AZZAM

AZZAM
Insiden Mengerikan


__ADS_3

Niken menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Dia sedang mencari Zuhaidar yang sedari tadi belum muncul juga. Seno juga belum kelihatan batang hidungnya. Gadis itu berniat menyusul kedua temannya ke sasana krida. Langkahnya tertahan ketika mendengar panggilan Zakaria.


“Ken.. mau kemana?”


“Mau cari Zuha. Udah lama kenapa belum datang juga. Masa beresin bola lama banget.”


“Seno juga belum datang. Eko yang nyusul juga belum datang,” ujar Zakaria dengan nada cemas.


“Kita susul aja, gimana?” tanya Niken.


Belum sempat Zakaria menjawab, nampak salah seorang teman mereka berlari mendekat. Pria itu nampak terengah karena berlari dari sasana krida tanpa henti. Tadi taruna itu mendatangi sasana krida. Awalnya dia bermaksud langsung pergi, namun telinganya menangkap sebuah suara mengerang kesakitan dari arah ruang ganti.


Bergegas taruna tersebut menuju ruang ganti, pemuda itu terkejut saat melihat Eko dan Seno sedang dihajar oleh Gusti dan kedua temannya. Dengan cepat taruna itu segera meninggalkan sarana krida untuk mencari bantuan. Dia berlari tanpa henti menuju teleng krida. Pemuda itu menaruh kedua tangan di lutut, mencoba mengambil nafas lebih dulu.


“Ada apa?” tanya Azzam.

__ADS_1


“A.. ada yang di.. pu..kuli,” jawab taruna itu terengah.


“Di mana?”


“Sasana krida.”


“Siapa yang dipukuli?” tanya Niken cemas. Dia takut Zuhaidar yang menjadi korban.


“Seno dan Eko.”


Azzam dan Zakaria bergegas berlari menuju sasana krida. Niken juga menyusul dari belakang, diikuti beberapa taruna yang mendengar kasus pemukulan Seno dan Eko. Taruna yang melihat pemukulan pada dua rekannya, segera mencari pelatih untuk menghentikan aksi kejam Gusti dan kedua temannya.


BRUK!


Tubuh Eko terdorong ke tembok. Tiga orang senior yang tengah mengintimidasinya, terus mendekatinya. Seno yang terkapar di lantai mencoba menolong temannya itu. Dia memegangi pergelangan kaki, salah satu seniornya. Pria itu kehilangan kesadarannya ketika sang senior menendangnya.

__ADS_1


Mendengar kedua temannya sedang disiksa oleh seniornya, Azzam dan Zakaria langsung berlari menuju ruang olahraga. Bukan hanya mereka berdua, tapi beberapa temannya lain juga mengikutinya. Mereka mencari-cari keberadaan Eko dan Seno. Mendengar suara gaduh dari arah kamar ganti, keduanya bergegas ke sana. Mata Azzam membulat saat melihat Seno terkapar di lantai, dan Eko sedang dihajar tiga seniornya. Pria itu hendak menyelematkan kedua temannya, namun ditahan oleh beberapa temannya.


“Lepas!!” seru Azzam dan Zakaria.


Namun teman-temannya terus menahan keduanya. Mendengar suara gaduh, salah satu senior yang sedang menyiksa Eko melihat ke arah mereka. Dia hanya melemparkan seringaiannya saja, dan terus menendang dan memukul Eko, sampai pria itu jatuh ke lantai dengan wajah berlumuran darah.


“EKO!!”


Bertepatan dengan ambruknya tubuh Eko, tiga orang pelatih datang setelah mendapat laporan. Gusti, Hari dan Esa yang tertangkap basah tidak bisa melakukan apapun. Mereka langsung dibawa pelatih keluar sasana krida untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Azzam langsung menghampiri Eko. Temannya itu tidak sadarkan diri. Zakaria juga menghampiri Seno. Keadaan keduanya begitu mengenaskan. Pelatih segera menghubungi ambulans untuk membawa Eko dan Seno ke rumah sakit. Azzam terus memeluk tubuh Eko. Mulutnya terus memanggil nama temannya, namun Eko sama sekali tidak menyahut.


Tidak berapa lama dua buah ambulans datang. Petugas medis masuk dengan membawa dua buah blankar. Mereka segera menaikkan Seno dan Eko ke atas blankar lalu membawanya ke ambulans. Azzam dan Zakaria meminta ijin untuk mendampingi sahabat mereka. Kedua naik ke ambulans yang berbeda. Azzam berada di ambulans yang membawa Eko, sedang Zakaria bersama dengan Seno.


Mata Azzam terus memandangi petugas medis yang sedang memberikan pertolongan pertama pada Eko. Dalam hatinya terus berdoa, semoga saja tidak terjadi hal yang serius pada sahabatnya itu. Diraihnya tangan Eko yang terkulai, lalu menggenggamnya erat.

__ADS_1


“Ko.. kamu harus bertahan. Kamu harus kuat. Aku mohon, bertahanlah,” lirih Azzam.


🌻🌻🌻


__ADS_2