AZZAM

AZZAM
Menunggu


__ADS_3

Ambulans yang membawa Eko dan Seno melaju kencang menuju RSPAU Hardjolukito. Petugas medis yang membawa Eko terus berusaha menyelamatkan nyawanya. Salah seorang memegang kantong oksigen, membantu Eko untuk bernafas. Petugas lain memeriksa luka-luka yang diderita pemuda itu.


Dalam waktu sepuluh menit, ambulans sudah sampai di depan pintu IGD RSPAU Hardjolukito. Beberapa perawat langsung keluar untuk menyambut kedatangan pasien. Dengan cepat mereka membawa Seno dan Eko menuju ruang tindakan. Azzam dan Zakaria terus mengikuti blankar yang membawa tubuh kedua sahabatnya.


“Intubasi!”


Terdengar suara dokter IGD memberikan perintah. Dengan sigap perawat menyiapkan peralatan untuk melakukan intubasi. Mata Azzam dan Zakaria terus mengawasi dokter dan perawat yang tengah menangani Eko dan Seno. Selesai melakukan intubasi, mereka langsung dibawa untuk dilakukan CT Scan.


Tiga orang pelatih dari akademi datang untuk melihat keadaan Seno dan Eko. Tak berapa lama kemudian, wakil gubernur Akademi Angkatan Udara juga datang. Ketiga pelatih tersebut langsung memberikan hormat. Salah satu dari mereka menceritakan kronologis yang terjadi.


“Untuk sementara, jangan sampai kasus ini tercium oleh media. Minta para taruna untuk tidak mengatakan apapun. Masalah ini harus diselidiki sampai tuntas. Siapa pelaku pengeroyokan?”


“Siap. Gusti, Hari dan Esa.”


“Gusti anak dari Irjenau?”

__ADS_1


“Siap. Betul.”


Wakil gubernur itu mengusap wajahnya dengan kasar. Masalah yang terjadi tidak sesederhana yang yang dipikirkannya. Korban masih belum jelas nasibnya, dan pelaku adalah anak kedua dari Irjenau. Irjenau atau Inspektur Jenderal dan Perbendaharaan Angkatan Udara adalah salah satu jabatan tinggi di lingkungan TNI Angkatan Udara, yang bertindak sebagai pengawas internal di lingkungan TNI AU.


Sambil menunggu Eko dan Seno yang tengah menjalani pemeriksaan CT Scan dan rontgen, Azzam terus mengawasi perbincangan antara pelatih dengan wakil gubernur akademi. Dia sempat mendengar kalau Gusti adalah anak salah satu pejabat penting di TNI Angkatan Udara. Meski begitu, dia tidak gentar dan akan terus memperjuangkan keadilan untuk kedua sahabatnya.


Dokter yang memeriksa keadaan Seno dan Eko mendekati orang-orang yang berasal dari akademi. Azzam beringsut mendekat untuk mendengar keterangan dari dokter.


“Keadaan pasien dalam kondisi tidak baik. Yang satu mengalami pecah limpa dan beberapa tulang rusuknya patah, satu lagi juga mengalami hal sama, ditambah ada penggumpalan darah di bagian kepala. Pasien harus segera dioperasi.”


Dokter tersebut menganggukkan kepalanya. Dia memberi tanda pada perawat untuk menyiapkan surat persetujuan operasi. Tubuh Azzam jatuh terkulai mendengar penuturan dokter IGD tersebut. Ternyata keadaan Seno dan Eko begitu parah. dia hanya bisa berdoa, semoga saja nyawa keduanya berhasil diselamatkan.


Setelah mendapatkan persetujuan operasi, Seno dan Eko segera dibawa menuju ruang operasi. Azzam dan Zakaria bermaksud mengikuti sampai ke ruang tunggu operasi. Namun langkah mereka ditahan oleh pelatihnya.


“Kalian lebih baik pulang ke akademi.”

__ADS_1


“Siap. Kami mau di sini sampai Eko dan Seno selesai dioperasi.”


“Tidak ada yang bisa kalian lakukan sekarang. Lebih baik kalian kembali ke akademi.”


“Siap. Tapi..”


“Azzam.. pulanglah. Kamu juga, Zakaria. Kalau Eko dan Seno sudah selesai dioperasi, kalian akan dikabari. Kendaraan dinas ada di tempat parkir, kalian pulang ke akademi sekarang.”


Tak ada yang bisa Azzam dan Zakaria lakukan, kecuali mengikuti apa yang diperintahkan pelatihnya. Setelah memberi hormat, kedua taruna tersebut segera meninggalkan IGD. Mereka menuju parkiran dan mendekati mobil dinas yang ada di sana. sang supir langsung melajukan kendaraannya, setelah keduanya masuk.


Dengan langkah gontai, Azzam dan Zakaria kembali ke flat mereka. Beberapa rekannya sudah menunggu, tidak terkecuali Niken dan Zuhaidar. Mereka langsung menanyakan kondisi Seno dan Eko. Tak ada jawaban dari mulut Azzam, hanya Zakaria saja yang menjelaskan keadaan kedua sahabatnya.


Azzam melanjutkan langkahnya menuju kamar flatnya. Niken memandangi kepergian Azzam dengan tatapan sendu. Dia tahu kesedihan yang dirasakan Azzam. Dua sahabat terdekatnya tengah berjuang melawan maut di rumah sakit. Airmata Zuhaidar menetes mendengar cerita Zakaria. Tangannya nampak bergetar, gadis itu juga terlihat shock. Niken segera membawa Zuhaidar ke kamarnya melihat kondisi sahabatnya yang tidak baik-baik saja.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2