
“Tanah itu un.. untuk sa.. saya? Ba..pak tidak bercanda, kan?”
“Ngga, pak. Saya sama sekali tidak bercanda. Silahkan tanya Azzam, dia dengar sendiri waktu papa saya memberi perintah.”
Refleks Darmo melihat pada Azzam. Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya. Rasa haru sekaligus bahagia langsung mendera Darmo. Dia melihat pada istrinya yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan.
“Bu.. kita dibelikan tanah oleh kakeknya Azzam,” ujar Darmo pada Puji.
“Iya, pak. Alhamdulillah.”
“Alhamdulillah.. Gusti Allah sudah memberikan rejeki yang tidak diduga-duga. Terima kasih pak Kenan, terima kasih.”
Darmo terus memegang tangan Kenan, seraya mengucapkan terima kasih. Tadi pagi dia dan istrinya masih berbincang tentang bagaimana memenuhi kebutuhan mereka beberapa hari ke depan. Siangnya, mereka mendapat rejeki besar yang tidak diduga-duga.
“Kami tahu, bapak dan ibu menggantungkan harapan yang tinggi pada Eko. Sekarang Eko sudah tidak ada. Biarkan kami yang membantu bapak. Sebelumnya kami mohon maaf, kalau apa yang kami lakukan menyinggung perasaan bapak.”
“Sama sekali ndak, pak. Terima kasih sekali lagi.”
“Ini… ada uang untuk modal bapak mengolah tanah. Silahkan diambil, pak.”
Kenan mengeluarkan amplop yang isinya cukup tebal dari dalam tas kecil yang dibawanya. Dia memang sengaja memberikan modal pada Darmo dalam bentuk uang cash. Dengan tangan bergetar, Darmo menerima pemberian Kenan. Seumur hidupnya, baru kali ini dia memegang uang dalam jumlah besar.
“Pak Irjen memang sudah berjanji untuk membiayai sekolah Gendis sampai kuliah. Kabarnya beliau juga akan memberikan bantuan lain kepada bapak sekeluarga setelah beliau selesai mengurus masalah di akademi. Tapi.. kalau bapak butuh sesuatu, jangan sungkan untuk meminta pada kami. Kita ini sudah seperti keluarga. Bilang saja pada Azzam kalau butuh sesuatu.”
Darmo tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. kerongkongannya serasa tercekat mendengar penjelasan Kenan. Kepergian Eko yang mendadak membawa hikmah tersendiri untuk dirinya dan keluarganya. Sahabat-sahabat Eko, adalah hal terbaik yang ditinggalkan sang anak untuk mereka sekeluarga.
“Papa, kakek dan yang lain sudah pulang ke Bandung, dad?” tanya Azzam.
“Belum. Masih ada yang mau dibicarakan pak Irjen katanya. Mereka masih menginap di hotel.”
“Wah.. ada kakek Abi, kah?” tanya Yakob.
“Ada.”
“Boleh saya bertemu kakek, om?”
“Boleh saja. Tapi kalian harus kembali ke rumah sakit sekarang. Seno juga tidak bisa lama-lama keluar. Kakek dan yang lain akan ke rumah sakit sekarang.”
__ADS_1
“Kalau begitu, kami pamit pak, bu.”
Kompak Azzam, Zakaria, Seno, Yakob dan Willi berdiri. Mereka mencium punggung tangan Darmo dan Puji bergantian. Lalu mereka mendekati Gendis. Gadis itu menyalami sahabat kakaknya satu per satu sambil mengucapkan terima kasih dan melemparkan senyum. Khusus untuk Seno, gadis itu hanya memasang wajah masam saja. Azzam merangkul bahu Seno sambil keluar rumah.
"Sabar, Sen. Beri Gendis waktu," bisik Azzam. Seno hanya menganggukkan kepalanya.
🌻🌻🌻
Baru saja lima menit Seno dan yang lain tiba di rumah sakit, Abi datang bersama dengan Juna, Cakra, Kevin, Jojo, Anfa dan Kezie. Yokob yang baru membantu Seno naik ke bed hanya terpaku melihat Abi yang berdiri bersama para sahabatnya. Pria itu terus memandangi idolanya yang sekarang terpampang nyata di hadapannya.
Menyadari ada yang terus memperhatikannya, Abi menolehkan kepalanya pada Yakob. Tangannya terangkat, kemudian melambai, meminta pria itu mendekat padanya. Dengan langkah pelan Yakob berjalan menghampiri. Dia berdiri di depan Abi dan memandangi kakek dari sahabatnya itu tanpa berkedip.
