AZZAM

AZZAM
Peringatan Mayor Indra


__ADS_3

Seorang prajurit berpangkat letnan satu berjalan mendekati Mayor Indra yang tengah menunggunya di dekat Tugu Adisakti. Pria itu berhenti di depan atasannya, kemudian memberikan hormat.


“Apa kamu sudah mendapatkannya?” tanya Mayor Indra.


“Siap, sudah. Darah yang diambil dari TKP sudah diuji. Foto dari TKP sebelum dibersihkan juga sudah ada, berikut rekaman cctv, siapa saja yang memasuki sasana krida sebelum kejadian. Saya ambil rekaman sebelum dihapus.”


“Bagus.”


“Akan dikirim ke mana bukti ini?”


“Aku akan mengirimkannya ke Irjen Rasyid.”


“Apa komandan yakin?”


“Irjen Rasyid adalah orang yang bijak. Dia tahu bagaimana membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sayangnya sampai sekarang dia belum tahu apa yang sudah dilakukan anaknya. Petinggi akademi masih menutupi kasus ini.”


“Tapi.. apa komandan yakin, Irjen Rasyid akan berlaku adil? Ini menyangkut anaknya. Apa beliau bisa membiarkan anaknya dikeluarkan dari akademi dan mendapat hukuman?”


“Aku tidak yakin, tapi setidaknya aku sudah berusaha. Aku tidak bisa diam begitu saja melihat ketidakadilan yang diterima Eko dan Seno. Keluarga mereka berhak tahu yang sebenarnya, dan pelaku harus diberi hukuman setimpal. Apapun resikonya.”


“Baik, komandan. Aku akan membantu semampuku.”


“Simpan baik-baik barang bukti itu. Aku akan mencari kesempatan untuk menemui Irjen Rasyid di Jakarta.”


Keduanya langsung memisahkan diri begitu mendengar suara sirine. Para taruna segera keluar dari flat mereka dan bergegas menuju lapangan untuk mengikuti apel pagi. Mayor Indra berjalan menuju lapangan. Semua pelatih sudah berkumpul di sana. Setelah semua taruna berkumpul, apel pagi pun segera dilaksanakan.


Usai apel pagi, seorang pelatih mendatangi Azzam. Jantung Zakaria berdebar kencang, dia takut Azzam akan mendapat hukuman atas apa yang dilakukannya semalam. Berbeda dengan Azzam yang terlihat tenang.


“Kamu, ikut saya.”


“Siap, komandan.”


Azzam segera berjalan mengikuti pelatih di depannya. Zakaria yang masih berada di tempatnya segera beranjak saat salah satu rekannya menarik dirinya. Pelatih Azzam memandu pemuda itu memasuki gedung. Saat memasuki gedung tersebut, Azzam tahu kalau dirinya akan dimasukkan ke dalam ruang isolasi. Pasti kabar soal dirinya menghajar Gusti dan kedua temannya sudah sampai ke telinga para petinggi akademi.


Seorang prajurit yang menjaga ruangan isolasi, segera membukakan pintu. Pelatih yang memandu Azzam melihat pada pria itu, lalu dengan isyarat kepala, memintanya masuk. Azzam masuk ke dalam ruangan tersebut. Pintu langsung tertutup begitu pemuda itu masuk.

__ADS_1


Bukan hanya Azzam, tapi Mayor Indra juga tidak lolos dari pengawasan petinggi akademi. Pria itu diminta datang ke ruangan gubernur. Dengan langkah tegap, Mayor Indra bergegas menuju ruangan atasannya. Pria itu memberi hormat semua orang yang ada di dalam ruangan, kemudian berdiri di tengah dengan sikap istirahat.


“Mayor Indra. Kemana saja kamu seharian kemarin.”


“Siap, saya mengunjungi keluarga Eko,” Mayor Indra melakukan sikap sempurna saat menjawab, lalu kembali ke sikap istirahat.


“Apa kamu bertemu dengan keluarganya?”


“Siap, tidak.”


