke ruangan tersebut. Bergegas dia kembali ke mejanya untuk memanggil dokter yang bertugas. Melihat Seno yang histeris, bahkan berusaha menyakiti tubuhnya sendiri, dokter memutuskan memberikan suntikan penenang untuk pemuda itu. Perlahan tubuh Seno jatuh terkulai setelah obat yang disuntikkan padanya bekerja.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Yang kemarin nanyain Seno, tuh udah nongol🤭