
"PLAK!!"
Bukan hanya Gusti, tetapi Marsda Edi juga terkejut dengan apa yang dilakukan atasannya itu pada sang anak. Gusti menatap tak percaya pada ayahnya sambil memegangi pipinya yang terkena tamparan.
“Papa..”
“Kondisimu sudah baik, bukan? Ayo keluar!”
Tanpa menunggu jawaban Gusti, Irjen Rasyid segera keluar dari klinik. Gusti segera mengikuti ayahnya itu. Ternyata sang ayah membawanya kembali ke ruang isolasi. Melihat kedatangan pejabat penting di TNI angkatan udara, Hari dan Esa segera bangun lalu memberi hormat pada pria itu.
“Kalian bertiga, duduk!!”
Kompak ketiganya langsung duduk di atas velbed. Irjen Rasyid di depan mereka bertiga sambil terus memandangi tanpa berkedip. Ketiga taruna itu tidak berani mengangkat kepalanya. Mereka hanya menunduk, dengan mata menatap ke lantai.
“Apa yang sudah kalian lakukan?”
“Begini, komandan..” sela Marsda Edi, namun ucapannya terhenti ketika melihat tangan Irjen Rasyid terangkat.
“Apa yang sudah kalian lakukan?!!” tanya pria itu lagi, namun dengan nada suara tinggi.
“Maaf, pa..”
“Maaf?Kalau hanya maaf yang bisa kamu katakan, harusnya berpikir dulu sebelum bertindak!! Kalian sudah melakukan penganiayaan, bahkan saah satu taruna yang kalian siksa meninggal dunia. Apa kalian sadar sudah melakukan tindakan kriminal?!!”
Gusti menundukkan kepalanya dalam-dalam. Belum pernah dia melihat ayahnya semarah ini. Gusti memang sering berulah sejak kecil, dan kerap mendapat hukuman dari ayahnya. Namun itu tidak pernah membuatnya jera. Kemarahan ayahnya hanya dianggap angin lalu saja olehnya. Dan baru sekarang dia melihat ayahnya begitu murka.
__ADS_1
“Mayor Fajar!!”
“Siap, komandan.”
Seorang pria masuk kemudian memberikan hormat pada Irjen Rasyid. Dia adalah Mayor Fajar, ajudan dari Irjen Rasyid. Pria itu berdiri menunggu perintah dari sang atasan.
“Bawa dua orang taruna ini ke ruangan lain. Tinggalkan aku berdua saja dengan Gusti.”
“Siap, komandan.”
Mayor Fajar segera membawa keluar Hari dan Esa. Pria itu juga mengawal Marsda Edi keluar dari ruang isolasi tersebut. Kini hanya tinggal Gusti dan ayahnya saja. Untuk sejenak suasana masih hening di ruangan tersebut.
“Papa tidak tahu harus bagaimana lagi mendidikmu. Tujuan papa memasukanmu ke akademi, supaya hidupmu lebih disiplin, tertata dan tidak berbuat sembrono lagi. Tapi ternyata kamu memang sudah tidak bisa tertolong lagi.”
“Maafin aku, pa,” Gusti mulai menangis.
“Papa…. tolong aku, pa.. aku ngga mau di penjara. Papa.. tolong.”
Gusti menjatuhkan diri, kemudian memeluk kaki sang papa. irjen Rasyid bergeming. Dia sudah benar-benar kecewa pada anak bungsunya ini. Walau berat, tapi dia harus menegakkan keadilan demi kebaikan semua orang. Apa yang dilakukan anaknya sudah di luar batas kemanusiaan. Jika dia berhati lemah dan membantu anaknya, maka sama saja dia menjerumuskan sang anak dalam dosa yang lebih dalam lagi.
“Kamu tetap di sini sampai laporan kasusmu lengkap dan dilimpahkan ke pengadilan.”
“Papa…”
Kepala Gusti menggeleng kencang. Pria itu menangis dan memohon agar sang ayah membatalkan niatnya memasukkannya ke jeruji besi. Baru membayangkan dirinya berada di kursi pesakitan dalam pengadilan militer, membuat tubuhnya merinding. Kebebasannya terbelenggu dan dirinya harus menghabiskan waktu lama di penjara.
__ADS_1
Setelah mengatakan apa yang perlu dikatakan, Irjen Rasyid segera keluar dari ruang isolasi anaknya. Di depan ruangan Mayor Fajar sudah menunggunya, sedang Marsda Edi kembali ke ruangannya.
“Selidiki kasus ini dengan benar. Siapa saja yang terlibat atas insiden ini. Pelaku kejahatan dan yang berusaha menutupinya harus ditangkap dan diadili.”
“Siap, komandan.”
“Saya akan ke rumah sakit sekarang. Kamu di sini dan selidiki semuanya.”
“Siap!”
Irjen Rasyid segera meninggalkan ajudannya. Dia akan segera menuju rumah sakit untuk menjenguk Seno. Baru kemudian bersama Azzam akan mengunjungi kediaman orang tua Eko. Pria itu akan meminta maaf secara pribadi dan juga atas nama organisasi tempatnya bernaung. Dia siap bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan anaknya.
Saat akan meninggalkan akademi, istri dan dua anaknya tiba. Irjen Rasyid memang langsung mengabarkan perihal Gusti pada istri dan anak-anaknya yang lain.
"Gusti mana, pa?"
"Ada di ruang isolasi. Papa mau ke rumah sakit dulu, menengok korban Gusti. Lalu papa akan ke rumah Eko, korban yang meninggal dunia."
"Keterlaluan sekali anak itu," geram Perwita, istri Irjen Rasyid.
"Kita ikut,pa," ujar anak sulung Irjen Rasyid.
"Aku juga ikut,pa. Biar bagaimana pun juga kita harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukan Gusti," sambung anak keduanya.
"Mama juga."
__ADS_1
Irjen Rasyid menganggukkan kepalanya. Mereka segera menuju kendaraan yang terparkir, lalu berangkat bersama menuju rumah sakit.
🌻🌻🌻