
Dua jam setelah kedatangan jenazah Eko, makam untuknya telah selesai digali atas perintah ketua RT setempat. Dengan berurai airmata, Puji dan Gendis mengantarkan jasad Eko ke pembaringan terakhirnya. Darmo sendiri berusaha untuk tegar. Pria itu berada di bagian depan, memanggul keranda sang anak.
Azzam, Zakaria dan Mayor Indra mengikuti dari belakang. Topi yang dikenakan mereka membuat keluarga Eko tidak mengenali keberadaan keduanya. Mayor Indra meminta Azzam dan Zakaria menjaga jarak, untuk tidak terlalu dekat dengan makam. Dia tidak mau keluarga Eko menyadari keberadaan mereka.
Jika Azzam dan Zakaria bertemu dengan keluarga Eko, dikhawatirkan mereka akan bertanya tentang kematian Eko. Jika berita penyiksaan Eko tersebar tanpa adanya bukti, maka posisi Azzam dan Zakaria yang akan menjadi bahaya. Keduanya terancam dikeluarkan dari akademi.
Puji jatuh terduduk di tanah ketika menyaksikan sang suami dan beberapa tetangganya menurunkan jasad Eko ke liang lahat. Gendis tak berhenti menangis sambil memanggil nama Eko. Kakak yang begitu disayangi dan dibanggakan olehnya kini telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Hanya deraian airmata saja yang mampu Gendis keluarkan untuk menyuarakan kesedihan yang dialaminya.
Azzam jatuh berlutut ketika para penggali kubur mulai menimbun jasad sahabatnya dengan tanah. Tangannya meraup tanah di bawahnya, sambil terus menitikkan airmata. Zakaria pun tidak jauh berbeda, airmatanya terus menetes jatuh membasahi tanah di bawahnya.
Terdengar ustadz yang memimpin jalannya pemakaman melantunkan doa-doa untuk Eko, yang diamini oleh semua yang hadir. Setelah acara pemakaman selesai, satu per satu warga meninggalkan pemakaman tersebut. Darmo membimbing anak dan istrinya kembali ke rumah. Tatapan mereka bertiga nampak kosong. Sesuatu yang berharga telah hilang dari hidup mereka untuk selamanya.
Begitu makam Eko sudah ditinggalkan oleh keluarga dan para pelayat, Mayor Indra mengajak Azzam dan Zakaria mendekat. Azzam bersimpuh di hadapan makam Eko, tangannya memegangi nisan yang bertuliskan nama sahabatnya. Zakaria menangis sambil memeluk gundukan tanah yang masih merah.
“Eko.. aku janji, aku akan mengungkap semuanya. Aku pastikan orang yang sudah membuatmu pergi, akan membayar semuanya,” ujar Azzam di sela tangisnya sambil menggenggam tanah makam Eko.
__ADS_1
“Kami akan meneruskan perjuanganmu. Kami juga akan menjaga Seno.”
“Aku akan menjaga Gendis seperti keinginanmu. Aku juga akan menjaga kedua orang tuamu.”
“Aku, Azzam dan Seno akan menjadi kakak untuk Gendis dan anak untuk orang tuamu. Biarkan kami yang meneruskan tanggung jawabmu.”
Mayor Indra merasa terharu mendengar apa yang dikatakan oleh Azzam dan Zakaria. Persahabatan mereka begitu erat. Pria itu kemudian teringat pada Seno yang masih belum sadarkan diri. Entah apa yang akan terjadi pada anak itu jika tahu Eko sudah meninggalkannya untuk selamanya.
Kepala Mayor Indra terdongak ke atas. Matahari sudah mulai bergeser menuju arah barat. Tidak terasa, sudah cukup lama mereka meninggalkan akademi. Pria itu mendekati Azzam dan Zakaria, lalu membantu mereka berdiri.
“Kami belum bertemu keluarga Eko.”
“Nanti.. ada waktunya kalian bertemu. Akan ada waktunya kalian bertemu dengan keluarga Eko dan membeberkan kebenaran yang terjadi. Tapi bukan sekarang. Lebih baik kalian pulang dulu. Saya berjanji akan membantu kalian semampu saya.”
Mendengar janji yang dikatakan Mayor Indra, Azzam dan Zakaria pun setuju untuk kembali ke akademi. Mereka akan mencari bukti dan saksi untuk kasus yang penyiksaan yang dilakukan Gusti. Azzam berjanji, Gusti dan kedua temannya akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
__ADS_1
Sementara itu, di kediaman Eko, para tetangga masih berkumpul di rumah duka. Teman-teman Puji bersama-sama membantu menyiapkan untuk acara tahlilan nanti malam. Puji sendiri masih duduk terdiam di ruang depan. Wanita itu masih belum percaya, anaknya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia terus menangis sambil memanggil nama anaknya.
Darmo yang masih berduka, duduk di bale ditemani para tetangganya. Pria itu hanya diam mendengarkan obrolan tetangganya yang merasa heran dengan kepergian Eko yang mendadak. Apalagi jenazah Eko ketika dipulangkan sudah dimandikan dan dikafani. Seperti ada yang mereka tutupi.
“Pak Darmo, apa bapak percaya dengan apa yang dikatakan pelatih Eko?”
“Percaya atau nda, aku dipaksa untuk percaya kalau kepergian Eko karena kecelakaan saat main futsal.”
“Apa bapak nda mau mencari kebenarannya?”
“Aku ini hanya wong cilik. Bisa apa aku? Aku hanya bisa nerimo. Eko… Eko..”
Tangis Darmo yang sedari ditahan akhirnya pecah juga. Seorang tetangga yang dekat dengannya, merangkul pria itu dan mencoba menenangkannya. Semua yang ada di dekat Darmo terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Mereka hanya bisa mendoakan semoga Eko tenang di tempat barunya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Hari ini up 1 bab aja. Ini hari liburku🤗