
“Putar ke kiri hei.. nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri, dan ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri manise.”
Para taruna dan masyarakat yang ikut senam mengikuti gerakan yang dicontohkan oleh instruktur. Banyak taruna yang salah memeragakan gerakan. Maklum saja, mereka jarang sekali melakukan senam seperti ini. Di bagian sisi, nampak pata taruna tingkat empat atau Sermatutar memperhatikan adik tingkatnya yang sedang senam sambil sesekali menggoda mereka.
Di antara mereka terdapat Gusti, taruna yang kemarin tertabrak oleh Seno. Bersama kedua orang temannya, Hari dan Esa memperhatikan para taruna adik tingkat mereka. Ketiga berbincang sambil tertawa. Lalu mata Gusti menangkap sosok Seno. Cukup lama pria itu memandangi Seno.
“Itu taruna yang kemarin?” tanya Esa.
“Iya.”
“Kayanya mereka berempat akrab ya,” Hari menunjuk dengan dagunya pada Azzam, Eko dan Zakaria.
Perbincangan mereka usai ketika acara senam berakhir. Taruna dan membubarkan diri. Sekarang panggung akan diisi oleh band taruna yang akan tampil menghibur masyarakat. Beberapa pengunjung masih mengajak para taruna untuk berfoto. Seorang gadis datang dan meminta Seno berfoto bersama.
“Kak.. foto di depan Tugu Adisakti dong,” pinta gadis itu.
“Boleh.”
Keduanya segera mendekati Tugu Adisakti. Beberapa kali mereka mengambil foto dengan latar belakang Tugu Adisakti. Namun sang gadis tetap tidak merasa puas dengan foto yang diambilnya.
“Masih kurang bagus, kak. Aku maunya tugunya kelihatan jelas. Bentar deh..”
Gadis tersebut segara meninggalkan Seno, dia hendak mencari orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambil foto dirinya bersama Seno. Tak lama dia kembali bersama seorang taruna. Seno terkejut saat melihat taruna yang dibawa gadis itu adalah Gusti. Dia langsung memberikan hormat pada Gusti.
“Kak.. tolong ambilkan fotoku ya,” pinta gadis itu.
Dengan kikuk, Seno bergaya dengan gadis itu. Tanpa ekspresi apapun, Gusti mengarahkan kamera ponselnya pada mereka berdua. Beberapa kali dia mengambil foto atas permintaan sang gadis.
__ADS_1
“Makasih kak,” ujar gadis itu pada Gusti, yang hanya dibalas anggukan kepala saja.
“Kak Seno makasih juga.”
“Sama-sama.”
Sepeninggal gadis itu, Seno langsung beranjak pergi, namun Gusti menghalangi langkahnya. Sejenak keduanya saling bertatapan. Gusti menatap Seno dengan pandangan yang sulit diartikan. Akhirnya pria itu beranjak dari tempatnya. Dia sengaja menabrakkan bahunya ke bahu Seno, kemudian pergi menjauh.
“Sen..” panggil Azzam.
“Eh.. kenapa, Zam?”
“Itu siapa?”
“Senior kitalah. Dia satu jurusan sama aku kalau ngga salah.”
“Ngga ngapa-ngapain. Dia abis jadi fotografer dadakan.”
Seno terkekeh setelahnya. Pemuda itu segera mengajak Azzam pergi dari sana. Apa yang dikatakan Seno ternyata masih tertangkap oleh telinga Gusti, dan itu diartikan sebuah ledekan padanya. Tangannya mengepal erat. Dia semakin tidak menyukai taruna tingkat dua itu.
🌻🌻🌻
Suasana ruang perpustakaan begitu hening. Semua penghuni di dalamnya nampak serius membaca atau mengerjakan tugas. Hari ini Seno pergi ke perpustakaan sendirian, karena ada tugas yang harus diselesaikannya. Saat sedang mencari bahan referensi, dia dikejutkan dengan kehadiran tiga orang di depannya. Ternyata Gusti dan kedua temannya yang datang.
Pria itu memberikan secarik kertas pada Seno. Di atasnya tertulis beberapa judul buku. Seno melihat pada Gusti, mencoba bertanya apa maksud dari kertas yang diberikan melalui tatapan matanya.
“Carikan buku itu dan bawa ke sini,” ujar Gusti.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Seno bangun sambil membawa secarik kertas tersebut. Dia mencari-cari buku yang diinginkan oleh Gusti. Setelah kurang lebih sepuluh menit mencari, dia kembali dengan enam buku di tangannya. Diletakkan buku-buku tersebut di atas meja. Senyum tercetak di wajah Gusti.
“Sekarang carikan teori yang berhubungan dengan materi ini.”
Kembali Gusti memberikan selembar kertas. Tanpa mengeluh sedikit pun, Seno duduk kembali di kursinya dan mencarikan apa yang diminta oleh Gusti. Selama satu jam lebih dia mencarikan bahan untuk Gusti. Tugasnya dibiarkan begitu saja, padahal tenggat penyerahan tugas adalah besok. Yang ada di pikirannya adalah membuat Gusti segera pergi dari hadapannya. Dia sungguh sial berurusan dengan pria seperti Gusti dan kedua temannya. Sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang taruna sejati.
🌻🌻🌻
Azzam keluar dari flatnya, dia menengok ke sebelah kirinya, di mana kamar Seno berada. Sejak shalat ashar, dia tidak melihat Seno lagi. Sekarang waktu sudah hampir maghrib dan pemuda itu belum sampai ke flatnya. Tak lama kemudian, Eko dan Zakaria keluar dari kamar.
“Nunggu siapa, Zam?” tanya Eko.
“Seno, dia masih belum pulang.”
“Eh iya, kemana itu anak,” sahut Zakaria.
Panjang umur, orang yang dibicarakan datang. Seno datang dengan langkah lunglai. Gara-gara Gusti, dia harus menghabiskan waktu lebih lama di perpustakaan. Setelah mencarikan bahan, dia juga harus mengerjakan hal lain untuk pria itu. Alhasil pemuda itu harus bekerja ekstra keras dan cepat untuk menyelesaikan tugasnya.
“Sen.. kenapa baru datang?” tanya Zakaria.
“Aku ngerjain tugas dulu.”
“Emang banyak tugasnya?” selidik Azzam.
“Banyak sih, ngga. Cuma susah aja, hehehe.. aku masuk dulu, mau antri mandi juga.”
Seno segera masuk ke kamar flatnya. Tak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa handuk dan peralatan mandinya. Soal Gusti biarlah menjadi bebannya sendiri. Dia tidak mau melibatkan para sahabatnya. Seno takut kalau Gusti dan temannya akan menyusahkan Azzam, Zakaria dan juga Eko.
__ADS_1
🌻🌻🌻