
Selepas ashar, Azzam dan yang lain kembali ke Yogya. Mereka akan menuju terminal Giwangan untuk menjemput Willi. Sesuai permintaan Azzam, Eko mengajak Gendis bersama mereka. Tentu saja Gendis bersedia, dia senang bisa berjalan-jalan bersama kakak dan teman-temannya. Apalagi Eko dan yang lainnya masih mengenakan pakaian dinas pesiar siang. Mereka semua terlihat begitu gagah.
Sesampainya di terminal Giwangan, mata Eko mencari-cari Willi. Setiap bus yang masuk ke dalam terminal, pemuda itu selalu mengikuti lewat ekor matanya. Wajahnya terlihat sumringah ketika melihat Willi turun dari bus yang baru saja tiba di terminal tersebut.
“Willi!” panggil Yakob.
Sambil berlari, Willi menghampiri para sahabatnya. Dia sudah sangat merindukan sahabatnya ini. Pemuda itu memeluk sahabatnya satu per satu. Lalu pandangannya beralih pada Gendis. Adik dari Eko itu segera mencium punggung tangan Willi.
“Adik kamu, Ko?” tanya Willi.
“Iya.”
“Cantik ya, ngga kaya kakaknya, buluk.”
“Asem, hahaha..”
“Kita ke Malioboro mall dulu, ya,” ajak Azzam.
“Mau ngapain?”
“Ada yang mau aku beli.”
“Oke.”
Keenam pemuda itu bersama dengan Gendis segera meninggalkan terminal untuk menuju Malioboro. Mereka naik Trans Yogya untuk sampai di sana. Sepanjang perjalanan, ada saja yang mereka bicarakan. Willi menceritakan pengalamannya begitu kembali ke akademi angkatan laut usai pelatihan integrasi.
__ADS_1
Kurang dari setengah jam, mereka sudah sampai di Malioboro. Semuanya segera menuju mall yang ada di sana. Azzam bermaksud membelikan sepatu untuk Gendis. Hatinya terenyuh saat mendengar percakapan Gendis dan ayahnya tadi di rumah.
“Ko, aku ijin ya, mau belikan sepatu buat adikmu,” bisik Azzam.
“Eh ngga usah, Zam.”
“Jangan ditolak, Ko. Sepatu Gendis sudah rusak, kasihan kalau harus pakai sepatu rusak. Lagian aku ngga punya adik, masa aku ngga boleh anggap Gendis adikku sendiri.”
“Makasih ya, Zam.”
“Sama-sama.”
Eko tidak bisa berkata apa-apa lagi pada Azzam. Sahabatnya itu begitu ringan tangan dan selalu membantunya dengan tulus. Dirinya sangat bersyukur bisa mendapatkan sahabat sebaik Azzam. Walau berasa dari keluarga konglomerat, namun pemuda itu tidak pernah bersikap sombong dan mau berteman dengannya yang notabene berasal dari keluarga tidak mampu.
Azzam berbelok memasuki toko yang menjual aneka sepatu untuk sekolah. Dia menuju deretan rak yang memajang sepatu sekolah untuk perempuan. Tangannya kemudian melambai, memanggil Gendis untuk mendekat.
“Hah?”
Untuk sesaat Gendis hanya terbengong mendengar ucapan Azzam. Refleks dia melihat pada Eko. Melihat anggukan kepala kakaknya, Gendis mulai berkeliling mencari sepatu untuknya. Namun gadis itu enggan untuk memilih karena harganya lumayan mahal. Yang paling murah saja dibanderol dua ratus ribu rupiah.
“Kenapa?” tanya Azzam.
“Eungg.. harganya mahal, kak. Belinya jangan di sini. Di pasar aja lebih murah.”
Azzam hanya tertawa mendengar ucapan Gendis. Dia mendekati salah satu rak, lalu mengambil sepatu yang sedari tadi tak lepas dari tatapan Gendis. Pemuda itu memberikannya pada Gendis.
__ADS_1
“Ini coba yang ini.”
“Tapi…”
“Coba aja.”
Karena terus didesak oleh Azzam, akhirnya Gendis mengalah. Dia mengambil sepatu berwarna hitam tersebut lalu mencobanya. Ukurannya pas di kakinya. Diam-diam dia melihat harga yang tergantung di sana. Matanya membulat melihat harga yang tertera, empat ratus dua puluh lima ribu.
“Mahal, kak,” bisik Gendis.
“Ngga apa-apa. Kakak belikan buatmu. Anggap aja hadiah untukmu. Sebagai gantinya, kamu harus belajar yang rajin. Ok?”
“Makasih, kak.”
Tidak hanya satu, Azzam membelikan dua sepatu untuk Gendis. Dia memilihkan sepatu berwarna putih kali ini dan meminta Gendis untuk mencobanya.
“Satu aja, kak.”
“Beli dua. Kalau yang satu dicuci, kamu bisa pakai yang satunya lagi.”
“Makasih, kak.”
Eko tak mampu berkata apa-apa lagi. Dia begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh Azzam. Seno merangkul bahu sahabatnya ini. Bukan hanya Eko, tapi Seno, Zakaria, Yakob dan Willi juga terharu dengan kebaikan Azzam. Usai membeli sepatu, Azzam mengajak yang lain menuju supermarket. Dia kembali membelikan camilan untuk Gendis. Dia juga membeli camilan untuk mereka semua.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Up nyicil kaya kredit panci🤣