
Usai berbicara dengan Azzam, Kenzie segera bersiap untuk pergi. Kenzie menghubungi Duta, dan meminta pria itu menyiapkan pesawat. Dia akan berangkat ke Yogyakarta hari ini juga. Kenzie kemudian keluar dari ruang kerja pribadinya, dan langsung menuju kamarnya. Pria itu menghampiri istrinya yang tengah memasukkan pakaian ke walking closet.
“Sayang, tolong siapkan bajuku.”
“Mas mau kemana?”
“Mau ke Sleman, nengok Azzam.”
“Nengok Azzam? Aku ikut, mas.”
“Jangan. Ada yang harus mas kerjakan di sana, nanti kamu bosan menunggu.”
“Emang mas ada kerjaan di sana?”
“Iya.”
“Ya udah. Aku titip peluk ciumku buat Azzam.”
“Iya, sayang.”
Bergegas Nara menyiapkan pakaian untuk dibawa suaminya. Kenzie memandangi Nara yang sedang memilihkan pakaian untuknya. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada istrinya itu. Pasti Nara akan bersikeras untuk ikut. Jika sang istri ikut, dia tidak bisa leluasa melakukan apa yang harus dilakukannya.
Tak butuh waktu lama bagi Nara untuk menyiapkan pakaian suaminya. Wanita itu membawa traveling bag, lalu memberikannya pada Kenzie. Dipeluknya tubu sang istri sebentar, lalu pria itu mencium bibir Nara dengan lembut.
“Mas pergi dulu.”
“Iya, mas. Hati-hati. Kalau sudah bertemu Azzam, hubungi aku. Aku kangen pengen lihat wajahnya.”
“Iya, sayang.”
Sambil memeluk lengan suaminya, Nara mengantar Kenzie sampai ke depan rumah. Pria itu segera masuk ke dalam mobil. Supir yang mengemudikan kendaraan, segera menjalankannya. Sebelum pergi ke bandara, Kenzie lebih dulu akan pergi ke kediaman ayahnya. Abi akan marah kalau tidak diberitahu masalah yang menimpa cucunya.
Tak kurang dari sepuluh menit, Kenzie sudah sampai di kediaman orang tuanya. Di depan rumah, dia melihat kendaraan Jojo dan Kevin terparkir di sana. Pasti pandawa lima tengah berkumpul di kediaman Abi hari ini. Kenzie segera masuk ke dalam rumah. Nina menyambut kedatangan anak sulungnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Kamu sendiri aja, Ken?”
“Iya, ma,” Kenzie mencium punggung tangan mamanya.
“Arsy sama Zar ngga ikut?”
“Arsy lagi ada tugas kuliah, Zar juga. Papa mana, ma?”
“Di belakang. Biasa, lagi ngumpul sama yang lain.”
“Aku ke belakang dulu.”
Kenzie bergegas menuju halaman belakang. Seperti yang Nina katakan, pandawa lima sedang berkumpul di gazebo yang ada di halaman belakang. Pria itu segera menuju kumpulan para pria ganteng pada masanya. Dia mencium punggung tangan kelima pria itu satu per satu.
“Tumben Ken, ke sini sendiri,” ujar Abi.
__ADS_1
“Iya, pa. Ada yang mau aku obrolin soal Azzam.”
“Azzam? Ada apa?”
Belum sempat Kenzie bicara, Kenan datang dari arah dalam. Adiknya itu mencium punggung tangan pandawa lima satu per satu, lalu ikut bergabung di sana. Melihat kedatangan mendadak Kenzie sendiri saja, pria itu mengira pasti ada masalah yang ingin dibicarakan kakaknya itu.
“Azzam kenapa, Ken?” tanya Jojo tak sabar.
“Ada masalah di akademi. Bukan Azzam yang terkena masalahnya secara langsung, tapi temannya. Tadi Azzam telepon, dia minta bantuan dariku.”
“Ada masalah apa?”
Kenzie mengeluarkan ponselnya. Pria itu mencari video yang dikirimkan Azzam padanya. Dia meletakkan ponsel di tengah-tengah, kemudian memutarnya. Semua mata langsung tertuju pada benda pipih tersebut. Juna dan yang lain sampai mengucapkan istighfar melihat kekejaman yang dilakukan oleh Gusti dan kedua temannya.
“Siapa yang dipukuli?” tanya Kenan.
“Eko dan Seno, temannya Azzam yang waktu itu ke sini.”
“Kejam sekali mereka. Memang apa alasannya sampai dipukuli seperti itu?” tanya Juna seraya menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana keadaan Eko dan Seno?” tanya Jojo.
