
“GUSTI ADALAH ANAKKU!!”
Teriakan Perwita membuat Astari seketika membungkam mulutnya. Wanita itu menolehkan kepalanya ke arah lain. irjen Rasyid yang sedari tadi berada di belakang mejanya, bangun kemudian bergabung bersama istrinya di sofa.
“Apa belum cukup apa yang mba lakukan selama ini? Apa masih kurang yang kulakukan buat mba? Bahkan rela mba mengganti nama Rafli menjadi Gusti, semua aku lakukan demi mba. Tapi lihat apa yang sudah mba lakukan? Mba sudah mendidik Gusti dengan salah. Apa mba pikir aku ngga tahu kalau mba sering menutupi kesalahannya. Setiap mas Rasyid menghukumnya, mba selalu membelanya, dia jadi tidak pernah menyadari dan menyesali kesalahannya. Dan sekarang dia melakukan sesuatu yang fatal. Dia sudah menjadi pembunuh, mba. Pembunuh!”
“Dia bukan pembunuh! Kenapa kamu lebih percaya orang lain dibanding anakmu sendiri? Sebelum kamu menuding anakmu, seharusnya kamu mendengarkan dulu penjelasannya. Jangan langsung menyudutkannya. Gusti itu hanya membela diri. Justru korban yang kamu bela adalah pelakunya. Juniornya meninggal juga bukan kesalahannya. Dia terjatuh akibat ulahnya sendiri, bukan karena Gusti.”
“Apa?? Dari mana mba tahu soal itu? Apa Gusti yang bilang?”
“Iya.”
“Dan mba percaya?”
“Tentu saja aku percaya. Gusti itu anakku. Aku tahu bagaimana dirinya. Aku yang merawatnya dan melihatnya tumbuh.”
__ADS_1
Perwita memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing. Ternyata sang anak sampai sekarang masih belum menyadari kesalahannya. Bahkan dia memutar balikkan fakta demi mendapatkan dukungan dari Astari. Irjen Rasyid bangun dari duduknya. Dia berjalan menuju meja kerja gubernur, lalu mengambil laptop yang ada di sana. Pria itu kembali dan duduk di samping Astari. Dia membuka file berisi rekaman cctv.
“Silahkan mba lihat sendiri apa yang terjadi. Bandingkan, apa yang ada di rekaman sesuai dengan apa yang dikatakan Gusti.”
Jari Irjen Rasyid menekan tombol enter, rekaman cctv di luar gedung sasana krida diputar. Dia sengaja memutar rekaman dari awal waktu kejadian. Di sana terlihat Seno masuk ke dalam gedung bersama dengan para sahabatnya. Tidak lama masuk seorang pelatih. Mereka kemudian keluar dari gedung kecuali Seno dan Zuhaidar.
Setelah beberapa saat, nampak Zuhaidar keluar dari gedung dan tak lama kemudian Gusti, Hari dan Esa masuk ke dalam gedung. Tidak ada yang terjadi sepuluh menit kemudian, sampai akhirnya Eko datang, dan masuk ke dalam gedung. Lima menit berselang, Zuhaidar kembali masuk. Selanjutnya ada seorang taruna yang masuk dan taruna tersebut kembali keluar sambil berlari. Dia kembali bersama pelatih dan juga rekannya yang lain, termasuk Azzam dan Zakaria.
“Dari rekaman jelas terlihat siapa mendatangi siapa. Bukan Seno yang mencari gara-gara, tapi Gusti yang menghampiri Seno.”
“Eko datang untuk menyelematkan temannya.”
Melihat Astari yang masih bersikukuh kalau Gusti tidak bersalah, pria itu kemudian memutar video yang direkam oleh Zuhaidar. Di sana terlihat dengan jelas bagaimana kejinya Gusti saat menyiksa Seno dan Eko bersama kedua temannya. Astari terbungkam melihat rekaman video tersebut.
“Apa mba tahu akar masalahnya sampai terjadi penyiksaan seperti ini? Semua hanya karena ego dan arogansi Gusti. Siapa yang membentuk Gusti menjadi pribadi yang seperti itu, rasanya tidak perlu disebutkan. Aku tidak menyalahkan mba. Apa yang dilakukan Gusti, murni kesalahannya. Gusti sudah dewasa dan bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang benar. Tapi… tidak bisa dipungkiri, didikan yang salah menjadikannya seperti ini.”
__ADS_1
Tak ada yang mampu Astari katakan. Mulutnya seolah terbungkam setelah melihat tayangan video yang membuktikan kesalahan Gusti. Dia sendiri tidak menyangka anak yang sangat disayangnya bisa berbuat sekejam itu.
“Aku mohon, mba ngga ikut campur dengan masalah ini. Biarkan aku dan mas Rasyid yang memutuskan. Semua demi kebaikan Gusti. Kalau mba bersikeras mau membebaskan Gusti, maka mba akan berhadapan denganku.”
“Tapi Gusti pasti akan lama mendekam di penjara,” Astari mulai menangis.
“Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Dia harus menerima konsekuensi atas perbuatannya. Mba jangan ikut campur lagi. Jangan gunakan pengaruh mba untuk menekan orang-orang. Sudah cukup, mba. Mba yang sudah mewanti-wanti gubernur dan wakil gubernur untuk menjaga Gusti. Dan memastikan anak itu lulus apapun yang terjadi. Itulah yang menyebabkan mereka menutupi masalah ini dariku. Sekarang aku minta mba berhenti, selagi aku mengatakannya dengan cara baik-baik.”
Begitu Irjen Rasyid menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan terketuk. Dari arah luar sang ajudan masuk dan mengabarkan kalau keluarga Hikmat sudah datang. Irjen Rasyid mempersilahkan semua tamunya untuk masuk. Berturut-turut kemudian, Abi bersama yang lain masuk ke dalam ruangan.
“Apa kedatangan kami mengganggu?” tanya Abi.
🌻🌻🌻
Jiaaahhh.. Biang komodo Dateng🤣🤣🤣
__ADS_1