“Lihat tuh temannya Azzam. Saking shocknya lihat biangnya komodo, sampe sawan,” celetuk Kevin.
“Emang ya kalau udah tua, otaknya suka korslet. Dia ngga bisa bedain antara kagum sama sawan. Dia itu kagum sama aku, tapi karena kamu berdiri di dekatku jadinya sawan. Kenapa idolanya diikuti hantu muka rata,” balas Abi.
“Hahahaha…”
Juna dan yang lain tak bisa menahan tawanya mendengar perdebatan Abi dan Kevin. Yakob tersadar dari lamunannya ketika mendengar tawa semua orang. Dia langsung menyalami Abi dan mencium punggung tangannya.
“Coba.. ini sakit, ngga?”
Tangan Abi mendekati wajah Yakob, lalu mencubit kedua pipi pria itu. Yakob meringis kesakitan, Abi segera melepaskan cubitannya. Tanpa disangka-sangka, Yakob langsung memeluk Abi.
“Ya Tuhan, aku ngga nyangka bisa bertemu dengan idolaku Abimanyu Hikmat. Pai! Mai! Aku bisa ketemu kakek Abi!!” teriak Yakob sambil berjingkrak kegirangan.
Semua yang ada di dalam ruangan tentu saja dibuat terkejut melihat reaksi Yakob. Ternyata pria itu benar-benar penggemar berat Abi. Dia sampai histeris kegirangan bertemu dengan idolanya.
“Segitu senengnya ketemu ama Abi. Kalau kita-kita mah udah eneg,” ceplos Cakra.
“Tambah ngembang itu hidungnya si Abi,” timpal Juna.
“Narsisnya langsung naik ke peringkat tertinggi,” sahut Jojo.
“Ck.. apa bagusnya si biang komodo. Mulut pedesnya aja ngalahin cabe setan,” sambung Kevin.
“Sama kaya yang ngomong,” pungkas Anfa.
__ADS_1
Mata Kevin mendelik melihat pada Anfa. Sesaat dia lupa kalau Anfa adalah adik ipar dari si bon cabe, sudah pasti pria itu akan menjadi antek-antek sahabatnya. Kenzie dan Kenan hanya menggelengkan kepalanya saja. Willi, Zakaria, Seno dan juga Yakob hanya terbengong saja mendengar celetukan pandawa lima.
“Kakek.. kita foto bareng ya,” ajak Yakob.
“Boleh.”
Dengan wajah sumringah, Yakob mengarahkan kameranya pada dirinya juga Abi. Dia meminta tolong pada Zakaria untuk mengambil gambarnya bersama sang idola. Beberapa kali Zakaria mengambil Yakob bersama Abi. Sahabatnya itu juga berfoto dengan pandawa lima. Suasana ruang perawatan Seno sudah berubah menjadi ajang jumpa fans.
“Pa.. pak Rasyid mau bertemu dengan papa dan yang lain. Mau mendiskusikan hukuman yang tepat buat Gusti. Pak Rasyid sangsi kalau Gusti dimasukkan ke dalam penjara, sikapnya akan berubah. Dia mau hukuman yang setimpal untuk anaknya, sekaligus mendidik Gusti.”
“Heem.. kalau nanya Abi, paling ngga jauh-jauh dari komodo,” celetuk Kevin.
“Sama pulau,” sambung Jojo.
“Dasar besan nurjanah semua,” gerutu Abi.
“Ayo kita ke akademi sekarang. Azzam kamu mau kembali ke akademi kapan?” Kenzie melihat pada anaknya.
“Nanti malam aja, pa. Aku masih punya waktu sampai jam sembilan.”
“Ya, sudah. Papa dan yang lain mau ke akademi dulu. Sebelum pulang ke Bandung, kita ke sini lagi.”
“Iya, pa.”
Azzam mencium punggung tangan pandawa lima, Anfa, papa dan daddy-nya. Seno bersama yang lain mengikuti apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Tak lama kemudian, Abi beserta yang lain meninggalkan ruang perawatan tersebut.
🌻🌻🌻
Seorang perempuan berusia lima puluh tahunan berjalan tergesa memasuki gedung tempat di mana Gusti ditahan. Dia memerintahkan prajurit yang berjaga di depan pintu ruang isolasi Gusti. Awalnya dia tidak mau membukakan, namun begitu melihat ajudan Irjen Rasyid, pria itu langsung membukanya. Wanita itu segera menerobos masuk ke dalam ruangan.
“Gusti!”
“Mami!”
🌻🌻🌻
Eh.. Kok manggilnya mami?
__ADS_1