AZZAM

AZZAM
Hukuman Untuk Gusti


__ADS_3

“Apa kedatangan kami mengganggu?” tanya Abi.


“Sama sekali tidak, pak Abi. Kenalkan ini istri saya, Perwita dan ini kakak ipar saya, Astari.”


Mereka saling berjabat tangan sebentar. Perwita bangun dari duduknya, memberikan tempat untuk tamu suaminya duduk. Dia berdiri di belakang sofa single yang ditempati sang suami.


“Begini pak Abi, maksud saya mengundang pak Abi dan yang lain adalah untuk mendiskusikan tentang hukuman Gusti. Saat ini penyelidikan sedang dilakukan dan sebentar lagi berkasnya akan lengkap dan akan dilimpahkan ke kejaksaan. Tapi saya sangsi kalau hukuman penjara akan membuat Gusti jera. Apa pak Abi atau yang lain bisa memberikan usulan hukuman yang lebih tepat?”


“Seperti pak Irjen ketahui, kami memang bekerja sama dengan pemerintah untuk menyediakan bentuk hukuman lain untuk para pelanggar hukum. Gusti.. harus belajar menghargai dan menghormati orang lain. dia juga harus bisa mengikis ego dan arogansinya. Saya sara menempatkan dirinya di situasi yang tidak memungkinkannya menyombongkan diri dan bersikap egois adalah pilihan yang tepat.”


“Maksudnya bagaimana, pak?”


“Ada sebuah pulau yang isinya kebanyakan adalah pengungsi yang terkena bencana alam, kebakaran atau musibah lainnya. Mereka pindah ke pulau ini untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Pulau ini adalah pulau yang subur, hanya saja butuh tangan-tangan untuk mengolahnya. Kalau pak Irjen mengijinkan, Gusti dikirim ke sana saja. Dia akan bergabung dengan beberapa napi di sana, membantu membangun fasilitas di sana. Dia juga akan diajari cara bercocok tanam. Nantinya dia akan dapat penghasilan, tapi penghasilan yang didapatkan akan disumbangkan pada kaum jompo.”


“Terus anak saya ngga dapat apa-apa dong? Kerja rodi itu namanya” protes Astari.

__ADS_1


“Anak ibu itu statusnya tahanan, mana ada tahanan yang digaji. Di pulau ini dia memang akan mendapatkan penghasilan, tapi bukan untuk dirinya tapi untuk membantu orang lain. Selain itu, dia bisa dapat pelajaran hidup yang berharga di sana. Untuk lebih menghargai orang dan nyawa orang lain. Apa ibu lupa, Gusti sudah membuat seorang taruna meninggal? Taruna yang meninggal itu adalah kebanggaan dan harapan orang tuanya. Dia merenggut harapan itu dengan cara keji dan tanpa rasa bersalah sama sekali. Tapi kalau ibu tidak mengijinkan, saya punya usul tempat lain. Dia akan dikirim ke pulau Rinca untuk belajar cara melestarikan hewan langka. Rasanya itu lebih cocok untuk Gusti, setidaknya di sana dia tidak akan bersikap arogan lagi. Silahkan ibu pilih sendiri, pilih kerja rodi seperti yang ibu bilang atau ke pulau Rinca. Sekalian saya kirim ibu ke sana untuk menemani anak kesayangan ibu. Arisan atau perawatan tubuh bersama komodo, orang utan dan badak!”


“Cocok! Ibu kan makhluk langka. Jadi cocok bergaul dengan hewan langka juga,” sambung Kevin.


Mata Astari membelalak mendengar ucapan Abi dan Kevin. Tapi kedua pria itu tidak peduli sama sekali. Malah mereka membalas tatapan Astari tak kalah tajam. Nyali wanita itu seketika ciut melihat aura seorang Abimanyu Hikmat dan dinginnya kulkas dua pintu. Perwita menundukkan kepalanya. Diam-diam dia tersenyum membayangkan kakaknya yang cerewet dan keras kepala kumpul bersama deretan hewan langka. Irjen Rasyid bahkan sampai tertawa.


“Saya rasa hukuman yang pertama lebih cocok.Pastikan saja di sana dia tidak bisa berbuat semaunya"


"Bapak tenang saja. Para petugas yang berjaga di sana tidak mudah terintimidasi. Gusti juga tidak akan bisa berbuat semena-mena pada warga di sana,karena dia tidak akan berinteraksi langsung dengan warga. Kalau dia masih bersikap arogan, maka akan dikirim ke pulau kosong. Tidak ada manusia, hanya dihuni binatang buas. Dia akan tinggal di sana sampai bisa memperbaiki sikapnya."


“Tapi di sana penjagaan bagus kan, pak? Jangan sampai Gusti kabur,” seru Perwita.


“In Syaa Allah, bu. Selain penjaga, para napi yang dikirim ke sana juga memakai gelang khusus yang akan mendeteksi keberadaannya. Tidak mudah untuk kabur dari tempat itu.”


Perwita hanya menganggukkan kepalanya. Semoga saja dengan hukuman seperti ini, Gusti bisa berubah. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia tidak tega anaknya harus menjalani hukuman seperti itu. Tapi kembali lagi, itu semua demi kebaikan Gusti.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan petinggi akademi yang sudah menutupi kasus ini? Apa mereka juga akan dihukum?” tanya Kenzie.


“Iya. Saya sudah mengajukan surat pada pimpinan tertinggi untuk mencopot jabatan gubernur dan wakil gubernur. Beberapa petinggi yang ikut menutupi kasus ini juga akan terkena hukuman, sesuai dengan kadar kesalahan yang dibuat. Sebagai orang tua Gusti, saya juga akan bertanggung jawab. Saya akan mundur dari jabatan saya sekarang.”


Perwita terdiam mendengar ucapan suaminya. Tidak mudah bagi Irjen Rasyid untuk sampai ke tempatnya sekarang. Butuh perjuangan keras, tekad yang kuat dan tentu saja ribuan doa. Namun itu semua dirusak dalam sekejap oleh kelakuan anak mereka.


“Pak Irjen tidak perlu mengundurkan diri. Dengan bapak bersikap bijak dan bekerja sama dalam mengungkap kasus ini, saya rasa sudah cukup,” ujar Juna.


“Bagaimana mungkin saya menjadi pimpinan di korps kalau saya tidak bisa mendidik anak saya sendiri. Saya malu, karenanya saya memutuskan untuk mundur.”


Mendengar ucapan sang adik ipar, Astari hanya menundukkan kepalanya. Karena kesalahannya mendidik Gusti, kini Rasyid yang terkena imbasnya.


🌻🌻🌻


Besok aku libur ya..

__ADS_1


__ADS_2