“Malam harinya kamu membawa Azzam kemana?”


“Siap. Saya membawanya menemui Gusti, Hari dan Esa.”


“Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu sengaja melakukannya?!”


“Siap. Gusti, Hari dan Esa harus merasakan bagaimana sakitnya ketika dipukuli. Itu pelajaran untuk mereka yang sudah bersikap semena-mena.”


“Mayor Indra!!”


“Atas pembangkangan yang kamu lakukan, kamu akan dibebas tugaskan untuk waktu yang belum ditentukan. Gajimu akan dipotong selama enam bulan. Kapten Rico!”


“Siap, komandan,” seorang prajurit yang berjaga di depan, masuk ke dalam ruangan.


“Bawa Mayor Indra ke ruang isolasi. Kurung dia di sana! Dan untuk Azzam..”


“Komandan.. biar saya yang menanggung kesalahan. Jangan sentuh Azzam,” sela Mayor Indra.


“Siapkan surat pemecatan untuk Azzam. Dia akan dikeluarkan dengan tidak hormat dari akademi.”


“Komandan! Apa komandan lupa siapa Azzam? Dia mungkin menanggalkan nama besar keluarganya saat masuk ke akademi. Tapi keluarganya tidak akan tinggal diam kalau dia diperlakukan tidak adil. Kalau sampai keluarganya tahu, maka apa yang kalian tutupi akan sia-sia. Jangan sentuh Azzam, jangan mengintimidasinya. Azzam bukan anak yang mudah terintimidasi. Jika kalian melakukan itu, sama saja kalian memprovokasinya. Sekali saja dia membuka mulut, maka masalah ini akan semakin rumit dan panjang.”


“Apa yang bisa mereka lakukan tanpa bukti?”


“Tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Keluarga Hikmat mempunyai banyak orang yang bisa mencari bukti sekecil apapun itu. Mohon komandan bertindak bijak. Jangan korbankan banyak orang hanya demi segelintir manusia tidak bermoral.”

__ADS_1


“Bawa dia.”


Tanpa perlawanan, Mayor Indra langsung keluar dari ruangan tersebut. Dengan tenang dia berjalan menuju ruang isolasi. Ruangan yang ditempati bersebelahan dengan ruangan Azzam. Pria itu duduk tenang di kursi yang ada di sana, sambil memejamkan matanya.


🌻🌻🌻


Setelah delapan jam dikurung di ruang isolasi, akhirnya Azzam dikeluarkan. Pemuda itu bergegas menuju gedung flatnya. Zakaria yang sedari tadi menunggu Azzam, langsung menghampirinya.


“Zam, kamu ngga apa-apa?”


“Aku baik-baik aja.”


“Zam.. ayo ikut.”


Zakaria menarik tangan Azzam. Mereka menuju bagian belakang flat mereka. Di sana beberapa rekan sudah menunggu. Niken yang cemas seharian tidak melihat Azzam, terlihat lega ketika melihat pemuda itu datang bersama Zakaria.


“Zam.. teman-teman mau membantu kita untuk membuktikan kasus yang menimpa Eko dan Seno.”


“Iya, Zam. Eko dan Seo harus mendapat keadilan. Aku bersedia menjadi saksi.”


“Aku juga.”


“Aku juga.”


“Terima kasih. Yang harus kita lakukan sekarang mencari bukti keterlibatan Gusti, Hari dan Esa.”


“Kita bisa ke TKP, biar sudah dibersihkan, siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu.”


“Iya, Zam. Kamu tenang aja, kamu ngga sendirian. Kita akan bantu, Eko dan Seno adalah saudara kita.”


“Terima kasih.”


Azzam terharu mendengar ucapan rekan-rekannya. Dia akan berusaha sekuat tenaga menemukan bukti tentang penyiksaan terhadap kedua sahabatnya. Pemuda itu yakin bisa menjebloskan Gusti, Hari dan Esa ke dalam penjara.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Pembalasan akan segera dimulai gaaeesss...


__ADS_2