“Seno masih dirawat di rumah sakit. Eko.. dia meninggal.”
Ada kesedihan saat Kenzie mengatakan tentang Eko. Dia teringat ketika menyambut kedatangan kedua orang tua Eko di Bandung. Ada kebanggaan di mata mereka saat Kenzie mengatakan tujuannya menjemput mereka. Pasti suam istri itu sedang bersedih karena anak kebanggaannya harus meregang nyawa di dalam akademi tempatnya menimba ilmu.
“Azzam, bagaimana keadaannya?” tanya Abi.
“Bagaimana dengan pelakunya? Apa sudah ditangkap?” tanya Kenan.
“Pelaku utama adalah anak dari Irjenau. Petinggi di akademi justru melindunginya. Bahkan mereka merahasiakan kejadian yang sebenarnya dari orang tua Eko dan Seno.”
“Irjenau sekarang itu, Ahmad Rasyid kalau tidak salah. Setahu papa, dia orang yang lurus dan adil. Apa dia sudah tahu soal kasus ini?” tanya Abi.
“Aku ngga tahu, pa.”
“Lebih baik kamu temui Elang. Dia berteman baik dengan Irjen Rasyid. Minta Elang bicara dengannya.”
“Sekarang, pa?”
“Iya, sekarang. Masalah ini tidak boleh ditunda. Kasihan cucuku, pasti dia frustrasi dengan keadaan ini. Kita berangkat ke Yogya sekarang,” putus Abi.
“Aku juga ikut,” seru Jojo.
“Mau ngapain kamu ikut?”
“Apa kamu lupa kalau Azzam juga cucuku?” sewot Jojo.
“Aku juga ikut. Aku khawatir dengan keadaan Azzam,” lanjut Juna.
“Aku juga,” sambung Cakra.
__ADS_1
“Kamu ngga sekalian ikut juga?” Abi melihat pada Kevin.
“Kalau kalian maksa, aku bakalan ikut,” jawab Kevin santai.
“Siapa yang maksa?” tanya Abi, Juna, Jojo dan Cakra bersamaan.
Kevin hanya mengangkat bahunya saja, tanpa berekspresi apapun. Kenzie beranjak dari tempatnya, dia harus segera bertemu Elang. Pria itu tidak mau ikut terlibat dalam perdebatan para sesepuh yang kadang membuat kepalanya pening sendiri.
“Aku juga bakalan ikut,” seru Kenan.
“Ngapain kamu ikut?”
“Buat jadi wasit kalau kalian ribut lagi. Sayaaaaaang….”
Kenan meninggalkan gazebo untuk mencari istrinya. Pria itu akan meminta sang istri menyiapkan pakaian untuknya. Juna bergegas kembali ke rumahnya, Kevin, Jojo dan Cakra segera menghubungi istri masing-masing untuk menyiapkan pakaian ganti untuk mereka dan mengantarkannya ke rumah.
Tanpa mengatakan apapun, Abi meninggalkan halaman belakang untuk mencari Nina. Ternyata sang istri sedang berada di kamarnya. Pria itu bergegas mendekati wanita yang sudah puluhan tahun mendampinginya.
“Sayang.. tolong siapkan pakaian mas.”
“Memangnya mas mau kemana?”
“Mas mau nengok Azzam.”
“Nengok Azzam? Sama siapa aja?”
“Ken, Nan, kak Juna, Cakra, Jojo dan Kevin.”
“Kok rombongan?”
“Cucu kita saat ini sedang membutuhkan dukungan, sayang.”
“Azzam kenapa, mas?”
“Saat ini dia sedang bersedih karena salah satu temannya ada yang meninggal. Dia membutuhkan kita semua.”
“Tolong gantikan aku mencium dan memeluknya, mas.”
“Iya, sayang.”
“Tolong kasih pelajaran pada orang yang sudah membuat cucuku bersedih.”
“Itu sudah pasti.”
“Aku siapkan baju mas dulu.”
Nina bergegas menuju walking closet untuk mengambilkan pakaian untuk suaminya. Melihat kedatangan Kenzie yang tiba-tiba, wanita itu sudah merasa pasti ada sesuatu yang terjadi. Nina hanya bisa berdoa, semoga sang cucu bisa melewati semuanya dengan tabah.
🌻🌻🌻
Buat yang baca SEGITIGA, silahkan cek lagi bab yang dobel,udah kuganti isinya. Entah kenapa malah ke post 2x, mana di sana ngga bisa dihapus babnya, jadi kepaksa deh double up wkwkwk...
__ADS_1