AZZAM

AZZAM
Kabar Duka


__ADS_3

Kabar meninggalnya Eko sudah sampai ke telinga para petinggi akademi. Gubernur dan wakil gubernur beserta jajarannya segera menuju rumah sakit. Mereka meminta pihak rumah sakit untuk menutup kasus Eko dan Seno. Jangan sampai bocor apalagi tersebar ke pihak luar.


Gubernur meminta jenazah Eko sudah dimandikan dan dikafani. Begitu sampai di kediamannya, akan langsung dimakamkan agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak keluarga. Pria itu juga meminta semua menyamakan suara tentang insiden ini. Peristiwa penyiksaan terhadap Eko dan Seno tidak boleh tersebar. Mereka harus menjaga nama baik akademi.


“Kalau pihak keluarga menanyakan, katakan Eko meninggal saat bermain futsal. Anak itu terjatuh, kepalanya membentur lantai. Saat mendapat pertolongan pertama, dia mengalami henti jantung. Memar di dadanya akibat kompresi.”


“Lalu bagaimana dengan bekas jahitan di perutnya?”


“Saat terjatuh perutnya terkena sisi besi gawang dan robek. Sebisa mungkin kalian harus bisa meyakinkan orang tua korban. Jangan biarkan teman-teman Eko yang menyaksikan peristiwa pemukulan datang ke pemakaman, dan pastikan mereka menutup mulutnya. Jika mereka membuka suara, maka akan langsung dikeluarkan dari akademi. Sisir area terjadinya penyiksaan, bersihkan, jangan sampai ada bukti yang tertinggal.”


“Siap!”


Setelah mengatakan apa yang harus dilakukan bawahannya, gubernur akademi segera meninggalkan rumah sakit. Mayor Indra bergegas mengeluarkan Azzam dan Zakaria dari rumah sakit, sebelum mereka tertangkap basah.

__ADS_1


“Kalian pulang dulu ke akademi.”


“Tapi kami mau mengantar Eko ke peristirahatannya yang terakhir.”


“Kalau begitu, kalian tunggu di mushola. Tunggu kabar dari saya.”


“Siap. Terima kasih komandan.”


Mayor Indra hanya menganggukkan kepalanya. Azzam dan Zakaria segera menuju mushola. Mereka tidak bisa bebas bergerak karena seragam yang dikenakan. Keduanya hanya bisa menunggu di mushola sampai sang pelatih menjemput.


Seorang prada datang ke rumah sakit untuk memberikan surat kematian yang dikeluarkan oleh pihak akademi. Setelah mendapatkan surat kematian, barulah mereka mengantarkan jenazah Eko menuju kediamannya. Mayor Indra bergegas menuju mushola. Dia meminta Azzam dan Zakaria berganti pakaian. Mereka akan segera mengikuti rombongan menuju kediaman orang tua eko.


Di dalam mobil, Azzam dan Zakaria tidak berhenti menangis ketika mendengar sirine ambulans yang membawa jenazah sahabatnya. Mayor Indra menjaga jarak kendaraannya dengan ambulans yang berada di depan. Hanya ini yang bisa dia lakukan sebagai pelatih untuk taruna yang dibimbingnya. Semoga ada jalan untuk menguak kematian Eko yang dijadikan misteri oleh pihak akademi.

__ADS_1


Suara sirine ambulans mengejutkan warga di kampung tempat tinggal Eko. Beberapa anak yang berada di sawah langsung berlari mengejar ambulans ketika melintasi mereka. Tangis Azzam semakin terdengar ketika mobil yang ditumpanginya semakin mendekati kediaman Eko. Terbayang kembali kenangan mereka saat menghabiskan liburan bersama beberapa waktu yang lalu.


Puji dan Darmo bergegas keluar rumah ketika mendengar suara sirine ambulans mendekat dan berhenti di depan rumah mereka. Perasaan mereka langsung tidak enak, ketika pintu bagian belakang terbuka. Seorang prajurit berpangkat Kapten mendekati kedua orang tua Eko. Lebih dulu pria itu memberikan hormatnya.


“A.. ada apa ini, pak.”


“Kami dari pihak akademi, mengucapkan bela sungkawa yang sebesar-besarnya atas meninggalnya Sertar Eko Waluyo. Kami datang mengantarkan jenazahnya untuk dikebumikan dengan layak.”


“Apa? Eko meninggal? Anakku meninggal? EKOOOOOOO!!!”


Terdengar teriakan Puji memanggil nama anaknya. Dari dalam ambulans, turun dua orang perawat membawa keranda berisikan jenazah Eko yang sudah terbungkus kain kafan. Puji jatuh terduduk sambil menangis. Gendis yang baru saja pulang dari sekolah langsung berlari menuju rumahnya.


Azzam dan Zakaria yang menyaksikan dari kejauhan jatuh terduduk sambil terus menangis. Airmata mereka jatuh bercucuran ketika perawat membawa masuk keranda ke dalam rumah. Mereka meletakkan jenazah Eko di tengah rumah. Para tetangga yang terkejut dengan kedatangan ambulans di kediaman Darmo, segera mendatangi rumah tersebut. Puji hanya bisa menangis melihat jasad anaknya yang sudah terbujur kaku dan terbungkus kain kafan.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Masih part sedih ya🤧


__ADS_2